Devina bersama Robby makan di restoran, pria itu ingin menyenangkan suasana hati Devina, membuat Devina merasa memiliki suami seperti Ibu-ibu hamil lainnya.
"Mereka semua menatap kita," ujar Devina.
Telinga Robby berdengung, ada yang memanggil namanya. Robby bergegas mencari tempat untuk berdialog dengan ketua Vampir. Robby berlari ke toilet, mengunci toilet itu dari dalam. Setelah semua selesai, Robby melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, tidak lama berselang, muncul bayangan hitam pria tua, di sela bibirnya ada dua taring tajam.
"Kau tahu apa kesalahan mu?" tanya pria tua itu.
Robby tak bergeming, dia merasa tidak melakukan kesalahan di hari itu.
"Kau kena sanksi atas perbuatan mu, kau telah mencampuri urusan wanita itu, memunculkan diri dengan mengakui kau adalah suaminya," jelas pria tua itu.
Robby tercengang, dia pikir sebagai suami Devina, memang sepatutnya membela istrinya, terlebih lagi masalah menimpa Devina karena mengandung anaknya.
"Aku hanya membela ibu dari anakku, apa itu salah? Dia bisa mati jika aku tidak menyelamatkan dia," ujar Robby membela dirinya. Ia merasa yang dilakukannya adalah hal kewajaran bagi seorang suami.
Namun tetap saja pria tua itu tidak menerima alasan Robby, "Dunia Vampir sangatlah rahasia, kau harus menjaga kerahasian sebelum kutukan mu berakhir, tapi sanksi mu adalah waktu menjadi Vampir mu dikurangi stau jam, jadi dalam sehari kau hanya bisa menjadi Vampir empat jam saja."
Setelah menjelaskan hukuman Robby, pemimpin Vampir itu enyah dari pantulan cermin, membiarkan Robby seorang diri yang tak menerima hukuman itu. Ia merasa kutukan itu terlalu kejam untuknya, padahal dia hanya membela negerinya dari Raja jahanam.
"Ini tidak adil!" Robby berteriak.
Tok! Tok!
Di luar ada yang mengetuk pintu toilet, nampaknya ada pelanggan restoran yang juga ingin masuk. Robby segera membuka pintu, para pria menghujatnya dengan kalimat protes sebab mengunci toilet itu.
"Aku minta maaf ..aku lalai tadi," ucap Robby berlalu meninggalkan barisan pria yang mengantri di toilet.
Robby kembali kepada Devina, dengan wajah pucat nya, dia tersenyum menyembunyikan kegelisahan hati karena hukuman yang baru saja ia terima.
"Kamu dari toilet?" tanya Devina.
"Iya, kita pulang sekarang, kamu sudah makannya?"
Devina tahu ada yang terjadi lagi terhadap Robby, tetapi ia enggan menanyakan itu. Devina yakin, jika sesuatu hal yang memang dapat Robby ceritakan maka itu akan diungkapkan pada Devina.
Sepanjang perjalanan, Robby banyak cerita tentang kesehariannya di rumah jika Devina ke kampus, bagaimana ia membersihkan rumah juga menelpon pihak restoran untuk memesan makanan, memesan bunga untuk mengungkapkan rasa cintanya terhadap Devina.
"Semua itu aku lakukan untukmu, jadi jangan merasa kesepian," ucap Robby sembari menggenggam tangan Devina.
"Aku janji akan menjaga bayi kita, kamu cukup menyemangati ku saja," sahut Devina.
Robby melayangkan usapan di kepala Devina, dia tahu Devina juga mencintainya, tetapi cinta itu akan menyakiti mereka satu sama lain, sebab cinta itu tidak boleh terjadi diantara mereka. Ada banyak halangan yang tidak mempersatukan keduanya.
Setiba di rumah, Robby melirik jam dinding, sisa lima menit lagi ia akan berubah menjadi patung. Ia bergegas menuju ke kamar mendiang Pak Ganesha, Devina yang bingung dengan sikap Robby mengikutinya dari belakang.
"Aku akan kembali menjadi patung, tetaplah disitu," ujar Robby mencegah Devina menyentuhnya.
Robby kembali ke berdiri di tempatnya, sedikit demi sedikit tulang belulangnya berbunyi retak, Devina mundur selangkah menyaksikan suaminya ingin menjelma menjadi patung. Robby mengerang kesakitan, dari ujung kakinya mulai kaku mengeras hingga ke perutnya, berlangsung ke bagian kepalanya, Robby telah sempurna menjadi patung kembali.
Devina menitikkan air matanya, ia mengusap bahu Robby yang kembali kaku dan mengeras seperti batu. Ia merasa hukuman terjadi suaminya sungguh berat, meyaksikan kesakitan Robby saat menjadi patung sangat menyayat hati Devina.
"Sayang ..kau tidak sangat kesakitan .." Ucap Devina terisak tangis.
Devina tahu betapa sulit berada di posisi suaminya, Robby harus mengimbangi berperan menjadi suami dan menjalani hukuman menjadi patung selama 20 jam lamanya. Sejenak Devina mengamati kamar Ayahnya, tidak terlalu kotor untuk ditempatinya tidur malam itu.
"Aku akan menemanimu disini, mulai sekarang di kamar ini aku akan tidur, agar kamu selalu terjaga .."
Devina merapikan buku-buku lama Ayahnya, dia memindahkan semuanya ke dalam gudang. Ketika membuka lemari Ayahnya, dia melihat ada brankas yang tidak pernah ia buka sebelumnya. Brankas itu terkunci rapat. Devina mencoba membukanya, memasukkan PIN tanggal lahir Ayahnya, namun gagal, kemudian tanggal lahir Ibunya, tetap saja ia gagal. Memasukkan.lagi tanggal lahirnya, tetap gagal. Devina menyerah, ia pikir tak ada hak penting di dalam brankas itu selain uang tabungan Ayahnya.
"Mungkin hanya ada uang, sudahlah biar besok saja," gumamnya.
Ia kembali membereskan ranjang tidur, sesekali melirik ke patung Robby. Devina penasaran apakah Robby menyadari kegiatannya? Mampukah Robby melihat segala aktivitas yang dilakukan olehnya? Devina akan menanyakan itu esok hari.
***
Sisil di hukum oleh kedua orangtuanya, dia tak henti dinasehati. Papinya teramat malu dengan tingkah Sisil yang selalu saja membuat masalah.
"Papi tidak Habsi pikir dengan ulah mu, kau itu mau apa sih, Sil?" tanya Papinya.
Sisil mengambil kesempatan itu untuk memeras Papinya lagi. Dia bangkit dari tempat duduknya untuk mengutarakan keinginannya.
"Aku ingin Papi mengenalkan aku dengan salah satu orang terkaya di Indonesia, dia adalah pria yang melaporkan aku, tentu saja aku akan berhenti membuat masalah," tutur Sisil memberikan persyaratan kepada orangtuanya.
Papi Sisil tercengang, bagaimana bisa ia melakukan itu, dia pun tak tahu siapa pria yang melaporkan Sisil.
"Jangan mengada-ada, Sil. Papi tidak tahu siapa dia? Memangnya namanya siapa?"
Sisil berdecak kesal, sebab tak tahu nama dari suami Devina, tetapi itu tidak menghalanginya mencari tahu latar belakang suami Devina itu.
"Sudahlah, Pi. Besok akan ku beritahukan, jika aku sudah menemukannya, tugas Papi bagaimana caranya harus menikahkan aku dengannya," kata Sisil bertekad.
Papinya Hanay geleng-geleng kepala, dia harus membantu anaknya memiliki seorang pria, perbuatan yang merendahkan harga dirinya sebagai orang terpandang di kotanya.
Sisil mencari informasi tentang media sosial Devina, namun tak ada satupun gambar-gambar Devina yang bersama suaminya. Sisil tak habis akal, dia mencari jajaran pria muda yang sukses di internet, tak ada satupun wajah suami Devina ia temukan.
"Siapa sebenarnya pria ini .." Gumam Sisil kebingungan.
Sisil berinisiatif untuk lebih halus lagi bermain, dia memiliki rencana untuk membuat gebrakan baru di hidup Devina. Sisil memulai menyapa Devina lewat akun sosial medianya, meminta maaf atas segala perbuatannya, meskipun itu merendahkan harga dirinya, namun demi rencananya, Sisil rela melakukan hal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments