"Kembalikan!" teriak Daphne hendak merebut ponselnya.
Namun ia kalah cepat dengan Duncan. Pria itu bergerak menjauh sambil tetap menggenggam ponsel di tangannya.
Untuk sesaat, mata Duncan terpejam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Namun sekejap kemudian, ia membuka mata lalu mengembalikan ponsel itu kepada Daphne.
"Coba nyalakan sekarang. Aku sudah memperbaikinya."
"A-apa maksudmu?" tanya Daphne keheranan.
"Lakukan saja atau tunjukkan padaku di mana tombol untuk menyalakan ponsel. Aku akan membuktikan bahwa ponsel ini tidak rusak."
"Tidak boleh, jangan coba-coba menyentuh ponselku lagi," ujar Daphne sembari membalikkan punggung.
Dengan perasaan was-was, Daphne menekan tombol power sambil menghitung mundur di dalam hati. Tak disangka pada hitungan ke dua, layar ponselnya benar-benar menyala.
Kelopak mata Daphne melebar. Ia tidak tahu apa yang diperbuat pria aneh ini pada ponselnya. Yang terpenting masalahnya kini sudah terselesaikan.
"Aku mau minum obat dan tidur. Terserah kau berbuat apa, yang penting jangan menggangguku! ancam Daphne.
Daphne segera memutar tubuhnya dan meninggalkan Duncan seorang diri. Berurusan dengan pria ini selalu membuatnya ketiban sial, dan ia tak ingin kejadian itu terulang lagi.
Setibanya di kamar, Daphne mengunci pintu dari dalam.
'Lebih baik aku minum obat, lalu tidur sampai pagi. Biarkan saja pria itu berbuat semaunya. Lagipula tidak ada yang bisa dicuri di rumah ini selain televisi,'
gumam Daphne meneguk obat berwarna putih.
Sebelum merebahkan diri di tempat tidur, Daphne mengganti pakaiannya dengan piyama berbahan satin. Ia menepuk bantal dua kali, memeluk guling, lalu menarik selimut sampai ke dagu. Oh, rasanya begitu nyaman terbebas dari semua masalah, terutama dari pria bernama Duncan.
Karena pengaruh obat yang diminumnya, tak lama Daphne pun terlelap. Setelah beberapa saat, Daphne ingin berbalik posisi menghadap ke kanan. Namun, ada sebuah benda yang menghalanginya hingga ia tidak dapat bergeser.
Antara sadar dan tidak, Daphne meraba-raba dengan tangan untuk mengenali benda itu. Teksturnya lunak, sedikit hangat, tetapi juga dingin.
"Hmmmm, apa ini? Guling ya?" lirih Daphne menggumam sendiri.
Daphne berusaha menggesernya dengan tenaga yang lemah, tetapi guling itu tidak bergeming. Akhirnya dia menyerah dan malah memeluk guling tersebut erat-erat.
'Nyaman sekali. Kenapa mendadak aku punya guling sebesar ini?'
pikir Daphne merasa senang.
Gadis itu semakin mengeratkan dekapan pada guling barunya, lalu mengusap-usap pelan permukaan guling itu.
"Jangan, Daphne, kau membuatku geli," tegur sebuah suara yang terdengar familiar.
"Eugh...sejak kapan guling bisa bicara. Diamlah, aku masih ingin memelukmu," gumam Daphne asal-asalan.
Akhirnya suara itu tak terdengar lagi. Daphne tersenyum merasakan kenyamanan yang membuatnya semakin betah. Namun tatkala ia hampir terlelap, Daphne teringat bahwa guling tidak dapat berbicara.
Sambil mengumpulkan nyawa, Daphne berusaha melawan rasa kantuknya. Samar-samar, ia memandang sosok yang tengah dipeluknya. Itu bukan guling, tetapi manusia, dan manusia itu adalah seorang pria.
Secara refleks, Daphne melepaskan tangannya dan menjerit dengan keras.
"Kyaa...pergi kau, pria mesum!"
Daphne segera beringsut menjauh, dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Siapa pria mesum itu? Aku?" tanya Duncan menunjuk dirinya.
"Tentu saja kau! Jangan berlagak bodoh. Kau menyelinap masuk ke kamarku, lalu berbaring di kasur supaya bisa berbuat mesum kepadaku," tuduh Daphne dengan mata melotot.
"Aku tidak berbuat apapun, justru kamu yang memeluk dan mengelus perutku sejak tadi. Saat aku menegurmu karena kegelian, kau malah menyuruhku diam," jawab Duncan membela diri.
Pipi Daphne memerah hingga ke belakang telinga. Ia merutuk dirinya sendiri yang telah bertindak gegabah. Akan tetapi, sekarang sudah kepalang tanggung. Dia tidak boleh mengaku salah di hadapan Duncan atau dia akan dipermalukan.
"Tetap saja kau yang bersalah! Kau masuk dan tidur di kamar seorang gadis tanpa izin. Sekarang cepat keluar atau aku akan menuntutmu!"
"Aku hanya ingin beristirahat setelah membersihkan rumahmu. Kau tidak menunjukkan di mana kamarku, makanya aku menumpang di sini," kilah Duncan.
Ekspresi polos yang diperlihatkan Duncan, membuat Daphne bertambah geram. Ia yakin pria ini sekadar berpura-pura untuk menutupi sifat aslinya yang mesum.
"Keluar!" pekik Daphne. Ia akan menyeret paksa lelaki ini bila tidak menuruti perintahnya.
"Iya, aku keluar sekarang," jawab Duncan. Ia sudah tidak tahan mendengar teriakan Daphne yang memekakkan gendang telinga.
"Tunggu dulu! Bagaimana caranya kau bisa masuk ke kamarku? Aku yakin sudah menguncinya dari dalam. Apa kau membukanya dengan senjata tajam?"
Duncan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mana mungkin ia berkata kepada Daphne, bahwa ia membuka pintu hanya dengan menjetikkan jari. Hal ini sangat mudah dilakukan oleh seorang vampir.
Belum sempat Duncan menjawab, pintu kamar terbuka dari luar. Mereka berdua sama-sama terkejut melihat Kakek James muncul di ambang pintu.
Hal yang sama terjadi pada Kakek James. Awalnya, ia menatap Duncan, lantas beralih kepada Daphne yang berada di tempat tidur. Cucu perempuannya itu tampak kacau dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Pikiran pria tua itu otomatis langsung mengarah pada satu hal.
"Aku pikir Tuan Duncan masih pingsan. Ternyata kalian berdua malah berduaan di kamar. Pantas saja tidak ada yang menyahut waktu aku memanggil," keluh Kakek James sambil mengelus da-danya sendiri.
Mengetahui Kakek James salah paham, Daphne bergegas turun dari tempat tidur. Ia harus meluruskan prasangka buruk dari sang kakek.
"Ini tidak seperti yang Kakek bayangkan. Tadi aku minum obat sinus, lalu tertidur di kamar. Waktu aku bangun, tahu-tahu pria ini sudah berbaring di sampingku. Saat aku bertanya, dia beralasan kecapekan setelah membersihkan rumah," jelas Daphne panjang lebar.
Bukannya mendengar penjelasan sang cucu, Kakek James malah berpaling kepada Duncan.
"Jadi kau yang membersihkan rumah kami, Tuan Duncan? Pantas saja rumah kami tampak bersih berkilau dan tertata rapi. Biasanya rumah ini berantakan karena Daphne malas merapikannya. Kau lelaki muda yang rajin," puji Kakek James menepuk bahu Duncan.
Daphne langsung berdecih sebal. Sang Kakek bukannya memarahi Duncan, tetapi malah menjatuhkan reputasinya di depan pria itu.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan James. Mulai hari ini, saya akan mengerjakan semua tugas rumah, seperti bersih-bersih, memasak, mencuci, termasuk membantu Anda di restoran. Namun saya mohon, izinkan saya tinggal di sini. Anda boleh memanggil saya kapan saja, karena saya selalu siap melayani Anda," pinta Duncan.
Kakek James terkekeh mendengar ucapan Duncan. Anak muda ini sepertinya butuh bantuan darinya hingga bersedia menjadi pelayan.
"Memangnya di mana keluargamu, Duncan?"
"Ayah dan ibu saya sudah meninggal, Tuan James. Saya dibesarkan oleh nenek saya," jawab Duncan apa adanya.
"Oh, maaf, aku tidak tahu kalau kau seorang yatim piatu. Baiklah, kau boleh tinggal di sini selama kau mau, asalkan kau memenuhi persyaratan dariku."
"Kek, jangan bercanda. Kenapa Kakek memperbolehkan dia tinggal bersama kita? Kita bahkan baru sehari mengenalnya. Bisa saja dia seorang buronan yang berbahaya," cegah Daphne menahan lengan kakeknya.
"Ssstt, diam gadis kecil, Kakek tidak meminta pendapatmu! Lagipula Kakek berbuat begini untuk melindungi kehormatanmu, karena kau sudah tidur dengan Duncan," tukas Kakek James.
"Aku tidak tidur dengannya, Kek. Percayalah padaku," rengek Daphne putus asa.
Kakek James menepis tangan Daphne, lalu menghampiri Duncan yang masih berdiri di pintu.
"Syarat yang aku ajukan adalah, nikahi cucuku, Daphne. Dengan begitu kau bebas tinggal di rumah ini untuk selamanya," ucap Kakek James.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments