Mbah Gus mundur selangkah, suara erangan itu tetap mengerikan dari dalam kamar kosong. Mbah Gus menanti makhluk yang ia yakini suami Devina itu keluar dari kamar. Perlahan terdengar langkah kaki, Mbah Gus menyiapkan mentalnya, bukan takut, hanya tidak ingin terkejut dengan penampakan yang akan dilihatnya. Robby nampak dibalik pintu, dia berdiam diri memandangi Mbah Gus.
"Devina mengutus mu kemari?" tanya Robby.
"Benar, dia sedang di rumah sakit," jawab Mbah Gus terbata-bata. Ia takut jika Vampir itu tergiur dengan darahnya.
Kemarin, saat Robby masih menjadi patung, dia dapat melihat dan mendengarkan kesakitan Devina di saat terjatuh, dia mendengar bagaimana Devina berjuang mencari pertolongan, namun sebagai suami Robby tak dapat melakukan apa-apa selain mematung. Sejak kemarin, Robby merasa tidak terlalu berguna menjadi suami.
"Kau bersedih?" tanya Mbah Gus meneliti wajah Robby.
"Aku tidak bisa menjaga dia setiap saat," sahut Robby memelas.
Mbah Gus menarik nafas panjang, ia mengerti perasaan Robby. Mbah Gus beranikan diri mendekati Robby, mengusap pundak Robby, memberikan kekuatan buat Vampir yang malang itu.
"Tenanglah, kau bisa memperbaiki segalanya menjadi baik, jemput dia sebelum orang-orang medis mencurigai kalian," saran Mbah Gus.
Ia menceritakan ketakutannya bersama Devina, ketakutan perihal orang-orang medis akan menjadikan bahan penelitian kandungan Devina. Robby tidak akan membiarkan itu, dia akan melakukan segala cara untuk melindungi Devina juga anaknya.
"Tapi.. waktuku akan dikurangi lagi, karena kau telah melihat hal ini," kata Robby.
Mbah Gus tidak mengerti maksud Robby, karena tak ingin Mbah Gus larut dalam kebingungan, Robby menceritakan bahwa dia sosok Vampir dari negeri di dongeng yang di kutuk, ratusan tahun yang lalu dia membunuh seorang Raja Vampir yang pengkhianat, namun ada banyak tuduhan kepada Robby sehingga dia dikutuk oleh pemimpin Vampir menjadi patung.
"Benarkah? Ini seperti kisah di buku yang pernah aku baca, aku lupa judulnya," ujar Mbah Gus.
Robby memakai jaket hitamnya, dia beranjak mengambil koper yang ia selipkan di bawah laci, ketika membuka koper itu, Mbah Gus langsung terkesiap menutupi mulutnya sendiri.
"Ini uang kau dapatkan dari mana?" tanyanya.
"Aku seorang Vampir juga mafia, kau ingin berguru dengan ku?" Robby menyempatkan diri menggoda Mbah Gus.
Robby menyerahkan koper itu untuk dipegang oleh Mbah Gus, "Pegang ini untuk tutup mulut mereka, sisanya kita pakai, ambil saja berapa pun yang kau inginkan."
Bak ditimpa rejeki nomplok, Mbah Gus menciumi koper hitam itu dengan senang, dia akan menjadi pengikut Robby mulai dari sekarang.
"Aku pikir, aku sudah menemukan partner ku, Robby .." Ucap Mbah Gus tersedu-sedu.
Robby tersenyum masam, dia geli karena melihat mimik wajah Mbah Gus yang terharu. Dia bergegas menuju ke bagasi mengeluarkan mobil sportnya, Mbah Gus lagi-lagi ternganga dengan kehidupan glamor Vampir misterius itu.
"Kau.. kau astaga, kau seperti aktor-aktor Hollywood," puji Mabh Gus sembari menggendong koper.
"Masuklah," seru Robby.
Kali ini Mbah Gus menaruh mobilnya di halaman rumah Devina, dengan kecepatan tinggi Robby melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Mbah Gus hanya menggelengkan kepala, menikmati berada di dalam mobil sport yang dulu hanya dilihatnya di dalam TV saja.
"Kau menjadi Mafia sudah berapa lama?"
Robby tersenyum miring, ia tahu itu yang akan ditanyakan lagi oleh Mbah Gus.
"Sejawat ku semua sudah tiada, bisa dibilang dari seratus tahun yang lalu, bayangkan sepak terjang ku," jelas Robby, bukan bangga melakukan itu, hanya saja menikmati waktunya setelah di kutuk.
Setiba di rumah sakit, mereka keluar dari mobil, keduanya jadi pusat perhatian, terkhususnya Robby. Walaupun memakai topi, tetap saja celah ketampanannya dilihat oleh seluruh pasang mata di rumah sakit itu.
"Kau dilihat oleh mereka," bisik Mbah Gus.
"Abaikan, seolah tidak ada yang aneh dengan kita," ujar Robby.
"Bukan kita, tapi kamu! Kau tampan sekali," sahut Mbah Gus.
"Berhentilah membual, antar aku ke kamar Devina," sergah Robby menarik tangan Mbah Gus.
Ketika pintu kamar itu di buka Mbah Gus, Devina sudah tak ada lagi di ranjang pasien. Terkejut saat mendapati Devina tak ada di kamar rawatnya, Mbah Gus panik menanyakan itu kepada perawat yang sedang jaga di resepsionis. Sedangkan Robby mengelilingi rumah sakit untuk menanyakan hal itu.
"Dimana pasien yang atas nama Devina?"
"Memang tidak ada di kamarnya? Kami tidak tahu menahu itu," jawab kedua suster itu.
Mbah Gus mengerutkan alis kebingungan, dia menjelajahi seluruh ruangan rumah sakit, tapi tak ada penampakan Devina. Robby mengepalkan tangan, dia menuju ke resepsionis untuk memaksa pihak rumah sakit untuk jujur.
"Kami tidak tahu, Pak. Lagipula kami belum memeriksa Nyonya Devina, mungkin dia keluar tanpa izin," ujar suster itu.
Mbah Gus tidak percaya, tetap saja ada yang janggal dengan pihak rumah sakit. Mbah Gus menarik tangan Robby menepi di sudut ruangan.
"Kau mencurigai sesuatu? Aku harap tahan emosi mu, Jiak pihak rumah sakit melawan kita, jati dirimu akan terungkap, tenanglah kita akan menemukan Devina kembali," tutur Mbah Gus meredakan amarah Robby.
Robby tak merespon, dia kembali ke kamar rawat Devina yang masih kosong, indera penciumannya ia gunakan, ada bekas darah yang baru saja dibersihkan dari ruangan itu. Seperti ada darah yang baru saja tumpah di kamar rawat Devina. Robby mendekati Mbah Gus, lalu berbisik sesuatu. Memahami yang disampaikan oleh Robby, dia berlari keluar dari rumah sakit, Mbah Gus masuk tergesa-gesa ke dalam mobil. Sementara Robby memakai penutup wajahnya, ada sesuatu yang ingin ia lakukan.
Robby masuk ke dalam ruang praktek para dokter, tetapi tak ada Devina di sana, hanya ada beberapa dokter yang sedang berbincang. Karena memasuki ruangan privasi dokter, Robby di teriaki.
"Eh, tolong ..ada orang yang lancang," teriak dokter-dokter itu.
Robby berlari cepat, dia bahkan keluar seperti hembusan angin lalu masuk ke dalam mobil.
"Kau tidak menemukan istri mu?" tanya Mbah Gus.
Robby menggeleng, lemas karena tak menemukan Devina.
"Apa yang sebenarnya terjadi, ck, aku harus turun tanyakan ini, aku akan melaporkan pihak rumah sakit karena kehilangan Devina," usul Mbah Gus.
Robby tai bergeming, dia merasa Devina sudah disembunyikan, tetapi dia tidak cukup kekuatan untuk menerawang itu. Mbah Gus melihat ada ambulance yang berjejer di depan unit gawat darurat.
"Kau lihat ambulans di sana, apa salahnya kita periksa," usul Mbah Gus.
Mereka keluar lagi dari mobil, pelan-pelan mengamati keadaan. Robby yang memiliki kekuatan kecepatan melakukan berbagai hal, ia mengecek mobil ambulans itu satu persatu. Di mobil ketiga, dia melihat ada seseorang yang terbaring di dalam mobil. Kaca jendela dan pintu tertutup rapat. Robby berusaha mencium aroma tubuh seseorang itu.
"Ada yang kau lihat?" tanya Mbah Gus.
"Semuanya tertutup, aku mengenali aroma Devina, tapi .."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments