Bab 15 Ramalan Kematian

Daphne terkejut mendengar suara wanita itu, hingga ia merapatkan tubuhnya kepada Duncan.

"Tidak apa-apa, Nona, kita masuk saja."

Merasa terlindungi oleh keberadaan Duncan, Daphne tetap melangkah masuk. Ia pun melihat seorang wanita gipsi berusia empat puluhan duduk menghadap sebuah meja panjang. Matanya terpejam rapat sementara tangannya memegang kristal hitam berbentuk prisma. Di depan meja wanita itu tersebar beberapa kartu dalam kondisi terbalik.

Mulut wanita itu bergerak-gerak, seperti penyihir yang membaca mantra, tetapi dahinya dipenuhi bulir keringat. Ditilik dari penampilannya, Daphne yakin bila dia adalah sang peramal tarot, Madam Claretta.

"Madam, Anda kenapa?" tanya Daphne dengan suara lirih.

Mendengar suara Daphne, wanita itu sontak membuka matanya.

"Maaf, Nona, aku tadi sedang hilang kesadaran. Abaikan saja teriakanku. Silakan duduk," ucap Madam Claretta.

"Terima kasih," jawab Daphne lantas menarik Duncan agar duduk di sebelahnya.

Mata Madam Claretta tak lepas memandangi Duncan. Namun, lelaki itu malah asyik memperhatikan pernak-pernik yang dikenakan oleh si peramal.

"Apa yang...ingin Nona ketahui?" tanya Madam Claretta mencodongkan tubuh ke depan.

"Tentang masa depan, terutama pekerjaan dan...jodoh," jawab Daphne sedikit malu-malu.

"Peganglah dulu kristal obsidiant black ini untuk menangkal energi jahat di sekitarmu," ujar Madam Claretta sembari melirik Duncan.

Walaupun sedikit bingung, Daphne menerima kristal hitam itu dan menggenggamnya di telapak tangan. Sesudahnya, Madam Claretta memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.

Duncan yang sejak tadi diam saja, mulai tertarik dengan apa yang dilakukan Madam Claretta. Pasalnya ia bisa merasakan energi milik wanita ini, termasuk mendengarkan suara hatinya.

Usai melakukan persiapan, Madam Claretta mengambil tumpukan kartu, lalu mulai mengocoknya. Setelah itu, ia menyodorkan kartu tersebut kepada Daphne.

"Ambil lima buah kartu, Nona."

Lagi-lagi Daphne menurut dan mengambil lima kartu dalam kondisi tertutup. Madam Claretta kemudian meletakkan kartu itu secara berjajar di atas meja.

Wajah wanita itu berubah tegang tatkala membalikkan kartu tersebut satu demi satu.

"I...ini, tidak mungkin, Nona. Hidupmu sedang dikelilingi oleh kegelapan."

"Hah?! Apa maksudnya, Madam?" tanya Daphne terkejut.

"Di sini ada kartu The Devil dan kartu kematian yang berdampingan. Artinya kekuatan gelap sedang mengincarmu, dan akan ada kematian yang tidak terduga," tukas Madam Claretta sambil menunjuk kartu yang dipilih Daphne.

"Itu tidak mungkin, Madam. Aku tidak pernah berhubungan dengan hal mistis," bantah Daphne.

"Penyebabnya adalah karma. Yang terjadi padamu nanti akibat karma kehidupan di masa lalu. Itu tidak bisa dihindari. Dan sekarang ini Nona sudah bertemu dengan...."

Madam Claretta batal melanjutkan kalimatnya saat ia bersitatap dengan Duncan. Terlebih, ia merasakan bahwa energinya ditekan sedemikian rupa hingga tak mampu lagi berkata-kata.

"Bertemu siapa, Madam?" tanya Daphne ketakutan.

"Lupakan saja. Sebaiknya Nona keluar dari sini," usir Madam Claretta tiba-tiba.

"Tapi ramalan saya kan belum selesai," tolak Daphne.

"Bawa saja kristal itu dan keluar sekarang!" bentak Madam Claretta sambil memegangi dadanya.

"I-iya, ayo, Duncan," ajak Daphne menarik Duncan keluar dari tenda itu.

Ia tidak mengerti mengapa Madam Claretta bersikap sangat aneh. Kejadian ini membuat Daphne kapok berurusan lagi dengan masalah ramal-meramal.

"Seharusnya aku tidak perlu iseng menemui peramal tarot. Aku tidak menyangka Madam Claretta itu orangnya sangat menakutkan," keluh Daphne berusaha menenangkan gemuruh jantungnya.

"Iya, lain kali Nona tidak perlu mendatangi peramal manusia. Apa yang dikatakannya belum tentu benar," ujar Duncan.

Daphne memandangi kristal di tangannya dengan tatapan sendu. Tiba-tiba saja, ia memikirkan mengenai ramalan kematian yang ada dalam kartunya. Dalam hal ini, satu-satunya yang dicemaskan Daphne adalah Kakek James. Mungkinkah kematian yang dimaksud oleh sang peramal adalah kematian kakek tercintanya itu?

"Duncan, setelah dari sini, antarkan aku menjemput Kakek James di restoran. Tapi sebelum itu aku ingin makan gulali sebentar," kata Daphne.

"Gulali, apa itu?" tanya Duncan tidak mengerti.

"Seperti yang dimakan oleh anak kecil itu. Semacam permen yang sangat lembut dan rasanya manis," tunjuk Daphne ke salah satu anak lelaki yang sedang menikmati permen berwarna pelangi.

"Ayo, kita beli di sebelah sana," ajak Daphne.

Mereka pun membeli dua buah gulali berukuran sedang, lalu duduk di bangku berdua. Awalnya, Duncan mengernyit karena rasa manis berlebihan yang menyerang lidahnya. Namun lambat laun ia menyukai nya, apalagi permen itu sangat mudah meleleh di dalam mulut. Setelah ini, Duncan bertekad akan lebih banyak mencicipi berbagai jenis makanan manusia.

"Duncan, bagaimana caranya kamu bisa menemukan aku di taman? Padahal aku pergi dari kampus tanpa pamit," tanya Daphne tiba-tiba.

"Aku mengikuti insting," ujar Duncan sembari menikmati gulalinya.

"Insting? Tetapi tidak mungkin insting bisa sehebat itu, kecuali kau...memiliki semacam telepati," ucap Daphne meragukan perkataan Duncan.

"Aku dan Nona selalu terhubung satu sama lain, meski kita terpisah jarak."

Daphne merasa jawaban yang diberikan Duncan cukup janggal. Apalagi dia juga tidak tahu alat transportasi apa yang dipakai Duncan untuk menyusulnya, karena pria itu tidak memiliki uang maupun kendaraan. Namun Daphne mengurungkan niatnya untuk menanyakan hal itu. Ia yakin Duncan hanya akan memberikan jawaban yang ambigu seperti biasanya.

...****************...

Seorang pria tengah berdiri sendirian di tengah hutan belantara. Raut wajahnya nampak tidak sabar menantikan kehadiran seseorang. Sampai akhirnya ia mendengar bunyi gemerisik di antara dedaunan, diiringi kepakan sayap yang nyaring.

Pria itu mendongakkan kepala ke atas sambil tersenyum miring. Inilah saatnya, ia melakukan langkah pertama untuk menuntaskan misi besarnya.

Pria itu pun merasakan deru angin yang begitu kencang dari arah depan. Tak lama berselang, pusaran hitam pekat mirip badai tornado datang menuju ke arahnya. Jika manusia biasa yang melihat fenomena ini, dia pasti akan lari tunggang langgang. Namun berbeda dengan dirinya yang justru menghampiri sumber pusaran tersebut.

"Berubahlah ke wujud aslimu!" titah pria itu.

Sesuai dengan perintah yang didengarnya, pusaran angin itu berputar kian lambat, hingga akhirnya berubah bentuk menjadi siluet seorang pria. Tubuhnya jangkung dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Kulit pria itu begitu pucat, sangat kontras dengan matanya yang semerah bara api.

"Salam, Yang Mulia Pangeran Vladimir," ujar pria itu dengan suara parau. Kesan dingin dan mematikan terpancar dari matanya.

"Selamat datang, Julio. Aku sudah menunggumu dari tadi," jawab Vladimir bersedekap.

"Maafkan saya, Pangeran, saya baru saja selesai berburu bersama Zarka."

Pria bernama Julio itu mengangkat lengan kirinya ke atas untuk memanggil burung gagak kesayangannya.

"Lain kali datanglah lebih cepat jika aku memanggilmu. Malam ini, aku punya tugas yang sangat penting untukmu dan Zarka."

"Tugas apa itu, Yang Mulia?" tanya Julio membungkukkan badan.

"Mencari dan menghabisi adikku tersayang, Duncan Kliev," jawab Vladimir.

Bersambung

Episodes
1 Siapa yang Membebaskan Aku
2 Apa Bedanya Pria dan Wanita
3 Cinta Berakhir Malapetaka
4 Kelahiran Calon Raja
5 Hati yang Tidak Mengenal Cinta
6 Nikahi Cucuku
7 Memiliki Pengawal Tampan
8 Usia Seribu Tahun
9 Belum Terbiasa Bertemu Manusia
10 Bab 11 Salah Paham
11 Bab 12 Malaikat Penyelamatku
12 Bab 13 Rencana Licik
13 Bab 14 Apakah Kita Pasangan Kekasih ?
14 Bab 15 Ramalan Kematian
15 Bab 16 Ambisi menjadi Raja
16 Bab 17 Menuntaskan Rasa Haus
17 Bab 18 Takut Kehilanganmu
18 Bab 19 Rahasia yang Terkuak
19 Bab 20 Ingin Balas Dendam
20 Bab 21 Masuk Jebakan
21 Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)
22 Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)
23 Bab 24 Rencana Pernikahan
24 Bab 25 Apakah Kau Vampir
25 Bab 26 Mulai Merasakan Cinta
26 Bab 27 Kita Tetap Menikah
27 Bab 28 Saingan Cinta
28 Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah
29 Bab 30 Resiko Terburuk
30 Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu
31 Bab 32 Kau Bukan Dia
32 Bab 33 Sakit Hati
33 Bab 34 Melanggar Larangan
34 Bab 35 Siapa yang Asli Siapa yang Palsu
35 Bab 36 Hari Pernikahan (Part 1)
36 Bab 37 Hari Pernikahan (Part 2)
37 Bab 38 Bulan Madu di atas Pegunungan (Part 1)
38 Bab 39 Bulan Madu di Atas Pegunungan (Part 2)
39 Bab 40 Cinta di Atas Segalanya
40 Bab 41 Malam Bulan Purnama
41 Bab 42 Pilihan yang Sulit
42 Bab 43 Ke mana Suamiku
43 Bab 44 Mendadak Amnesia
44 Bab 45 Sang Pesulap Hijau
45 Bab 46 Fitnah yang Keji
46 Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka
47 Bab 48 Perebutan Takhta
48 Bab 49 Belati Suci
49 Bab 50 Menyusup ke Istana
50 Bab 51 Tipu Daya
51 Bab 52 Antara Benci dan Cinta
52 Bab 53 Kesalahan Terbesar
53 Bab 54 Rela Mati Untuknya
54 Bab 55 Cinta itu Abadi (The End)
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Siapa yang Membebaskan Aku
2
Apa Bedanya Pria dan Wanita
3
Cinta Berakhir Malapetaka
4
Kelahiran Calon Raja
5
Hati yang Tidak Mengenal Cinta
6
Nikahi Cucuku
7
Memiliki Pengawal Tampan
8
Usia Seribu Tahun
9
Belum Terbiasa Bertemu Manusia
10
Bab 11 Salah Paham
11
Bab 12 Malaikat Penyelamatku
12
Bab 13 Rencana Licik
13
Bab 14 Apakah Kita Pasangan Kekasih ?
14
Bab 15 Ramalan Kematian
15
Bab 16 Ambisi menjadi Raja
16
Bab 17 Menuntaskan Rasa Haus
17
Bab 18 Takut Kehilanganmu
18
Bab 19 Rahasia yang Terkuak
19
Bab 20 Ingin Balas Dendam
20
Bab 21 Masuk Jebakan
21
Bab 22 Pertarungan Sengit (Part 1)
22
Bab 23 Pertarungan Sengit (Part 2)
23
Bab 24 Rencana Pernikahan
24
Bab 25 Apakah Kau Vampir
25
Bab 26 Mulai Merasakan Cinta
26
Bab 27 Kita Tetap Menikah
27
Bab 28 Saingan Cinta
28
Bab 29 Apa yang Dilakukan Setelah Menikah
29
Bab 30 Resiko Terburuk
30
Bab 31 Tak Bisa Jauh Darimu
31
Bab 32 Kau Bukan Dia
32
Bab 33 Sakit Hati
33
Bab 34 Melanggar Larangan
34
Bab 35 Siapa yang Asli Siapa yang Palsu
35
Bab 36 Hari Pernikahan (Part 1)
36
Bab 37 Hari Pernikahan (Part 2)
37
Bab 38 Bulan Madu di atas Pegunungan (Part 1)
38
Bab 39 Bulan Madu di Atas Pegunungan (Part 2)
39
Bab 40 Cinta di Atas Segalanya
40
Bab 41 Malam Bulan Purnama
41
Bab 42 Pilihan yang Sulit
42
Bab 43 Ke mana Suamiku
43
Bab 44 Mendadak Amnesia
44
Bab 45 Sang Pesulap Hijau
45
Bab 46 Fitnah yang Keji
46
Bab 47 Menjadikan Dia sebagai Boneka
47
Bab 48 Perebutan Takhta
48
Bab 49 Belati Suci
49
Bab 50 Menyusup ke Istana
50
Bab 51 Tipu Daya
51
Bab 52 Antara Benci dan Cinta
52
Bab 53 Kesalahan Terbesar
53
Bab 54 Rela Mati Untuknya
54
Bab 55 Cinta itu Abadi (The End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!