Daphne masih asyik mengetikkan huruf per huruf di layar ponsel. Keheningan di sekelilingnya membuat konsentrasi Daphne meningkat tiga kali lipat. Meski tidak secepat jika menggunakan laptop, tetapi laporannya sudah hampir selesai.
Daphne berhenti sejenak ketika mendengar suara langkah kaki seseorang dari arah samping. Ia pun menoleh dan bersitatap dengan seorang pria. Pria itu berambut cepak dengan perawakan kekar. Penampilannya yang mirip seorang algojo, membuat Daphne sedikit takut. Apalagi tidak ada orang lain lagi di sekitar mereka.
Pria itu mendekatinya lalu tersenyum ramah.
"Nona, maaf saya mau bertanya di mana lokasi Rumah Sakit St. Monic? Teman saya ada yang mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di sana."
"Emm, kenapa Anda tidak mencari lewat internet saja, Tuan?" tanya Daphne
"Sinyal di sini tidak terlalu bagus, Nona. Saya sudah mencobanya dari tadi."
"Sebentar, Tuan, akan saya carikan dengan ponsel saya. Saya juga tidak tahu di mana letak rumah sakit itu."
Sambil menunggu, pria itu duduk di sebelah Daphne. Entah mengapa tatapan matanya membuat Daphne merasa risih. Daphne berusaha melakukan pencarian secepat mungkin dengan G-map. Namun sinyal ponselnya menjadi lemah saat berada di taman ini.
"Maaf, Tuan, saya juga tidak bisa menemukan lokasinya."
"Kalau begitu kita keluar saja untuk mencari sinyal, Nona," kata pria itu tiba-tiba menarik tangan Daphne.
Merasa pria tersebut sudah berbuat kurang ajar, Daphne langsung mengibaskan tangannya.
"Maaf, Tuan, tolong jangan pegang-pegang. Saya tidak bisa ikut dengan Anda, karena saya masih harus mengerjakan tugas kuliah," tegas Daphne.
Pria itu pun menatap Daphne dengan tajam, seperti serigala yang akan menangkap mangsanya.
"Jangan jual mahal, Nona. Aku tahu gadis sepertimu hanya alim di depan, tetapi sebenarnya liar di dalam. Kau pura-pura menolakku, agar aku penasaran lalu mengejarmu."
Mendapat hinaan yang merendahkan harga dirinya, Daphne pun tidak terima. Ia segera berdiri untuk memperingatkan lelaki asing itu.
"Jaga bicaramu, Tuan! Kita tidak saling kenal, jadi silakan pergi dan jangan mengganggu saya."
Daphne hendak berpindah ke bangku yang lain, tetapi mendadak ia ditarik dengan kuat. Daphne tidak mampu melawan, apalagi saat pria itu mengunci pergerakannya.
"Lepas, brengsek! Siapa saja, tolong aku!" pekik Daphne meronta-ronta.
Seolah tuli, pria itu malah membawa Daphne ke sekumpulan pepohonan yang tinggi. Kemudian, ia mendorong tubuh gadis itu ke sebuah batang pohon.
"Teriak saja sesukamu, Gadis Cantik! Tidak ada yang akan mendengarnya."
"Aku bersumpah akan membuatmu membusuk di penjara! Kau maniak!" teriak Daphne dengan suara parau.
"Kau cerewet sekali! Aku harus membungkam mulutmu ini!" balas pria itu dengan sengit.
Dalam hitungan detik, pria itu sudah menekan bibirnya dengan kasar ke bibir Daphne.
Daphne berusaha memukul dada pria itu. Namun, dengan cepat sang pria mencekal kedua tangannya, lalu menaikkannya di atas kepala.
Pelupuk mata Daphne mulai tergenang oleh air mata. Kali ini ia tak mampu berkutik lagi. Mungkinkah ia harus kehilangan kehormatan di tangan seorang penjahat? Lalu bagaimana ia mampu menapaki masa depan dengan hati yang sudah hancur lebur?
Tak ayal lagi, air mata Daphne tumpah membanjiri kedua pipinya. Dengan tubuh yang gemetaran, Daphne memejamkan mata, enggan untuk menyaksikan nasib buruk yang akan menimpanya sebentar lagi.
Dalam keputus-asaan mendalam, Daphne merasakan tubuhnya terlepas dari himpitan pria itu. Tak berselang lama, ia mendengar suara gedebug disertai erangan yang keras.
"Bugh!"
Sontak Daphne berjengit kaget dan membuka matanya. Ia membelalak lebar ketika melihat penjahat itu terkapar di tanah sambil memegangi perutnya. Sementara di sampingnya, berdiri Duncan yang menatap pria itu dengan nyalang. Tangan Duncan sudah terkepal erat dengan posisi siap menghantam lawannya.
Sontak, Daphne berlari dan memeluk Duncan dari belakang.
"Duncan!" seru Daphne terisak di punggung pria tampan itu. Kemarahannya kepada Duncan lenyap seketika. Bagi Daphne, saat ini Duncan bak malaikat tak bersayap yang telah membebaskannya dari cengkeraman iblis.
Pelukan Daphne mampu meredam murka yang tengah menguasai Duncan. Ia tahu gadis ini sedang rapuh dan membutuhkan perlindungannya.
"Daphne, tenanglah, kau sudah aman sekarang. Cepat masuk ke mobilmu dan pergi dari sini," ujar Duncan.
Daphne melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Duncan.
"Tapi bagaimana denganmu, Duncan?"
"Jangan pikirkan aku, yang penting kau selamat," jawab Duncan membalikkan badannya.
"Deg."
Jantung Daphne seolah berhenti saat mendengar ucapan Duncan. Tak disangka pria yang selalu dianggapnya sebagai hama pengganggu, ternyata memiliki hati setulus merpati. Duncan bahkan rela menempuh resiko yang berbahaya demi menyelamatkan dirinya.
"Terima kasih," lirih Daphne dengan air mata yang masih mengalir.
"Nanti saja terima kasihnya, aku harus mengurus penjahat ini dulu."
Daphne memekik kaget saat Duncan tiba-tiba berputar, lalu menangkis serangan dari belakang. Ternyata pria maniak itu sudah bangkit dan berusaha memukul Duncan.
"Lari, Daphne!" seru Duncan.
Tanpa pikir panjang, Daphne berlari keluar dari taman untuk menuju ke mobilnya. Selepas Daphne pergi, Duncan melayangkan tendangan keras yang tepat mengenai ulu hati pria tersebut. Pria itu pun tersungkur dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Melihat cairan segar berwarna merah, naluri Duncan sebagai vampir terusik. Apalagi ia sedang membutuhkan darah usai mengalami mimisan yang cukup parah.
Duncan pun terpaku sejenak, berusaha menetralkan hasratnya terhadap darah manusia.
'Aku harus segera pergi dari sini. Jika tidak, aku akan tergoda untuk menghisap darah orang itu. Bagaimanapun aku tidak boleh melukai manusia,'
pikir Duncan mengambil keputusan.
Ia pun berbalik, hendak meninggalkan pria yang sudah tak berdaya itu. Namun, pria itu malah bangun dan mencemooh Duncan.
"Mau ke mana, anak ingusan? Apa kau takut aku akan bangkit lalu balik menghajarmu? Kau mau menjadi seorang pengecut?" ejek pria itu sambil menghapus darah di bibirnya.
Duncan pun membatalkan niatnya untuk pergi. Ia harus memberi pelajaran kepada penjahat ini supaya jera.
"Kau akan menyesal kalau aku tidak segera pergi," jawab Duncan menghadap ke pria itu.
"Apa katamu? Menyesal?! Jangan pikir aku takut dengan bocah kemarin sore sepertimu. Tadi aku hanya kurang persiapan, sehingga bisa kau kalahkan," ujar pria itu dengan jumawa.
Karena mulai hilang kesabaran, manik mata Duncan yang sebiru lautan, mendadak berubah menjadi merah terang. Ia menatap pria itu dengan tajam, seolah ingin membakarnya hidup-hidup. Sedangkan tubuh Duncan berpendar, memancarkan sinar berwarna kuning keperakan yang menyilaukan mata.
Pria itu mundur ke belakang sembari menutupi matanya dengan punggung tangan. Ia sangat ketakutan menyaksikan perubahan yang terjadi pada diri Duncan.
"K-au, ini...hantu atau monster? Tolong jangan habisi aku," tanya pria itu tergagap.
Seringai dingin tercetak di bibir Duncan.
"Aku adalah keduanya. Dan aku bisa melenyapkan nyawamu semudah menjetikkan jari. Karena itu, cepat pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar melakukannya. Satu lagi, jangan ulangi perbuatan terkutukmu kepada wanita, jika kau tak ingin tulang-tulangmu terlepas dari tubuhmu," ancam Duncan tidak main-main.
Merasa nyawanya berada di ujung tanduk, pria itu lari tunggang langgang sambil menahan nyeri di ulu hatinya.
Sementara di tempat lain, seorang pria yang sedang duduk bersila, tiba-tiba membuka matanya. Ia terkejut karena merasakan energi vampir yang begitu besar terpancar dari dunia manusia. Terlebih energi ini hampir setara dengan kekuatan yang dimilikinya.
Pria muda berperawakan gagah itu bangkit berdiri sambil menghirup udara dalam-dalam. Iris mata hijaunya nampak bersinar di dalam kegelapan.
'Siapa pemilik energi ini? Apakah dia...adikku tersayang yang sudah lama hilang? Jika iya, maka kami akan segera bertemu untuk saling melepas rindu,'
gumam pria itu tersenyum tipis.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments