Mata Ratu Claudia nampak merah menyala, seolah ada api yang hendak menyembur keluar untuk membumi-hanguskan sekitarnya. Hugo yang masih melayang di udara ketakutan setengah mati. Ia khawatir Ratu Claudia akan menghabisinya hingga menjadi debu.
"Ampun, Ratu, saya bersalah karena tidak menjaga Tuan Muda dengan baik. Mohon Ratu bersedia memberikan waktu kepada saya untuk mencari Tuan Muda."
"Diam, Hugo! Kau pikir pelayan sepertimu punya kemampuan untuk menemukan Duncan? Kau tidak layak diampuni!" bentak Ratu Claudia. Ia menarik Hugo lebih tinggi lalu menghempaskannya tiba-tiba ke bawah.
Tubuh pria malang itu pun membentur lantai dengan keras. Jika ia seorang manusia biasa, pastilah tulang-tulangnya akan remuk atau patah menjadi beberapa bagian.
"Ratu, ampuni saya," pinta Hugo dengan suara bergetar.
Ratu Claudia berjalan mendekati Hugo lalu menjepit dagu pelayannya yang sedang terkapar di lantai.
"Mengingat jasa-jasamu dalam membesarkan Duncan, aku tidak akan menghabisimu. Tapi kau harus mendekam di penjara bawah tanah sampai cucuku ditemukan."
"Te...rima kasih, Yang Mulia," jawab Hugo gelagapan. Paling tidak ia masih diberi kesempatan untuk hidup oleh sang penguasa.
Ratu Claudia melangkah menjauhi Hugo lalu bertepuk tangan tiga kali. Tak berselang lama, seorang pria bertubuh tinggi besar masuk dan memberi hormat kepada sang ratu.
"Salam, Yang Mulia Ratu," ucap pria itu membungkukkan badan.
"Bawa Hugo ke penjara bawah tanah. Kurung dia sampai batas waktu yang aku tetapkan."
"Baik, akan saya laksanakan."
Pria itu pun mengangkat tubuh Hugo dengan satu tangan layaknya memungut boneka kapas. Kemudian ia memanggul tubuh Hugo yang tak berdaya di pundaknya.
"Kau harus merenungkan kesalahanmu selama berada di sana, Hugo," ujar Ratu Claudia sebelum pria pendek itu menghilang dari pandangannya.
Usai Hugo dibawa ke penjara, Ratu Claudia memerintahkan para pengawal agar tidak mengizinkan seorang pun mengganggunya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Wajahnya yang semula dingin dan tegas, kini berubah penuh kecemasan.
'Di mana kamu sekarang, Duncan?'
gumam Ratu Claudia
Wanita ribuan tahun yang awet muda itu lantas duduk bersila di atas permadani merah. Ia memejamkan mata, menghela dan menghembuskan napas beberapa kali sebelum menyatukan kedua telapak tangannya.
Ratu Claudia memusatkan energinya di satu titik fokus untuk merambah ke dunia metafisika. Dengan kemampuan telepatinya, wanita itu mampu menjelajah secara batin tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
'Duncan, aku memanggilmu....'
Dalam meditasinya, Ratu Claudia membayangkan wajah Duncan. Ia memanggil-manggil cucunya itu agar batin mereka terhubung satu sama lain. Namun anehnya setelah mencoba berkali-kali, ia selalu gagal terkoneksi dengan Duncan.
'Ada apa ini? Kenapa ada penghalang yang tidak bisa kutembus? Mustahil kalau kekuatanku mulai berkurang.'
Merasa kian cemas, Ratu Claudia beralih mengerahkan kemampuannya untuk melepas jiwa. Ia pun masuk ke peristiwa sebelum Duncan menghilang, untuk mengetahui apa yang terjadi.
Melalui sukmanya, Ratu Claudia melihat sejumlah anak muda yang sedang berkunjung ke museum. Kemudian ia menjelajah lebih dalam, berpindah ke lukisan kastil tempat Duncan berada.
Sontak mata Ratu Claudia terbelalak saat melihat siluet seorang gadis yang berdiri di depan lukisan itu. Instingnya mengatakan bahwa gadis itu memiliki hubungan hubungan dengan menghilangnya Duncan.
Merasa marah sekaligus penasaran, Ratu Claudia mencoba melihat wajah gadis itu. Namun ada semacam tabir yang menghalangi matanya. Dengan kekuatan penuh, Ratu Claudia berusaha menembusnya. Alih-alih berhasil, sukma Ratu Claudia justru terpental kembali ke dalam raganya.
'Oh, ada apa denganku?'
gumam Ratu Claudia mengusap rongga dadanya yang terasa nyeri.
Ratu Claudia membuka matanya lantad bangkit berdiri. Ia perlu beristirahat sebentar untuk memulihkan diri. Setelah ribuan tahun, ini adalah kali pertama ia gagal melakukan meditasi.
Sambil terduduk di tepi tempat tidur, Ratu Claudia teringat akan tragedi masa lalu dalam keluarganya. Benarkah kutukan yang menimpa putranya akan terulang kembali kepada cucunya? Tidak, ia harus mencegah semua itu sebelum terlambat.
'Brandon, bantu aku untuk menemukan putramu. Jangan sampai kutukan itu menimpa Duncan,'
lirih Ratu Claudia.
Sampai kapan pun, ia tidak akan melupakan peristiwa pahit di mana Brandon, putra kebanggaannya, harus menerima hukuman mati. Yang lebih menyakitkan lagi, hukuman mati itu diberikan oleh suaminya sendiri.
***
"Apa sekarang kau menyesali kesalahanmu, Brandon? Kau telah mencoreng nama baik keluarga kerajaan dengan menikahi keturunan manusia pemburu vampir," tanya Lord Anthony sambil menatap tajam putranya. Mata biru sang raja yang biasanya seterang langit, berubah gelap seperti badai yang mengamuk di tengah lautan.
Sembari bersimpuh di depan pengadilan, Brandon berucap dengan nada getir.
"Aku tidak pernah menyesali apa yang terjadi, karena aku sangat mencintai Ariadna. Hanya dia yang bisa mencairkan kebekuan hatiku. Berkat Ariadna, hidup abadiku tidak sia-sia."
"Plaakkk!"
Satu tamparan keras mendarat di wajah tampan Brandon. Sambil menggeram untuk meluapkan amarahnya, Lord Anthony menuding putranya itu di depan majelis kerajaan.
"Kau benar-benar pengkhianat! Kau bahkan tidak memikirkan perasaan Zetta, istri pertamamu. Aku menyesal sudah memiliki putra sepertimu, Brandon!"
"Maafkan aku, Yang Mulia Raja. Aku sudah mempermalukanmu dan menyakiti hati Zetta. Tapi sejak awal kami dijodohkan, aku memang tidak pernah mencintai Zetta," jawab Brandon dengan suara parau.
Urat leher Lord Anthony menegang. Tangannya terkepal erat-erat, bersiap mengeluarkan seberkas sinar mematikan. Mengetahui kemarahan suaminya yang tak terbendung, Ratu Claudia langsung berlari memeluk Brandon. Ia tak ingin terjadi pertumpahan darah antara suami dan anaknya.
"Brandon, cepat minta ampun pada ayahmu dan majelis vampir. Tinggalkan wanita manusia itu dan kembalilah kepada kami."
Cairan hangat meleleh dari sudut mata Brandon. Ia tidak pernah menyesali cintanya kepada Ariadna, hanya saja ia tahu bahwa akhir hidupnya sudah dekat.
"Aku tidak bisa, Yang Mulia Ratu. Istriku sedang mengandung dan aku tidak akan pernah meninggalkannya."
Bagai terkena sambaran petir, wajah Ratu Claudia dan Lord Anthony memucat seketika. Tak menyangka bila mereka akan memiliki cucu dari seorang manusia.
"Minggir, Claudia! Aku harus menghabisi anak tidak tahu diri ini sekarang juga!" bentak Lord Anthony penuh kemurkaan.
"Jangan, Anthony, aku mohon," pinta Ratu Claudia berlinang air mata.
Sementara Brandon memandang ibunya dengan tatapan sendu.
"Yang Mulia Ratu, aku memang pantas menerima hukuman mati. Sebelum aku menjadi abu, aku hanya minta satu hal kepadamu, tolong lindungi istri dan anakku. Jangan biarkan ada yang menyakiti mereka."
"Brandon...." lirih Ratu Claudia tak mampu berkata-kata.
"Berjanjilah, Ibu," ulang Brandon.
Ratu Claudia pun mengangguk, meskipun jantungnya serasa tertusuk pasak tajam.
"Aku berjanji akan menjaga mereka untukmu."
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu."
Melihat adegan itu, Lord Anthony semakin murka. Ia pun memerintahkan para pengawal untuk membawa istrinya meninggalkan ruang pengadilan.
"Bawa Ratu Claudia pergi!"
"Anthony, biarkan aku di sini menemani Brandon," ucap Ratu Claudia berusaha memberontak.
"Claudia, jika kau masih bersikeras, maka kau akan melihat kematian Brandon di depan matamu!"
Lord Anthony mengurung istrinya dengan mantra sihir, sehingga Ratu Claudia tidak mampu bergerak. Kemudian ia memutar tubuhnya untuk menghadap kepada majelis vampir.
"Hari ini, aku sebagai pemimpin klan vampir sudah mengambil keputusan atas putraku, Brandon. Karena dia melanggar hukum utama, dengan menjalin hubungan terlarang dengan musuh klan vampir, aku akan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Aku sendiri yang akan melakukan hukuman itu."
Para anggota majelis mengangguk sebagai tanda persetujuan. Lord Anthony lalu menghadap kepada Brandon. Putranya itu memejamkan mata, sudah pasrah dengan kematian yang akan segera menjemputnya.
"Lakukanlah, Yang Mulia, aku siap," tutur Brandon.
Tanpa berucap, Lord Anthony meletakkan telapak tangan kanannya di kepala Brandon. Detik selanjutnya, cahaya terang laksana api muncul dari jemarinya. Makin lama api tersebut semakin besar dan perlahan membakar kepala Brandon.
Brandon merasakan kobaran api tersebut kian menjalar di seluruh tubuhnya. Sebelum ia lenyap tak bersisa, Brandon mengucapkan pesan terakhir kepada Ariadna melalui kekuatan batinnya.
'Ariadna, jagalah putra kita baik-baik. Aku mencintai kalian.'
"Tidakkkk!" teriak Ratu Claudia histeris. Lututnya terasa goyah saat menyaksikan putra semata wayangnya berubah menjadi abu. Ia ingin berlari, tetapi tak sanggup karena tubuhnya ditahan oleh mantra Lord Anthony.
"Anthony, kau ayah yang kejam, tidak berperasaan!" teriak Ratu Claudia pilu.
Lord Anthony tidak menjawab. Ia masih membeku di tempatnya berdiri sambil memandangi abu dari jasad putranya. Tak terasa air matanya pun luruh.
Ada rasa penyesalan yang begitu besar menghinggapi dirinya. Sebagai seorang ayah ia tidak tega melakukan semua ini, tetapi di sisi lain ia adalah pemimpin klan vampir yang harus menegakkan keadilan.
Dengan hati hancur, Lord Anthony maju ke depan. Ia kembali berbicara kepada majelis vampir.
"Aku sudah melakukan tugas terakhirku sebagai raja. Mulai hari ini, aku bukan lagi pemimpin klan vampir."
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" tanya Marcus, salah satu anggota majelis.
"Aku akan mengasingkan diri di dunia gelap untuk selamanya. Aku menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada istriku, Ratu Claudia. Dia akan menjadi penguasa untuk sementara, sampai salah satu cucu laki-laki kami bisa menggantikannya."
"Tapi Yang Mulia...."
Lord Anthony tidak menghiraukan protes dari anggota majelis. Ia berjalan menghampiri sang istri lalu mengenakan cincin lambang kekuasaan raja di jari manis Ratu Claudia.
"Maafkan aku, Claudia. Kau pasti membenciku karena aku sudah menghabisi Brandon. Perlu kau tahu, aku juga sangat menyayanginya. Karena itu, aku ingin melakukan penebusan dengan menjalani hukumanku sendiri di dunia gelap."
"Anthony, kau tidak boleh pergi," kata Ratu Claudia berusaha mencegah suaminya.
"Keputusanku sudah bulat, Claudia. Aku serahkan tanggung jawab untuk menjaga klan vampir ke tanganmu. Lakukanlah juga pesan terakhir dari putra kita. Selamat tinggal, Claudia."
Ratu Claudia tidak dapat berbuat apa-apa saat melihat tubuh sang suami yang memudar, lalu perlahan lenyap tanpa jejak. Ia pun jatuh terduduk di lantai sembari meraung dengan keras. Tak menyangka jika malapetaka sebesar ini akan menimpanya. Dalam sekejap, ia kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu suami dan anaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Riska Riska
sungguh trgis
2023-03-31
0