Dengan membawa bayi Duncan, Ratu Claudia kembali berpindah tempat. Namun ia tidak menuju ke kerajaan, melainkan ke kediaman pamannya yang merangkap anggota majelis vampir.
"Ratu, kau membuatku terkejut," ucap Marconi yang sedang duduk sambil membaca buku.
Dahi Marconi berkerut dalam saat melihat sang ratu membawa seorang bayi. Indera penciumannya sebagai vampir bisa mencium bau darah manusia pada bayi tersebut.
"Bayi ini, apakah dia...."
Marconi segera mengulurkan tangannya ke dahi Duncan. Matanya terpejam erat, merasakan energi aneh yang terpancar dari tubuh mungil itu.
"Dia cucuku, Marconi, putra Brandon dengan keturunan manusia pemburu vampir."
Kekuatan meramal Marconi memang tidak sebesar Ratu Claudia. Namun, ia bisa merasakan bahwa bayi ini memiliki anugerah sekaligus kutukan. Keduanya bagai dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang satu sama lain.
"Ratu, tidak seharusnya kau membawa cucumu ke sini. Dia akan berada dalam bahaya."
"Aku tahu, Marconi, tetapi aku butuh bantuanmu. Kau pasti bisa merasakan takdir yang digariskan untuk cucuku. Menurutmu siapa yang bisa kupercaya untuk membesarkan Duncan? Aku harus melindunginya dari kutukan," ucap Ratu Claudia dengan nada sedih.
Marconi menghela napas sambil membelai pelan kepala Duncan.
"Bayi ini memiliki kekuatan spesial yang tidak dimiliki vampir lain. Karena keistimewaan itu, dia akan diburu, baik oleh vampir maupun manusia. Hanya ada satu cara untuk melindunginya, Ratu. Dia harus dibesarkan di dunia ilusi yang tidak bisa dijangkau makhluk lain."
"Dunia ilusi, apa maksudmu?" tanya Ratu Claudia.
"Masukkan dia ke lukisan kastil ajaib yang tersimpan di makam Raja Nicholas. Kastil itu akan menjadi tempat tinggal Duncan hingga dia berusia seribu tahun. Pilihlah salah seorang pelayanmu yang paling setia untuk mengasuhnya."
"Apa kau yakin dengan tinggal di sana, Duncan akan terlepas dari kutukan?" tanya Ratu Claudia bimbang.
"Itu memang belum cukup, Ratu. Kutukan cucumu berkaitan dengan cinta yang diturunkan dari ayahnya. Karena itu, jalan keluarnya adalah kau harus menutup perasaan Duncan. Jangan sampai dia mengenal cinta."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Batu penutup hati. Ambil batu itu dengan seluruh kesaktianmu," tukas Marconi.
Batu penutup hati adalah benda langka yang sangat sulit disentuh oleh klan vampir. Namun demi sang cucu, Ratu Claudia berani menempuh resiko apapun.
Tanpa pikir panjang, Ratu Claudia menyerahkan Duncan kepada Marconi. Ia sendiri menutup mata lalu menggerakkan kedua lengannya ke atas.
Seiring dengan gerakan tangannya, sinar terang melingkupi sang ratu, pertanda ia mengerahkan segenap kemampuan untuk mengambil benda yang dimaksud Marconi.
Cukup lama, wanita itu berjuang, hingga akhirnya sebuah kristal berwarna merah melayang-layang di udara. Ratu Claudia pun membuka matanya. Melihat batu penutup hati berhasil didapatkan, ia menarik batu itu dengan kekuatannya lantas mengarahkannya ke tubuh Duncan.
Perlahan, batu itu pun menyusup ke dalam diri Duncan.
"Kau telah berhasil, Ratu. Selama batu itu ada di tubuh cucumu, dia akan terhindar dari kutukan," ucap Marconi ikut merasa lega.
***
Ratu Claudia tersentak dari kenangan masa lalunya. Ia tak percaya segala usaha yang dilakukannya dulu telah berakhir sia-sia.
'Aku harus menemui Marconi sekarang,'
pikir Ratu Claudia.
Dalam kecemasannya, sang ratu mengubah dirinya menjadi kelelawar. Kemudian ia terbang menuju kediaman Marconi. Pria tua itu ternyata sudah menanti kedatangannya di dekat jendela.
"Kau pasti mencemaskan, Duncan," ucap Marconi memahami isi hati sang keponakan.
"Marconi, aku tidak bisa melacak keberadaan Duncan. Aku justru melihat seorang gadis yang berdiri di depan lukisan. Pasti dia yang sudah membuka segel yang aku buat. Aku khawatir gadis itu akan mengakibatkan bencana bagi Duncan."
Marconi memegang bahu Ratu Claudia untuk menenangkannya. Ia tahu betapa beratnya beban yang harus ditanggung sang ratu selama ini.
"Tenanglah, Ratu. Duncan tidak akan celaka selama batu penutup hati masih ada di tubuhnya. Hatinya akan sepolos kertas, seperti anak-anak yang tidak memiliki hasrat maupun ketertarikan terhadap wanita. Lagipula dia juga perlu belajar bagaimana sifat dan cara hidup manusia. Dengan begitu, ia akan memiliki pengalaman yang cukup bila kelak menjadi raja."
Ratu Claudia menatap ke arah langit malam yang kelam. Meskipun perkataan Marconi ada benarnya, dia tetap harus menemukan Duncan secepat mungkin.
"Aku akan mengutus vampir yang paling cerdik dan setia untuk mencari Duncan. Bila ternyata ada wanita manusia di sisi Duncan, dia harus segera dihabisi," ujar Ratu Claudia mengepalkan tangannya.
***
Daphne masih keheranan mendengar alasan Duncan. Mustahil rasanya bila seseorang mati suri hanya karena terlalu banyak makan.
"Dari tadi kau menyebut makanan manusia. Memangnya kau ini bukan manusia?" tanya Daphne mengernyitkan dahi.
"Aku juga manusia meskipun hanya setengahnya. Nona Daphne, aku sekarang sudah sehat. Seperti janjiku, aku akan membayar makanan yang kupesan di restoran."
"Kau sudah punya uang?" tanya Daphne meragukan ucapan Duncan.
"Belum, aku membayar dengan bekerja. Aku akan mencuci piring, gelas, sendok atau apapun yang kotor di dapur."
"Tidak ada yang kotor di dapur, dan stop memanggilku "Nona" karena aku bukan majikanmu. Panggil namaku saja," hardik Daphne.
"Kalau begitu aku akan membersihkan seluruh rumah ini."
Duncan berjalan cepat untuk mengambil sapu dan alat pel. Namun Daphne segera berlari untuk menghadang langkahnya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Hentikan! Kau harus istirahat karena baru saja sadar dari pingsan. Nanti kalau kau tiba-tiba mati karena bekerja, aku yang akan disalahkan."
"Aku tidak akan mati atau pingsan. Kau saja yang beristirahat, Daphne. Dari tadi kau bersin-bersin dan pangkal hidungmu juga merah seperti tomat," tunjuk Duncan menuding hidung Daphne.
Seketika wajah Daphne memanas. Ia merasa tersinggung dengan ucapan Duncan yang terkesan mengejeknya.
"Baiklah, lakukan semaumu. Tapi jika kau mati suri lagi, jangan menjadi arwah penasaran yang menghantuiku."
Sambil menghentakkan kaki, Daphne duduk di sofa lalu menyalakan televisi. Ia ingin menonton serial horor untuk melupakan rasa kesalnya kepada Duncan. Sambil menonton televisi, Daphne juga mengecek media sosial lewat ponselnya.
Ketika mengangkat kepala menghadap televisi, Daphne tersentak kaget. Pasalnya, ia melihat Duncan sedang mendekatkan wajahnya ke layar televisi. Sontak, Daphne berdiri untuk menggeser tubuh lelaki itu.
"Minggir, Duncan! Apa yang kau lakukan di situ? Kau menghalangi pandanganku."
"Bagus sekali benda ini, bisa mengeluarkan gambar dan suara. Apa namanya?" tanya Duncan takjub.
"Kau sedang bercanda? Ini televisi. Apa kau mengalami amnesia juga setelah mati?" tanya Daphne sedikit cemas.
"Sudah lama aku ingin melihat dan menyentuh benda bernama televisi ini," puji Duncan. Ia hendak menyentuh layar dengan telapak tangannya, tetapi segera ditepis oleh Daphne.
Saking terkejutnya, Daphne menjatuhkan ponsel yang dipegangnya. Wajahnya langsung berubah panik ketika melihat ponselnya membentur lantai.
Dengan panik, Daphne memungut ponselnya lalu berusaha menyalakan kembali. Namun ponsel itu sama sekali tidak menyala. Berulang kali Daphne mencoba dan hanya berakhir dengan kegagalan.
Mata Daphne mulai berkaca-kaca. Ponsel ini adalah hadiah ulang tahun dari sang kakek. Bila ponselnya rusak, sudah pasti kakeknya akan kecewa dan tidak mau membelikan lagi.
"Kenapa kau menangis, Daphne?" tanya Duncan ingin tahu.
Daphne segera memalingkan wajah ke arah Duncan, lalu memelototi lelaki itu.
"Masih berani bertanya? Ponselku rusak gara-gara kau!" bentak Daphne dengan suara parau.
Tanpa aba-aba, Duncan mengambil ponsel itu dari tangan Daphne.
"Ow, jadi benda ini yang bernama ponsel. Berikan padaku, aku akan memperbaikinya," ucapnya penuh keyakinan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments