Devina tak henti mual-mual di toilet. Tubuhnya sudah kekurangan cairan, karena sudah lemas, ia memutuskan untuk kembali ke kelas untuk meminta pamit dari dosennya, para mahasiswi lain masih kasak-kusuk, membicarakan Devina yang mencurigai hamil di luar nikah. Sisil menguntit Devina keluar dari kampus, ia berniat berencana mempermalukan Devina esok hari.
Arah jalan menuju ke rumahnya, Devina mampir membeli buah, dia melihat sepasang suami-istri yang juga saat itu membeli buah, terdengar dialog si istri bahwa dirinya sedang mengalami ngidam, ingin banyak makan buah-buahan, suaminya hanya tersenyum sembari mengusap-usap perut istrinya. Melihat itu, menimbulkan kekacauan dalam hati Devina. Mengapa kehamilannya berbeda dari seorang perempuan pada umumnya, batin Devina.
Setiba di rumah, Devina mendapati hidangan istimewa lagi, ada lilin menyala menghiasi meja makannya, makanan yang tersaji di meja semua makanan kesukaannya. Bergegas ia memeriksa kulkas, ada setumpuk buah-buahan mengisi kulkasnya.
"Siapa sebenarnya dia, kenapa begitu baik padaku?"
Ada suara kasak-kusuk yang berasal di kamar Ayahnya, Devina segera mengecek, berharap dia menemukan seseorang itu. Namun nihil, hanya ada patung Robby yang berdiri tegak di kamar Ayahnya. Devina mengusap dada, karena kelelahan, ia jatuh tersungkur di lantai. Di detik kemudian, padangan Devina mulai gelap, tetapi ia merasakan tubuh sedang di dekap oleh pria berbadan kekar.
Tubuhnya di gendong ke kamarnya, diletakkan di atas ranjang, Devina kembali merasa pusing, matanya tak dapat melihat dengan jelas sosok pria yang ada disampingnya. Seakan tak ingin meninggalkan Devina, pria itu ikut duduk di atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya bersama Devina di dengan selimut.
"Aku terpaksa menghipnotis mu, karena aku tidak ingin kau terkejut," ucap pria itu. Meskipun suaranya samar-samar terdengar oleh Devina, namun cukup bisa di pahami.
Devina tak memejamkan matanya, dia tertidur di pelukan pria itu. Menyerahkan penjagaan seutuhnya, mempercayakan dirinya kepada pria yang memeluknya dengan penuh kehangatan. Tak sanggup menahan syahwatnya, pria itu kembali menggerayangi Devina.
Wanita seniman itu hanya bisa pasrah, di alam bawah sadarnya, Devina meyakini, pria misterius yang selalu ada dirumahnya adalah Ayah dari anak yang ia kandung.
Dari luar ada yang melempari kaca jendela rumah Devina dengan batu, ada sekelompok perempuan yang berada di luar pagar, setelah melempar, mereka pergi begitu saja sembari tertawa cekikikan. Batu lemparan mereka dibungkus kertas berisikan tulisan "Cewek ******! Lo hamil di luar nikah, kampus besok bakalan heboh!" Setelah membacanya, kertas itu di remas olehnya. Pria itu kembali berbaring di samping Devina, tak hentinya mengucapkan kata maaf. Karena ulahnya, Devina merasakan tekanan dari teman-teman kampusnya.
Tangan pria itu mengusap perut Devina, "Kau harus lahir dengan sehat, jangan buat Ibumu sakit lagi."
Devina dapat mendengar itu, tanpa membuka mata, tangannya ia lingkarkan untuk memeluk Ayah dari anaknya. Devina tahu jika dia membuka mata, pria itu akan memilih menghilang darinya lagi.
"Kau sudah bangun?" tanya pria itu.
Devina tak bergeming, ia tak merespon pertanyaan pria itu. Seolah-olah dia masih nyenyak dalam tidurnya. Pria itu curiga Devina merasakan kehadirannya, ia ingin turun dari ranjang, namun tangan Devina memeluknya dengan erat.
'Apa daia merasakan kehadiran ku?' ia bertanya-tanya dalam hati.
Pria itu tak ingin identitasnya terungkap memaksa Devina melepaskannya, tangan Devina ia tepis lalu berlari menjauh dari kamar secepat kilat. Devina yang menyadari respon pria itu membuka matanya, di memandangi disekelilingnya mencari Ayah dari bayinya itu.
"Kamu kemana? Jangan pergi," kata Devina.
Devina beranjak mencari keberadaan pria itu, dia memeriksa seluruh ruangan, terakhir ialah kamar Ayahnya, tempat patung Robby di panjang. Devina terdiam memandangi patung Robby.
"Robby, ada pria yang selalu datang padaku, sosoknya yang tidak ingin nampak, dia Ayah dari anakku , Robby .." ujar Devina bermaksud bercerita kepada patung Robby.
***
Sisil bertamu ke rumah Fathur, desas-desus Devina yang hamil di luar nikah pasti telah di ketahui oleh Fathur. Bagi Sisil, ini kesempatan untuk ia pergunakan sebaik-baiknya. Ibu Fathur menyambut Sisil dengan ramah, namun wajah Fathur saat itu malah tertekuk.
"Ngapain sih Lo ke sini?"
"Jutek amat sih, Thur. Lo denger gak? Soal kehamilan Devina? Gue sih dengernya Devina udah punya calon," ujar Sisil menyindir Fathur agar tak mengharapkan Devina lagi.
"Sil, lagian Napa kalau dia udah punya calon? Lagi pula gua gak bakalan sama Lo, gua gak suka piala bergilir," ketus Fathur.
Sisil mengepalkan tangannya, dia memukul-mukul dada Fathur. Tidak terima dengan cara Fathur merendahkannya.
"Awas ya, kamu suatu saat akan bertekuk lutut sama aku," kata Sisil. Dia keluar dari rumah Fathur membawa setumpuk amarah.
Fathur sedikit bergetar mendengar gertakan Sisil, gadis itu memang anak dari salah satu orang berpengaruh di kotanya, sama dengan Devina. Tetapi entah mengapa Fathur tidak menyukai Sisil, mungkin karena pergaulan Sisil yang berbeda jauh dengan Devina.
Sisil masuk ke dalam mobil, dia mengirim pesan ke orang suruhannya agar memberikan pelajaran untuk Fathur. Sisil bergegas melajukan mobilnya, sebab akan ada aksi gila yang anak buahnya lakukan.
"Lo, teman mu kemana, Thur?" tanya Mamanya yang keluar membawakan teh untuk Sisil.
"Udah pulang, Ma. Gak suah di baikin anak itu, ngelunjak nanti, Ma .."
Dorrr! Dorr!
Suara ledakan terdengar dari rumah sebelah, secepat itu Api melalap rumah tetangga Fathur, karena kompleks rumah yang berdempetan, ruang Fathur juga terancam ikut terbakar. Fathur dan Mamanya berusaha memadamkan api dengan menyiramnya, tetapi api itu malah melalap plafon rumah Fathur.
"Ayo, Ma. Kita keluar, apinya makin besar," ujar Fathur menarik tangan Mamanya.
"Ta-tapi kiat harus selamatkan barang-barang dulu, Thur."
Fathur memaksa Mamanya keluar dari rumahnya, api semakin menyebar, ada dua tetangga yang sudah menjadi korban kobaran api. Mama Fathur menangis histeris melihat rumahnya terbakar. Fathur hanya bisa ternganga, dia tak dapat melakukan apa-apa selain menunggu pemadam kebakaran tiba.
"Rumah kita, Thur .." lirih Mamanya terisak tangis.
Sisil yang dari kejauhan menyaksikan pula musibah kebakaran rumah Fathur. Dia dan orang-orang suruhannya membeli rumah tetangga Fathur untuk dijadikan timing kebakaran. Sisil ingin Fathur tak memiliki daya menolaknya selain menerima bantuannya.
"Bos, kita sudah menjalankannya dengan baik, sepertinya barang-barang mereka juga terlalap habis," ujar anak buahnya.
"Biarkan saja, aku mau pulang, kalian juga pulang, jangan sampai meninggalkan jejak," kata Sisil lalu menutup jendela mobilnya.
Fathur menenangkan Ibunya, orangtuanya memiliki usah yang kini merosot, musibah ini menambah beban bagi keluarganya. Ia berencana untuk menjual beberapa rukonya untuk membeli rumah baru lagi. Namun jika itu bisa ia lakukan karena sengketa aset itu masih di tahan oleh saudara mendiang Ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments