"Nona Daphne, Duncan wajahnya pucat sekali. Sepertinya dia sakit," ucap Xin Fei datang tergopoh-gopoh.
Daphne tersentak kaget dan langsung berlari ke arah dapur. Ia melihat Duncan meneguk habis sebotol air mineral, seperti orang yang sedang dilanda kehausan.
"Duncan, kamu kenapa? Kamu sakit karena berkelahi dengan penjahat tadi?" tanya Daphne memegang lengan Duncan.
"Aku tidak apa-apa, Nona, hanya sedikit lelah," jawab Duncan menutupi kondisinya.
"Tapi wajahmu pucat, coba merunduk sedikit, aku cek suhu tubuhmu," ujar Daphne lalu menempelkan tangannya di dahi Duncan.
Bukannya panas, ia justru merasa suhu tubuh pria ini sangat dingin, mirip orang yang terkena hipotermia.
"Duncan, tubuhmu dingin sekali. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ajak Daphne menarik tangan Duncan.
"Tidak usah, Nona, aku hanya butuh istirahat sebentar."
Kakek James yang menyusul Daphne ikut merasa khawatir. Ia menyuruh Daphne dan Duncan agar segera pulang ke rumah.
"Pasti kau kelelahan karena menjaga Daphne seharian, Duncan. Seharusnya kau tidak perlu membantu di restoran," ujarnya prihatin.
"Daphne, antarkan Duncan pulang sekarang, tidak usah pikirkan Kakek," ucap Kakek James kepada Daphne.
Gadis itu pun menggandeng tangan Duncan hingga mereka masuk ke mobil. Kali ini, Duncan membiarkan Daphne yang mengemudikan mobil, karena ia sedang sulit untuk berkonsentrasi.
Sambil menyetir mobil, Daphne sesekali melirik Duncan lewat kaca spion. Ia benar-benar khawatir jika Duncan akan pingsan karena bibir pria itu tampak pucat. Daphne pun menaikkan kecepatan mobilnya agar mereka cepat sampai di rumah.
"Duncan, cepatlah tidur. Besok kalau kau masih lemas tidak usah mengantar aku ke kampus," ucap Daphne memapah Duncan hingga ke depan pintu kamarnya.
"Nona, tapi aku belum mengantuk. Bisa temani aku sebentar? Aku ingin belajar bagaimana caranya menggunakan internet."
Mata Daphne membelalak lebar. Ia bingung mengapa Duncan malah ingin belajar tentang internet padahal kondisinya sedang tidak fit.
"Besok saja, Duncan. Aku janji akan mengajarimu."
"Tidak, Nona, aku mau sekarang. Justru dengan belajar, aku akan cepat mengantuk," ucap Duncan bersikeras.
"Baiklah, tunggu di kamarmu. Aku akan mandi dulu, kau juga," jawab Daphne.
Duncan mengangguk senang. Ia sengaja meminta Daphne mengajarinya supaya gadis itu mengantuk. Ya, dia ingin memastikan Daphne tidur nyenyak supaya dia bebas untuk berburu tanpa diketahui siapapun.
Usai mandi, Daphne membawa laptopnya ke kamar Duncan. Ia melihat pria itu sudah berganti baju dan terlihat lebih segar. Namun, wajah Duncan masih pucat seperti orang yang kekurangan darah.
"Apa yang ingin kau pelajari?" tanya Daphne duduk di sebelah Duncan.
"Cara mencari data dan informasi mengenai seseorang," jawab Duncan mantap.
"Memangnya data siapa yang ingin kau cari?" tanya Daphne penasaran.
"Data ibuku."
Kening Daphne berkerut dalam saat mendengar jawaban yang diberikan Duncan.
"Apa kau tidak mengenal ibumu sendiri?Maksudku apa ibumu meninggal atau kau belum pernah bertemu dengannya?" tanya Daphne.
"Ibuku meninggal saat melahirkan, Nona. Jadi, aku tidak punya kesempatan untuk bertemu dengannya."
Mendengar nada sedih di suara Duncan, Daphne tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia memutuskan untuk mengajari Duncan sampai pria itu mahir berselancar di dunia maya.
Duncan ternyata mampu belajar dengan cepat. Ia juga meminta Daphne untuk mengajari hal yang lain, seperti email dan media sosial. Daphne sampai keheranan karena pria itu terlihat bersemangat.
Duncan masih terus bertanya ini dan itu sampai tak terasa malam semakin larut. Daphne merasa matanya sudah berat sekali, sehingga ia menutup laptopnya.
"Duncan, aku sudah ngantuk sekali. Besok lagi kita lanjutkan. Kamu juga harus beristirahat."
"Baik, Nona, terima kasih."
Tanpa menunda lagi, Daphne pergi ke kamarnya sendiri. Begitu membaringkan diri di kasur, gadis itu langsung terlelap di alam mimpi. Berbeda dengan Duncan yang justru bersiap untuk memulai petualangannya.
'Daphne dan Kakek James pasti sudah tidur sekarang. Ini saatnya aku pergi.'
Duncan segera membuka jendela kamarnya. Ia mengambil ancang-ancang, lalu dengan sekali lompatan ia berhasil hinggap di salah satu pohon.
Dalam sekejap, Duncan sudah berubah menjadi seekor kelelawar. Ia terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah hutan yang terdekat.
Darah manusia yang mengalir di tubuhnya, membuat Duncan tidak dapat berubah wujud dalam waktu lama. Ia kembali berubah menjadi manusia saat tiba di tengah hutan.
Setelah memantau situasi di sekitarnya, Duncan pun bersembunyi di balik pepohonan. Indera pendengaran dan penciumannya yang tajam membuatnya mampu mendeteksi gerakan binatang dari jarak jauh. Apalagi suasana hutan yang sunyi membuatnya lebih mudah melakukan itu.
Sambil mengasah instingnya, Duncan melacak jejak hewan yang akan menjadi mangsanya kali ini. Bercampur dengan bunyi hewan nokturnal, suara gemerisik yang ditunggu Duncan akhirnya terdengar. Dengan tatapan setajam elang, Duncan pun bersiap.
Pria itu melompat dari satu pohon ke pohon lain, sampai ia melihat seekor rusa yang akan menjadi targetnya.
Rusa yang tertidur itu terkesiap sesaat, tatkala merasakan tubuhnya diterkam oleh sesosok manusia.
"Maafkan aku rusa, aku sangat membutuhkan darahmu hari ini," gumam Duncan kemudian menggigit rusa itu.
Dengan cepat, Duncan menuntaskan rasa haus yang menyiksanya. Sebenarnya ia tidak tega melakukan hal kejam ini. Untuk selanjutnya, Duncan berjanji akan berusaha membeli darah di rumah sakit atau mengambilnya dari rumah pemotongan hewan.
Ketika Duncan hampir selesai, samar-samar ia mendengar suara jeritan dari sebelah kanan. Suara tersebut makin lama makin terdengar jelas. Duncan pun melepaskan tubuh rusa yang sudah tak bernyawa itu, lalu memasang telinganya.
"Aarrgghhhh, sakit, hentikan!"
Tidak salah lagi, itu adalah suara teriakan manusia, lebih tepatnya manusia berjenis kelamin wanita. Rintihan kesakitan wanita itu membuat Duncan tak tahan. Tanpa pikir panjang, ia melompat ke arah sumber suara tersebut untuk memberikan pertolongan.
Alangkah terkejutnya Duncan, saat ia melihat seorang wanita paruh baya yang terbaring di tanah. Sedangkan di atas tubuh wanita itu ada seekor burung gagak besar berwarna hitam. Burung tersebut sedang mematuk-matuk leher si wanita, hingga darah segar mengalir keluar.
Mulut wanita itu terus merintih sementara tubuhnya kejang-kejang karena menahan rasa sakit. Melihat pemandangan mengerikan itu, Duncan tidak tinggal diam. Ia tahu bahwa burung gagak di hadapannya ini bukanlah burung biasa, melainkan jelmaan dari klan vampir.
"Hey, hentikan perbuatanmu!" hardik Duncan.
Burung itu segera menghentikan aktivitasnya karena mendengar suara Duncan. Ia menatap Duncan penuh rasa marah, karena pria itu telah merusak kesenangannya dalam menikmati darah manusia.
"Kaokkk! Kaaokkk!"
Burung itu lantas terbang dan menukik tajam ke arah Duncan. Namun sebelum burung itu sampai, Duncan lebih dulu menyerangnya. Dengan sekali kibas, ia memukul burung gagak tersebut hingga terpental cukup jauh ke tanah.
Burung gagak yang terluka itu menatap Duncan dengan ketakutan. Pasalnya, ia bisa merasakan energi luar biasa yang terpancar dari pria ini. Ditambah lagi matanya yang berwarna biru terang mengingatkan burung itu akan sosok Lord Anthony.
"Pergilah dan kembalilah kepada tuanmu. Katakan kepadanya, bahwa dia harus menjaga hewan peliharaannya agar tidak menyakiti manusia."
Burung gagak itu pun segera merentangkan sayapnya dan terbang meninggalkan hutan. Ia bermaksud akan memberitahu tuannya, Julio, bahwa ia berhasil menemukan sang pangeran yang hilang.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments