Daphne langsung mengunci pintu ketika masuk ke dalam kamar. Kali ini tak hanya menguncinya saja, ia juga menggeser kursi dan menempelkannya di daun pintu sebagai penghalang. Dengan perlindungan, ia berharap Duncan tidak akan mampu menembusnya. Andai pria itu tetap memaksa masuk, ia pasti akan terbangun karena mendengar derak kursi yang bergeser.
'Aku akan menyiapkan tongkat baseball di atas kursi untuk melindungi diri dari Duncan,'
gumam Daphne.
Setelah dirasa keamanannya terjamin, Daphne pun menghempaskan diri di tempat tidur. Sialnya, di kala menutup mata, bayangan Duncan justru melintas silih berganti. Dimulai dari kemunculan misterius pria itu, sampai terakhir kali ia melihat bagian atas tubuhnya yang sangat menggoda.
Daphne segera menepuk dahinya dengan keras untuk mengenyahkan pikirannya yang melantur. Entah mengapa dunianya menjadi jungkir balik hanya karena ulah seorang pria bernama Duncan.
'Ish, pasti aku terkena mantra lelaki itu. Lebih baik aku mengerjakan laporan daripada terus-terusan memikirkan dia.'
Daphne menyibakkan selimut dari tubuhnya, lalu bergegas turun dari tempat tidur. Tanpa membuang waktu, Daphne membuka laptop dan buku catatan yang dibawanya di museum.
Sebelum mulai, Daphne menyisingkan lengan baju. Malam ini juga dia akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk menyelesaikan laporan. Dia bertekad akan menjadi mahasiswa pertama yang menyerahkan tugas kepada Mr. Mourens.
'Jangan panggil aku Daphne, jika aku gagal mendapatkan nilai terbaik.'
Dengan gerakan jemarinya yang lincah, Daphne mengetik huruf demi huruf yang ia salin dari buku catatan. Kemudian, ia mengkoreksi beberapa kalimat menjadi lebih indah untuk dibaca. Di balik sikapnya yang ceroboh, Daphne sebenarnya seorang gadis yang perfeksionis. Bahkan ia rela mengerjakan ulang laporannya demi mendapatkan hasil terbaik.
Menit demi menit berlalu, Daphne masih berkonsentrasi untuk mengerjakan laporan. Hingga sampai di halaman keempat, matanya mulai terasa berat. Berkali-kali Daphne menguap sambil menutup mulut. Namun, semakin ia berusaha untuk bertahan, rasa kantuk itu malah kian mendera.
Karena matanya semakin meredup, Daphne mencoba beristirahat sebentar. Dengan menggunakan lengannya sebagai alas, ia merebahkan kepala di atas meja. Tak disangka hanya dalan hitungan detik, Daphne tertidur pulas.
Sementara di luar, Duncan berjalan mengendap-endap seperti maling. Begitu sampai di depan pintu kamar Daphne, ia berhenti sejenak. Memeriksa apakah Daphne sudah tertidur atau belum.
Karena tidak ada suara apapun, Duncan menggunakan kemampuan telekinesis. Ia membuka pintu, lalu menyingkirkan kursi yang dipasang Daphne.
'*Kenapa Daphne duduk diam seperti itu? Dia tidur atau mati ya? Aku harus memastikan*nya,'
Duncan bergegas menuju ke meja belajar. Ia meraih lengan Daphne sambil menghadapkan wajah gadis itu ke arahnya. Setelah merasakan hembusan napas dan denyut nadi gadis itu, Duncan bernapas lega. Ternyata gadis ini hanya sedang ketiduran saja, bukan mati seperti dugaannya.
Selagi ada kesempatan, Duncan mengamati detail wajah Daphne. Dalam mimpinya, rupa sang gadis sedikit samar. Namun ia ingat betul warna rambutnya yang pirang sama persis dengan Daphne.
'Gadis itu memang dia. Tapi apa hubunganku sebenarnya dengan Daphne? Dia manusia biasa, sedangkan aku vampir setengah manusia.'
Karena belum menemukan jawaban, Duncan mengalihkan perhatiannya pada layar laptop. Ia mencoba membaca isi laporan yang dikerjakan Daphne, lalu beralih ke buku catatannya. Di situ tercatat sejumlah hasil riset beserta petunjuk pengerjaan dari sang dosen.
'Laporannya minimal lima halaman. Daphne baru mengerjakan halaman ke empat. Akan kucoba menyelesaikan sisanya,'
pikir Duncan.
Karena tidak bisa mengoperasikan laptop, Duncan terpaksa menggunakan ilmu sihir. Ia menempelkan tangannya di dahi Daphne untuk mengakses memori gadis itu. Ia bahkan melihat bagaimana Daphne bersin-bersin, hingga membuatnya terlempar dari lukisan. Bila dipikir lagi, kejadian ini sangat menggelikan.
Berkat ilmu sihir, laporan Daphne selesai dalam sekejap mata. Duncan tersenyum lebar, merasa bangga dengan kekuatannya yang maju pesat.
Sebelum pergi, Duncan menggendong Daphne dan memindahkannya ke tempat tidur. Baginya tubuh mungil Daphne mirip sepotong kapas yang begitu ringan.
'Tidurlah yang nyenyak supaya besok kau tidak marah-marah lagi,'
bisik Duncan.
...****************...
"Astaga, aku bangun kesiangan. Bagaimana dengan laporanku?" pekik Daphne panik. Ia terkejut karena mendapati dirinya tertidur di kasur, bukan di meja belajar.
Dengan mata yang terasa lengket, Daphne memaksa dirinya turun dari tempat tidur. Kondisi laptopnya masih menyala seperti terakhir kali dia memakainya.
Daphne segera membuka file laporan semalam. Kedua alisnya saling bertaut tatkala melihat laporannya itu telah selesai.
'Hah, siapa yang mengerjakan laporan ini? Seingatku semalam aku baru sampai halaman empat. Dan kenapa aku bisa berpindah ke tempat tidur? Apa jangan-jangan...."
Sosok tersangka yang pertama kali muncul di benak Daphne adalah Duncan. Namun, melihat kursi yang masih menempel pada daun pintu, Daphne jadi ragu-ragu.
Daripada bingung sendiri, Daphne memilih bersiap ke kampus. Anggap saja malam tadi ia mendapat pertolongan dari seorang malaikat.
Usai mandi dan sedikit berdandan, Daphne keluar dari kamarnya. Ia terlihat lebih segar dengan blouse berwarna kuning cerah.
"Kek, maaf aku bangun kesiangan dan tidak sempat...."
Daphne menghentikan ucapannya karena tak ada siapapun di meja makan.
Takut kakeknya diculik, ia bergegas melakukan pencarian ke seluruh sudut rumah. Tak disangka, sang kakek malah asyik mengobrol dengan Duncan di dapur. Pria tua itu meletakkan pancake di atas piring, sedangkan Duncan mencuci peralatan memasak.
"Kakek ternyata ada di sini. Aku cari Kakek ke mana-mana."
"Siapa suruh kamu bangun kesiangan. Lihat kami dua orang pria sudah membuat sarapan untukmu. Ayo, kita makan pancake selagi hangat," jawab Kakek James.
Duncan hanya cengar-cengir mendengar Daphne mendapat omelan dari kakeknya. Hal ini membuat Daphne bertambah kesal. Ia bertekad akan membalas Duncan sampai pria itu benar-benar kapok.
Ketika mereka bertiga sarapan, Kakek James menyampaikan keputusannya.
"Daphne, mulai sekarang Duncan yang akan mengemudikan mobilmu dan mengantarmu ke kampus."
Daphne nyaris tersedak mendengar perkataan kakeknya itu.
"Dia yang akan menyetir mobilku? Tidak, aku tidak mau."
"Jadi kamu lupa janjimu kemarin, Sayang? Mau Kakek nikahkan sekarang dengan Duncan?"
Daphne langsung mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepala.
"Jangan, Kek. Oke, Duncan akan menjadi supir merangkap pengawalku," jawab Daphne mengalah.
Daphne lantas mengarahkan tatapan tajamnya kepada Duncan.
"Kau, ganti pakaianmu! Aku tidak mau punya supir yang penampilannya jelek. Jangan mempermalukan aku di depan mahasiswa lain."
"Jadi bajuku ini masih kurang bagus?" tanya Duncan.
"Iya, cepat, aku menunggumu di depan! Dan juga ambil kartu pengenalmu dan surat izin mengemudi. Aku akan memeriksanya," tukas Daphne. Penting baginya untuk menyelidiki siapa pria ini sebenarnya.
Duncan menggaruk dagunya. Jujur, ia tidak mengetahui bagaimana bentuk kartu pengenal milik manusia.
"Boleh, aku pinjam punyamu dulu?" tanya Duncan.
"Untuk apa?"
"Aku akan menjadi pengawalmu, tentu saja aku harus lebih mengenalmu."
Dengan wajah cemberut, Daphne mengeluarkan kartu yang diminta Duncan. Pria itu mengamati dengan seksama, lalu mengembalikan kartu tersebut kepada Daphne. Setelahnya, Duncan masuk ke kamar untuk mengganti baju.
"Sayang, kau jangan semena-mena kepada Duncan. Perlakukan dia dengan baik," ucap Kakek James memberi nasehat.
"Tapi Kek, aku benci dia."
"Sshhh, jangan terlalu membenci Duncan. Nanti kau malah jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya. Apalagi nama kalian sama-sama berawalan huruf D. Sudah ya, Kakek berangkat duluan ke restoran. Xin Fei sudah menjemput Kakek," ucap Kakek James melambaikan tangannya.
Daphne berdecih di dalam hati. Meski harus menjadi perawan tua, ia tidak akan pernah jatuh cinta kepada pria belok seperti Duncan.
Sambil menenteng tas kuliahnya, Daphne menunggu di depan pintu. Sontak, ia melonjak kaget ketika merasakan tangan yang dingin menyentuh kulitnya.
"Daphne, ayo kita berangkat. Aku sudah siap."
Daphne menoleh dan hendak memarahi sang pemilik suara. Akan tetapi, ia kehilangan kata-kata saat memandang Duncan yang nampak begitu tampan. Pria itu mengenakan kaus putih lengan panjang dipadu celana jeans biru tua. Sungguh pakaian bekas milik ayahnya itu terlihat sangat pas untuk Duncan. Ditambah lagi, ia mengenakan kaca mata hitam yang membuatnya semakin gagah.
"I-iya, kamu masuk mobil...duluan," ucap Daphne tergagap.
"Bukankah kau ingin melihat kartu identitasku? Ini dia," ucap Duncan tersenyum smirk.
Dengan tangan sedikit gemetar, Daphne menerima kartu yang disodorkan Duncan. Ia membaca data diri pria itu dengan seksama. Namun, matanya langsung membola ketika sampai di bagian tanggal lahir.
"7 Desember 1020. Hah, apa petugasnya salah ketik? Kalau kau lahir di tahun 1020, artinya usiamu sudah seribu tahun," ujar Daphne memandang Duncan keheranan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments