Pengakuan Devina

Setelah membayar tagihan, Mbah Gus kembali ke ruang tunggu. Sesekali mengecek kondisi Devina yang di dalam unit gawat darurat. Walaupun bukan keluarga, Mbah Gus tetap khawatir, selain kasihan kepada Devina, dia juga masih penasaran dengan Robby.

Ada perawat keluar menyapanya, "Pak, perempuan itu sudah sadar, tapi masih lemas."

"Oh ya, biarkan saja," sahut Mbah Gus.

Perawat itu berlalu, sementara Mbah Gus masuk menemui Devina. Ada sesuatu hal yang ia ingin tanyakan sebelum dokter menyelidiki secara teliti. Mbah Gus menyapa Devina, terlihat jelas perempuan itu masih lemas, dia tak mengukir senyum kecil di wajahnya.

"Ini tas mu, Dek. Terpaksa aku pakai uang mu tadi, karena aku tidak punya uang sebanyak itu," kata Mbah Gus.

Devina hanya mengangguk, mengerti di posisi Mbah Gus yang hanya berniat menolong. Mbah Gus mengamati keadaan luar, setelah memastikan aman, dia menarik kursi untuk duduk di samping Devina.

"Maaf, Dek. Saya lancang, ini tadi dokter tanyakan anakmu, katanya kenapa berbeda dari kandungan lainnya," tutur Mbah Gus. Ia ingin penjelasan Devina secara detail.

Devina tersentak, kepalanya masih nyeri, tetapi dipaksakan untuk mencari alasan tepat. Sementara Mbah Gus menilik raut wajah Devina. Tatapan perempuan itu kosong, seolah memikirkan hal lain.

"Kau baik-baik saja? Aku sudah cukup paham dengan yang terjadi padamu dan pria itu, kalian jalani saja semampu kalian," kata Mbah Gus. Dia tahu hal yang paling rumit ialah mengendalikan perasaan, Devina dan Robby dua sejoli yang mencintai, walaupun berbeda ras, tetap saja rasa itu tidak ingin dibatasi oleh aturan alam.

"Tapi apakah ada orang yang mengalami hal sama seperti ku?" tanya Devina. Ia sebelumnya belum pernah mendengar kisah cinta antara manusia dan Vampir. Devina pikir, Vampir hanya mitos di Negara-negara barat.

Mbah Gus terkekeh, pertanyaan Devina memang sangat polos, gadis dihadapannya itu mengingatkan keponakannya meninggal karena dibunuh oleh makhluk lain.

"Jika kau tidak percaya dengan kehidupan itu, berarti yang kau alami ini hanya imajinasi mu?" tanya Mbah Gus.

Ya, sebuah pertanyaan yang menunjuk kepada dirinya sendiri, apa di alami bukanlah imajinasi semata, Robby adalah Vampir yang nyata, Vampir yang terkena kutukan sehingga menjadi patung pajangan.

"Aku cuma bingung, apakah semua ini tidak membahayakan untuk kami," lirihnya.

Mbah Gus ragu akan hal itu, dia sudah tahu dunia sudah banyak mempelajari dunia makhluk lain, termasuk kehidupan para Vampir. Robby bahkan dari negara yang berada di dalam buku dongeng, negara yang ada di belahan semesta lainnya yang tak dapat dijangkau oleh manusia.

"Entahlah, nanti kau tahu sendiri, aku juga pernah mengalaminya, tapi juga tidak kesampaian, sangat sulit menjalani cinta dari ras yang berbeda dengan kita, logikanya begini, beda agama saja itu sulit, beda kasta, nah ini ..Maaf, ini logika saja, Dek."

Bukan mempengaruhi Devina, namun Mbah Gus hanya menasehati sesuai pengalaman hidupnya.

"Aku pernah berhubungan dengan wanita rubah, ini memang terdengar aneh dan halu, tapi nyatanya seperti itu, sudahlah .. nanti kau akan tahu," tutur Mbah Gus.

Mbah Gus keluar dari ruangan tindak Devina, dia menahan diri untuk tidak mengulik luka lamanya, sesak bila mengingat kisah percintaannya yang kandas karena perbedaan ras. Mbah Gus juga sudah paham, bagaimana kelanjutan kisah asmara antara Devina dan pria Vampir itu.

Devina mencari letak jam yang ada di ruangannya, sudah sekitar lima jam terlewati Robby menjadi patung. Ia harus menunggu lima belas jam lagi untuk Robby menjadi Vampir, Devina menghela nafas berat, ternyata kesulitan ini yang dijabarkan oleh Mbah Gus, sulit bertemu, dan semuanya dijalankan secara sembunyi-sembunyi.

Ada perawat yang masuk lagi, dia akan memindahkan Devina ke ruang rawat pasien VVIP, sesuai dengan asuransi kesehatan yang dimiliki Devina.

"Ibu Devina harus di rawat selama tiga hari disini, kita ingin melihat bagaimana perkembangan janin, Bu Devina." Kata perawat itu.

Devina terhentak, "Tiga hari, Sus? Bukankah jika besok saya sudah lebih baik, bisa pulang?"

"Jangan ambil resiko, Bu. Tadi ini Ibu Devina baru saja mengalami pendarahan, kasihan Ibu dan janinnya, sangat beresiko."

Devina tak ingin berlama-lama di rumah sakit, ada Robby yang menantinya, dia takut jika Robby berkeliaran lagi mencarinya. Devina akan meminta tolong ke Mbah Gus untuk menangani itu. Ranjang pasien Devina di dorong menuju ke kamar rawat yang telah disiapkan, ia mencari-cari sosok Mbah Gus, tapi pria berambut kriwil itu tak lagi ada di ruang tunggu.

"Kemana om itu," lirih Devina.

Ternyata Mbah Gus saat itu sedang duduk di warung kopi di depan rumah sakit, melamun sendiri memikirkan wanita rubah yang dulu ia cintai, sudah sepuluh tahun hubungan itu berakhir, tapi tetap saja belum bisa melupakan Emeralda.

***

Sisil ke kampus, dia duduk melamun memikirkan hasil penelusuran Ayahnya. Suami Devina tak masuk jajaran daftar orang terkaya di Indonesia, bahkan tidak tak memiliki foto-foto yang bisa samakan, bahkan seluruh patung lilin yang dibuat oleh salah satu seniman hebat di Amerika tak ada yang menggambarkan sosok suami Devina.

"Sebegitu misteriusnya suami Devina itu, apakah dia mafia? Tapi .." Sisil berdecak kesal.

Ketika melirik ke lukisan matahari, Sisil tahu lukisan itu karya mendiang Ayah Devina, dia berpikir akan mudah mencari tahu do halaman website galeri resmi Pak Ganesha, mendiang Ayah Devina.

"Aku akan lihat di sana, bisa saja karya itu milik Ayahnya, di dunia ini tidak sembarang orang dapat membuat patung lilin yang nyaris sempurna seperti itu," gumam Sisil.

Ia beranjak mengambil laptopnya di dalam mobil, menepi di sebuah cafe terdekat di kampusnya. Mulailah ia melakukan pencarian dari berbagai galeri online resmi mirip Ayah Devina, ada banyak karya-karya memukau terpampang. Sisil bahkan harus meneliti secara seksama mencari patung-patung lilin.

"Sial, ternyata ada banyak banget patung lilin yang ia buat, gimana carinya," kesalnya.

Sisil mengacak-acak rambutnya sendiri, menelusuri kehidupan misterius Devina sama dengan mengerjakan skripsi puluhan kali. Iri dengki membawa jiwa Sisil menjalani kehidupan yang tidak tenang. Tangannya tetap menggulir, mencari letak patung lilin yang mirip suami Devina.

Tangannya berhenti menggulirkan mouse ketika mendapati gambar patung sesuai yang ia cari. Sisil berseru di kafe itu, membuat pelanggan lain di kafe itu terkejut. Sis membaca seksama deskripsi di bawah gambar patung itu.

"Namanya Robby Palwentas, patung imajinasi dari dalam dongeng "Pedang Vampir Pembawa Bencana"," Sisil membaca dengan bergumam.

"Ha? Maksudnya dari dongeng? Terinspirasi dari dongeng? Maksudnya apa sih? Patung Devina terinspirasi dari dongeng, objeknya 'kan manusia, nyata kok bawa-bawa dongeng," ketus Sisil. Dia kebingungan dengan keterangan di bawah gambar patung Robby.

Kebingungan Sisil belum berhenti disitu saja, Ia kembali membaca keterangan selanjutnya,

"Patung dari imajinasi dongeng, di buat pertama oleh Guntur Bumi pada tahun 1970, dan setelah patung mengalami kerusakan parah, dibenahi kembali oleh Ganesha, anaknya pada tahun 1989."

Sisil terkesiap, dia menutupi mulutnya sendiri, "Bagaimana bisa? Ya ampun, tunggu-tunggu, patung dari imajinasi dongeng, dibuat pertama kali 1970, dibenahi 1989, suami Devina setua itu? Atau gila! Keluarga Devina kayaknya rada-rada saraf deh, kok bisa ..membuat patung sebelum kekasih anaknya lahir?"

Bertumpuknya kejanggalan di benak Sisil, menggiring opini bermacam-macam di kepalanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!