Usai berbenah, Rahma menghampiri Devina di dalam kamar, dia duduk di samping Devina karena ingin mengucap pamit. Devina memahami bahwa Rahma juga memiliki keluarga, anak Rahma masih kecil, tidak mungkin Kakak sepupunya itu berlama-lama dirumahnya.
"Kakak akan mengunjungimu setiap dua bulan sekali, kamu baik-baik ya, kalau terjadi sesuatu, kamu jangan sungkan untuk telepon Kakak," ucap Rahma. Walau berat meninggalkan Devina dengan keadaan seperti itu, namun Rahma yakin, Devina kuat mengahadapi masalahnya.
"Aku ngerti, Kak. Terimakasih sudah peduli," sahutnya.
"Kamu dengar aku, jangan bertindak bodoh, jangan sampai melakukan hal buruk pada bayi mu, kamu lihat saja, akan ada keajaiban, kita tidak tahu jalan hidup kedepannya," kata Rahma.
Firasatnya meyakini Devina telah ditakdirkan hidup berbeda dengan manusia pada umumnya, dia hanya merasakan Devina dicintai oleh sosok yang tak kasat mata.
Setelah Rahma pergi dengan menggunakan taksi, Devina yang hendak menutup pintu rumahnya dihampiri seorang kurir pengantar makanan.
"Ini benar dengan Mbak Devina?" tanya kurir dari restoran itu.
"iya, Pak. Saya Devina, kenapa?"
Pak Kurir itu meletakkan makanan itu di meja teras, Devina melihat pembungkus makanan itu dari merek restoran terkenal di kotanya.
"ini makanan untuk Mbak, tolong di tanda tangani Nota terimanya," ucap Pak Kurir itu lagi.
Devina merasa tak pernah memesan makanan itu, dia pun enggan menandatanganinya.
"Ini bukan pesanan saya, Pak."
"Ada yang sudah memboking makanan kami selama sebulan penuh, untuk dikirimkan pada Mbak Devina,"
Devina tercengang, dia mencoba mencari tahu siapa pengirimnya, tetapi pihak restoran tak memiliki identitas seseorang itu. Mereka hanya diberi uang untuk membawakan Devina makanan setiap harinya.
"Tolong terima saja, ini mungkin salah satu relawan yang berhubungan dengan keluarga anda, Mbak .." kata kurir itu.
Devina mengalah, dia menerima kotak-kotak yang berisi makanan lezat itu. Ya, tidak di pungkiri dia sangat ingin makan-makanan lezat, rasa ngidamnya mulai muncul. Devina membawa makanan ke dalam kamar Ayahnya, dia duduk di depan patung Robby.
"Aku dapat rezeki dari orang baik, Robby .. jika membeli makanan ini, mungkin jatah bayar uang semester ku akan terkikis bukan ini," ucapnya.
Devina memandangi patung Robby, wajahnya menyeduh, berharap Robby dapat mendengar keluh kesahnya, hanya Robby yang menemaninya setiap saat, Robby lah yang paling tahu luka hatinya.
"Aku hamil, aku tidak tahu siapa Ayah bayi ini, kamu tidak kecewakan padaku?"
Devina mulai makan, namun air matanya pun meleleh tak mau berhenti. Dia sesenggukan sembari mengunyah. Devina melirik sejenak ke Robby, mata patung itu terlihat mengeluarkan air. Dia beranjak memeriksa wajah Robby, patung itu memang tampak mengeluarkan air mata. Devina terkesiap, dia mengelap tangannya terlebih dulu.
"Kamu ..kamu menangis juga, By?" tanyanya.
Devina mengusap air di pipi Robby, sangat jelas itu air mata yang Robby keluarkan, tetapi di luar nalar manusia, sebuah patung dapat menangis seperti manusia. Devina mengamati wajah Robby secara seksama, tak ada ekspresi sedih di wajah Robby.
"Ini air mata atau air yang kecipratan?" gumam Devina.
Devina mengerjakan matanya, menganggap dirinya mungkin sedang berhalusinasi. Ia kembali ke tempat duduknya, menikmati makanan itu. Matanya sesekali melirik ke Robby, berharap apa yang dilihatnya ada kebenaran.
"Ihs, tidak Devina, jangan berpikir bodoh!" Tegasnya pada diri sendiri.
***
Fathur diam-diam memantau rumah Devina, malam itu dia ingin bertamu di rumah gadis yang jadi taruhannya. Fathur membawa cemilan dan bunga untuk menunjang dirinya menggaet Devina. Ketika mengetuk pintu pagar, Fathur melihat tumpukan rangakaian bunga di teras rumah Devina.
"Apakah semua bunga itu dari penggemar lukisannya?" Fathur bertanya-tanya seorang diri.
Devina nampak membuka pintu, Fathur langsung melambaikan tangannya menyapa Devina dari jauh. Wajah Devina memutar mata malas, keadaannya sedang benar-benar rumit, di tambah lagi kehadiran Fathur di rumahnya, tentu akan memancing penggemar Fathur cemburu.
"Dev, bukain dong .. please," teriak Fathur.
"Mau apa sih? Ini udah malem," ketus Devina tak menyambut baik kehadiran Fathur.
"Lah, kok gitu sih, Aku tamu kamu, Dev .."
Devina menghela nafasnya, dia beranjak membuka pintu pagar, wajahnya ia tekuk tak menampakkan kesenangan.
"Cukup di teras saja," ujarnya.
Mereka duduk di teras berdua, Fathur mengamati mata Devina yang bengkak, sembab sebab usai menangis. Fathur pun menebak kalau gadis pujaannya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu habis nangis?" tanyanya.
"Bukan urusan kamu, Thur."
Devina tetap malas membalas topik Fathur, dia tetap menatap kosong ke arah jalan. Fathur melirik ke dalam rumah Devina, dibalik kaca jendela dia melihat sosok pria berjalan-jalan di dalam rumah itu, samar-samar karena terhalau dengan renda gorden. Fathur pun tertegun, selama ini dia teman-teman kampusnya mengetahui bahwa Devina tinggal seorang diri, dia anak yatim piatu sekaligus anak tunggal.
"Kamu tinggal sama siapa?" tanya Fathur.
Devina berfokus pada Fathur, "Sendirilah, dari dulu kamu tahu itu," ketusnya.
"Yang bener? Lalu di dalam pria yang berjalan tadi itu siapa? " tanya Fathur yang menganggap Devina sedang berbohong.
Devina melihat ke dalam rumahnya, tak ada seorang pria yang dimaksud oleh Fathur.
"Aku tinggal sendiri, jangan ngomong macem-macem deh," ujar Devina.
Fathur ikut berdiri memeriksa ke dalam rumah Devina, dia yakin yang dilihatnya adalah sosok pria yang sedang berjalan masuk ke kamar.
"Sumpah Dev, Aku lihat tadi ada pria berjalan lewat di rumah tamu ini," kata Fathur yang begitu yakin. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri semua, Fathur merinding, seketika rasa takut menghinggapinya.
Devina menelaah perkataan Fathur, segala momen misteri dirumahnya sangat membenarkan perkataan Fathur, ditambah lagi kehamilannya yang secara tiba-tiba, tentu makanan yang selalu tersaji berhubungan dengan pria yang dilihat oleh Fathur.
"Rumah kamu serem, Dev .. pindah aja," bisik Fathur.
Devina mengerutkan alisnya, tentu dia ketakutan dengan perkataan Fathur, tetapi rumah itu warisan orangtuanya, dia lahir dan besar di rumahnya. Belum lagi rumah itu memiliki desain yang sangat unik karena mendiang Ibunya seorang arsitek terkenal pada masanya.
"Lebih baik pulang kamu saja .." pinta Devina pada Fathur.
"Kamu takut? Kalau takut, aku temenin," sahut Fathur.
Devina menggeleng, dia tak menerima bantuan dari pria yang terkenal Playboy di kampusnya itu. Belum dengan Sisil, jika seniornya itu tahu ada Fathur bertamu dirumahnya, Sisil akan mengerjainya habis-habisan.
Fathur merasa ada yang mengintainya, dia semakin merinding, karena tak sanggup dengan hawa mistis di rumah Devina, Fathur pun meminta pamit pulang.
"Iya deh, aku pulang, tapi kalau ada apa-apa telepon aku, ini nomorku," pintanya dengan menyodorkan kartu namanya.
Devina megambil itu, meskipun tak ada niat menyimpan nomor ponsel Fathur, selain tak ada perasaan terhadap Fathur, Devina juga sudah terlanjur mencintai patung Robby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
$uRa
kisah percintaan antara manusia dan patung lilin jelmaan pangeran
2023-03-03
0