Robby berdiam diri di tempatnya, menelisik di sekeliling yang teramat berbeda dari ruangan rumah sakit yang lain. Senyap dan mengerikan, ada banyak Organ-organ manusia yang bergelantungan seolah semua usai pembedahan. Ada beberapa jenazah yang diawetkan, juga sebagian tak berbentuk manusia lagi.
"Ini ruangan eksperimen.. " Lirih Robby mengambil kesimpulan.
Perlahan Robby melangkah untuk melihat lebih jelas wajah-wajah jenazah itu, ada beberapa wanita cantik dengan bekas sayatan didadanya. Robby yang seorang Vampir saja tak sanggup melihat lebih lama, dia hanya memastikan bahwa tak ada Devina di jajaran jenazah itu.
Robby tidak habis pikir, ruang sakit yang berdiri bertahun-tahun memiliki ruangan khusus pembedahan jenazah, ia pikir ini bukan ruangan forensik, melainkan ruangan rahasia oleh pihak rumah sakit.
"Mereka manusia-manusia jahat!" Kecam Robby.
Menelusuri ruangan, tak ada jejak Devina ia temukan, Robby sedikit lega karena masih ada harapan istri dan anaknya selamat dari kejahatan oknum pihak rumah sakit. Namun terdengar suara kasak-kusuk di luar, ada seseorang yang ingin masuk ke ruangan itu. Robby panik mencari tempat persembunyian, sementara bunyi pintu akan terbuka.
Robby memilih sembunyi di bawah ranjang bangsal yang dinaungi jenazah, selimut jenazah sengaja ia turunkan ke lantai agar persembunyiannya tak dilihat.
"Arhhh.." Suara keluh pria terdengar. Dari bawah bangsal, Robby dapat melihat kaki pria itu yang hanya masuk seorang diri.
Pria itu sibuk mengecek satu per satu jenazah perempuan yang ia telah bedah, Robby yang berada di bawah salah satu bangsal itu. Robby kakut dan tak dapat berpikir jernih, bukannya takut menghadapi pria itu, hanya saja dia tidak ingin identitasnya terbongkar hingga meriuhkan seantero dunia.
Robby sangat jelas mendengar pria itu sedang menyayat salah satu jenazah, Robby gemetaran karena membayangkan jenazah perempuan dilukai oleh pria itu.
'Hanya tersisa dua jam lagi,' lirih Robby dalam hati setelh melihat jam tangannya. Dua jam lagi ia akan menjelma menjadi patung, jika tetap berada di ruangan itu, maka dia akan ketahuan lalu di olah sebagai bahas eksperimen dari dasarnya patung.
Arggg! Suara pria itu mengerang, mengeluarkan bunyi seperti Robby saat mengeluarkan bunyi Vampir.
"Sial! Aku haus lagi," gumam pria itu.
Robby terhenyak, menyelidiki jati diri pria itu dengan penciumannya, memang benar dugaannya, pria itu ternyata mahluk sama sama dengan Robby, dia juga seorang Vampir. Robby ingin keluar dari ruangan itu, tetapi jika ia keluar, tentu tidak akan menemukan petunjuk keberadaan Devina.
Kini giliran bangsal terakhir yang akan diperiksa pria itu, tepat yang ada Robby dibawahnya. Dari abwha Robby dalat melihat kaki sepasang kaki itu melangkah ke arahnya. Sejenak pria itu mengendus-endus, menciun aroma berbeda dari ruangannya. Robby yakin pria itu dapat mencium aroma tubuh Vampir nya pula.
"Apa aku yangg salah?" gumam pria itu mengenyahkan kecurigaannya bahwa ada Vampir lain di ruangan itu.
Pria itu memeriksa Jenazah yang di atas Robby, cukup lama Robby mendengar sayatan demi sayatan yang ia yakini itu sangat sakit. Kaki pria itu juga bergerak-gerak membuat Robby gemetaran.
Dari luar ada juga seorang wanita yang masuk, dari kakinya Robby menebak dia adalah perawat di rumah sakit itu.
"Dokter, pasien wanita itu apakah siap di bawah masuk kesini?" tanya wanita itu.
