Dewa datang dengan kondisi yang cukup mengejutkan. Zahra segera meneliti seluruh inci tubuh Dewa.
"Ya ampun, ck!"
"Ini kenapa sii?!" dengan gerakan kilat Zahra menyiapkan peralatan infus dan membuka bungkusan alat yang masih steril serta tersegel, seperti IV Catheter/Wings needle, set infus, plester, bengkok, gunting, perlak, tourniquet, dan tentunya cairan infus kristaloid sesuai kebutuhan Dewa.
Dewa yang masih tersadar namun lemah, melihat setiap gerakan cekatan gadis yang ia juluki si suster keramas ini.
"Lo mau ngapain itu, Ra?!" ia mulai waspada dengan mengangkat kepalanya melirik Zahra.
"Mau infus lo lah!" jawab Zahra.
"Engga---engga! Barusan bagian perut gue udah kena jahit, Ndraa! Tolongin gue, pasti lo mau balas dendam sama gue Ra!" jeritnya histeris macam emak kena jambret.
Zahra melirik Lendra yang malah tertawa-tawa terpingkal, "nih anak takut jarum Ra, barusan aja gue sama beberapa perawat plus satpam kewalahan megangin nih bocah!"
Dosakah Lendra tertawa diatas penderitaan sobatnya sendiri?
Pantas saja wajah tampan Lendra begitu berkeringat, bukan karena ia yang baru saja mengikuti lomba bakiak beregu, melainkan baru saja memegangi banteng yang kerasukan.
Pfffttt! "Ha-ha-ha!" Zahra ikut tertawa renyah. Maafkanlah ia sudah melanggar sumpahnya saat ini, menertawakan pasien yang seharusnya ia tenangkan.
"Badan segede gitu, takut jarum. Lo lagi becanda kayanya?" Zahra menggelengkan kepalanya.
"Ck, diem lo!" sarkasnya, meski lemah namun pada kenyataannya ia masih bisa melawan. Membuat Zahra berkesempatan untuk mengusilinya, dengan seringaian ia menarik jarum yang bersinar saat tersorot lampu, alisnya naik turun, "come to mama, Wa!"
"Ra---jangan Ra!!! Raaaa!"
Lumayan, di waktu mengantuk begini Dewa menjadi hiburan gratis untuk Zahra.
Para penghuni IGD sampai menolehkan kepalanya mendengar jeritan Dewa layaknya anak balita yang akan diimunisasi.
"Dikit aja Wa, kaya digigit semut!" bujuk Zahra.
"Boong lo!" Dewa masih enggan memberikan tangannya. Lendra hanya jadi penonton untuk suster dan pasien yang sama-sama gila ini.
"Beneran, kaya digigit semut---tapi semutnya segede onta! Yuk buruan! Sini tangannya, atau gue perlu infus di urat nadi bagian kaki aja?!" Zahra menimbang-nimbang terlihat berpikir.
"Wah saravvv nih perawat!"
Zahra mulai meraba kaki Dewa yang tak bisa bergerak karena di duga retak.
"Ra! Raaaaa!" kembali ia berteriak menjerit-jerit persis anak perawan yang dile cehkan.
"Berisik kamvrettt! Lo bikin malu an jimmm, kaya betina!" Lendra mengepretkan jaket milik Dewa pelan ke arah pasien kurang waras, seharusnya ia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa saja. Bagaimanapun Zahra harus membuat Dewa mau, karena memang ini tugasnya. Maka gadis itu berhenti usil padahal matanya sampai berair melihat Dewa menjerit-jerit, perawakan gengster tapi cemen.
"Wa, gue janji...ngga akan sesakit kaya waktu lo dijahit barusan. Gue janji cepet!" Zahra sampai mengangkat tangannya demi berjanji.
"Lo percaya gue, lo boleh nuntut apapun kalo sampe gue lama dan bikin proses pemasangan infus ini lebih sakit daripada proses jahit tadi," ucap Zahra menatap Dewa meyakinkannya.
Matanya beralih pada peralatan di atas troli, Zahra bediri di samping Dewa setelah Lendra bergeser.
"Lo boleh cengkram pinggiran kasur atau lengan gue, Wa. Tapi please relax aja...." Ucap Zahra dengan mata yang tetap fokus pada pekerjaannya dan menggeser peralatan itu lebih mendekat setelah dirasa Dewa tenang, Zahra tetap terlihat tenang melakukan tugasnya. Ia menyiapkan cairan infus dan menyambungkannya ke selang infus menggantungkannya ke atas standar infus.
Pertama ia menyentuh tangan Dewa demi mencari vena yang paling tepat.
Seperti tersihir dengan wajah ayu Zahra, Dewa menerima sentuhan lembut dari tangan cekatan Zahra.
"Saya pinjem sebentar tangannya ya bang, tarik nafas panjang lalu buang biar rileks---" intruksi Zahra memasang alas, memasangkan torniquet pembendung di atas vena yang hendak ditusuk, setelah sebelumnya menggunakan sarung tangan karet.
Zahra mengusapkan desinfektan sejenis cairan mengandung etanol hingga terasa dingin di tangan Dewa, pria itu sempat tersentak dan refleks memegang lengan Zahra, membuat suster ini tersenyum melirik singkat kemudian kembali fokus tanpa berniat menepis.
Sungguh, saat jarum itu menusuk tak begitu terasa sakitnya seperti rasa jahitan tadi, justru Dewa sangat anteng memperhatikan kecantikan dan kelembutan perawat satu ini, ia....terpesona.
"Langsung ketemu venanya kok bang, insyaAllah bisa membantu cairan tubuh kembali, membantu tubuh setelah terjadinya pendarahan, kalau merasa sakit atau gatal-gatal tolong kasih tau saya ya," senyum Zahra bersikap profesional, memasangkan peralatan, tangannya begitu cekatan menutup area insersi di punggung tangan Dewa, lalu mengatur tetesan infus yang sesuai, tak lupa memasang label pelaksana.
Lendra mengulum bibirnya, Ganesha dan almarhumah Cya memang benar, akhirnya Dewa menemukan pawangnya. Jika tau pemuda ini akan luluh oleh si gadis dari Aceh ini, sudah sejak dulu ia akan menyusul Zahra ke Aceh bersama keluarga Dewa.
Srekkk!
Tirai kembali terbuka menampakkan seorang suster lain, "suster Zahra, pasien atas nama tuan Sadewa sudah bisa masuk ke dalam ruangan,"
"Iya," jawab Zahra, ia membuka pengunci roda ranjang.
"Lendra, bisa ikut Zahra?"
"Suster Leta," suster Aleta mengangguk. Zahra mendorong ranjang Dewa dari bilik bersama Leta, dengan Lendra membantu.
Bersama suster Leta ia memberikan dorongan aga cepat. Dewa tak berkutik, karena sejak tadi pandangannya hanya tertuju pada Zahra, loe tega Nesh mainin cewek sebaik Zahra. Jangan salahin gue kalo nanti gue----- Dewa meloloskan nafas beratnya lalu memejamkan mata yang sudah lelah, hingga brangkar masuk ke dalam ruangan Dewa, melewati para suster bangsal Kenanga termasuk Mawar.
"Bang, bisa pegangan sama saya," ujar Zahra sementara suster Leta merapikan kamar termasuk memasukan peralatan lain dan catatan administrasi Dewa yang belum sempat di tanda tangani sebelumnya.
Dewa mengangguk dengan ucapan Zahra, suster Leta membantu Zahra untuk memindahkan Dewa.
Antara Dewa dan Zahra kini sudah tak berjarak lagi.
"Sus, kalo gitu saya tinggal dulu ya!" ujar Leta.
"Wa, Ra---gue urus dulu administrasi sama obat," diangguki keduanya.
"Badan abang kotor, mau nunggu pihak keluarga atau saya yang bersihkan? Biar bisa ganti baju? Soalnya ini---" ia melihat pakaian kotor Dewa belum lagi terlihat robek.
"Gue sendiri aja," jawabnya.
Zahra menggeleng, "lo ngga akan kuat, sini! Gue cuma mau bersikap profesional aja Wa," jawab Zahra datar, gadis ini sedang berusaha profesional.
"Oke, gue juga tau. Kapan lo manggil semanis itu sama gue kalo bukan bentuk profesional!" mendadak kok hatinya kesal saja Zahra memanggil abang hanya karena bentuk keprofesionalan semata. Zahra tertawa renyah, "lo kenapa bisa gini sih, Wa? Perasaan tadi pas anter gue, lo ngga kenapa-napa," tanya nya.
"Biasa, masalah kecil," jawabnya singkat, Zahra tersenyum miring, "oke, masalah kecil yang bikin tulang lo retak, perut lo luka robek, dan bikin lo jerit-jerit kaya mau lahiran?" gadis itu kembali tertawa.
Kini tawa Zahra bahkan terdengar renyah nan manis di telinga Dewa.
Zahra menutup pintu dan membuka kaos bagian atas Dewa, "sorry---"
"Buang aja!" ujar Dewa.
"Oke, kalo gitu saya sobek ya bang? Biar lebih mudah melepas," sejak tadi Zahra tak mau menatap Dewa secara langsung, ia hanya takut tak bisa menjaga hatinya setelah kejadian ini. Pemandangan di depannya sungguh menggoda iman, dada atletis dengan luka robekan di perut kiri. Dan luka-luka memar juga lecet-lecet di bagian lengan serta sekitaran dada.
"Ra,"
"Hm,"
"Ra, liat gue!"
Zahra menatap Dewa dengan mata bulatnya meski pandangannya kembali bergantian pada tugasnya.
"Kenapa lo mau sama Ganesh?"
Tangan yang sibuk memeras waslap handuk putih itu terhenti, dan menatap lurus pada baskom berisi air hangat yang sudah berubah agak keruh bercampur warna da rah. Mengingat Ganesha dan perjodohannya membuat wajah datar Zahra kembali terpasang, rasanya hambar saja.
"Ini bukan ranah yang sesuai Wa, gue masih kerja." Zahra melanjutkan pekerjaannya menyeka badan Dewa.
Dewa dengan beraninya menyentuh tangan Zahra membuat gadis itu terkejut, "Wa!" sengit Zahra menatap galak, tapi Dewa tak gentar.
"Oke. Karena Ganesha baik, pekerja keras, dia----sopan, dan masuk kriteria umi sama abi. Well, good looking, mungkin matang juga."
"Lo sayang sama Ganesh?" Zahra menatap Dewa sengit namun beda dengan Dewa, tatapan galak, judes yang biasa Dewa lemparkan kini tak ia layangkan untuk Zahra.
Ceklek
"Wuooo--wooo---kalo gitu gue keluar dulu deh!" Lendra kembali menutup pintu ruangan.
"Lendra!" panggil Zahra membuat Lendra kembali masuk.
"Nih, terusin sama lo aja." Zahra menaruh waslap ke dalam baskom, dan menaruh pakaian pasien milik Dewa di meja kecil samping ranjang Dewa, ia membawa semua barang yang tak seharusnya ada disana dalam satu dorongan troli.
"Kalau abang ada perlu, bisa pencet tombol disana, nanti ada perawat yang akan datang...hasil CT Scan dan tindakan penanganan nanti akan diberitahukan dokter Farhan, jika ada yang perlu ditanyakan kami siap membantu," ucap Zahra datar pada Dewa.
"Apa perawat itu lo?" tanya Dewa membuat Zahra mengerutkan dahinya dan menrlan saliva sulit.
"Kalau saya sedang tidak bertugas, tapi jika tidak ada...maka masih ada perawat yang lain."
"Kalo gue maunya lo?" tanya Dewa .
Netra Zahra menatap Dewa nyalang dengan alis bertaut seolah sedang mencari jawaban atas pertanyaan hatinya sekarang.
Lo lagi ngapain Wa?
Lo lagi goda gue?
Lo mau coba jadi orang ketiga antara gue sama Ganesha?
Lo coba nikam adek lo sendiri?
"Kalau gitu saya permisi," angguknya singkat pada Lendra dengan tak berpamitan lagi pada Dewa. Roda bercicit dengan langkah kaki Zahra yang keluar dari ruangan Dewa.
Syailendra sampai takjub dengan keberanian Dewa, mestinya sih ia tumpengan.
"Lo lagi ngapain bro?! Lagi coba nikung Zahra dari Ganesh? Wooohoo?!" ia berseru ria, siapapun dapat melihat sikap impulsif Dewa barusan.
"Gue??! Enggak!" geleng Dewa.
"Gue cuma ngga mau diurus sama orang ngga kenal aja!" kilahnya kembali memejamkan matanya lelah. Entah Lendra percaya atau tidak, yang jelas saat ini perasaannya sedang tak menentu.
Sorry again, Nesh.
.
.
.
Note :
* Sikap impulsif : ketika seseorang bertindak menurut instingnya tanpa memikirkan akibatnya.
* IV Catheter/ wings neddle : jarum untuk memasukkan cairan infus.
* Infus set : peralatan/ kelengkapan untuk infus.
* Torniquet : tali pembendung berfungsi untuk mengontrol aliran darah pada vena dengan cara menekan dan melepas pada rentang waktu tertentu.
* Area insersi : area pemasangan jalur pemberian cairan infus.
* Cairan kristaloid : larutan primer yang digunakan untuk terapi intravena prehospital.
^ Proses infus ini hanya secara garis besar saja, hanya menurut halu mimin aja ya guys 🤭 tidak untuk disamakan dengan kenyataan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Ruh Wiyati
suster Mia sm dokter farhan,ada juga di cerita Aza sm Jagat ya teh sin. Fall In Love In Kongo.
2025-02-21
0
Lalisa
hm kan kan
2024-10-23
1
Lalisa
balita aja ga segitunya wa dih malu ma badan 🤣🤣🤣
2024-10-23
0