Penolakan Massal

Devina menyadari Robby telah menjadi patung lagi, dia bergegas ke kamar Ayahnya untuk mengecek kondisi kekasihnya itu. Ternyata benar, Robby menjelma menjadi patung lilin lagi. Devina lega, pria itu tetap bersamanya di rumah.

"Kau bangun lebih awal, aku takut jika kamu pergi," ucap Devina. Dia memeluk Robby dengan erat, tapi saat itu Robby belum bisa menjelma menjadi vampir.

"Sayang, aku akan lebih bersemangat lagi hari ini, kamu janji 'kan jam 12 nanti kamu akan kembali berubah?" tanya Devina. Namun ia tak mendapat respon lagi dari Robby.

"Iya, aku mengerti, aku akan sarapan masakan kamu, lalu membersihkan diri, aku menunggumu.." ucap Devina.

Ia lebih bersemangat lagi melakukan aktivitas, segala pekerjaan rumah ia kerjakan. Bahkan ia kembali melukis sesuai dengan imajinasinya. Robby adalah objek lukisannya, kisah cintanya dengan Robby membawanya menjadi perempuan paling beruntung.

Devina tak lagi menggunakan ruang pribadinya melukis, tapi menggunakan kamar Ayahnya, tempat Robby terpanjang. Sesekali dia mengerjai Robby dengan menciuminya. Tetap saja tak ada respon sebab kutukan itu sedang berjalan.

Di tengah kesibukannya melukis, telepon genggam Devina berdering, dia dipanggil salah satu dosennya.

"Devina kamu bisa 'kan sore ini ke kampus?" tanya Bu dosen itu.

"Bisa, Bu. Tapi kok repot telepon? Apa ada masalah?"

Terpaksa dosen itu jujur kepada Devina, "Begini, Dev. Semuanya protes dengan kehamilan mu, mereka mau demo jika kamu tidak menikah, mereka tidak ingin katanya nama kampus tercemar karena masalah, mu."

Devina tertegun, sesaat dia tak mampu berpikir, sedangkan Bu dosennya meminta agar segera memutuskan sesuatu, agar para mahasiswa tidak lagi protes.

"Nanti sore saya akan ke kampus, Bu. Saya akan meminta maaf kepada mereka, dan memilih out saja," ucap Devina dengan terpaksa. Ia harus menerima konsekuensi itu. Tidak mungkin ia menggugurkan janinnya hanya karena para pembencinya.

Devina duduk merenung, memandangi lagi Robby yang masih terdiam kaku. Matanya berkaca-kaca, mengingat perjuangannya ingin meraih gelar tidak mudah, namun semua itu harus berakhir karena kehamilannya.

"Aku tidak apa berhenti kuliah, anggap saja ini pengorbanan cinta, lagipula aku lebih menyayangi anakku dibanding apapun itu," ucap Devina kepada Robby.

Devina melihat lukisan-lukisan Ayahnya yang masih belum terjual, ia pikir dengan menjual itu, dia akan membuka usaha. Ia ingin mandiri tanpa bergantung dengan Robby pula. Devina juga akan bekerja keras lagi untuk menjadi seniman, untuk membuat pelukis-pelukis yang curang itu takluk kepadanya.

Ada yang mengetuk pintu di luar, ada suara Fathur datang bertamu dirumahnya. Devina sudah mendengar musibah yang menimpa Fathur. Ia tak lagi menampakkan wajah juteknya pada pria keturunan Chinese itu.

"Dev," ucap Fathur menyapa.

"Iya, Thur. Aku turut berdukacita dengan musibah mu," kata Devina berempati.

Fathur menunduk malu, dia menangis, berat ujiannya karena rumahnya yang sudah terbakar, Ibunya sedang terbaring di rumah sakit, ia juga bermasalah dengan pihak keluarga mendiang Ayahnya. Di tengah kesulitannya, tak ada satupun temannya yang berniat membantu. Mereka semua menjauh dari Fathur. Kini hanya Devina yang menyambutnya.

"Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, Dev. Mana mereka pergi semua dari aku. Kuliahku udah putus, aku sedang ingin mencari kerja, Mamaku butuh pengobatan, aku hancur Dev .." Fathur tak malu lagi mengungkapkan masalahnya kepada Devina.

"Ya udah, kamu fokus saja dulu sama Ibu kamu, kalau kuliah bisa di lanjut lagi nanti, kamu laki-laki, Ibumu sangat membutuhkan mu," nasehat Devina.

Devina pamit sejenak masuk ke dalam rumahnya, dia mengambil beberapa yang di brankas, uang itu sedikit demi sedikit ia kumpulkan dari uang pensiunan Ibunya. Tidak masalah bila membantu Fathur, lagipula dia masih memiliki tabungan Ayahnya untuk kebutuhan hidup.

"Aku pikir ini cukup membantu mu, Thur." Devina memberikan uang sejumlah lima juta kepada Fathur.

Pria bermata sipit itu terenyuh, tidak salah ia mengangumi Devina, selain cantik, Devina juga memang memiliki haru yang tulus.

"Ta-tapi, aku sudah banyak buat kamu kesal, Dev."

"Ck, gak apa-apa, anggap saja itu Khilaf, aku udah jauh lebih baik sekarang, pergilah ke rumah sakit," sahut Devina.

Fathur tak henti mengucapkan terimakasih, setelah keluar dari pintu pagar rumah Devina, Fathur melirik lagi ke dalam rumah itu.

"Aku janji, Dev. Setelah masa sulit ku terlewati, aku akan menjadi pria hebat dan akan menikahi mu, aku akan menjadi pria di garda terdepan untuk mu," gumam Fathur.

Anak buah Sisil mengikuti kemanapun Fathur pergi, mereka melaporkan tentang kedatangan Fathur ke rumah Devina. Mendengar itu Sisil murka, membanting gelas di tangannya ke lantai. Kesal karena walaupun dengan keadaan sulit, tetap saja Fathur mengharapkan Devina.

"Sialan!" Sisil mengumpat di depan teman-temannya.

"Kalian awasi Devina, gue mau liat perempuan itu akan datang ke kampus." Sisil memerintahkan agar anak buahnya mengawasi Devina.

Mereka memang akan bersiap unjuk rasa bila Devina tetap bertahan di kampus tanpa menikah, Sisil akan mentraktir seluruh mahasiswa yang turut unjuk rasa menolak Devina.

"Liat saja nanti, kita akan viralkan jika Devina di D'O dari kampus ini, biar dia tahu rasa!" Kata Septi sahabat karib Sisil.

***

Menjelang sore, Devina telah usai merapikan lukisannya, sejenak melirik ke jam dinding, sudah tiba saatnya ia bersiap-siap ke kampus, meluruskan semuanya kepada rektor kampus agar masalah pribadinya tidak di usik.

"Sayang, aku akan pergi ke kampus, hari ini aku akan putuskan untuk menyelesaikannya, aku akan berfokus dengan kehamilanku, dan mengembangkan bakatku, kamu dukung aku ya," ucap Devina pada Robby yang masih mematung. Kecupan mesra ia layangkan ke bibir Robby, mengusap pundak pria itu dengan penuh kecintaan.

Ketika ia keluar dari rumah, dia baru menyadari ada mobil Jeep yang terparkir di dekat rumahnya, Devina menaruh curiga karena orang-orang disekitar kompleks rumahnya tak ada yang memiliki mobil Jeep demikian.

Devina melajukan cepat sepeda motornya, suasana jalan itu memang sangat sepi bila sore hari, Devina dihinggapi rasa ketakutan jika orang-orang di dalam mobil Jeep itu berniat buruk terhadapnya.

"Kayaknya dia udah ke kampus deh, Bos." Mereka melaporkan situasi Devina kepada Sisil.

Sisil dan gengnya bersiap-siap menyambut Devina dengan tindakan demonstrasi mereka. Sisil berniat meruntuhkan mental Devina hingga depresi akut. Sisil tahu, Devina sebatang kara, dia tak lagi memiliki penopang untuk bertumpu, dengan cara menghancurkan mental Devina, Sisil menjadi pemenangnya.

Setengah jam kemudian, motor Devina telah memasuki halaman kampus, ada rasa deg-degan dihatinya. Sesekali melirik ke para mahasiswa yang sedang berkumpul, mereka menulis spanduk untuk melarang Devina lagi melanjutkan kuliah di kampus mereka.

"D'O Devina! D'O Devina!" Teriakan mereka serentak.

Devina menunduk melewati kerumunan itu. Dia menjaga perutnya agar bayinya tetap aman. Ia dilempari sampah, bahkan diam-diam ada yang melempar batu kerikil hingga mengenai kepala Devina.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!