"Tidak boleh, wanita itu akan ku bawa pulang ke rumahku, dia tidak boleh berada di rumah sakit, akan ada seseorang pasti yang mencarinya," sahut Vampir pria itu.
"Tapi dia tetap memberontak ingin dilepaskan dok," ujarnya.
"lakukan pembiusan lagi, tapi jangan sampai dia keguguran, janinnya sangat kita perlukan untuk eksperimen kita, mengerti?"
"Baik, Dok. Kami akan bius, tapi apakah ada yang harus saya bantukan disini?"
"Perbaiki selimut jenazah ini, rapikan agar menutupi seluruh tubuhnya," titah Vampir yang berprofesi sebagai dokter itu.
Perawat itu menarik selimut yang tadinya menjulur ke lantai, Robby merunduk agar tak dilihat setelh selimut itu tak lagi menutupinya.
"Kau harus segera memasukkan wanita itu ke dalam mobilku, katakna pada teman-teman mu," ujar dokter itu lagi.
Perawat kembali keluar meninggalkan ruangan eksperimen, sementara pria itu masih sibuk membedah jenazah. Robby meyakini wanita yang di maksud perawat itu adalah Devina. Hanya Devina yang hangat dan saat itu juga sedang hamil. Robby marah namun berusaha menahan amarah karena tidak ingin gegabah dalam bertindak.
'Aku tidak boleh berada di sini terus, aku harus keluar," ucap Robby dalam hati.
Robby melirik pintu rahasia dibalik dinding, jika menerobos jalan keluarnya, maka ia dapat mengikuti perawat wanita itu, sebab tak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan Devina. Pelan-pelan Robby mengamati pergerakan pria itu, setelah merasa aman, Robby mengumpulkan kekuatannya untuk berlari keluar dari Pintu Rahasia.
"Hei siapa kamu?" tanya pria itu.
Robby berlari cepat hingga bayangannya tak dapat dilihat oleh pria itu.
"Sial! Ada yang menerobos, ternyata benar, ada Vampir lain di ruangan ini," gumamnya.
Robby berlari cepat mencari jejak perawat tadi, namun lorong rumah sakit itu sunyi bakal tak berpenghuni. Robby melihat ada mobil hitam yang terparkir di halaman belakang rumah sakit, ia meyakini mobil milik dokter Vampir itu. Robby bergegas memeriksanya, namun tak ada satupun manusia di dalam mobil mewah itu.
"Dimana mereka menyembunyikan Devina?" Robby kalut.
Dari jauh ada Mbah Gus berlari ke arahnya, "Kau dari mana saja? Aku mencarimu juga," tanyanya.
"Mbah Gus, ini bukan rumah sakit, tapi rumah pembedahan jenazah, mereka menyembunyikan Devina di suatu tempat."
Mbah Gus mendengar suara langkah, dia menarik Robby untuk bersembunyi dibalik tembok, ada ketiga perawat pria sedang mencari Robby, mereka utusan dari Vampir pria itu.
"Mereka mencariku," lirih Robby.
"Kau dilihat oleh mereka?"
"Tidak, Vampir itu yang melihatku, salah satu dokter di sini juga Vampir."
"Apa?!" Mbah Gus memekik, Robby sigap membungkam mulutnya. Nasib baik suara Mbah Gus tak di dengar oleh ketiga perawat itu.
Setelah ketiga perawat itu pergi, barulah Mbah Gus bertanya kembali. Dia mulai di racuni rasa penasaran.
"Kau yakin dia Vampir?"
Robby mengangguk, pantas saja selama di rumah sakit, dia selalu mencium aroma yang tidak asing, ternyata ada sesama kaumnya berada di tempat yang sama. Vampir itu juga berkeliaran di sekitarnya.
"Aku akan mencari tahu dari mana asal Vampir itu, mengapa dia bisa berada di rumah sakit ini, dan berprofesi sebagai dokter, dan dialah dalang utama penculikan Devina," jelas Robby dengan suara bergetar.
Mbah Gus tercengang, dia tak habis pikir mengapa Vampir dapat memiliki kekuatan sosial di dunia manusia, bahkan bisa bekerja di rumah sakit yang cukup melegenda di kotanya.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Mbah Gus.
Sisa waktu Robby untuk hari itu kian menipis, dia tak ada pilihan lain lagi selain menunggu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments