Asmara tersembunyi

Sisil pamit dari rumah Devina, dia kehidupan Devina berbeda dari manusia pada umumnya, Sisil tahu Devina tipe manusia introvert, namun tetap saja Devina sangat aneh di mata Sisil, seolah menyembunyikan rahasia besar sehingga ia ketakutan. Devina yang mengintip di balik gorden berharap Sisil segera enyah dari rumahnya, ia tidak ingin menjelmanya Robby menjadi Vampir di ketahui oleh Sisil.

Suara erangan Robby sudah terdengar, Devina mengunci rapat pintu utama rumahnya, bergegas mengecek kondisi Robby. Pria itu sudah duduk di sofa sembari memegang luka di wajahnya.

"Sangat sakit ya?" tanya Devina.

"Hanya perih sedikit, gadis itu memakai cincin silet, setajam hatinya," ujar Robby yang sudah paham tabiat Sisil dari cerita Devina.

"Kamu butuh obat yang seperti apa? Akan ku berikan," tanya Devina yang khawatir jika luka Robby infeksi.

Robby malah terkekeh, dia menarik tubuh Devina untuk dipangkunya. Berbisik mesra ditelinga wanita yang mengandung anaknya itu.

"Aku seorang Vampir, tidak akan infeksi hanya karena emas itu, kau tetaplah terjaga untuk anak kita saja, hmm.."

Devina tersipu malu, namun ada kejanggalan yang ingin ia ketahui, berharap Robby dapat menjelaskan itu.

"Apakah ketika kau menjadi patung, kau bisa melihat dan mendengar sesuatu yang terjadi di sekitar mu?"

Robby tertegun, ada banyak peraturan yang tak dapat ia langgar sebelum kutukan itu berakhir, termasuk menceritakan tentang keadaan dirinya ke Devina. Robby harus mematuhi semua itu apapun alasannya, ia tak boleh mengungkapkan rahasia Vampir kepada Devina. Tetapi jika Devina memahami segala yang terjadi akhir-akhir itu, maka tanpa Robby menjelaskan pun, Devina akan paham.

"Kau cari tahu sendiri, aku tidak tahu .." Robby berkelit tapi tetap memberikan bahasa isyarat.

Devina mengangguk, mencoba mengerti, di sisi lain ada sekelumit pertanyaan yang ingin lontarkan, tetapi Robby tidak akan menjawab hal itu, Devina lun mengurungkan niatnya.

"Kau harus berhati-hati dengan gadis tadi, dia terlalu berbahaya jika kau dekat dengan dia, menutup diri dari dia," ujar Robby mewanti-wanti.

Devina juga tahu itu, tak ada ketulusan di kedua mata Sisil meminta maaf. Seolah ada keterpaksaan dalam dirinya, Devina dapat membaca ada maksud buruk di balik kebaikan Sisil.

"Iya, aku harus menutup akses akrab dengannya, aku lebih nyaman seperti ini bersama mu .." Kata Devina.

Robby berbalik, menatap nanar Devina. Ingin rasanya mengungkapkan agar Devina tidak terlalu berharap dengan dirinya, tetapi itu akan mematahkan hati Devina yang sedang mengandung. Robby pun mengalihkan pembicaraan dengan memuji lukisan Devina.

"Ini lukisan yang sangat indah," tuturnya.

"Iya, aku akan melukis kita di sebuah kastil kecil, mengisinya juga dengan gambar anak kita nanti."

Robby melihat kandungan Devina, sudah nampak menyembul. Beberapa bulan lagi Devina akan melahirkan anaknya, dan kutukan itu akan berakhir.

"Kehamilan mu hanya empat bulan saja, setelah itu anak kita akan lahir, semua usia kehamilan seperti itu berlaku bagi kaum Vampir," tutur Robby.

Devina yang sedang minum teh seketika tersedak, Robby beranjak menepuk-nepuk pundaknya. Dia mendelik kepada Robby.

"Maksudnya aku akan melahirkan dari perkiraan bidan itu? Bagaimana caranya? Maksudku orang-orang akan bingung," kata Devina seketika panik.

Robby tahu itu hal mencengangkan bagi Devina, tapi bila tiba saatnya Devina akan mengerti kehidupan Vampir seperti apa. Robby tidak ingin menjelaskan itu secara detail, ia takut jika akan melanggar aturan kutukan sehingga merugikan dirinya juga Devina.

"Ayo jelaskan, aku berhak tahu pola kehamilan anak Vampir," desak Devina.

"Dev, tenanglah, apapun yang terjadi, anak ini tanggung jawabku, tenanglah ...jangan berlebihan berpikir," sahut Robby. Dia juga merasa sakit jika saatnya tiba dia harus menjelaskan itu kepada Devina.

Karena sudah senja, Robby berinisiatif membawa Devina keluar sejenak untuk berkeliling kota, waktunya empat jam sangat ia manfaatkan untuk memulihkan suasana hati Devina. Saat itu Robby mengenakan Hoodie hitam agar wajah pucat nya tidak terlalu nampak.

"Apa yang ingin kau beli? Aku suka aroma ruangan yang kemarin itu," kata Robby.

Devina mencari-cari parfum ruangan yang Robby maksud, dari jauh ada sepasang mata melihat dua sejoli itu. Robby merasa ada yang memperhatikannya dari jauh, dia menjelajahi setiap sudut di toko parfum itu. Matanya tertuju dengan pria berpakaian serba hitam, berambut kriwil, tatapannya mengundang seribu tanya.

"Dev, cepat kamu pilih parfumnya, kita segera pergi dari sini," bisik Robby.

Pria berambut kriwil itu masih memperhatikan mereka, Robby bahkan salah tingkah, Devina yang tak memahami maksud Robby hanya sibuk memilih-milih parfum.

"Dev .." lirih Robby. Tetapi Devina malah menjauh, dia tak mendengar Robby memanggilnya.

Pria berambut kriwil itu berjalan mendekat ke Robby, dia menyapa Robby sembari menepuk-nepuk pundaknya.

"Kau sedang apa disini?" tanya pria itu.

Robby tersentak, dia tak menoleh ke arah pria manusia itu. Robby tidak ingin identitasnya terbongkar. Sementara pria yang menyapanya itu memiliki indera keenam.

"Kau sedang apa disini bersama wanita itu? Kau mengelabui wanita itu? hah?" tanya pria itu menjajalnya dengan pertanyaan menuduh.

Robby tak bergeming, dia melirik ke arah Devina yang masih sibuk memilih parfum.

"Kau, hei, kau tidak boleh ada disekitar kami," kata pria itu lagi.

Robby mencengkram tangan pria itu, matanya ia lebarkan menandakan peringatan.

"Aku tidak suka urusanku di campuri, aku bukan makhluk yang berbahaya, jadi berhentilah ingin tahu!"

Nyali pria itu menciut setelah melihat kedua bola mata Robby memerah, tangannya di lepaskan oleh Robby, tetapi dia belum enyah, tetap saja diam meneliti perawakan Robby.

"Tapi apakah wanita itu tahu jato dirimu?" tanya pria itu penasaran.

Robby mengerutkan alisnya, dia heran dengan keingintahuan pria itu.

"Itu bukan urusanmu, pergilah .." Robby berusaha memelankan suaranya.

Pria itu menghindar, dia takut jika membuat Robby kesal, ia malah jadi sasaran penyerangan Robby. Namun itu tidak membuat pria itu berhenti menelusuri, diam-diam dia mengamati pergerakan Devina dan Robby. Cukup lama Devina memilah hingga memutuskan untuk membeli parfum yang ia mau.

"Aku sudah mendapatkannya, sisa dua jam lagi, lebih baik kita pulang yuk," ajak Devina. Ia khawatir jika waktu Robby menjadi patung lewat sebelum mereka tiba di rumah.

Robby dan Devina terburu-buru menuju ke parkiran, masuk ke dama mobil sembari mengamati disekitarnya, berharap tak ada yang mencurigai mereka. Tetapi pria itu tetap saja mengintai, ia menguntit mobil Robby, mengikuti kemana arah tempat tujuannya.

"Tampaknya perempuan itu sudah tahu jati diri kekasihnya," gumam pria berambut kriwil itu.

Tidak jauh dari pusat perkotaan, Robby dan Devina sudah tiba di rumah, Devina turun membuka pintu pagar, Robby memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Dari jauh pria itu hanya mengamati dari dalam mobil, ingin mencari tahu sejenis makhluk apa sebenarnya.

"Dia manusia serigala, jin, atau Vampir?" pria itu bertanya-tanya seorang diri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!