Menipu

Ketika sibuk melukis, Devina mendengar ada yang mengetuk pintu lagi, terdengar suara wanita memanggil-manggil namanya dari luar. Devina melirik ke jam dinding, masih ada lima jam lagi Robby menjadi Vampir, ia pikir tak ada salahnya menerima tamu.

Devina terkejut dengan kehadiran Sisil di balik pintu rumahnya, di tangan musuh bebuyutannya itu memegang sebuah bingkisan. Devina tak bergeming, dia menunggu Sisil yang lebih dulu berucap, ketegangan di antara mereka sempat terjadi, tak berkata namun melemparkan tatapan sinis satu sama lain.

"Hai, aku gak tahu mau bilang apa lagi, aku datang ke sini untuk meminta maaf, maafin aku ya, Dev .."

Devina menghela nafas, sejak kecil ia di ajar oleh Ayahnya agar mudah memaafkan orang lain. Bagaimana pun bentu kesalahan Sisil, Devina rasa tidak boleh menghakimi Sisil untuk menolak permintaan maafnya.

"Dev .. aku hanya bingung, kamu perempuan mandiri yang luar biasa, sedangkan aku sebaliknya, itulah pemicu aku Iri kepada mu, tapi kumohon mari kita jalin ikatan pertemanan yang baik," kata Sisil memasang wajah sendunya.

Devina menerima bingkisan itu," Aku memaafkan mu, Sil. Lain kali jangan berbuat seperti itu lagi kepada siapapun itu."

Sisil meminta untuk masuk melihat keadaan rumah Devina, untuk pertama kalinya anak pengusaha tekstil itu berkunjung ke rumah Devina. Sebenarnya agak risih membiarkan Sisil berkeliling di rumahnya, tetapi Devina berharap dengan cara seperti itu, Sisil menyadari bahwa kejahatan bisa dihapuskan oleh kebaikan.

"Rumahmu ternyata luas banget ya, wah hebat sih, desain arsitekturnya juga oke banget, hebat sih Mama kamu yang desainnya," puji Sisil.

Devina pamit membuatkan minum Sisil, dia meninggalkan Sisil seorang diri di ruang tamu. Mata Sisil menjelajahi kemewahan rumah Devina, matanya malah tertuju ke salah satu kamar yang pintunya saat itu sedikit terbuka.

Sisil melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, perlahan ia melangkah menuju ke kamar itu. Dia tertegun ketika mendapati patung lilin yang mirip dengan suami Devina.

"Wah, ini luar biasa, bagaimana bisa dia memiliki patung lilin," gumam Sisil, mengusap-usap lengan patung Robby.

Sisil beranggapan bahwa suami Devina memang termasuk jajaran orang penting, tidak sembarang orang dapat dibuatkan patung lilin. Tatapan Sisil mengangumi patung Robby.

"Perawakan suami Devina memang tampan dan berkharisma. Patungnya saja sudah mengagumkan seperti ini, apalagi bila manusianya langsung," ucap Sisil memuji sembari mengusap pipi patung Robby.

Ia kembali menjelajahi sekitar kamar itu, ada banyak lukisan Devina yang nyaris selesai, Sisil tersenyum miring. Tiba-tiba terdengar suara langkah dari dapur, Sisil bergegas keluar dari kamar mendiang Ayah Devina itu. Dia kembali duduk di sofa menanti kehadiran Devina menyuguhkannya kudapan makanan.

"Kau menunggu lama?" tanya Devina.

"Tidak, suasana rumahmu menyenangkan, bersih dan rapi, pasti kau susah payah membersihkannya setiap hari?"

Devina hanya melayangkan senyum, dia tidak pernah membersihkan rumah secara langsung. Semua perkejaan rumah dikerjakan secara diam-diam oleh Robby, Jiak tidak, rumahnya pasti sudah seperti rumah hantu yang tak terawat.

"Suamimu mana? Apa kalian tidak tinggal bersama?" tanya Sisil mulai mencari tahu tentang pernikahan Devina.

Devina sudah mempersiapkan alasan itu untuk dilontarkan bagi siapa saja yang bertanya tentang latar belakang Robby, Ia tahu akan ada banyak yang penasaran dengan suaminya yang tampan itu.

"Dia seorang pekerja yang tidak boleh diungkapkan kepada siapapun, kami bertemu di waktu-waktu luangnya," jawab Devina. Ia pikir jawabannya tidak sepenuhnya mengandung kebohongan.

Sisil sangat ingin mengetahui nama suami Devina, tetapi ia yakin Devina akan enggan mengatakan nama asli suaminya. Sisil memutar pembicaraan tentang keinginannya lebih dekat dengan Devina. Sisil akan selalu mengunjungi Devina di rumahnya untuk menjalin keakraban.

"Kamu mau 'kan Dev?"

Devina tak bergeming, dia pikir tidak terlalu butuh dengan teman saat itu, tak ada yang bisa di percaya olehnya untuk mengetahui kisah hidupnya, serta kisah cintanya dengan Robby, Vampir yang terkutuk menjadi patung lilin.

"Aku tidak bisa, Sil. Aku orangnya introvert, gak terlalu suka bergaul, maaf ya .." Devina menolak secara halus. Ia pikir untuk sekarang hidup bersama Robby dan memelihara kandungannya adalah hal yang paling tepat di hidupnya.

Raut wajah Sisil nampak kecewa, tetapi dia berusaha mengukir senyumannya. Sulit menghancurkan benteng pertahanan Devina yang sangat menutup diri, tetapi itu akan menjadi tantangan Sisil agar lebih mendekati Devina. Sisil harus tahu latar belakang suami Devina, harus memiliki kesempatan menemui suami Devina secara langsung.

"Ya udah, mungkin kamu masih kecewa sama aku, tapi untuk hari ini sudah cukup luar biasa, kau meyambutku dengan baik, hmm.. bisakah aku meminjam toilet yanga dan di kamar itu?" tanya Sisil berharap dia memiliki kesempatan lagi untuk masuk ke kamar Ayah Devina.

Devina yang tak ingin patung Robby diketahui oleh Sisil mengajak Sisil ke toilet belakang. Sisil menolak, dia berpura-pura kebelet pipis agar Devina mengizinkannya memakai toilet kamar Ayahnya.

Devina terpaksa mengantar Sisil, dia seolah-olah tak menunjukkan kekhawatirannya karena Sisil melihat patung Robby.

"Aku masuk ya, Dev." Sisil masuk ke kamar mandi dengan segudang niat buruk. Sisil mengeluarkan sebuah benda dari tasnya. Setelah menyiapkan benda kecil itu, ia keluar lagi.

Devina menunggunya di depan pintu kamar mandi, Sisil berpura-pura lagi terpukau dengan penampakan patung Robby. Dia bahkan lancang berani menyentuh patung Robby di depan Devina.

"Jangan sentuh dia, Sil!" Spontan Devina berteriak.

Sisil yang terkejut tak sengaja melukai patung Robby, cincin hiasan besar yang di pakai Sisil menggores sedikit pipi patung Robby. Kulit patung Robby memerah, sontak Devina mendorong Sisil menjauh dari patung Robby.

"Auhh ..Devina, sakit!" Keluh Sisil yang terjatuh ke lantai.

Devina bergegas mengusap pipi Robby yang terluka, ia bahkan membongkar kotak obat mencari obat merah. Sisil melihat itu hanya terperangah, tingkah Devina baginya sangat berlebihan hanya untuk melindungi sebuah patung.

"Devina, itu hanya patung, heboh banget sih," ketus Sisil.

Devina tak menggubris itu, dia mengobati luka di wajah patung Robby, memberikannya plaster luka. Sisil terheran dengan tingkah laku Devina yang diluar kewajaran. Dia mendekati Devina yang terlihat sangat bersedih.

"Kau kenapa sih, Dev? Itu hanya patung, ngapain di obatin segala,"kata Sisil.

"Kau melukainya, Sil. Bagi aku, ini.lebih dari sekedar patung, bayangkan jika ada luka di wajahmu, bagaimana perasaan mu? perih kan?" Devina berkata sembari menahan amarah.

Sisil ternganga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa Devina memiliki gangguan kejiwaan. Bagaimana bisa patung disamakan seperti makhluk hidup? Sebuah patung benda mati yang tidak memiliki panca indera.

"Lo tuh kayaknya sudah sakit deh, kan dia hanya patung yang mirip suami mu, jangan berlebihan deh, " ujar Sisil.

Devina tersadar bahwa tingkahnya malah menimbulkan kecurigaan terhadap Sisil.

"Iya, Sil. Kamu harus minta sama patung ku ini, dia patung kesayangan suamiku," sahut Devina mengikuti opini Sisil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!