"Dasar cewek sok cantik!" Sisil mengumpat Devina dari jauh.
Dia melihat Fathur mengejar Devina, tampaknya pria yang ia taksir itu sedang gencar-gencarnya menggaet hati Devina. Sementara Devina berlari menjauh dari Fathur, dia bersembunyi dibalik tembok. Fathur berkeliling di sekitar tangga, sembari memanggil nama Devina.
"Devina, please deh, jangan sembunyi," ucap Fathur.
Devina enggan menunjukkan dirinya, dia tetap bersembunyi dibalik tembok. Sisil mengambil kesempatan itu untuk menarik perhatian Fathur.
"Hei, cari siapa sih, Kak?" tanyanya dengan mengusap pundak Fathur.
Fathur memutar kata malas, dia malah mengalihkan diri dari Sisil.
"Kak Fathur cari siapa?" tanya Sisil sekali lagi.
"Shh, itu bukan urusan kamu, udah pergi aja sana," sahut Fathur mendorong Sisil agar menjauh darinya.
Fathur kembali ke kelasnya, dia meninggalkan Sisil yang berharap dihargai kehadirannya. Sebagai anak terkaya di kampusnya, Sisil merasa di rendahkan, dia tak berarti sama sekali dihadapan Fathur, terlebih lagi yang menyainginya adalah Devina, anak yatim piatu.
Para Mahasiswa itu sudah keluar dari kelasnya masing-masing, disaat teman-temannya memilih untuk nongkrong di Kafe, Devina memilih memilih pulang, entah mengapa akhir-akhir ini kepalanya seringkali pusing, mual hingga memuntahkan segala isi makanan yang ia makan. Devina yang sudah berada di parkiran, terkejut mendapati motornya penuh dengan sampah plastik. Ada yang menjahilinya lagi, bahkan sepeda motor Devina di coret-coret dengan spidol.
"Ini pasti kerjaan Sisil dan gengnya, dasar perempuan iri hati."
Devina yang teramat lelah tak mampu meladeni keisengan Sisil terhadapnya, dia membersihkan motornya lalu bergegas pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Devina mual-mual, dia sempat berhenti di toilet umum dipinggir jalan untuk membersihkan dirinya. Devina mengusap perutnya yang terasa berbeda dari biasanya.
"Aku kenapa ya," dia bertanya-tanya seorang diri. Sepanjang perjalanan, dia menahan nyeri di badannya.
Setiba di rumah, Devina melihat ada buah tergeletak di atas meja teras rumah, karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, Devina membawa buah-buahan itu ke masuk ke dalam rumah.
Dia merebahkan diri di atas ranjang, tubuhnya mulai menggigil, sesaat dia tertidur. Selang beberapa menit, dia mencium aroma teh hangat di meja tepat disampingnya.
Matanya tertuju pada secangkir teh hangat itu. Devina yang terkejut bergegas membangunkan dirinya.
"Kok, ko bisa .." gumamnya.
Siapapun melihat itu tentu terkejut, teh hangat tiba-tiba ada didekatnya sementara tak ada seseorang yang dia lihat saat itu memasuki kamarnya. Devina berpikir yang membawa teh itu adalah malaikat dari surga yang di utus oleh Ayahnya.
"Kalau kamu benar malaikat, nampakkan dirimu," ucapnya.
Namun tak ada tanda-tanda yang dapat mendukung kecurigaan itu. Devina tersenyum kecil, merasa sedang diawasi oleh malaikat-malaikat baik, dia berjalan sempoyongan ke kamar mandi, muntah-muntah berlebihan sehingga dia kekurangan cairan. Kepalanya sudah berkunang-kunang, Devina terjatuh ke lantai, matanya yang samar-samar melihat sosok bayangan pria tampan berjalan kepadanya. Tubuh Devina digendong ke atas ranjang, bayangan pria itu perlahan menyeka rambut Devina, di detik kemudian Devina tak sadarkan diri.
Selang beberapa jam, ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumah Devina, suara wanita yang tak henti memanggil namanya. Devina tersadar dari pingsannya, dia mengerjap lalu membangunkan diri.
"Devina, kamu ada di dalam?" teriak wanita itu di luar teras.
Suara wanita itu tidak asing, dan benar saja, wanita itu sepupunya yang datang mengunjunginya lagi, namanya Rahma. Jalan yang masih sempoyongan, Devina membukakan pintu rumah. Rahma tersenyum sumringah melihat Devina nampak dibalik pintu.
"Dek, kok pucat banget? Kamu beneran sakit?" tanya Rahma.
Devina tercengang, pertanyaan Kakak sepupunya seolah dia tahu bahwa Devina memang sedang sakit.
"Kok Kak Rahma tau?"
"Lah, tadi kamu kirim pesan kek Kakak, katanya Kak jengukin aku, aku sedang sakit .." sahut Rahma.
Devina yang masih lemas terkesiap, dia masuk ke kamar memeriksa pesan yang telah terkirim ke Rahma. Benar saja, pesan itu terkirim sesuai yang dikatakan kakak sepupunya. Rahma masuk ke rumah menuju ke dapur, dia tertegun dengan berbagai makanan enak di atas meja makan.
"Wah, kamu sakit tapi masih sempat-sempatnya masak, Dek .."
Devina mengecek ke dapur, berbagai makanan kesukaannya tersaji secara misterius lagi di atas meja. Devina memijat kepala sendiri, sungguh tak sanggup menelaah berbagai kejanggalan yang ia temui setiap harinya.
"Kamu udah masak, kita makan sama-sama dulu," ajak Rahma yang ngiler dengan makanan enak itu.
Devina hanya tersenyum masam, dia tak menampakkan kegusarannya di hadapan Rahma, Devina tak ingin membuat Kakak sepupunya itu khawatir dengan kondisi misterius di rumahnya.
"Kakak makan duluan aja, aku masuk ke kamar dulu," ucap Devina.
Dia kembali masuk ke kamar, melihat isi pesan itu secara seksama. Devina merasa tidak pernah mengirim pesan kepada Rahma, dan cara tulis teks juga sangat berbeda dengan dirinya. Dengan berbagai kejanggalan yang ia temui, Devina semakin yakin ada yang tidak beres dengan kehidupannya, tepatnya ada yang selalu mengawasinya, tetapi itu bukan manusia, batinnya.
'Aku akan menelusuri semuanya setelah aku memiliki waktu luang,"' ucapnya dalam hati.
Devina ke dapur kembali menemui Rahma, Kakak sepupunya itu sedang menikmati makannya.
"Ayi dek, kita makan sama-sama, masakan mu enak," puji Rahma sembari lahap mengunyah.
Devina yang ikut makan tiba-tiba mual kembali, dia berlari ke toilet dengan menahan muntahnya, Rahma yang khawatir mengajak Devina periksa ke dokter.
"Yuk kita ke klinik terdekat, sakit kamu itu kayaknya parah, Dev," kata Rahma.
Devina menurut saja, dengan menggunakan taksi, keduanya ke klinik terdekat. Devina yang terlihat lemas dibawa langsung ke kamar tindakan, dokter pun sudah mengetahui sakit Devina hanya menyungging senyum pada Rahma.
"Sepupu saya kenapa ya, Dok?" tanyanya.
Devina juga menunggu jawaban, dokter itu melepaskan stetoskopnya.
"Ini hal biasa terjadi pada wanita yang hamil muda," jawab dokter itu dengan tersenyum.
Deg!
Devina dan Rahma terkesiap, sejenak keduanya berpandangan seolah tak percaya dengan penuturan dokter itu. Merasa lucu dengan hasil pemeriksaan dokter, Rahma tertawa terbahak-bahak, bahkan dia spontan memukul-mukul pundak dokter itu sembari tertawa..
"Ihs, yang benar saja, Dok. Sepupu saya tidak mungkin hamil," ketusnya.
Dokter itu malah ikut tertawa, menganggap yang dikatakan Rahma suatu guyonan. Devina yang gelisah meminta sekali lagi jawaban dokter itu
"Dok, jangan bercanda, ini beneran atau cuma bercandaan?" tanya Devina.
Dokter itu kembali serius, "Benar, Mbak. Anda sedang berbadan dua, kalau tidak percaya, saya akan memanggil perawat untuk memberikan testpack," sahutnya.
Devina diberikan alat test kehamilan itu, dia mengunakannya di dalam toilet, harap-harap cemas menyeringai, garis merah itu memburu hingga membentuk dua garis terpisah. Saking terkejutnya, Devina menjatuhkan testpack itu ke lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Namira
lanjut
2023-03-24
0
Nurmalia Lia
jadi penasaran siapa kah Dy...apa mungkin patung yang dibuat ayahnya Devina 🤔
2023-02-26
1