Menyadari ketelodorannya sendiri, Duncan segera mencari ide untuk mengubah kartu identitasnya secara diam-diam.
"Berikan kepadaku," kata Duncan mengambil kartunya dari tangan Daphne.
"Aku yakin kartu ini cuma rekayasa. Kamu pasti membuat identitas palsu untuk menipu semua orang," tuduh Daphne.
Duncan mengusap permukaan kartunya, lalu pura-pura membaca ulang.
"Tidak ada yang salah dengan tahun kelahiranku. Coba baca sekali lagi," ujar Duncan menyerahkan kartu itu kepada Daphne.
"Tidak mungkin aku salah baca. Aku tidak akan tertipu oleh...."
Daphne menghentikan ucapannya ketika melihat tahun kelahiran Duncan sudah berubah. Yang lebih mengejutkan, tahun kelahiran pria itu sama persis dengannya, yaitu tahun 2000.
"I-ini tidak mungkin. Jelas-jelas tadi aku melihat angka 1020. Kenapa sekarang berubah menjadi tahun 2000? Kau...pasti memakai trik sihir atau sulap untuk meniru tahun kelahiranku," ucap Daphne dengan mata terbelalak.
Duncan bersedekap sambil menaikkan kedua alisnya.
"Apa aku terlihat melakukan sesuatu di depanmu? Mungkin kau masih mengantuk, sehingga salah melihat angka. Ayo, kita berangkat sekarang. Kakek bilang kelasmu akan dimulai jam sepuluh," kata Duncan menuju ke mobil.
Daphne mengikuti pria itu dengan tatapan penuh curiga. Cepat atau lambat, dia akan mengumpulkan bukti bahwa Duncan adalah seorang penyihir. Dengan begitu, Kakek James tidak akan mempercayai pria itu lagi.
Daphne terus mengawasi Duncan yang duduk di kursi kemudi. Pria itu terlihat begitu santai, seolah tanpa beban sama sekali.
"Kau bisa menyetir mobil tidak?" tanya Daphne ragu-ragu.
"Bisa, aku akan mengantarmu dengan selamat," balas Duncan mulai menjalankan mobilnya.
"Karena kau supir merangkap pengawalku, mulai sekarang panggil aku "Nona" seperti sebelumnya," titah Daphne. Ia harus menampakkan kekuasaannya di depan Duncan.
"Baik, Nona Daphne," jawab Duncan patuh.
Sambil menyandarkan kepala di kursi, Daphne membiarkan lelaki itu menjalankan mobilnya. Ternyata punya supir pribadi cukup menyenangkan. Selain bisa bersantai, ia juga merasa dirinya bak seorang nona muda.
Tatkala Daphne sedang menikmati musik dari earphone, ia merasakan kecepatan mobilnya bertambah dua kali lipat. Semakin lama, mobil yang dinaikinya melaju semakin kencang, lalu berbelok tajam ke kanan.
"Duncan, apa kau sudah gila? Kau mau membunuhku?" tegur Daphne berjengit kaget.
"Diam saja, Nona. Aku sedang berusaha mendahului mobil lain, supaya kau cepat sampai di kampus."
"Kalau begini, aku lebih dulu menjadi mayat sebelum tiba di kampus," gerutu Daphne.
Belum juga Daphne selesai bicara, Duncan malah mengerem mobilnya secara mendadak. Jika saja Daphne tidak memakai sabuk pengaman, sudah pasti dahinya benjol karena membentur dashboard.
"Hentikan! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!" teriak Daphne.
"Tenang saja, Nona tidak mungkin mati selama ada aku. Sekarang, pejamkan mata Nona."
"A-apa yang mau kau perbuat lagi?" tanya Daphne ketakutan.
Tanpa menghiraukan Daphne, Duncan menginjak gas, lalu menyalib mobil-mobil yang ada di depannya. Sontak Daphne memejamkan mata erat-erat.
Kali ini, ia sudah pasrah. Bila hidupnya harus berakhir, maka ia akan bersatu kembali dengan ayah dan ibunya di Surga.
Daphne terus memanjatkan doa di dalam hati. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar kematiannya nanti tidak terlalu menyakitkan.
"Daphne, buka matamu."
Terdengar sebuah suara lembut memanggil namanya. Daphne mengira itu adalah suara malaikat pencabut nyawa.
"Apa aku sudah berada di Surga?" tanya Daphne memastikan.
"Kau berada di kampus, bukan di Surga. Turunlah, Nona."
Daphne langsung membuka kedua kelopak matanya. Ia terperanjat saat menyadari dirinya sudah berada di parkiran kampus. Padahal, tadi ia masih berjuang antara hidup dan mati di jalan raya.
"Kenapa secepat ini kita sampai di kampus? Apa kau membuat mobilku terbang menembus awan?" tanya Daphne berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Kalau iya, lalu kenapa? Aku paling tidak sabar melihat kemacetan," balas Duncan enteng.
Dengan wajah tanpa dosa, pria itu membuka kaca matanya lalu membukakan pintu untuk Daphne.
"Selamat belajar, Nona. Ingin dijemput jam berapa?"
Daphne benar-benar gusar melihat ekspresi tak bersalah yang ditunjukkan Duncan. Ia akan segera membalas perbuatan lelaki ini, dengan membuatnya menunggu seharian di kampus.
"Dengar, selama aku kuliah, kau harus menungguku, tidak boleh pergi ke tempat lain."
"Baiklah, tapi aku harus menunggu di mana?"
Daphne menarik tangan Duncan dan mengajaknya menuju ke taman kampus. Namun di tengah jalan, ia dihadang oleh Tracy.
"Daphne, kau sudah datang? Kenapa kemarin kau menghilang dari museum? Apa sinusmu bertambah parah?" cecar Tracy.
"Tracy, aku sedang ada urusan penting. Nanti saja aku jelaskan," tolak Daphne.
"Eits, tunggu dulu, aku ingin bicara."
Tracy melirik Duncan, lalu berbisik ke telinga Daphne.
"Siapa laki-laki itu? Apa dia pacarmu?"
"Bukan, dia supirku."
"Hah, ini tidak masuk akal! Kau punya supir setampan aktor Hollywood. Siapa namanya? Dia bahkan lebih tampan daripada Axton. Tolong kenalkan aku padanya, Daph," bujuk Tracy melancarkan tatapan puppy eyes.
Daphne merotasikan bola matanya dengan jengah. Sifat genit Tracy memang selalu muncul di waktu yang tidak tepat.
"Namanya Duncan Kliev. Kalau kau ingin berkenalan, lakukan saja sendiri. Tapi sebelumnya, aku harus membawa Duncan ke taman, supaya dia menungguku di sana."
"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarnya? Kau masuk kelas dan carikan kursi untuk kita," tanya Tracy menawarkan bantuan.
"Terserah kau saja. Tapi, jangan terlalu lama menyusulku," jawab Daphne.
"Kau memang sahabat yang pengertian, Daph. Thanks, Baby."
Melihat Daphne pergi meninggalkannya, Duncan merasa keheranan.
"Nona, mau ke mana? Aku belum tahu di mana letak taman yang kau maksud."
"Ssshhhh, jangan takut, Tampan. Ada aku, Tracy Dawson. Aku yang akan mengantarmu ke taman."
Duncan pun terpaksa mengikuti ajakan Tracy. Gadis itu menggandeng tangannya dengan erat, seolah tak mau melepasnya barang sedetik pun.
"Duduklah di bangku taman ini sambil menunggu kami. Nanti begitu kelas selesai, aku dan Daphne akan menemuimu. Sampai jumpa nanti, Tampan," kata Tracy dengan nada manja.
Sepeninggal Tracy, Duncan duduk sendirian di bangku taman. Awalnya Duncan merasa baik-baik saja. Namun, melihat para mahasiswa yang berlalu-lalang, Duncan tiba-tiba merasa pusing.
Kepalanya dipenuhi oleh suara hati dan pikiran mereka yang bercampur aduk menjadi satu. Ada yang marah, ada yang gelisah memikirkan ujian, dan ada pula yang sedang membayangkan hal mesum.
Karena belum terbiasa bertemu banyak manusia, Duncan merasa kewalahan. Suara bising itu masuk secara bersamaan, hingga membuat telinganya berdengung hebat.
Tak tahan lagi, hidung Duncan mengeluarkan darah segar seperti orang mimisan.
'Aku harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan fokus. Jika darahku terus mengalir seperti ini, aku harus meminum darah baru sebagai penggantinya,'
gumam Duncan menyeka cairan merah di hidungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments