Isu Kehamilan Devina

Fathur tiba di rumahnya, dia masuk dengan raut wajah memelas. Kelima teman gengnya menyambut dengan panggilan 'Penakluk Wanita', mereka menunggu hasil Fathur yang baru saja dari rumah Devina.

"Gimana, Bro? Lo sempat cium dia gak?" tanya salah satu temannya.

Fathur menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat memendam kekecewaan. Kelima temannya itu kebingungan.

"Lo gagal, Thur?"

Lagi-lagi jawaban Fathur hanya anggukan kepala, kelima temannya itu tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kegagalan Fathur merayu gadis yang sama.

"Kayaknya Lo udah gak berkharisma lagi deh di mata cewek-cewek," ejek salah atau dari temannya.

Karena ingin membela diri, Fathur bercerita tentang keberadaan sosok pria di rumah Devina. Meskipun Devina tidak mengakui keberadaan pria itu, tapi Fathur meyakini bahwa pria itu memiliki hubungan rahasia dengan Devina.

"Gue yakin Devina sering membawa pria ke rumahnya," ungkap Fathur.

"Berarti Devina tidak sepolos yang kita pikirkan, OMG!" Timpal salah satu temannya lagi.

Mendengar itu, Fathur benar-benar patah hati, kehadiran pria misterius menjalin kasih dengan Devina. Usahanya sejak dua tahun yang lalu malah berakhir tragis. Namun tercetus lagi di benak Fathur, dia tak ingin kalah dalam taruhan itu, sebelum Devina menikah, Fathur pikir masih berhak mengejar cinta anak seniman terkenal itu.

"Kalian pikir gue nyerah? Kagak! Gue akan bersaing dengan pria misterius itu, bagaimana pun resikonya," tegas Fathur. Dia memiliki jiwa pesaing yang sangat kuat. Menganggap semua itu malah jadi tantangan untuk mendapatkan Devina.

***

Devina tiba di kampus, semalaman tidurnya tak nyenyak, dia tak henti memikirkan sosok pria yang dilihat oleh Fathur. Ketika ingin ke kelasnya, Fathur memanggilnya dari kejauhan. Devina bergegas berlari menghindar, dia tidak mau lagi menjadi sasaran bully Sisil. Beberapa menit berselang, playboy kampusnya itu sudah tak terlihat lagi. Devina bergegas masuk ke kelasnya.

Di tengah-tengah dosennya memberikan materi, Devina malah memecahkan keheningan dengan mengeluarkan suara mual-mual. Seluruh pasang mata dikelasnya berpusat pada dirinya. Devina menjadi buah bibir karena tak henti mengeluarkan suara mual-mual.

"Napa Lo, Dev? Hamil?" pertanyaan usil dari teman sekelasnya.

Devina meminta izin keluar dari kelas, dia menuju ke toilet sembari membekap mulutnya sendiri. Devina menumpahkan seluruh isi lambungnya, dia lemas karena hampir kekurangan glukosa.

"Orang-orang di kelas pasti curiga," gumam Devina menebak. Dia sangat paham betul semua watak teman sekelasnya.

Devina enggan kembali ke kelas, dia memilih bersembunyi di toilet, menunggu jam kelasnya bubar.

"Eh dia belum kembali, Sist." Bisik Weni, teman sekelas Devina yang sudah kasak-kusuk di dama kelas.

"Kita ada bahan laporan ke Kak Sisil, guys .." timpal salah satu dari temannya.

Setelah mata pelajaran itu bubar, mereka membawa Sisil ke toilet, menunggu Devina yang saat itu malah ketiduran. Mereka menggedor-gedor pintu toilet yang tertutup itu, yang mereka yakini ada Devina didalamnya.

"Lo ngumpet ya?!"

Devina keluar dengan mata mengerjap, pandangan yang belum stabil malah mendorong tubuh Weni agar tak menghalangi jalannya. Weni yang tak terima menantang Devina untuk adu Jambak.

"Gue gak punya waktu ladeni kalian, ngerti?!" Devina tak gentar, tetapi dia tak ingin membuang waktu meladeni wanita-wanita psikopat itu.

Devina menunjuk ke arah mereka. Suatu ultimatum agar mereka menyudahi menghalangi jalannya. Devina pernah membuat keonaran saat bertengkar dengan Sisil, bahkan dia membuat Sisil hampir kehilangan nyawa. Melihat dari latar belakang Devina yang Ayahnya salah atau berpengaruh di kotanya, Devina dianggap sedang membela diri.

Setelah menuju ke perpustakaan, dia mencari tahu tentang penyebab kehamilannya. Devina malah menemukan sebuah artikel yang berjudul tentang "Dihamili Makhluk Ghaib". Membaca keseluruhan artikel itu, membuat Devina merinding.

"Enggak, ini pasti hanya bualan pengarang," gumam Devina.

Namun Devina mengingat kondisinya yang setiap malam mimpi basah, tentu itu jadi pertimbangan bahwa dia telah dihamili sosok makhluk gaib. Devina yang tak terima kenyataan itu, malah menutup laptopnya. Kondisinya saat itu lemah, tak sanggup bila harus memikirkan sebab kehamilannya yang sangat misterius.

"Dev," ada yang menepuk pundaknya dari belakang.

Dia Syafa, tekan akrab Devina di kampus. Syafa baru saja pulang dari lua Negeri. Dia mendengar kasak-kusuk para mahasiswa lain tentang isu kehamilan Devina.

"Dev, kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Syafa khawatir.

Devina menggelengkan kepalanya, pertanda dia memberitahu dia sedang tidak baik-baik saja. Syafa memandang sendu temannya itu, baru kali ini dia melihat Devina dengan suasana hati yang buruk.

"Aku gak mau menanyakan privasi kamu, tapi jika kamu butuh teman cerita, aku selalu, juga jamu butuh bantuan," ujar Syafa dengan senang hati.

Devina dilema, rasanya ingin jujur pada Syafa tentang kehamilannya, tetapi di sisi lain, kehamilannya tak masuk di nalar manusia. Mengandung bukan bayi manusia sangat tabu dibicarakan. Devina pun mengurungkan niatnya itu, setelah mendapatkan bukti yang lebih akurat, barulah dia menceritakan keadaannya kepada Syafa.

Ada Fathur yang juga masuk ke perpustakaan menemui Devina, anak mendiang Ganesha itu kembali menggerutu. Fathur seperti virus yang menakutkan di mata Devina. Syafa juga memutar mata malas, Fathur pria yang juga sangat tidak ia senangi.

"Dev, benar kata anak-anak bilang Lo lagi hamil?" tanya Fathur panik. Dia akan patah hati berat bila itu benar.

"Lo percaya?" tanya Syafa.

Fathur tak menjawab, dia menanti jawaban Devina. Namun Devina malah membisu, seolah tak mendengar pertanyaan Fathur.

"Dev, jawab dong .."

"Terserah Lo Percaya atau enggak, gue pusing Ama fans-fans Lo, Thur. Mending jauhin gue!" Devina berkata dengan lantang. Begitu lelah mengahadapi tingkah laku orang-orang disekitarnya.

Devina memilih enyah dari hadapan Fathur dan Syafa. Dia memutuskan pulang lebih awal, di kampus dia tak pernah mendapatkan ketenangan. Syafa melihat Devina dari kejauhan, sangat kasihan dengan kondisi Devina yang yatim piatu. Fathur malah berusaha mencari informasi dari Syafa.

"Fa, beneran Devina hamil? Terus dia udah punya cowok?" tanyanya.

Syafa malah pergi, Fathur mengikuti langkahnya pula.

"Hei, Syafa. Devina udah punya cowok 'kan? Buktinya semalam gue kerumahnya, dan ada seorang pria di rumahnya," ujar Fathur.

Syafa menghentikan langkahnya, dia pun ikut terkejut dengan penuturan Fathur. Semenjak mengenal Devina, dia belum pernah melihat temannya itu menjalin hubungan dengan pria. Syafa yang taj ingin mendengar itu sepihak saja, dia pun enggan menanggapi perkataan Fathur.

"Jangan suka ikut campur sama urusan orang lain, Devina memiliki kriteria pasangan, dan Lo tuh terlalu banyak ceweknya, Thur."

Usai berkata demikian, Syafa meninggalkan Fathur. Pria bermata sipit itu mengumpat.

"Kayaknya mereka berdua sewatak! Kenapa sih susah banget dapetin Devina, gua gak kamu kalau taruhan, dan gua gak mau Devina juga ada yang milikin."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!