Karena rasa penasaran, pria itu kembali duduk untuk melanjutkan meditasinya. Bagaimanapun dia harus menyelidiki siapa pemilik energi tersebut. Bila benar itu adalah Duncan, maka ia tak akan segan untuk segera melenyapkannya.
Pria itu kembali memusatkan segenap konsentrasi. Mencoba menyalakan radar batinnya untuk menangkap energi itu. Namun anehnya, ia justru tak dapat merasakan apa-apa.
"Aarrrggh, sial! Ke mana perginya energi itu? Kenapa bisa lenyap begitu saja?!" teriak pria itu kesal.
Merasa usahanya sia-sia, lelaki muda itu mulai tersulut emosi. Kilatan cahaya seperti sinar laser pun muncul dari kedua telapak tangannya. Dengan sekali ayun, cahaya hijau itu melesat lalu menghancurkan benda-benda di dalam ruangan.
Sinar itu bertambah besar seiring dengan kemarahannya yang kian memuncak. Ketika ia bersiap menghancurkan seluruh ruangan, mendadak pintu terbuka dari luar. Sinar ungu berbentuk spiral melesak dan bertabrakan dengan cahaya hijau itu.
"Vladimir, hentikan! Kenapa kau melakukan kegilaan ini? Bagaimana kalau Ratu sampai tahu?" seru seorang wanita bergaun hitam. Wanita itu memakai aksesoris serba hitam layaknya perempuan yang sedang berkabung.
Sontak, lelaki itu menoleh dan menghentikan aksinya. Matanya yang semula berkilat-kilat, berubah menjadi redup setelah melihat kedatangan wanita yang sangat dihormatinya itu.
"Aku baru saja merasakan energi yang mirip denganku, Bu. Aku yakin sekali jika itu milik Duncan. Dia sekarang ada di antara manusia," jawab Vladimir mengetatkan rahangnya.
"Lalu apa yang membuatmu marah? Bukankah kamu bisa menangkap anak haram itu sekarang juga?" tanya Zetta kepada putranya.
"Justru itu, aku gagal melacak jejaknya. Seperti ada kabut tebal yang menghalangi pandanganku. Apa mungkin dia mengenakan mantra pelindung yang sangat kuat?" ucap Vladimir menekankan telapak tangannya ke dinding.
"Aku rasa itu mustahil. Saat ini, usia Duncan baru menginjak seribu tahun. Mana mungkin dia memiliki kekuatan yang lebih besar darimu."
"Mungkin Ratu Claudia yang memberikan perlindungan kepadanya," kata Vladimir dengan nada getir.
"Kenapa hari ini Ibu tiba-tiba mengunjungiku?" tanya Vladimir lagi.
"Ibu datang untuk memberitahumu sebuah rencana yang sangat penting."
Zetta memegang bahu Vladimir untuk menenangkan putranya itu.
"Lain kali kendalikan emosimu dengan baik jika kau ingin menjadi raja. Kesempatan emas itu sekarang sudah ada di depan mata."
"Jangan memberiku harapan palsu, Bu. Aku bahkan belum menemukan keberadaan Duncan, karena Ibu melarangku meninggalkan kastil."
"Sekarang tidak lagi. Sudah saatnya kamu pergi ke dunia manusia."
"Tapi bagaimana dengan Ratu Claudia?" tanya Vladimir tidak mengerti.
"Justru Ratu sendiri yang akan mengutusmu untuk mencari cucu kesayangannya. Mata-mata Ibu mengatakan bahwa Ratu Claudia sedang gelisah karena Duncan lenyap dari lukisan. Ratu sangat marah, lalu memenjarakan Hugo di ruang bawah tanah. Inilah saat yang tepat bagimu untuk menunjukkan rasa simpati."
Senyuman dingin langsung tercetak di bibir Vladimir.
"Baik, Ibu, aku akan menemui Ratu sekarang juga."
Vladimir memejamkan matanya. Dalam sekejap, ia sudah berpindah ke depan pintu kamar neneknya. Pengawal yang berjaga sampai terkejut melihat kedatangan pangeran vampir itu.
"Salam, Pangeran," sapa mereka seraya membungkukkan badan.
"Tolong sampaikan kepada Ratu kalau aku ingin menemuinya."
"Nenek tahu kamu akan datang," potong sebuah suara dari balik pintu.
Ratu Claudia pun melangkah keluar dan memeluk Vladimir. Cukup lama mereka tidak bertemu karena Vladimir sedang melatih kesaktiannya di Kastil Barat.
"Hari ini aku baru menyelesaikan meditasi tahap terakhir."
"Bagus, Vladi, nenek bangga padamu."
Ratu Claudia mengajak Vladimir ke kamarnya untuk berbincang-bincang. Ia berharap kehadiran cucu pertamanya ini bisa sedikit mengobati kerisauan hatinya.
"Yang Mulia, aku mendengar bahwa Anda memenjarakan Hugo. Apakah ini ada kaitannya dengan adikku, Duncan?" tanya Vladimir.
Terdengar helaan napas berat dari wanita itu sebelum menjawab pertanyaan Vladimir.
"Aku tidak menyangka dinding istana ini memiliki mata dan telinga, sampai kau yang berada di Kastil Barat bisa mendengar desas-desus hilangnya Duncan."
Ratu Claudia menjeda ucapannya sebentar.
"Adikmu memang hilang sejak beberapa hari lalu. Aku tidak dapat menemukannya lewat meditasi."
"Lalu apa rencana Anda, Ratu?" tanya Vladimir pura-pura prihatin.
"Aku akan memilih salah satu panglima untuk mencari Duncan di dunia manusia."
"Yang Mulia, sebaiknya jangan lakukan itu. Vampir yang bukan dari keturunan bangsawan akan mudah tergoda untuk menghisap darah manusia. Banyak manusia yang akan menjadi korban, dan itu bisa memancing peperangan besar antara kita dengan kaum pembasmi vampir."
Ratu Claudia terdiam sebentar untuk mempertimbangkan nasehat dari cucunya.
"Kau benar, Vladi. Tapi siapa yang bisa dipercaya untuk menjalankan tugas ini? Duncan harus segera ditemukan sebelum ia tertimpa bahaya."
Vladimir langsung memegang tangan neneknya, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Aku bersedia diutus ke dunia manusia, Yang Mulia. Dengan kemampuanku, aku pasti bisa menemukan Duncan," ucap Vladimir meyakinan sang ratu.
...****************...
Meski Duncan menyuruhnya untuk pergi, Daphne tetap menunggu di dalam mobil. Ia tidak akan bergeming dari taman itu sebelum memastikan Duncan baik-baik saja. Bila pria tersebut sampai celaka, ia pasti akan merasa berdosa seumur hidup.
'Duncan, semoga kamu menang melawan penjahat itu,'
batin Daphne penuh harap.
Rasa cemasnya menguap seketika saat melihat Duncan keluar dari taman.
"Duncan, sebelah sini!" panggil Daphne seraya membunyikan klakson.
"Nona Daphne, kenapa belum pergi? Bukankah aku menyuruhmu pulang ke rumah?" tanya Duncan keheranan.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian. Cepat masuk!" pinta Daphne sambil membuka pintu mobil.
Begitu Duncan duduk di sampingnya, Daphne meraba seluruh permukaan wajah, tangan, dan kaki pria itu.
"Ke-napa, Nona?" tanya Duncan bingung.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak terluka."
"Aku tidak apa-apa, Nona. Penjahat itu sudah kabur dan tidak akan mengganggu Nona lagi. Nona aman sekarang."
Daphne memandang Duncan dengan tatapan penuh kekaguman. Ternyata penilaian kakeknya tentang lelaki ini sangat tepat. Duncan tak hanya sempurna secara fisik, tetapi juga bisa melindunginya dari marabahaya. Andai saja Duncan bukan seorang gay, mungkin dia akan bersedia menikah dengan pria ini.
"Nona, kenapa menatapku terus? Apa aku berbuat kesalahan?"
"Eh, tidak," jawab Daphne merasa malu.
Duncan tiba-tiba mencodongkan wajahnya ke arah Daphne. Sontak gadis itu menahan napas karena mengira Duncan akan menciumnya. Namun dugaannya ternyata keliru. Duncan hanya mengamatinya sebentar, lalu menarik diri ke posisi semula.
"Wajah Nona pucat. Sebaiknya Nona istirahat saja. Aku yang akan mengemudikan mobil," ucap Duncan.
Daphne akhirnya menurut dan bertukar posisi dengan Duncan. Tak berselang lama, pria itu segera menjalankan mobilnya menuju jalan raya. Kali ini, Duncan menyetir dengan hati-hati supaya Daphne tidak ketakutan.
"Duncan, jangan langsung pulang ke rumah. Aku ingin mentraktirmu dulu sebagai ucapan terima kasih," ujar Daphne tiba-tiba.
"Jangan, Nona, aku akan mati suri jika makan terlalu banyak," tolak Duncan.
"Kalau begitu kau ingin pergi ke mana? Katakan saja, aku pasti akan menemanimu," ujar Daphne.
Duncan berpikir sejenak. Ia teringat akan masa kecilnya yang pernah melihat lukisan taman hiburan di museum. Sampai sekarang ia sangat berharap bisa mengunjungi tempat itu.
"Aku ingin ke taman hiburan dan naik kuda yang bisa berputar-putar," jawab Duncan dengan polosnya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments