Devina memarkirkan motornya, suasana kampus hari itu nampak sangat sunyi, seperti tak ada kehidupan. Devina merasa ada yang aneh. Ketika menuju ke kelasnya, suara cekikikan para gadis tiba-tiba menghalaunya, Devina di siram tepung oleh mahasiswa-mahasiswi yang lain. Mereka menghardik Devina dengan sebutan pembawa sial di kampus.
"Lo tuh bisa membawa sial di kampus kita, hamil di luar nikah!"
Devina batuk-batuk karena menghirup tepung itu, dia tahu ini ulah Sisil menyebar luaskan berita kehamilannya. Di balik kerumunan itu, ada Sisil datang melemparkannya beberapa testpack.
"Jika kau memang tidak hamil, kau pasti bersedia mengetesnya 'kan?" tanya Sisil.
Devina terhentak, tentu ia gelisah karena tak bisa mengelak lagi, sedangkan kehamilannya memang benar-benar nyata, bukan kebohongan belaka. Tak ada yang mampu menolong Devina saat itu, dia benar-benar seorang diri di kekang beberapa senior di kampusnya.
"Lihatlah teman-teman, diamnya sudah membuktikan bahwa rumor kehamilannya memang benar," kata Sisil. Dia puas menyudutkan Devina di hadapan puluhan para mahasiswa lainnya.
Yang dapat dilakukan Devina hanya terdiam, menangis tanpa mengeluarkan suara. Sisil sungguh memperlakukannya sangat tidak manusiawi, hanya karena iri hati, Sisil melakukan berbagai hal untuk menjatuhkan harga diri Devina.
"Yang hamili Lo siapa? Suami orang atau uppss Lo jadi simpanan om-om ya?" ketus Sisil.
Mahasiswa lainnya tertawa, bahkan ada yang melempari Devina dengan sampah. Devina hanya tersungkur di lantai, mengepal kedua tangannya. Ingin melawan tapi janin di dalam kandungannya akan terancam.
"Devina ternyata gadis kalem dan pendiam itu liar juga ya, tidak di sangka," ketus salah satu seniornya lagi.
"Jadi mau kalian apa?" tanya Devina yang mencoba membela dirinya.
"Gue mau Lo akuin diri Lo hamil, terus buktikan siapa yang menghamili Lo, simple," sahut Sisil. Dia yakin Devina tak dapat membawa pria itu karena keyakinannya kekasih Devina adalah suami orang.
Devina tak mengiyakan itu, dia menghindar dari kerumunan mahasiswa lain, memilih untuk enyah dari kampus. Olokan tak henti di lontarkan kepadanya, bahkan Devina di siram air selang sampai seluruh tubuhnya basah. Devina melajukan motornya secepat mungkin agar tak mendapatkan bully-an lagi.
Sepanjang perjalanan, Devina menangis sesenggukan di atas motor. Bergumam menyebut nama Ayah dan Ibunya, hidup sebatang kara hal terberat baginya, di tambah lagi kehamilan tanpa suami. Devina tak ingin pulang ke rumahnya, dia menuju ke sebuah pantai, tempatnya selalu menegangkan diri.
Devina duduk di pinggir pantai, semilir angin mengibas wajahnya yang basah oleh air mata. Devina ingin putus asa, namun rasa itu sulit tercipta di logikanya, dia benar-benar memiliki bahwa ia akan mampu melewati berbagai masalah pelik di hidupnya. Jika benar, dia hamil karena pria yang selalu ia lihat dalam mimpinya, Devina meyakini pria itu akan bertanggungjawab, selama ini Devina selalu diberikan hal-hal indah, meskipun dengan cara misterius.
Devina mengusap-usap perutnya, "Kita harus bagaimana? Apa selalu berpura-pura tidak mengetahui Ayahmu?" tanya Devina pada bayinya. Adegan menatap laut luas itu berlangsung hingga malam hari, Devina enggan beranjak dari tempat duduknya.
Sementara di rumah cahaya bersinar dari kamar mendiang Ayah Devina. Cahaya itu berasal dari patung Robby, patung yang selama ini Devina cintai, perlahan cahaya itu mengerakkan kedua mata Robby, berlanjut ke batang lehernya, hingga ke seluruh tubuhnya.
Robby menjelma kembali sebagai makhluk hidup, tepatnya jelmaan vampir. Wajah pucat Robby tidak melunturkan ketampanannya, tetap saja dia memiliki kharisma sebagai seorang kesatria dari buku dongeng Abad-18.
Robby mondar-mandir di ruang tamu, mengecek keadaan luar, berharap Devina segera pulang, tetapi sampai malam tiba, Devina tak kunjung pulang, makanan yang Robby sudah siapkan sudah dingin, sedingin kisah cintanya bersama Devina. Robby hanya dapat mengungkapkan perasaannya dengan cara sembunyi-sembunyi, ia takut jika Devina tak menerima keadaannya sebagai Vampir yang dikutuk.
"Devina, kamu dimana?"
Robby melirik jam dinding, hampir larut malam, tentu sangat mengkhawatirkan Devina, terlebih lagi perempuan itu mengandung anaknya, anak yang dapat menyelamatkan dari kutukan Raja. Sementara waktu Robby menjelma menjadi manusia Vampir hanya lima jam dalam sehari, jika lewat dari itu, dia akan menjadi patung lagi, dimana pun ia berada.
"Aku harus segera mencari Devina," ucapnya.
Robby menyusul ke kampus Devina, dengan berpenampilan sebagai sosok manusia. Dengan menggunakan kendaraan mobil yang pernah ia beli, tapi kendaraan itu dititipkan pada seorang Kakek untuk di jaga.
Setiba di kampus Devina, dia menanyakan keberadaan mahasiswa yang ada di di kampus, hanya ada sebagian mahasiswa yang sedang larut mengerjakan tugas di perpustakaan. Robby mengecek keadaan perpustakaan itu, hanya ada beberapa mahasiswa di sana, tak ada Devina. Para mahasiswi itu tercengang dengan kehadiran Robby, baru kali ini melihat pria setampan itu.
"Apakah kita terlalu mengantuk? Ini nyata 'kan?" mereka bertanya-tanya satu sama lain. Kehadiran Robby mengejutkan mereka.
Robby memberanikan diri bertanya kepada mahasiswa yang ternganga itu, "Apakah kau mengenal Devina? Dia tinggi, putih, dan memiliki rambut panjang," tanyanya.
Kelima mahasiswi itu terkesiap, mereka heran karena pria tampan itu menanyakan keberadaan Devina.
"Di-dia tadi habis di bully senior, dia pulang sejak siang tadi," jawab salah satu dari mereka.
Robby tertegun, "Di bully karena apa?"
"Karena dia hamil di luar nikah, dia hamil, mencemarkan nama baik kampus," jelas salah seorang dari mereka.
Sesak mendengarkan itu, tanpa pamit Robby bergegas keluar dari perpustakaan, dia masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Robby teringat dengan Devina pernah bercinta tentang segala hal kesukaannya, salah satunya ialah pantai. Melihat lautan lepas caranya ia memenangkan diri. Robby menuju ke pantai yang ada di kota itu. Tak sia-sia dia belajar mengemudi lima puluh tahun yang lalu saat bersahabat dengan Kakek Devina.
Di pantai, Devina mulai mual-mual lagi, sejak siang belum ada asupan makanan masuk ke dalam tubuhnya, mempengaruhi kondisi janinnya. Devina merasakan keram di perutnya, matanya sembab menahan nyeri
"Kamu juga sakit di dalam?" tanya Devina pada bayinya.
Devina yang tak sanggup mengimbangi tubuhnya terjatuh dari bangku kayu, tubuhnya terbaring di atas pasir pantai, dari jauh matanya tertuju pada pria yang keluar dari mobil. Devina tercengang dengan sosok pria itu mirip dengan patung karya mendiang Ayahnya.
"Robby .." lirihnya sembari menahan sakit.
Robby berlari ke arahnya, memanggil nama Devina dengan keras.
"Devina, kamu kenapa?" tanya Robby meraih tubuh Devina untuk di rangkul.
Pandangan Devina saat itu mulai gelap, wajah Robby tak dapat lagi di lihat dengan jelas. Devina pingsan di dalam pelukan Robby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments