VIBES

Dewa menyulut rokoknya persis nyulut emosi warga, suasana malam begini emang pas buat rokok'an apalagi ditemani rembulan dan binatang malam, kerasa banget buat yang jomblo, iya kerasa....kerasa ngenesnya. Jemputin jodoh orang, sementara ia mesti kesana kemari nyari-nyari belaian.

Ia masih duduk di atas motor, menunggu Zahra keluar dari kost'an, "nih anak mati apa gimana, dari tadi di-wa'in ngga nyautin?! Atau jangan-jangan ngga punya kuota lagi, miskin banget!" omelnya menggerutu.

Dewa sudah memberi Zahra kabar bahwa ia sudah sampai, namun gadis itu belum juga memberikan respon, maka yang ia lakukan adalah menunggu, pekerjaan paling menyebalkan di dunia, lama-lama nih kost'an ia obrak-abrik juga jika si penghuninya ngga ngakhlak gini!

Asap putih mengepul di udara bersama semua pikirannya akhir-akhir ini. Malah dengan sengaja ia bentuk tuh asap rokok bulat-bulat macam donat saking ngga ada kerjaannya.

Beberapa orang melintas di depan Dewa, mungkin saja mereka baru melaksanakan solat berjamaah dari masjid terdekat, Dewa mengangguk singkat saat tatapan mereka meneliti asing padanya. Maklum saja ia orang luar yang baru terlihat masuk kampung sini.

Belum pernah kedatangan cowok ganteng ye? Ia menyesap kembali batang rokok, tak peduli.

Dari kejauhan Zahra sudah bisa melihat pemuda itu, "ssutt!" senggol Defia menunjuk ke arah Dewa.

"Kakak ipar tuh," katanya menggoda, Fia merasa ada yang aneh dengan hubungan calon adik-kakak ini----ketimbang dengan calonnya sendiri, Zahra lebih sering dititipin kakak ipar, kan aneh.

"Ck, ngga ada kerjaan banget kaya bocah!" desis Zahra mendumel melihat tingkah Dewa.

Pantas saja gadis itu tidak merespon, rupanya dia baru saja datang dari masjid, masih dengan mukena bagian atas yang terpasang rapi di kepala. Hari gini cewek mukenaan dari masjid, berasa di kampung santri! Apakah ia tersesat?

Dewa berdehem, kenapa tiba-tiba ia mendadak haus, apakah penampakan Zahra semacam makanan pedas di mulutnya?

"Heh! Polusi tuh! Jangan ngerokok disini!" sarkas Zahra melarang Dewa begitu sewot.

"Dari masjid ngga bilang dulu! Tau gitu gue jemputnya nyantai, buruan! ! Dipikir gue bukan orang sibuk?!"

Gadis yang berjalan bersama Defia itu membalas tak kalah sewot dengan mata mendelik sinis, "lo-nya ngga nanya, ngga pernah solat ya?! Lagian siapa lo, kemana-mana aja mesti laporan?!"

"Yeee---sewot. Gue nunggu lo nih, dari 1945! Udah sempet tiduran, udah sempet makan udah sempet kawin juga. Buru!" omelnya.

"Mati aja lo sono, tua amat!" gerutunya berjalan menjauh dari Dewa menuju rumah kost.

Defia, gadis itu senyam-senyum wanjayyy liat cowok bening modelan air sumur yang udah di saring berkali-kali plus motor gedenya, abang---godain kite napa!

"Hay, gue Defia. Lo tuh calon---"

"Calon bos nya dia!" potong Dewa menyebalkan, lihatlah wajah tampan namun juteknya, bikin cewek pengen acak-acak pake garpu rumput! Zahra yang tadinya sudah masuk pintu pagar melemparkan sendal jepit ke arah lelaki itu.

Plukk!

"Oyy!" salak Dewa.

"Fi, masuk! Ntar lo ketularan stress! Sekalian ambilin sendal gue," titahnya galak.

"Sorry ye bang---" Defia meringis memungut sandal jepit berwarna ungu milik Zahra yang barusan si empunya lempar.

"Bener-bener calon adek ipar ngga ada akhlak!"

Zahra merotasi bola matanya dan masuk.

Defia pamit masuk pada Dewa dan segera menyerbu kamar gadis perawat ini, "Ra, lo ngga takut di marahin sama kakak ipar lo, ngga takut restunya ngga turun? Kebangetan, ck--ck." Gadis ini berdecak, sementara Zahra sedang melapisi pakaiannya dengan jaket, baju dinas selalu ia bekal agar tak kotor terkena debu jalanan.

"Biarin aja! Dia emang aga-aga crazy kok!" gadis itu berucap santai, seolah memang itu kenyataannya.

"Kenalin dong Ra, siapa tau nyangkut di hati gitu," gemasnya genit-genit manja memainkan ujung kaos yang dipakai membuat Zahra mengangkat kedua alisnya, "ih! Gue saranin jangan suka deh, bukannya mau bongkar aib keluarga calon ya, tapi dia tuh liar persis kucing hutan---udah ah! Gue berangkat ya, sebelum tuh lelaki bikin bu Atik marah karena nyatronin kost'an kaya nyatronin bandar tog3l." Ia mendorong Defia yang cemberut, agar keluar dari kamarnya mengusir secara terang-terangan.

"Ck, masa sih. Bilang aja lo ngga mau." Bibirnya maju bisa disamakan dengan mon cong lambang partai.

"Emang iya, gue males debat sama dialah." Zahra tertawa dan kemudian keluar dari kost'an.

Dewa yang sudah siap di atas motor mematikan rokoknya dengan menginjak batangan tembakau itu.

"Buru, gue mau keluar sama Lendra!"

"Iya! Sabar dikit kek jadi orang, lagian so penting banget, paling-paling kerjaan lo bikin kerusuhan, nongkrong-nongkrong ngga jelas. Heran aja, sifat lo jauh banget sama Ganesha, bagai bumi sama kerak neraka!" dumel Zahra menggerutu, namun jelas terdengar oleh Dewa. Dewa sempat terdiam saat Zahra mengatakan itu, Zahra adalah orang kesekian ratusnya yang berkata seperti itu. Ia hanya bisa menyunggingkan senyuman miring saja mendengar itu, meski terkadang jengah.

"WOW!" jawab Dewa berseru dibuat-buat.

"Telat! Lo adalah orang kesekian ratus yang bilang itu." jawab Dewa santai, tidak merasa sakit hati. Mungkin hatinya sudah membatu untuk mendengar cacian, makian dan hinaan dari orang lain, whatever lah lelaki itu tak peduli!

Zahra mengernyit aneh, "dih! Terus lo bangga gitu?!" Dewa melajukan motornya setelah Zahra sudah berhasil naik dan memakai helmnya.

"Kalo gitu gue heran, otak sama muka lo terbuat dari apa coba, udah tau banyak orang yang bilang gitu tapi lo masih kaya gini?!"

"Gue cuma kasih tau sama lo, orang-orang kaya gitu bukan lagi bandingin lo sama Ganesh tapi lebih menyayangkan sama sikap lo!" cerocos Zahra.

Baru kali ini Dewa diam dan menjadi pendengar yang baik, terlebih saat gadis ini yang bicara, ia menganggap jika omelan Zahra ini adalah podcast horor yang perlu ia simak tanpa harus membalas. Padahal biasanya ia akan langsung memotong pembicaraan jika tidak ia akan langsung pergi saat orang-orang menasihatinya begini.

"Lo denger ngga sih?!" Zahra memiringkan kepalanya demi bisa melihat wajah Dewa, sejak tadi pria ini diam saja apakah ia mati? Tapi pada saat yang bersamaan Dewa menghentikan motornya di depan lampu merah, hingga membuat Zahra terdorong ke arah depan dan refleks memeluk perut Dewa, dengan posisi wajahnya yang semakin mendekat sukses bikin mata melotot.

"Denger, gini-gini kuping gue masih berfungsi! Bukan cantelan wajan." Dewa membalikkan wajahnya ke samping membuat wajah keduanya hanya berjarak helm saja.

Zahra mengerjap menyadarkan dirinya sendiri dan lantas mundur memperbaiki posisi dan helmnya. Dewa hanya bisa menyeringai melihat Zahra yang salah tingkah, dua kali !!! Dua kali mereka begini, lama-lama pertahanan manusia Zahra dan Dewa runtuh juga jika selalu begini. Usia keduanya sedang masa-masanya memadu kasih.

Jangan salahkan keduanya jika suatu saat tak bisa menjaga hati lagi untuk Ganesha.

"Nesh, ini gimana. Ya Allah!" Zahra menthesah dalam hati, menjaga hati untuk orang lain yang tak disampingnya nyatanya tak mudah jika begini kondisinya. Gadis itu sampai mengelus dada demi menghentikan degupan jantung yang entah sejak kapan selalu menyerangnya jika bersama Dewa. Zahra menghitung berapa kali ia bertemu Dewa, tapi jawabannya adalah sesering mereka bertengkar.

Sisa perjalanan hanya dipakai saling berdiam diri antara Dewa dan Zahra, tak ada obrolan yang terjadi lagi setelah kejadian barusan.

Cerewet membunuhmu Zahra, ia memejamkan sekejap matanya.

Dewa menghentikan motornya di depan jalan rumah sakit, maka jalanan inilah yang menjadi pemisah antara air dan minyak, Zahra dengan dunia medisnya dan Dewa dengan dunia malamnya.

"Lo balik jam berapa?" tanya Dewa.

"Jam setengah 7, tapi kalo lo ngga keb---"

"Nanti gue jemput," potong Dewa, mendadak Zahra jadi gadis yang patuh, "oh iya." Ia langsung berbalik dan masuk tanpa berucap makasih seperti biasanya, baru kali ini ia merasakan grogi di depan seorang lawan jenis sampai-sampai tangannya dingin, bahkan bersama Ganesha pun tidak seperti ini.

Ngomong-ngomong Ganesh, lelaki itu kemana? Apakah ia memang sedingin ini, Zahra mulai ragu. Dijodohkan dengan Ganesha tapi ia lebih sering berinteraksi dengan Dewa. Apa jangan-jangan mereka kebalik?!

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-10-23

1

Lalisa

Lalisa

dih sempet kawin juga katanya..sama siapa wa kambing 🤣🤣🤣

2024-10-23

0

Lalisa

Lalisa

kasian deh loe🤣🤣

2024-10-23

0

lihat semua
Episodes
1 LET'S TRY
2 JODOH PENGGANTI
3 DIANTARA SUNGAI YANG TENANG
4 SERANGAN FAJAR GANESHA
5 ULAH PERTAMA
6 BERBEDA PERANGAI
7 JEMPUTAN SE to the TAN
8 ADEK IPAR VS KAKAK IPAR?
9 KENA DEH!
10 TAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI
11 BEBAN YANG DIPIKUL
12 MENCOBA BERDAMAI
13 RUKUN TETANGGA KURANG WARAS
14 MENGUNJUNGI GEDUNG KANTOR
15 BERBAGI CINTA
16 SEPENGGAL TENTANG CYARA
17 RENCANA DEWA
18 VIBES
19 APAKAH CINTA SALAH SASARAN?
20 SIKAP IMPULSIF DEWA
21 PERCIKAN-PERCIKAN API
22 HITAM TAK BERARTI BURUK
23 CINTA TAK PERNAH SALAH
24 ILMU COCOKOLOGI
25 GENGSI SEBESAR GUNUNG
26 DEWA PENGUSIK JIWA
27 JANGAN DIPAKSA KALAU TAK MAU
28 BERI AKU KESEMPATAN
29 SIAP MENGACAUKAN HARI
30 DUA SEJOLI
31 PENGAKUAN
32 BICARA DARI HATI KE HATI
33 WELCOME BACK BROTHER
34 RENCANA LAMARAN
35 MENGKHIANATI KEPERCAYAAN
36 INDAHNYA JATUH CINTA
37 SEGINI TUH BELUM APA-APA
38 TES NGAJI ALA CIMOY
39 LAMARAN SE-RT
40 WELCOME DI GUBUK ANANTA
41 KELAKUAN SI CICAK PUTIH
42 TES PSIKOLOGI
43 BERBUNGA-BUNGA ATAU STRESS
44 ADA MANIS-MANISNYA
45 SEE YOU AGAIN, BEAUTY...
46 BIANG KEROK
47 SI MAMAUNG SI MAMACAN
48 TUNGGU AKU, RA!
49 GILANYA SEORANG IBU
50 KEDUA KALINYA
51 PENGACAU SUASANA
52 SAYA TERIMA....
53 SIMBIOSIS MUTUALISME
54 NOWHERE TO RUN
55 HAPPY WEDDING
56 BITTERSWEET (PAHIT)
57 RESTUI LANGKAHKU, BANG...
58 SELAMAT BERTUGAS, NERS...
59 BERBOHONG
60 STIGMA MASSA
61 SADEWA TERUSIK
62 ASSALAMU'ALAIKUM SLEEPING CHARMING...
63 DONATUR
64 PROFESIONAL
65 SOMETHING WRONG
66 SUPPORT SYSTEM ADALAH OBAT TERBAIK
67 ISOLASI BERDUA
68 PRESDIR VS CHEF
69 BELANJANYA CALON DADDY
70 DEWA CINTA
71 GODAAN
72 PERTAMA KALI KECEWA
73 PENYELESAIAN
74 MY LOVELY PRESDIR FROM THE MARS
Episodes

Updated 74 Episodes

1
LET'S TRY
2
JODOH PENGGANTI
3
DIANTARA SUNGAI YANG TENANG
4
SERANGAN FAJAR GANESHA
5
ULAH PERTAMA
6
BERBEDA PERANGAI
7
JEMPUTAN SE to the TAN
8
ADEK IPAR VS KAKAK IPAR?
9
KENA DEH!
10
TAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI
11
BEBAN YANG DIPIKUL
12
MENCOBA BERDAMAI
13
RUKUN TETANGGA KURANG WARAS
14
MENGUNJUNGI GEDUNG KANTOR
15
BERBAGI CINTA
16
SEPENGGAL TENTANG CYARA
17
RENCANA DEWA
18
VIBES
19
APAKAH CINTA SALAH SASARAN?
20
SIKAP IMPULSIF DEWA
21
PERCIKAN-PERCIKAN API
22
HITAM TAK BERARTI BURUK
23
CINTA TAK PERNAH SALAH
24
ILMU COCOKOLOGI
25
GENGSI SEBESAR GUNUNG
26
DEWA PENGUSIK JIWA
27
JANGAN DIPAKSA KALAU TAK MAU
28
BERI AKU KESEMPATAN
29
SIAP MENGACAUKAN HARI
30
DUA SEJOLI
31
PENGAKUAN
32
BICARA DARI HATI KE HATI
33
WELCOME BACK BROTHER
34
RENCANA LAMARAN
35
MENGKHIANATI KEPERCAYAAN
36
INDAHNYA JATUH CINTA
37
SEGINI TUH BELUM APA-APA
38
TES NGAJI ALA CIMOY
39
LAMARAN SE-RT
40
WELCOME DI GUBUK ANANTA
41
KELAKUAN SI CICAK PUTIH
42
TES PSIKOLOGI
43
BERBUNGA-BUNGA ATAU STRESS
44
ADA MANIS-MANISNYA
45
SEE YOU AGAIN, BEAUTY...
46
BIANG KEROK
47
SI MAMAUNG SI MAMACAN
48
TUNGGU AKU, RA!
49
GILANYA SEORANG IBU
50
KEDUA KALINYA
51
PENGACAU SUASANA
52
SAYA TERIMA....
53
SIMBIOSIS MUTUALISME
54
NOWHERE TO RUN
55
HAPPY WEDDING
56
BITTERSWEET (PAHIT)
57
RESTUI LANGKAHKU, BANG...
58
SELAMAT BERTUGAS, NERS...
59
BERBOHONG
60
STIGMA MASSA
61
SADEWA TERUSIK
62
ASSALAMU'ALAIKUM SLEEPING CHARMING...
63
DONATUR
64
PROFESIONAL
65
SOMETHING WRONG
66
SUPPORT SYSTEM ADALAH OBAT TERBAIK
67
ISOLASI BERDUA
68
PRESDIR VS CHEF
69
BELANJANYA CALON DADDY
70
DEWA CINTA
71
GODAAN
72
PERTAMA KALI KECEWA
73
PENYELESAIAN
74
MY LOVELY PRESDIR FROM THE MARS

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!