Ketika Daphne membuka mata, ia tidak menemukan Duncan di sisinya. Masih teringat dengan kejadian semalam, Daphne buru-buru bangun untuk mencari Duncan. Ia takut jika pria itu menghilang lagi seperti semalam.
"Duncan!" teriak Daphne sambil berjalan ke luar kamar.
Bau harum masakan menghentikan langkah gadis itu. Seketika perasaannya langsung lega saat mendapati keberadaan Duncan di dapur. Pria itu sedang membantu Kakek James, bekerja sama untuk membuat omelette dan daging panggang.
"Nona sudah bangun," ucap Duncan sambil menghidangkan makanan di atas meja. Daphne merasa heran karena pagi ini Duncan terlihat sangat segar, tidak pucat seperti kemarin.
"Daphne, kau ini pagi-pagi sudah mencari Duncan. Apa kau merindukannya?" tanya Kakek James.
"Bu-kan, Kek. Aku hanya ingin memastikan dia tidak...."
Daphne menelan kata-katanya. Ia tidak ingin memberitahu sang kakek tentang keanehan yang dilakukan oleh Duncan di kala orang-orang masih terlelap.
"Ingin memastikan dia tidak pergi sebelum mengantar aku ke kampus," ucap Daphne.
"Ck, Duncan tidak akan meninggalkanmu. Sudahlah lebih baik kita sarapan dulu. Omelette ini buatan Duncan, kamu harus mencicipinya," ajak Kakek James membawa Daphne ke meja makan.
Daphne pun duduk. Ia sangat penasaran untuk mencicipi bagaimana rasa masakan Duncan.
Tak disangka omelette buatan Duncan lumayan enak meski dia masih amatir. Diam-diam Daphne semakin kagum dengan semua bakat terpendam yang dimiliki oleh lelaki itu.
"Bagaimana Nona, enak tidak?" tanya Duncan penasaran.
"Hmmm, lumayan."
Sambil menikmati sarapannya, Kakek James menyalakan televisi. Ia mengganti saluran beberapa kali, hingga berhenti pada sebuah headline news yang disiarkan secara langsung. Judul berita itu adalah mengenai dua orang wanita yang ditemukan tak sadarkan diri di dekat hutan. Kedua wanita itu sama-sama terluka parah di bagian leher.
"Apakah korban sudah sadar, Pak? Dan apakah benar mereka diserang oleh binatang buas?" tanya seorang reporter kepada petugas kepolisian.
"Satu korban sudah sadar, sedangkan yang satu lagi masih dalam keadaan kritis. Berdasarkan laporan sementara yang kami terima, korban dipatuk oleh seekor burung gagak hitam. Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikannya," jawab polisi itu.
Duncan sontak mengarahkan pandangan ke layar televisi. Melihat salah satu foto korban yang ditampilkan di layar, Duncan langsung mengenalinya sebagai wanita yang ditolongnya semalam. Ia merasa lega karena wanita itu akhirnya ditemukan pihak kepolisian. Namun, Duncan tak menyangka jika ada satu wanita lagi yang menjadi korban. Mungkinkah ada vampir lain yang juga berkeliaran di dunia manusia?
"Kejadian akhir-akhir ini semakin menakutkan. Masa burung bisa mematuk leher manusia, seperti vampir saja," celetuk Kakek James yang membuat Duncan hampir tersedak.
Daphne yang mendengar itu hanya bersikap acuh tak acuh. Namun ia terkejut ketika Kakek James menepuk bahunya.
"Daphne, mulai sekarang kamu tidak boleh pergi sendirian tanpa ditemani Duncan. Lihatlah tingkat kejahatan terhadap wanita semakin lama semakin meningkat," ucap Kakek James.
"Iya, Kek, aku mengerti. Aku akan menuruti nasehatmu," jawab Daphne.
"Nanti sepulang kuliah, mampirlah ke restoran. Kakek ingin bicara sesuatu yang penting denganmu," ucap Kakek James memasang wajah serius.
Untuk sesaat, Daphne teringat lagi akan ramalan kematian dan mimpi buruk yang dialaminya. Namun Daphne buru-buru mengusir pikiran negatifnya itu.
"Baik, Kek, hari ini aku hanya ada satu sesi kuliah. Setelah itu, aku akan ke restoran untuk membantumu," ucap Daphne tersenyum kepada kakeknya.
...****************...
Untuk menghindari suara-suara bising di kampus, Duncan memilih untuk menunggu Daphne di dalam mobil. Ia pun mulai mempraktekkan cara yang diajarkan Daphne untuk mencari data ibunya di internet.
Duncan sedikit bingung karena ada banyak nama Ariadna yang muncul. Terlebih ia tidak tahu siapa nama lengkap ibunya. Duncan lalu merogoh saku celananya untuk mengambil kalung peninggalan sang ibu. Ia mencoba mencocokkan foto ibunya dengan foto para wanita bernama Ariadna, tetapi hasilnya tidak ada yang sama.
'Sepertinya data ibuku tidak ada di internet. Dia hidup di masa lampau, sedangkan ini zaman modern. Kemungkinan datanya memang tidak tercatat. Lalu bagaimana caranya aku bisa menemukan keluarga ibuku?'
gumam Duncan dalam hati.
"Duncan, kenapa melamun?" tanya Daphne mengagetkan Duncan.
"Nona, kau sudah selesai kuliah?"
"Iya, ayo kita ke restoran."
Duncan pun menghentikan pencariannya di internet, lalu menyalakan mesin mobil. Dalam perjalanan, mereka tak saling bicara hingga akhirnya tiba di Oliver Kitchen.
Daphne terkejut melihat suasana restoran yang sangat lengang. Bahkan kakeknya, Noel, dan Xin Fei hanya duduk-duduk saja sambil mengobrol.
"Kek, kenapa sepi sekali di sini? Apa tidak ada tamu?" tanya Daphne mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran.
Kakek James menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Iya, akhir-akhir ini susah sekali mendapatkan pelanggan. Apalagi setelah ada dua restoran baru yang buka di sebelah kita."
"Jangan sedih, Kek. Nanti akan kucoba memasang iklan di media sosial," kata Daphne ikut prihatin.
"Tidak usah dipikirkan. Sekarang kita bicara di dalam saja," ucap Kakek James menggandeng Daphne ke ruang kerjanya.
Sepeninggal Daphne dan Kakek James, Duncan duduk bersama dengan Noel dan Xin Fei. Ia melihat wajah kedua lelaki itu sangat murung seperti orang yang tidak punya gairah hidup.
"Kenapa kalian sedih?" tanya Duncan ingin tahu.
"Karena kami takut kehilangan pekerjaan. Kalau tidak ada tamu yang datang, lama-lama restoran ini akan gulung tikar," ucap Noel sambil berdesah pelan.
"Betul, Duncan. Aku sudah sangat nyaman bekerja dengan Kakek James. Aku tidak mau restoran ini tutup," timpal Xin Fei.
Mendengar keluhan mereka, Duncan mencoba mencari ide. Dia harus membantu supaya restoran milik Kakek James kembali ramai seperti dulu.
"Aku tahu bagaimana caranya untuk menarik pengunjung. Tapi aku butuh bantuan kalian," ujar Duncan tiba-tiba.
Sementara di ruangan lain, Daphne dan Kakek James sedang berbicara empat mata.
"Sebenarnya ada apa, Kek? Kenapa mendadak Kakek mengajakku bicara berdua saja?" tanya Daphne sedikit khawatir.
Kakek James menarik napas panjang sambil memilin jari jemarinya. Kerutan di dahinya juga tampak semakin dalam. Pria tua itu tiba-tiba saja terlihat gelisah dan tidak nyaman.
"Daphne, saat Kakek menonton berita di televisi tadi pagi, Kakek rasa sudah saatnya kamu harus mengetahui penyebab kematian orang tuamu."
"Maksud Kakek apa?" tanya Daphne terkejut.
"Sebenarnya ibumu meninggal bukan karena melahirkan, dan ayahmu juga tidak meninggal karena kecelakaan," lirih Kakek James.
Mendengar ucapan Kakek James, wajah Daphne memucat. Ia sungguh tidak mengerti kenapa kakeknya tiba-tiba mengungkap tabir kematian kedua orang tuanya.
"Lalu apa yang menyebabkan mereka meninggal dunia, Kek?" tanya Daphne bingung.
"Ibumu...meninggal karena luka di lehernya, mirip dengan korban yang ada di televisi tadi. Sedangkan ayahmu, dia...tewas dalam pertempuran."
Mata Daphne terbelalak lebar saat mendengar pengakuan Kakek James. Ia tidak mengira sang kakek telah menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya.
"Pertempuran? Apakah ayahku seorang tentara yang bertugas di medan perang?" tanya Daphne tidak mengerti.
Kakek James kembali menarik napas panjang, seolah ada beban yang tertanam di dalam hatinya.
"Bukan pertempuran antar manusia. Namun perang melawan...vampir," ucap Kakek James terbata.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments