Marah, terkejut, dan bingung, itulah yang dirasakan Daphne. Kepalanya lama-lama bisa meledak jika ia terus-menerus menghadapi pria tidak waras ini.
Karena sudah tidak bisa menahan emosi, Daphne akhirnya menarik kerah kemeja Duncan. Sungguh ia tidak peduli bila harus berkelahi dengan pria.
“Jangan mencari alasan! Bayar sekarang atau aku akan menghajarmu sampai babak belur.”
Duncan tidak merespon. Matanya malah terlihat semakin sayu seperti orang yang hendak tertidur.
“Hei, jangan pura-pura tidur! Aku akan menyeretmu ke kantor polisi,” bentak Daphne.
“Nona Daphne, aku memang tidak menyimpan uang manusia. Aku….”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Duncan mendadak luruh seperti bunga yang layu. Matanya terpejam rapat, sedangkan bibirnya terlihat sangat pucat. Daphne pun terperanjat dan segera menahan tubuh Duncan agar tidak jatuh ke bawah.
“Tuan Duncan, bangun! Bangun, jangan membuatku takut!” seru Daphne menepuk pipi Duncan yang dingin.
‘Astaga, dia benar-benar pingsan. Apa aku terlalu keras memarahinya? Bagaimana kalau dia sampai mati dan aku dianggap sebagai pembunuhnya,’
batin Daphne kalut.
Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, Daphne berteriak memanggil semua orang di restoran.
“Kakek, Noel, Xin Fei, tolong aku!”
“Ada apa ini? Kenapa kau berteriak, Daphne? Untung jantungku sehat, kalau tidak aku bisa mati mendadak,” tanya Kakek James datang tergopoh-gopoh.
“Kek, pria ini pingsan setelah aku memarahinya. Denyut nadinya tidak terasa. Aku takut dia mati,” ucap Daphne dengan suara serak.
“Kenapa kau memarahi pelanggan kita? Dasar gadis tidak tahu aturan!” ucap Kakek James memukul lengan Daphne dengan tongkatnya.
“Dia tidak mau membayar makanan, Kek. Karena itu, aku mengancamnya.”
“Tuan James, lebih baik kita bawa pria ini ke rumah sakit supaya mendapat penanganan. Takutnya dia alergi dengan salah satu bahan masakan kita,” celetuk Xin Fei.
“Betul, Tuan James. Kalau terjadi sesuatu kepadanya, kita bisa dituntut ke pengadilan,” timpal Noel.
Kakek James berpikir sejenak. Ia tidak mau ikut-ikutan panik seperti pegawainya yang masih bau kencur.
“Daphne, bawa saja Tuan Muda ini ke rumah kita dan rawat dia sampai sadar.”
Sontak mata Daphne membola seolah hendak keluar dari kelopaknya.
“Kakek menyuruhku membawa orang aneh ini ke rumah kita?”
“Iya, demi kebaikan restoran kita. Jika kita membawa Tuan Muda ke rumah sakit, biayanya pasti besar. Belum lagi nama Oliver Kitchen akan tercoreng karena ada pengunjung yang pingsan setelah makan. Gosip seperti ini cepat sekali beredar. Kalau sudah begitu, tidak akan ada orang yang mau mengunjungi restoran kita. Atau lebih buruknya pemerintah kota akan menutup restoran ini dan menginterogasi kita satu per satu. Kalian semua mau jadi pengangguran sekaligus narapidana?” tantang Kakek James memicingkan mata.
Daphne, Noel, dan Xin Fei langsung menggeleng ketakutan.
“Tidak, Kek. Baiklah, aku akan membawanya pulang ke rumah kita,” jawab Daphne patuh.
“Gadis pintar. Berusahalah untuk membuat Tuan Muda ini sadar. Lakukan apa saja yang penting dia sehat kembali,” titah Kakek James.
“I-iya, Kek.”
Dengan wajah masam, Daphne meminta bantuan Noel dan Xin Fei untuk membawa Duncan ke dalam taksi. Mereka membaringkan Duncan di kursi belakang, sedangkan Daphne duduk di samping supir taksi.
“Daphne, aku doakan kau berhasil membangunkan sang pangeran tidur,” seru Noel melambaikan tangan.
***
“Terima kasih, Pak. Ini tambahan dari saya,” ucap Daphne memberikan uang kepada supir taksi yang membantunya membopong Duncan ke sofa.
“Sama-sama, Nona.”
Usai supir taksi itu pergi, Daphne bergegas ke kamarnya. Ia ingin mencari sesuatu yang sekiranya bisa dipakai untuk membangunkan Duncan.
Ketika sedang mencari-cari, tatapan Daphne tertuju ke botol minyak angin beraroma mint. Ia biasa memakai minyak itu untuk melegakan hidung yang tersumbat.
‘Ah, pakai ini saja. Siapa tahu dia akan sadar.’
Dengan langkah mantap, Daphne membawa minyak angin itu ke ruang tamu. Ia membuka penutupnya lalu mendekatkan botol kecil itu ke hidung Duncan. Daphne menunggu dalam keheningan, tetapi Duncan tidak menunjukkan reaksi apapun.
‘Dia tidak bangun juga. Apa kucoba mengoleskan minyak ini di bawah hidungnya?’
Tanpa keraguan, Daphne menuang sebagian minyak ke jemarinya. Namun aroma mint yang menyengat malah mengusik indera penciuman Daphne. Tanpa bisa dicegah, ia bersin berkali-kali di hadapan Duncan. Daphne baru berhenti bersin tatkala mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
“Nona Daphne….”
Sontak, Daphne membuka mata dan tercengang melihat Duncan yang sudah duduk di hadapannya. Belum hilang rasa terkejutnya, Duncan langsung memegang kedua bahu gadis itu.
“Terima kasih, Nona Daphne. Kau telah menyelamatkan aku. Cup cup….”
Tanpa aba-aba, Duncan mengecup kedua pipi Daphne secara bergantian.
Wajah Daphne menegang. Dengan sekali ayun, dia hendak melayangkan tamparan keras kepada pria di hadapannya ini. Namun Duncan dengan sigap menepis tangan Daphne.
“Kenapa kau memukulku, Nona?” tanya Duncan keheranan.
“Karena kau bersikap kurang ajar kepadaku. Apa ibumu tidak pernah mengajarkan bagaimana bersikap sopan terhadap wanita? Pria tidak boleh mencium wanita tanpa izin!” bentak Daphne murka.
Duncan menaikkan setengah alisnya sambil menatap Daphne penuh tanda tanya.
“Tapi aku pernah mencium nenekku dan dia tidak marah.”
Detik ini juga, Daphne rasanya ingin menerkam Duncan. Entah pria ini memang polos atau hanya berpura-pura bodoh untuk menipu wanita.
“Apa kau tidak tahu perbedaan antara nenekmu denganku? Jangan-jangan kau juga tidak paham perbedaan antara pria dan wanita,” desis Daphne geram.
“Aku memang tidak mengerti apa perbedaan mendasar pria dan wanita. Bisa kau jelaskan kepadaku beserta dengan contohnya, Nona,” tanya Duncan mendekatkan wajahnya.
Pipi Daphne semakin memerah seperti kepiting rebus. Dari jarak dekat, wajah Duncan justru semakin tampan seperti Dewa Apollo yang turun dari langit.
“Cari saja sendiri di internet,” ujar Daphne mendorong tubuh Duncan sambil menahan napas.
“K-kenapa kamu bisa pingsan seperti orang mati?” tanya Daphne mengalihkan pembicaraan.
Duncan menggaruk kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Tadi aku memang mati suri. Itu terjadi karena aku terlalu banyak memakan makanan manusia,” kata Duncan dengan enteng.
***
Seorang pria gempal bertubuh pendek nampak tergesa-gesa melewati gerbang utama. Namun ia dihadang oleh dua pria berjubah hitam.
“Untuk apa kau kemari, Hugo?” tanya salah satu pria yang bermata hijau zamrud.
“A-aku harus bertemu dengan Yang Mulia Ratu. Ada hal mendesak yang harus aku laporkan,” kata Hugo terbata-bata.
“Yang Mulia sedang istirahat, tidak bisa diganggu.”
“Tapi ini tidak bisa ditunda,” jawab Hugo bersikukuh.
“Biarkan Hugo masuk!”
Terdengar suara menggelegar yang memutus perdebatan itu. Secara refleks, mereka semua membungkukkan badan kepada sosok wanita bergaun merah yang berjalan mendekati gerbang.
Ketika wanita itu mengangkat telapak tangan, Hugo langsung tertarik ke arahnya.
“Ada apa, Hugo?”
“Ma-af, Yang Mulia Ratu, saya ingin melaporkan kalau Tuan Muda…hilang.”
Wajah wanita yang cantik jelita itu mendadak berubah menjadi bengis. Dengan kekuatan magisnya, ia mengangkat tubuh Hugo hingga melayang tinggi ke atas.
“Bagaimana mungkin cucuku bisa hilang? Aku sudah menyegel kastil dengan mantra paling kuat.”
“Sa-ya juga tidak tahu, Yang Mulia. Sepulang dari mengambil bahan makanan, saya mencari Tuan Muda di seluruh kastil, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Saya khawatir Tuan Muda sudah…keluar dari lukisan,” ucap Hugo dengan suara gemetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
mama Al
apa Duncan di kutuk sampai masuk dalam lukisan
2023-01-28
0