Hampir Keguguran

Robby menyempatkan melihat kondisi sekitar rumah Devina, memastikan istri dan anaknya tak diintai marabahaya. Setelah memastikan aman, Robby menutup semua pintu dengan rapat, ia kembali kepada Devina untuk makan bersama.

"Kenapa terlihat khawatir?" tanya Devina. Sedari tadi dia melihat kekhawatiran di wajah Robby.

"Akhir-akhir ada banyak yang mengganggu pikiranku, aku juga tidak tahu pasti itu," sahut Robby sembari memijit-mijit kepalanya.

"Apa karena aku? Aku minta maaf karena ulah orang-orang disekitar ku, kau jadi cemas berlebihan."

"Hei, ini bukan salah kamu, justru aku yang biang semuanya, tenanglah ..Aku seorang Vampir, kehidupan ku berbeda, tak ada manusia yang bisa menyulitkan ku," jelas Robby. Wajah tampannya ia paksa untuk senyum, meskipun hatinya saat itu teramat resah.

Devina melihat jam lagi, masih ada beberapa menit, cukuplah untuk dia bermanja-manja bersama Robby. Dua sejoli itu sempat berciuman hingga suara dering peringatan mengejutkan Robby, pria itu harus kembali menjadi patung.

"Kita ulang besok lagi, aku tidak ingin masa hukuman ku semakin berkurang, aku ingin lebih banyak memberikan waktu untuk mu," kata Robby.

"Aku hanya memberikannya jika kau ingin."

Devina mengantar suaminya ke kamar, Robby kembali berdiri di tepi tembok. Perlahan tubuhnya mengeras, Devina senyum mengantarkan suaminya kembali menjadi patung. Semenit kemudian, tubuh pria tampan itu menjelma menjadi patung. Devina memejamkan mata, ia merasakan kehampaan lagi. Sebegitu sulitnya mencintai pria yang berbeda spesies, harus menahan segala aturan dari dunia yang berbeda.

Ketika Devina hendak keluar dari kamar, ia terpeleset karena sendalnya terlalu licin, bokong Devina lebih dulu rapat ke lantai, ia memekik, seketika perutnya keram, dibawah sana sudah mengeluarkan tetesan darah. Dia sudah berjanji pada Robby bahwa akan lebih mandiri lagi menjaga kandungannya. Apapun yang terjadi, Devina harus berusaha sendiri tanpa bergantung terhadap Robby.

"Auh ..sakit, tolong .."

Devina panik meminta tolong, dalam kondisi kesakitan, ia berusaha merangkak sendiri ke raung tamu, mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, ia takut jika terjadi hal buruk dengan kandungannya. Ia menelpon bidan langganannya, tetapi bidan itu sedang keluar kota, Devina yang meringis kesakitan menelepon taksi.

"Jamu tidak boleh kenapa-kenapa, Nak. Kita akan ke rumah sakit," ucap Devina. Sekuat tenaga ia merangkak ke teras rumahnya untuk mencari pertolongan.

Devina meminta tolong, tapi atak ada satupun seseorang yang lewat di depan rumahnya. Di balik pagar, pria berambut kriwil itu masih mengintai pergerakan rumah Devina, ia terheran ketika melihat dari jauh kondisi Devina.

"Apakah aku harus bantu dia, pria itu kemana? Atau jangan-jangan wanita itu ingin jadi korbannya," pria itu bertanya-tanya seorang diri. Dilema dengan tindakan yang akan dilakukannya.

Pria paruh baya itu memutuskan untuk membantu Devina, dia memanjat pagar menerobos masuk ke rumah mewah itu.

"Kamu kenapa, Dek?" tanya pria itu.

"Om, tolong aku, bawa aku ke rumah sakit, aku tidak ingin keguguran," pinta Devina memohon sangat.

Pria bertubuh gempal itu menggendong Devina ke mobilnya, dia menyimpan sederet pertanyaannya, karena ketidakhadiran si pria tampan menemani Devina. Sementara di jok belakang Devina mengeluh kesakitan, wajahnya suda pucat karena nyaris kehabisan darah.

"Tahan, Dek. Rumah sakitnya sudah sekat," kata pria itu.

Setiba di rumah sakit, Devina di jemput beberapa perawat untuk ditindaklanjuti, pria paruh baya itu menunggu di luar. Sangat dramatis ketika dokter menanyakan keberadaan keluarga binti dari Devina, menanyakan siapa nama suami dari wanita yang ia bawa.

"Gimana ya, Sus. Saya ini hanya lewat di depan rumahnya, saya hanya bantu dia ke rumah sakit, nantilah kalau dia sudah membaik, kita tanyakan," jelas pria itu.

"Kalau begitu Tuan namanya siapa? Sebagai penanggungjawab karena telah membawanya ke rumah sakit," tanya perawat wanita itu, sudah jadi hal lumrah di rumah sakit dengan berbagai prosedur yang teramat mendesak.

"Mbah Gus, sudah .. itu saja, aku orangnya penuh rahasia," jawab pria berambut kriwil itu.

Kedua perawat itu terkekeh, "Kalau rahasia cukup rahasia, jangan diungkapkan itu rahasia, Pak." Ketusnya.

Mbah Gus tak menanggapi, sebagai paranormal, ia sudah terbiasa dengan kalimat seperti itu. Mbah Gus kembali ke duduk di ruang tunggu, dia menerka-nerka keberadaan Robby. Mbah Gus menebak ada sesuatu yang terjadi diantara kedua makhluk yang berbeda ras itu.

"Jangan-jangan anak yang dikandung perempuan tadi anak makhluk itu, astaga .. apakah mereka sudah menikah ?"

Sebagai paranormal yang sudah mengetahui kehidupan dunia gaib, Mbah Gus meyakini bahwa ada sesuatu.yanyd sembunyikan pria yang ia temukan tadi.

"Maaf, Pak. Anda di panggil oleh dokter," ujar salah atau perawat itu.

Mbah Gus mengindahkan panggilan dokter, ia merasa tidak enak sebab dirinya bukan keluarga inti dari Devina, tetapi sebagai penanggungjawab, Mbah Gus harus mengetahui kondisi Devina.

"Silahkan duduk, Pak."

Mbah Gus agak kaku, sebelumnya dia hanya seorang pria biasa yang belum pernah menikah. Berhadapan dengan dokter kandungan tentu membuatnya gugup.

"Tampaknya janin dari Ibu itu berbeda dari janin pada umumnya, saya menemukan detak jantungnya yang agak lambat, tapi anehnya kondisi bayi itu besar, " papar dokter cantik itu.

Mbah Gus cengar-cengir, dalam hatinya membenarkan tentang tebakannya, Anka yang di kandung wanita yang ia bawa bukan berasal dari benih manusia, melainkan dari pria yang ia temui di toko parfum. Namun Mbah Gus seolah-olah tidak mengetahui hal itu, dia mengenyahkan kecurigaan dokter.

"Mungkin itu firasat dokter saja, masa bayinya berbeda dari manusia pada umumnya, mungkin saja karena batu saja terjatuh, atau karena perkembangannya pesat," sahut Mbah Gus.

Tetap saja dokter cantik itu merasa ada yang janggal. Baru kali ini dia menemukan pasien yang kehamilannya berbeda, bayi yang ia kandung Devina memiliki jantung berbeda.

"Nanti saya akan tanyakan langsung, dokter jangan bikin asumsi aneh-aneh, kasihan anak itu, dia hamil, kata orang Ibu hamil mentalnya harus di jaga," sambung Mbah Gus.

Dokter itu mengalah, setelah memperlihatkan catatan kesehatan Devina ke Mbah Gus, pria itu di minta untuk membayar uang administrasi, Mbah Gus yang saat itu tidak memiliki uang kebingungan. Dia hanya paranormal biasa, sepak terjangnya hanya dibutuhkan untuk tolak bala, honornya pun tak seberapa.

"Bagaimana, Pak? Ini harus di bayar dulu," kata perawat itu mendesak.

Mbah Gus teringat bahwa Devina sempat menentang tas jinjit ketika ia memasukkannya ke dalam mobil. Mabh Gus pamit sejenak untuk mengecek ke mobilnya, ternyata benar, ada tas jinjit Devina yang tergeletak di jok belakang, darah Devina pun juga menempel di jok mobilnya.

"Nantia aja deh bersihinnya, semoga perempuan malang itu bawa sedikit uang," gumamnya memeriksa isi tas Devina.

Benar saja, ada banyak uang terikat tapi didalamnya, Mbah Gus mengucap syukur, dia bergegas menuju ke administrasi membayar tagihan biaya penindakan Devina.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!