Daphne terkejut mendengar suara wanita itu, hingga ia merapatkan tubuhnya kepada Duncan.
"Tidak apa-apa, Nona, kita masuk saja."
Merasa terlindungi oleh keberadaan Duncan, Daphne tetap melangkah masuk. Ia pun melihat seorang wanita gipsi berusia empat puluhan duduk menghadap sebuah meja panjang. Matanya terpejam rapat sementara tangannya memegang kristal hitam berbentuk prisma. Di depan meja wanita itu tersebar beberapa kartu dalam kondisi terbalik.
Mulut wanita itu bergerak-gerak, seperti penyihir yang membaca mantra, tetapi dahinya dipenuhi bulir keringat. Ditilik dari penampilannya, Daphne yakin bila dia adalah sang peramal tarot, Madam Claretta.
"Madam, Anda kenapa?" tanya Daphne dengan suara lirih.
Mendengar suara Daphne, wanita itu sontak membuka matanya.
"Maaf, Nona, aku tadi sedang hilang kesadaran. Abaikan saja teriakanku. Silakan duduk," ucap Madam Claretta.
"Terima kasih," jawab Daphne lantas menarik Duncan agar duduk di sebelahnya.
Mata Madam Claretta tak lepas memandangi Duncan. Namun, lelaki itu malah asyik memperhatikan pernak-pernik yang dikenakan oleh si peramal.
"Apa yang...ingin Nona ketahui?" tanya Madam Claretta mencodongkan tubuh ke depan.
"Tentang masa depan, terutama pekerjaan dan...jodoh," jawab Daphne sedikit malu-malu.
"Peganglah dulu kristal obsidiant black ini untuk menangkal energi jahat di sekitarmu," ujar Madam Claretta sembari melirik Duncan.
Walaupun sedikit bingung, Daphne menerima kristal hitam itu dan menggenggamnya di telapak tangan. Sesudahnya, Madam Claretta memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.
Duncan yang sejak tadi diam saja, mulai tertarik dengan apa yang dilakukan Madam Claretta. Pasalnya ia bisa merasakan energi milik wanita ini, termasuk mendengarkan suara hatinya.
Usai melakukan persiapan, Madam Claretta mengambil tumpukan kartu, lalu mulai mengocoknya. Setelah itu, ia menyodorkan kartu tersebut kepada Daphne.
"Ambil lima buah kartu, Nona."
Lagi-lagi Daphne menurut dan mengambil lima kartu dalam kondisi tertutup. Madam Claretta kemudian meletakkan kartu itu secara berjajar di atas meja.
Wajah wanita itu berubah tegang tatkala membalikkan kartu tersebut satu demi satu.
"I...ini, tidak mungkin, Nona. Hidupmu sedang dikelilingi oleh kegelapan."
"Hah?! Apa maksudnya, Madam?" tanya Daphne terkejut.
"Di sini ada kartu The Devil dan kartu kematian yang berdampingan. Artinya kekuatan gelap sedang mengincarmu, dan akan ada kematian yang tidak terduga," tukas Madam Claretta sambil menunjuk kartu yang dipilih Daphne.
"Itu tidak mungkin, Madam. Aku tidak pernah berhubungan dengan hal mistis," bantah Daphne.
"Penyebabnya adalah karma. Yang terjadi padamu nanti akibat karma kehidupan di masa lalu. Itu tidak bisa dihindari. Dan sekarang ini Nona sudah bertemu dengan...."
Madam Claretta batal melanjutkan kalimatnya saat ia bersitatap dengan Duncan. Terlebih, ia merasakan bahwa energinya ditekan sedemikian rupa hingga tak mampu lagi berkata-kata.
"Bertemu siapa, Madam?" tanya Daphne ketakutan.
"Lupakan saja. Sebaiknya Nona keluar dari sini," usir Madam Claretta tiba-tiba.
"Tapi ramalan saya kan belum selesai," tolak Daphne.
"Bawa saja kristal itu dan keluar sekarang!" bentak Madam Claretta sambil memegangi dadanya.
"I-iya, ayo, Duncan," ajak Daphne menarik Duncan keluar dari tenda itu.
Ia tidak mengerti mengapa Madam Claretta bersikap sangat aneh. Kejadian ini membuat Daphne kapok berurusan lagi dengan masalah ramal-meramal.
"Seharusnya aku tidak perlu iseng menemui peramal tarot. Aku tidak menyangka Madam Claretta itu orangnya sangat menakutkan," keluh Daphne berusaha menenangkan gemuruh jantungnya.
"Iya, lain kali Nona tidak perlu mendatangi peramal manusia. Apa yang dikatakannya belum tentu benar," ujar Duncan.
Daphne memandangi kristal di tangannya dengan tatapan sendu. Tiba-tiba saja, ia memikirkan mengenai ramalan kematian yang ada dalam kartunya. Dalam hal ini, satu-satunya yang dicemaskan Daphne adalah Kakek James. Mungkinkah kematian yang dimaksud oleh sang peramal adalah kematian kakek tercintanya itu?
"Duncan, setelah dari sini, antarkan aku menjemput Kakek James di restoran. Tapi sebelum itu aku ingin makan gulali sebentar," kata Daphne.
"Gulali, apa itu?" tanya Duncan tidak mengerti.
"Seperti yang dimakan oleh anak kecil itu. Semacam permen yang sangat lembut dan rasanya manis," tunjuk Daphne ke salah satu anak lelaki yang sedang menikmati permen berwarna pelangi.
"Ayo, kita beli di sebelah sana," ajak Daphne.
Mereka pun membeli dua buah gulali berukuran sedang, lalu duduk di bangku berdua. Awalnya, Duncan mengernyit karena rasa manis berlebihan yang menyerang lidahnya. Namun lambat laun ia menyukai nya, apalagi permen itu sangat mudah meleleh di dalam mulut. Setelah ini, Duncan bertekad akan lebih banyak mencicipi berbagai jenis makanan manusia.
"Duncan, bagaimana caranya kamu bisa menemukan aku di taman? Padahal aku pergi dari kampus tanpa pamit," tanya Daphne tiba-tiba.
"Aku mengikuti insting," ujar Duncan sembari menikmati gulalinya.
"Insting? Tetapi tidak mungkin insting bisa sehebat itu, kecuali kau...memiliki semacam telepati," ucap Daphne meragukan perkataan Duncan.
"Aku dan Nona selalu terhubung satu sama lain, meski kita terpisah jarak."
Daphne merasa jawaban yang diberikan Duncan cukup janggal. Apalagi dia juga tidak tahu alat transportasi apa yang dipakai Duncan untuk menyusulnya, karena pria itu tidak memiliki uang maupun kendaraan. Namun Daphne mengurungkan niatnya untuk menanyakan hal itu. Ia yakin Duncan hanya akan memberikan jawaban yang ambigu seperti biasanya.
...****************...
Seorang pria tengah berdiri sendirian di tengah hutan belantara. Raut wajahnya nampak tidak sabar menantikan kehadiran seseorang. Sampai akhirnya ia mendengar bunyi gemerisik di antara dedaunan, diiringi kepakan sayap yang nyaring.
Pria itu mendongakkan kepala ke atas sambil tersenyum miring. Inilah saatnya, ia melakukan langkah pertama untuk menuntaskan misi besarnya.
Pria itu pun merasakan deru angin yang begitu kencang dari arah depan. Tak lama berselang, pusaran hitam pekat mirip badai tornado datang menuju ke arahnya. Jika manusia biasa yang melihat fenomena ini, dia pasti akan lari tunggang langgang. Namun berbeda dengan dirinya yang justru menghampiri sumber pusaran tersebut.
"Berubahlah ke wujud aslimu!" titah pria itu.
Sesuai dengan perintah yang didengarnya, pusaran angin itu berputar kian lambat, hingga akhirnya berubah bentuk menjadi siluet seorang pria. Tubuhnya jangkung dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Kulit pria itu begitu pucat, sangat kontras dengan matanya yang semerah bara api.
"Salam, Yang Mulia Pangeran Vladimir," ujar pria itu dengan suara parau. Kesan dingin dan mematikan terpancar dari matanya.
"Selamat datang, Julio. Aku sudah menunggumu dari tadi," jawab Vladimir bersedekap.
"Maafkan saya, Pangeran, saya baru saja selesai berburu bersama Zarka."
Pria bernama Julio itu mengangkat lengan kirinya ke atas untuk memanggil burung gagak kesayangannya.
"Lain kali datanglah lebih cepat jika aku memanggilmu. Malam ini, aku punya tugas yang sangat penting untukmu dan Zarka."
"Tugas apa itu, Yang Mulia?" tanya Julio membungkukkan badan.
"Mencari dan menghabisi adikku tersayang, Duncan Kliev," jawab Vladimir.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments