Mengejutkan

Devina dilempari sampah-sampah, para dosen datang ingin menyelamatkannya, tetapi amukan mahasiswa tak terkendali.

"Kalian tidak boleh berbuat sesuka kalian!" Dosen-dosen memeringati mereka.

"Ini hak pribadi Devina, kalian tidak boleh berhak menghukum Devina, lagipula dia belum menjelaskan perkaranya," lanjut dosen itu lagi.

"Tapi Devina telah membawa nama buruk di kampus kita," sahut Sisil tetap memprovokasi teman-temannya.

"Dia tidak mencemarkan, hanya saja kau menyimpan kedengkian padanya," timpal dosen itu yang sudah tahu karakter Sisil.

Mereka tetap mengecam Devina, namun tiba-tiba terdengar suara tembakan di udara, ada aparat kepolisian datang untuk menenangkan situasi. Di jajaran polisi butuh ada seorang pria memakai kemeja hitam. Devina tercengang dengan kehadiran sosok yang sangat ia kenali itu.

"Robby .." lirih Devina.

Pria tinggi berbadan tegap itu mendorong para mahasiswa agar tidak menghalangi jalannya, Robby berjalan ke arah Devina yang saat itu dilindungi oleh dosennya.

"Biarkan dia bersama ku, dia adalah istriku," ucap Robby kepada dosen itu. Tubuh Devina di tarik oleh Robby untuk dipeluknya.

Sisil dan seluruh mahasiswa itu terkejut, kehadiran pria tampan yang mengaku sebagai suami Devina mematahkan stigma mereka.

"Selama ini aku ingin Devina mengatakan keberadaan ku, tapi dia tidak ingin hal pribadinya diketahui orang-orang yang tidak penting, kami sudah menikah seminggu yang lalu, jadi kalian tidak berhak mengusik kehidupan istriku," kata Robby. Suaranya bergetar karena menahan amarah.

Devina bersembunyi di pelukan Robby, seketika merasa aman karena kehadiran pria yang dicintainya itu.

"Istriku sedang hamil, tidak sepantasnya melakukan penganiayaan terhadapnya, kalian sebagai penanggungjawab harus lebih tegas," ujar Robby memarahi pihak keamanan kampus.

Pihak kepolisian mengamankan mahasiswa yang melempar batu ke arah Devina, kepala Devina lecet, mengeluarkan darah hingga menetes ke pipinya. Robby tidak terima dengan perlakuan mereka terhadap Devina.

"Saya mohon usut tuntas penganiayaan ini, berikan mereka pelajaran, karena mereka tidak terdidik baik," ujar Robby lagi.

Rektor saat itu datang mengucapkan maaf kepada Robby. Devina akan berisitirahat hingga mental dan kesehatan fisiknya membaik. Robby melewati kerumunan itu dengan menggendong Devina ke mobil mewahnya. Robby melirik tajam ke arah Sisil, dia tahu yang mengusulkan semua itu adalah Sisil.

Robby membawa Devina meninggalkan kampus, semua saat itu hanya diam membisu karena shock dengan yang mereka lihat. Terlebih lagi pada diri Sisil, dia tidak menyangka Devina sudah dinikahi pria kaya raya dan tampan, ketampanan suami Devina melebihi dari Fathur.

Sisil di bawah ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, semua sahabatnya juga diikut sertakan sesuai dengan perbuatan mereka.

Di dalam mobil, Robby tetap mengecam perbuatan teman sekampus Devina.

"Mulai sekarang berhentilah kuliah dari kampus itu," ujar Robby.

"Iya, aku akan putuskan untuk kuliah daring saja," sahut Devina. Ia tidak kuat lagi bila harus menghadapi keburukan sifat orang-orang disekitarnya.

Robby menggenggam erat tangan Devina, dia merasa bersalah karena ulahnya Devin mendapatkan kemalangan demikian.

"Ini anakku juga, aku juga berhak melindunginya," ucap Devina.

"Aku tahu, tapi akulah yang bertanggungjawab sepenuhnya kepada kalian."

Devina mengamati mobil yang dikemudikan oleh Robby, sangat mahal dan berkelas, Devina bingung dari mana Robby mendapatkan uang sebanyak itu. Keseharian Robby hanya menjadi patung lalu lima jam sehari menjadi Vampir, tapi hidup Robby melebihi konglomerat di dunia manusia.

"Kau heran? Aku mendapatkannya dari mengambil harta-harta orang yang menyalahgunakan hartanya. Seperti di meja judi, atau di tempat-tempat yang tidak semestinya, aku mengumpulkan itu secara diam-diam," papar Robby.

Setiap malam, Robby selalu ke tempat dimana orang-orang bermain judi, Robby menjadi mafia untuk mengumpulkan uang agar para penjudi itu jera melakukan judi lagi.

"Kau jadi Mafia?" tanya Devina.

"Seperti itu, tapi tidak untuk menjahati mereka, aku hanya menghibur diriku selama dua jam, keuntunganku ku bagi-bagikan, selebihnya untuk ku pakai," jelas Robby.

Devina tiada henti terkejut dengan pola hidup Robby yang selama ini tidak ia ketahui, dengan kasat mata Devina hanya melihat Robby menjadi patung, tetapi yang terjadi Robby melanglang buana melakukan berbagai kegiatan.

"Kita pulang, dua jam lagi aku akan kembali menjadi patung," ujar Robby semakin mempercepat laju mobilnya.

Devina merasa ada banyak keanehan yang belum Robby ungkapkan, perempuan bermata indah itu mencuri pandang ke Robby, dia ingin tahu mengapa Robby ingin sekali memiliki anak manusia darinya. Namun Devina tak ingin menanyakan langsung, Ia tahu Robby memiliki alasan misterius kali ini.

Setiba di rumah, Devina digendong masuk ke dalam kamarnya. Robby melirik ke jam dinding, masih ada waktu senggang untuknya menjaga Devina. Robby memastikan sekitar rumah Devina aman terkendali. Dia sudah menyiapkan buku-buku nomor telepon yang dapat Devina hubungi di sata darurat, karena Robby yakin, Sisil tidak akan berhenti menganggu Devina.

"Kau tidak perlu khawatir berlebihan, aku akan aman disini," kata Devina ingin mengenyahkan kekhawatiran Robby.

"Tidak ada yang bisa menjamin, aku tidak ingin kamu ada di situasi yang buruk sedangkan a ku menjadi patung."

Devina memeluk Robby dengan mesra, "Aku teringat kata Ayahku, bahwa aku harus menjaga patung lilin bernama Robby, karena patung itu juga akan menjagaku, ternyata benar, kamu benar-benar menjagaku," lirih Devina.

Robby berkaca-kaca, perkataan Devina menyadarkannya bahwa perlindungan yang ia lakukan terhadap Devina tidak akan panjang, semua akan berakhir ketika waktu itu akan tiba.

"Berjanjilah tetaplah di sisiku," pinta Devina.

Robby tak bergeming, dia mengalihkan pandangannya dari tatapan sendu Devina.

"Kenapa? Kau tidak ingin hidup bersamaku selamanya?" tanya Devina melihat keraguan di raut wajah Robby.

"Istirahatlah, aku akan mengecek kondisi luar dan merapikan rumah dulu, sisa satu jam setengah lagi," sahut Robby mengalihkan topik.

***

Sementara di kantor polisi, Sisil dan rekan-rekannya diperiksa, mereka terancam terkena hukum pidana bila terbukti bersalah, namun itu tidak akan berlaku kepada Sisil, kedua orang tua Sisil berupaya anaknya terbebas hari itu juga.

"Kalian sabar menunggu, setelah aku keluar dari sini, aku akan mengupayakan kalian untuk bebas juga," kata Sisil, tapi tidak berniat menepati janjinya. Dia akan mengurus dendamnya sendiri, tak memerlukan temannya yang tak berguna.

Sisil dijemput sopirnya, dia tak henti mengingat Devina dan Robby, timbul rasa penasaran Sisil terhadap latar belakang suami Devina itu. Iri dengki Sisil kian membuncah karena Devina selalu saja beruntung dalam segala hal. Devina selalu mendapatkan perhatian dari pria-pria tampan, juga semudah itu memiliki kehebatan dibanding dirinya.

"Sial! Gue gak mau kalah, gue udah terlanjur memainkan peran antagonis ini, gak mau setengah-setengah, gue udah terlanjur sakit hati ma lu Dev!"

Sisil tidak akan berhenti, baginya kebahagiaan Devina adalah penderitaannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!