Hamil tanpa suami

"Tidak, ini tidak mungkin!" Devina memekik di dalam toilet.

Rahma yang menunggu di luar bergegas mengetuk pintu toilet itu, dia memanggil-manggil nama Devina, memastikan keadaan sepupunya itu baik-baik saja.

"Dev, buka pintunya, kamu kenapa?" tanya Rahma khawatir.

Devina memutar kenop pintu, dia memberikan testpack itu, Rahma terkesiap dengan bukti kehamilan Devina.

"Tapi .. Bagaimana bisa, Dev?" tanyanya.

Rahma yang menyadari ada dokter saat itu, dia pun mengurungkan niatnya meminta penjelasan Devina. Rahma kembali membawa Devina untuk berbaring di ranjang periksa, Devina tak henti menangis, dokter saat itu beranggapan bahwa pasiennya sudah dihamili di luar nikah, sehingga ia menangis karena belum siap menerima kenyataan itu.

Setelah menerima beberapa obat penguat kandungan, Rahma membawa Devina kembali pulang. Rahma mencoba komunikasi dengan Devina, dia ingin adik sepupunya itu jujur dengan keadaannya saat itu.

"Kamu sudah anggap Kakak ini Kakak kamu 'kan?" tanya Rahma.

Devina yang dibalik bantal hanya menganggukkan kepalanya. Dia masih menangis sesenggukan, tetapi tak ingin dilihat oleh Rahma.

"Siapa orangnya? Bilang sama Kakak, nanti aku coba bicarakan baik-baik sama dia, dia harus bertanggung jawab," ujar Rahma yang juga memikirkan bahwa Devina dihamili oleh pacarnya.

Devina memunculkan wajahnya, dia berfokus pada Rahma yang terlihat begitu khawatir.

"Sumpah demi Tuhan, Kak. Aku tidak punya pacar, aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun, aku hanya di rumah, kuliah, itu saja," jawab Devina sesuai dengan ingatan segala aktivitas yang dilakukan setiap harinya.

Rahma tak percaya itu, tetap saja dia ingin Devina berkata jujur agar dirinya bisa memberitahu pria itu agar bertangungjawab.

"Jujurlah, Dev. Ini menyangkut masa depan kamu, ada anak loh di dalam perut mu, kamu mau hamil tanpa seorang suami?"

Devina tetap kukuh dengan pernyataannya, "Aku berani bersumpah, Kak. Aku tidak pernah melakukan itu, pasti Kak Rahma tahu kepribadian aku yang tak ingin dekat dengan pria," jelasnya.

Rahma tahu Devina sangat menjaga diri dari pergaulan, bahkan Devina belum pernah memiliki pacar atau teman pria yang bisa dibilang dekat dengannya, tetapi faktanya, ada janin yang sudah bersemayam di rahim Devina, Rahma pun tak dapat berkata-kata lagi, dia takut terlalu banyak berspekulasi sehingga berpikir buruk terhadap Devina.

"Ya sudah, kamu istirahat, setelah kamu lebih tenang, kita akan bicarakan ini lagi."

Rahma keluar dari kamar Devina, dia mondar-mandir di ruang tamu memikirkan solusi atas permasalahan adik sepupunya itu, haruskah Devina membiarkan janin itu tanpa seorang suami? Ataukah mereka tega melenyapkan janin yang tak berdosa itu? Rahma diterpa rasa bersalah karena sudah memikirkan solusi buruk, dia membuang jauh pikiran untuk menggugurkan kandungan Devina.

"Apapun yang terjadi, Devina tidak boleh melakukan dosa besar itu."

Rahma yang membersihkan melihat tumpukan bunga mawar kering di halaman rumah, bunga-bunga kiriman misterius itu belum sempat di buang oleh Devina. Bunga-bunga itulah yang jadi menguatkan kecurigaan Rahma kembali.

'Kamu punya pacar atau apa sih Dev? Kenapa mesti sembunyikan ini? Atau jangan-jangan kamu menjalin hubungan dengan suami orang?'

Sekelumit pertanyaan Rahma yang menggelayut di kepalanya. Semua meminta menemukan jawaban pasti, tetapi bila mendesak Devina lagi, Rahma yakin jawaban Devina pasti akan tetap sama sebelumnya. Rahma kembali meletakkan bunga-bunga itu. Dia kembali lanjut membersihkan halaman.

Sementara Devina yang tertidur didatangi seorang pria tampan, wajah pria itu tidak asing, pria itu mengusap-usap kepala Devina, seolah menunjukkan ras a kasih sayangnya, empatinya terhadap masalah yang Devina alami.

'Kamu harus kuat, jaga anak itu baik-baik, ku mohon ..' ucap pria itu dengan pelan.

Devina melihat bayangan pria itu mencium keningnya, bahkan Devina merasakan perutnya di elus-elus, seperti seorang suami yang menyambut bahagia atas kehamilan istrinya.

Devina berusaha bangkit dari alam bawah sadarnya, setelah tersadar, dia mengerjap-ngerjapkan mata, ternyata yang di lihatnya hanyalah sebuah mimpi, tetapi Devina merasa itu sangat nyata, tatapan pria itu terlihat sangat menyayanginya, juga bayi di dalam kandungannya.

"Apakah dia adalah Ayah dari anak ini?" gumamnya.

Devina mengelus perutnya, dia tak habis pikir mengapa bisa mengandung tanpa berhubungan badan, selama ini dia hanya sering mimpi basah, belum pernah melakukan itu secara langsung dengan pria. Namun bila menjelaskan itu , tentu tak ada yang percaya padanya.

"Kenapa kamu harus ada di dalam perut ku? Haaa? Aku punya banyak impian, kehadiran mu menghancurkan hidupku!" Devina menghardik bayi yang ada didalam kandungannya.

Devina bahkan memukuli perutnya, mengumpatnya, sangat tidak menginginkan bayi itu.

Duuukk!

Tiba-tiba ada benturan keras terdengar di kamar sebelah, kamar kosong yang hanya diisi patung Robby. Devina yang kaget beranjak memeriksa keadaan kamar mendiang Ayahnya. Tak ada seseorang di kamar itu, tak ada benda yang jatuh juga di dalamnya. Devina mencari keberadaan Rahma, sepupunya itu sedang menyapu halaman rumah.

"Apa yang telah terjadi, mengapa akhir-akhir ini aku sering berhalusinasi?"

Devina duduk di sofa, memijit kepala, tapi matanya malah tertuju pada patung Robby di kamar itu. Devina yang butuh teman bicara menghampiri patung Robby. Dia memeluk patung itu seolah menumpahkan keresahan hatinya.

"Robby, aku harus bagaimana? Aku hamil, aku tidak tahu mengapa ini bisa terjadi?"

Devina memeluk erat tubuh patung Robby, "Kamu pasti kecewa dengan ku, tapi kamu tahu 'kan aku tidak pernah berbuat aneh-aneh, tapi kenapa ada bayi di dalam kandungan ku? huhuhu .."

Rahma mendapati Devina memeluk patung Robby, sangat jelas raut wajah sepupunya itu terkejut karena memeluk benda mati itu dengan terisak tangis.

"Kamu lagi apa, Dev?" tanya Rahma terheran.

Devina melepaskan pelukannya dari patung Robby, "Hem, aku hanya curhat pada patung buatan Ayahku," sahutnya dengan gelagapan.

Rahma mengamati patung Robby, sekilas patung Robby menampakkan raut kesedihan. Namun Rahma malah menganggap itu hanya halusinasinya saja. Dia mengajak Devina duduk di ruang tamu.

"Devina, apa rencana jamu selanjutnya?" tanya Rahma.

Devina tak bergeming, dia pun juga bingung harus bagaimana, semuanya jalan buntu.

"Dev, jangan sampai kamu mengugurkan bayi kamu, itu dosa besar," sambung Rahma memperingatkan.

Devina menatap Rahma dengan nanar, "Lalu aku harus bagaimana, Kak? Apa aku harus melahirkan dan membesarkan bayi ini? Ini aib, Kak."

Rahma meraih tangan Devina untuk digenggamnya, mengusap lembut pipi anak dari pamannya itu.

"Jaga saja anak ini, mungkin ada alasan yang belum kita ketahui sehingga bayi ini ada di kandungan kamu, aku percaya kamu anak yang baik, jangan melenyapkan kebaikan mu membunuh bayi ini," tutur Rahma. Meskipun dia tak selalu akan mendampingi Devina, tetapi dengan memberikan dukungan moril demikian, Rahma berharap Devina kuat menjalani jalan hidupnya.

Terpopuler

Comments

mhzendh

mhzendh

nanti anaknya gimana ya

2023-03-12

0

Nurmalia Lia

Nurmalia Lia

semisteriuskah hidup Devina..v Robby siapa😵‍💫🤔🤔

2023-02-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!