Seiring dengan lenyapnya Lord Anthony, mantra yang mengurung Ratu Claudia pun hilang. Sambil menahan duka yang mendalam, wanita itu hendak meninggalkan tempat terkutuk yang menjadi saksi bisu dari kehancuran keluarganya.
"Ratu, kami ingin bicara," ujar Lewis, sebagai perwakilan majelis vampir.
"Ada apa lagi? Apa kalian belum puas melihatku menderita?" tanya Ratu Claudia tanpa menoleh.
"Kami hanya ingin memberitahu bahwa kami semua keberatan jika Anda membesarkan cucu Anda yang memiliki darah manusia pemburu vampir. Keberadaannya bisa merusak silsilah kerajaan. Kami khawatir akan terjadi pergolakan besar jika Anda sampai membawanya ke sini."
Mendengar protes dari Lewis, Ratu Claudia berdecih. Ternyata para anggota majelis masih belum puas juga mencampuri kehidupannya.
Dengan menghentakkan kaki, Ratu Claudia menghampiri para tetua itu.
"Kalian lupa kalau aku sekarang adalah pemimpin klan vampir? Aku berbeda dengan Anthony yang bisa kalian pengaruhi dengan mudah."
"Kami hanya ingin mencegah kekacauan di klan vampir. Harap Anda mengerti."
Marconi, anggota majelis yang paling dihormati pun angkat bicara.
"Kita biarkan Yang Mulia Ratu menenangkan diri dulu. Besok kita adakan pertemuan lagi untuk menyelesaikan permasalahan ini."
Anggota yang lain pun mengangguk setuju. Mereka membiarkan Ratu Claudia pergi meninggalkan aula besar tersebut. Namun baru saja sang ratu melangkah, ia dikejutkan oleh seorang wanita muda yang bersimpuh di depan pintu.
"Yang Mulia, saya ingin bicara." Manik hijau wanita itu memandang Ratu Claudia dengan tatapan nanar.
"Zetta, aku sedang tidak ingin diganggu," tolak Ratu Claudia.
"Saya tidak akan pergi sebelum Anda memberikan keadilan untuk saya. Di sini saya yang paling tersakiti. Brandon bukan hanya berselingkuh, tetapi juga akan memiliki anak dari seorang manusia. Karena itu, saya tidak rela bila anak itu dijadikan pangeran," ucap Zetta dengan mata berkaca-kaca.
Ratu Claudia menghela napas panjang. Ia merasa turut bersalah karena dulu memaksa Brandon untuk menikahi Zetta. Sekarang menantu pilihannya itu harus hidup abadi dalam penderitaan.
"Zetta, lebih baik kau mengurus Vladimir. Dia masih kecil dan membutuhkan perhatianmu."
"Tidak, Yang Mulia. Saya mohon berjanjilah untuk tidak menemui wanita itu, apalagi membawa anaknya," pinta Zetta dengan suara parau.
"Maaf, Zetta, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu."
"Baiklah, jika Yang Mulia bersikeras, saya dan Vladimir yang akan pergi dari sini," ancam Zetta.
Wanita itu bangkit berdiri dengan mimik wajah penuh kekecewaan. Ketika Zetta hendak beranjak, Ratu Claudia segera menahan lengannya.
"Tunggu, Zetta. Aku berjanji kepadamu tidak akan membawa bayi itu. Kembalilah ke kamarmu dan temani Vladimir."
"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Zetta mengangguk hormat.
Ratu Claudia kembali dirundung dilema. Semua anggota majelis dan juga Zetta melarangnya untuk menemui Ariadna. Namun ia tidak mungkin mengabaikan pesan terakhir yang diberikan Brandon. Terlebih berdasarkan ramalannya, Ariadna akan melahirkan malam ini.
Dalam kebimbangannya, sang ratu masuk ke dalam kamar. Ia duduk untuk melakukan meditasi. Malam ini, ia akan menggunakan mantra untuk berpindah ruang dan waktu, supaya bisa menemui Ariadna di dunia manusia. Dengan begitu, tidak akan ada yang tahu bila ia pergi secara diam-diam.
...****************...
"Aaargggh, sakit sekali," keluh Ariadna.
Rambut hitamnya yang tergerai sudah basah kuyup oleh keringat. Wajahnya yang cantik tampak sepucat kertas. Satu tangannya memegangi perutnya yang membuncit, sedangkan tangan yang lain mencengkeram seprai. Untuk kesekian kalinya, cairan merah pekat mengalir dari pangkal paha Ariadna.
"Ariadna, bertahanlah," ucap wanita paruh baya yang duduk di samping tempat tidur Ariadna.
Wanita itu adalah Hanna, bibinya Ariadna. Mata Hanna sembap karena menangisi kondisi keponakannya yang amat menyedihkan.
"Aunty, aku...sudah tidak sanggup. Jika aku meninggal nanti, tolong...rawat bayiku," kata Ariadna dengan susah payah.
"Aku yang akan merawat bayimu."
Terdengar suara menggelegar seorang wanita yang mendadak berada di kamar itu. Sontak, Ariadna dan bibinya menoleh bersamaan. Sebelum mereka sempat berkata-kata, wanita itu mengeluarkan sinar putih yang membuat Hanna tertidur pulas.
Sembari meringis menahan sakit, Ariadna memandang wanita bergaun panjang itu.
"Apa Anda...Ratu Claudia?" tanya Ariadna terbata. Sekilas ia melihat adanya kemiripan antara Brandon dengan wanita ini.
"Iya, aku menemuimu atas permintaan Brandon."
"Di mana, dia? Aku sangat merindukannya," tanya Ariadna penuh harap.
Ekspresi Ratu Claudia berubah geram. Ia mencengkeram erat tangan Ariadna yang sedingin es.
"Brandon sudah menjadi abu, dan itu semua karena kesalahanmu. Jika saja aku tidak mengingat pesan terakhir putraku, aku pasti menghabisimu."
Mendengar berita kematian suaminya, rasa sakit yang menyerang Ariadna bertambah berkali-kali lipat. Sambil berurai air mata, ia menatap Ratu Claudia.
"Anda tidak perlu menghabisiku, karena sebentar lagi aku akan menyusul Brandon. Kami akan bersatu di dimensi yang lain. Hanya satu yang aku mohon dari Anda, lindungilah cucu Anda. Jangan biarkan Duncan menderita seperti kami."
Ratu Claudia menautkan kedua alisnya mendengar permohonan yang diucapkan Ariadna.
"Duncan?"
"Iya, kami berdua telah sepakat memberikan nama Duncan untuk putra kami. Ah, sakit!" teriak Ariadna tiba-tiba. Gumpalan merah berukuran besar menodai seprai tempat Ariadna berbaring.
Mengetahui waktu kelahiran cucunya telah tiba, Ratu Claudia segera bertindak. Seorang manusia biasa seperti Ariadna, tidak akan sanggup melahirkan keturunan raja vampir. Bila tidak dibantu, bisa jadi Ariadna akan kehilangan nyawa sebelum melahirkan bayinya.
Ratu Claudia segera meletakkan tangannya di perut Ariadna. Ia menyalurkan energi untuk mempercepat kontraksi rahim wanita itu.
"Dorong, keluarkan bayimu!"
Dengan sisa-sisa tenaganya, Ariadna mematuhi petunjuk sang ibu mertua. Peluh membanjiri dahinya ketika ia berusaha melahirkan sang bayi dengan selamat.
"Aaarggghhhh...."
Jerit kesakitan memenuhi kamar itu yang diiringi suara tangisan seorang bayi.
Dengan tatapan sayu, Ariadna memandangi putra mungilnya yang ada dalam gendongan Ratu Claudia. Bayinya sangat tampan, berkulit putih kemerahan dan bermata biru seperti sang ayah.
Dengan tangannya yang lemah, Ariadna mengelus bayinya dan memberikan kecupan sayang.
"Duncan, maafkan Mommy karena tidak bisa membesarkanmu. Tumbuhlah menjadi pria yang hebat dan tangguh seperti ayahmu," ucapnya berlinang air mata.
Merasa waktunya hampir habis, Ariadna menunjuk ke arah nakas. Di situ ada seuntai kalung dengan liontin berwarna hijau.
"Ratu, tolong berikan kalung itu kepada Duncan, supaya dia tahu siapa ibunya. Jadikan Duncan sebagai pembawa kedamaian antara klan vampir dan manusia."
Setelah memberikan pesan terakhir, Ariadna menutup mata.
Mengetahui menantunya telah tiada, Ratu Claudia memberikan mantra kepada jasad Ariadna. Selang beberapa detik, cairan merah hilang sepenuhnya dari tubuh Ariadna. Wajah cantiknya pun kembali bersemu, seolah ia sedang tertidur lelap. Itulah hadiah terakhir yang bisa diberikan Ratu Claudia untuk Ariadna.
Ratu Claudia memandangi bayi laki-laki yang ada dalam gendongannya. Saat tangannya menyentuh kepala bayi itu, Ratu Claudia tersentak kaget. Tiba-tiba saja, Ratu Claudia mendapatkan sebuah visi masa depan yang mengerikan tentang Duncan.
Cucunya yang tampan duduk di singgasana dan menerima hormat dari seluruh klan vampir. Akan tetapi, mendadak muncul seorang wanita yang menariknya. Tak berselang lama, Duncan pun terjatuh dengan tubuh bersimbah darah.
"Duncan!" teriak Ratu Claudia.
Tertarik kembali ke alam nyata, Ratu Claudia menatap Duncan yang masih berada dalam gendongannya. Bibirnya bergetar hebat setelah mengetahui takdir sang cucu di masa depan.
'Ini...tidak mungkin. Duncan akan menjadi raja sekaligus mengalami kutukan yang sama dengan ayahnya. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku harus mencegahnya,'
gumam Ratu Claudia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments