Bidan itu terkejut karena ada seorang pria yang menelponnya, padahal malam itu Devina hanya seorang diri di rumah, tak ada seorang pun yang menjaganya di saat sakit. Devina lemas, tak memiliki daya untuk bergerak, frustasinya melenyapkan semangat hidupnya.
"Kamu tidak boleh banyak beraktivitas, jangan ikut kegiatan kampus dulu," ujar Bidan itu.
Devina juga enggan masuk ke kampus lagi, dia sudah pasrah dengan hasil perjuangannya selama dua tahun belakangan ini.
"Kamu punya suami?" tanya bidan itu.
Perempuan bertumbuh gempal itu penasaran dengan sosok yang sudah membayarnya selama sembilan bulan ke depan, pria itu terdengar bertangungjawab atas kehamilan Devina.
"Kenapa, Bu? Ada yang salah?" Devina balik bertanya. Ia ingin mendengarkan kejanggalan yang juga bidan itu temukan.
"Ada seorang pria yang sering menelepon ku, dia mengatakan bahwa aku harus mengawasi kehamilanmu, bahkan dia sudah mengirim uang sepuluh juta untuk upahku, " jelas Bu bidan.
Devina menyunggingkan senyum, Ayah anaknya memang tidak terlihat, tetapi tidak untuk tanggungjawabnya, Ayah dari anaknya tetap berusaha menjaga mereka dengan cara misterius.
"Iya, Bu. Dia suamiku, dia memang seseorang yang misterius, tidak boleh ada yang kenal, harus dirahasiakan," papar Devina. Ia bertekad untuk melegalkan hubungan kepada orang-orang disekitar bahwa dia telah memiliki suami. Cara ia menghibur diri dari frustasinya karena hamil di luar nikah.
Bidan itu tersenyum, "Apa dia anggota intelijen? Wah, hebat sekali, tapi ya sudahlah, kamu istirahat, rajin minum obat, saya pulang dulu, kalau ada apa-apa, jangan sungkan telepon," ucap Bidan itu pamit.
Setelah bidan itu pergi, Devina berusaha mengingat kembali momen terakhir kali saat ia di pantai, ingatannya meyakini pria keluar dari mobil itu ialah Robby, pria yang merangkulnya ialah Robby, patung yang ada di sebelah kamar Ayahnya.
'Jika kau masih tetap saja bersembunyi, maka aku akan memaksamu menampakkan diri,' ucap Devina dalam hati.
Devina membanting gelas yang ada di kamarnya, gelas itu pecah berkeping-keping, dia berteriak menolak kehamilannya, dia memukul bantal sekencang-kencangnya hingga mengeluarkan bunyi hentakan, Devina menjerit.
"Aku tidak ingin hidup seperti ini, kau ingin mati saja, aku ingin mati," ucapnya memberontak sendiri di atas ranjang.
Di kamar Ayahnya, patung Robby gelisah mendengar hal itu, dia berpikir keras, apakah harus menampakkan diri dihadapan Devina atau tidak.
"Kau ingin mati saja," ujar Devina lagi dengan suara keras.
Devina membanting lagi barang-barang di dekatnya, cara itu ia lakukan agar Robby keluar dari persembunyiannya. Devina tak putus asa, dia melihat lagi ke arah pintu, belum ada sosok mahkluk yang menampakkan dirinya.
"Ayah, Ibu aku ingin ikut denganmu, tunggu aku .." Devina mengambil pecahan beling, ingin menggoreskan tangannya sendiri.
"Jangan lakukan itu Devina!" Suara pria yang sudah membuka pintu.
Devina memalingkan wajah ke arah pintu, tampak Robby berdiri tegap dengan tubuh pucat nya. Bukan sebagai patung lagi tetapi sebagai makhluk yang seperti manusia. Robby berjalan ke arah Devina, dia menatap nanar gadis malangnya itu. Devina tercengang, dia bahkan tak rela berkedip melihat Robby hidup.
Sejak kecil, Devina hanya mengenali Robby sebagai patung lili, tak memiliki daya apapun selain berdiri tegap. Namun kini Robby berdiri di sampingnya dengan kata yang juga berkedip, tubuh yang bergerak, dan telah menghamilinya.
"Rupanya kamu .." lirih Devina berurai air mata.
Robby duduk, megambil beling itu dari tangan Devina. Menyeka rambut perempuan yang amat ia cintai.
"Kamu tidak sendirian, aku selalu berupaya untuk membuatmu bahagia," ucap Robby.
Devina masih shock, siapapun yang berada di posisinya akan merasakan hal yang sama. Ia memberanikan diri menyentuh tanah Robby, kulit itu bukan lagi lilin, tetapi seperti kulit manusia, hanya saja terlalu dingin seperti tak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya.
"Apa maksud dari semua ini?" tanya Devina.
Robby memejamkan mata, lalu mengumpulkan keberanian mengatakan hal sejujurnya kepada Devina. Namun sebelum menjelaskan, Robby merapikan kamar Devina terlebih dulu, membersihkan beling beling yang berserakan. Setelah semua selesai, dia kembali duduk di dekat Devina.
"Aku bukan manusia seperti mu, aku adalah sosok makhluk dari negeri yang ada di dongeng Vampir, ini memang sangat rumit di logika manusia, tapi kenyataannya seperti itu, aku seorang Vampir, Devina .."
Devina yang ketakutan, menjauhkan tangannya dari Robby. Pria itu tahu Devina akan meresponnya demikian.
"Aku tidak akan menyakiti wanita yang aku cintai," ujarnya.
Devina tetap saja ketakutan, "Vampir makhluk pengisap darah, apa yang kau inginkan dariku? Benarkah anak ini adalah anakmu?"
"Tenangkan dirimu, dengarkan ceritaku. Aku adalah salah satu pangeran Vampir yang ada di dongeng Kakek mu, Tuan Guntur. Dialah yang mengeluarkan ku dari buku dongeng Vampir, dia membuat patung yang mirip denganku, patung itu sengaja di rusak lalu menyuruh Ayahmu lagi membuatnya, padahal patung itu hanya alibi agar aku bisa di tukar untuk dijadikan pajangan di rumah ini. Patung lilin yang menyerupai ku itu di rusak tanpa sepengetahuan Ayahmu, sebelum meninggal, Kakekmu menyerahkan aku ke Ayahmu untuk di jaga sampai keturunannya, sehingga akulah yang harus menjadi patung setiap harinya, agar kamu tidak curiga, kesempatan ku menjadi manusia hanya lima jam sehari," jelas Robby panjang lebar. Segala yang dikatakannya adalah kebenaran.
Mendiang Kakek dan Ayah Devina sudah mengetahui patung Robby akan sewaktu-waktu menampakkan dirinya di depan Devina. Mereka telah terang-terangan menitip penjagaan itu kepada Robby. Sebagai seorang pangeran kesatria di buku dongeng itu, Robby merasa bertanggungjawab atas keselamatan Devina.
"Itulah mengapa aku bisa hidup berpuluh-puluh tahun lamanya, karena aku adalah sosok Vampir.
Devina menutup mulut dengan kedua tangannya, sulit mempercayai perkataan Robby namun itulah adanya. Ia pernah mendengar sebuah dosen berkata bahwa,
'Jika kau menelusuri bebagai keadaan yang di luar logikamu, tapi pertanyaan mu tetap tak menemukan jawaban, bukan karena tidak memiliki kebenaran, melainkan logika manusia terbatas menjangkaunya, itulah perbedaan makhluk hidup di alam semesta ini.'
"Lalu bagaimana dengan anak ini? Kau hizk .." Devina memukul-mukul pundak Robby, dia protes karena pria itu menghamilinya secara diam-diam. Menghaturkan masa depannya.
"Kau jahat, kenapa kau tega melakukan itu?! Mentang-mentang setiap hari aku bilang mencintaimu, tapi bukan begini caranya Robby .." protes Devina.
Robby menerima pukulan Devina, dia membiarkan Devina melampiaskan amarahnya, berharap setelah itu Devina lebih tenang lagi berpikir. Pukulan Devina terhenti, dia memandangi Robby dengan air amat yang bercucuran.
"Robby .." lirih Devina.
Robby mengulurkan kedua tangannya, meminta Devina agar memeluknya, Devina langsung memeluk Robby dengan erat, menumpahkan tangisnya yang selama ini hanya tertuang sendiri. Penderitaan itu serasa lenyap setelah Robby mengungkapkan semua rasa bersalahnya.
"Jangan takut, aku selalu ada menjagamu, kamu tidak sendiri Devina.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments