Dan mulai hari ini sampai seminggu ke depan Dewa adalah orang yang paling sibuk lebih sibuk ketimbang tukang sayur yang udah dari subuh mesti keliling. Selain jadi presdir ia menjadi supir, baby sitternya Zahra juga selama seminggu ini. Kenapa juga ia harus menurut dengan permintaan Ganesha untuk antar jemput si gendut bar-bar itu. Kaki punya, duit ada---kenapa harus repot-repot ia antar jemput juga, cih! Sayangnya ia bukan tipe manusia lalai, padahal pengennya sih ngga peduli sama suster keramas satu itu.
Ganesha terlihat menggusur koper dan jas di lengannya lalu duduk bergabung di samping Dewa. Tampak olehnya, Dewa asyik saja duduk di meja makan menikmati nasi goreng pedas buatan momy Ica. Jihad selalu anteng melihat nafsu makan Dewa yang kelewat lapar macam tak makan seminggu setiap menyantap masakan buatan Ica, padahal jika boleh jujur sampai saat ini Ica belum begitu pandai memasak. Terkadang Jihad heran, apa lidah anaknya yang satu itu kelu, atau memang sudah terbiasa dengan ketidak-enak'an hidup?
"Bakwan, kamu kalo bikin nasi goreng kebiasaan---udah berapa puluh tahun masih gini-gini aja, ini tuh keasinan sayang, bawang yang kamu masukkin belum mateng udah kamu timpa nasi sama telor jadinya ketir," keluh Jihad, padahal nasi goreng adalah masakan yang paling mudah dibuat ketimbang udang saus Pa dang, tapi memang dasarnya Ica itu aneh, giliran yang rumit dia mahir giliran yang gampang dianggap enteng sampe suka dianggap sepele.
"Ya elah, makan aja kenapa sih bang. Tuh Dewa aja lahap!" ujar Ica.
"Ekhem kebal tuh lidah!" dehem Ganesha yang mengundang batuk Jihad dan Dewa sendiri, ketiganya sepakat nasi goreng momy Ica memang bernilai 10, dari 100
"Nesh, file Miracle project gue rangkap 3!" ucapnya kembali datar seraya menikmati nasi. Ganesh sempat terhenyak sejenak, menghentikkan gerakan tangannya tapi kemudian ia mengiyakan.
Tangannya membalikkan piring dan menyendok nasi yang berbeda dengan Dewa, karena ia tak suka pedas.
"Tumben kamu peduli?" tanya momy.
"Cuma mau coba-coba analisa," jawab Dewa meneguk air putih, ucapannya sudah seperti orang pintar saja. Kemudian ia menyambar jas miliknya sementara momy Ica, daddy Ji dan Ganesha saling lirik, menatap penuh makna.
"Dewa pergi, my---daddy," pamitnya meraih pula helm fullface dan satu helm bogo untuk Zahra.
Yahya sudah menunggu di luar, seperti biasa ia akan nongkrong bersama security rumah. Netranya tak lepas pandangan dari Dewa yang sudah naik ke atas motor namun tak jua menyalakan mesinnya seperti sedang menunggu sesuatu.
"My, daddy---Ganesh pergi dulu!" pamitnya.
"Iya hati-hati, nanti kalo udah sampe jangan lupa kabarin!" pesan Ica diangguki Ganesha.
"Kalau ada perkembangan atau planing hubungi daddy, biar nanti kita ikut urus---" ujar Jihad, kembali pemuda itu mengangguk. Kacamata yang sejak tadi dipegangnya lantas Ganesha pakai.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam,"
Dewa kembali turun dari motornya, belum Ganesha benar-benar sampai di ujung teras, Dewa menarik ujung jas depan Ganesha, "sini lo."
Kedua kembar itu melimpir ke samping rumah dekat dengan pot-pot besar tanaman hias milik Ica.
"Sampai kapan lo mau sembunyiin ini Nesh? Jangan pikir gue ngga tau?! Jujur! Lo mau ketemu sama bokapnya Cyara?! Serahkan dia sama daddy Nesh---lo tuh udah salah, lo sayang sama Cya bukan berarti lo lindungi bokapnya dari dosa! Sadar!!! Cyara udah ngga ada!!"
Tatapan Ganesha nyalang pada Dewa, "setidaknya dia nitipin bokapnya sama gue bang."
"Lo tuh udah mau merit sama Zahra! Terus lo anggap Zahra apa, kalo lo masih gamon sama orang yang udah meninggal?! Lo jangan kaya gini!" Dewa meremas kerah baju adiknya itu, Ganesha memang pendiam sejak dulu, tapi kematian Cyara memperburuk itu, dan untuk mengalihkan rasa sedihnya Ganesha lebih memilih kerja keras bagai kuda.
"Minggir bang, masalah ini biar gue yang urus. Gue yakin bisa nutup semua kerugian yang disebabkan bokap Cyara. Please kasih gue waktu," Dewa hampir saja menghantamkan kepalan pada adiknya itu, sebelum ia mengingat jika Ganesha adalah saudaranya.
"Gue diem bukan berarti gue ngga tau dan ngga gerak Nesh, kalau sampai waktu yang gue tentukan lo ngga bisa kembaliin semua yang udah dia ambil. Terpaksa gue seret bokap Cya, dan seperti yang udah gue bilang dulu---gue akan ambil alih posisi kepercayaan daddy dari lo, sampai saat ini gue sengaja kaya gini, biar daddy sama momy lebih percaya lo ketimbang gue, kalau sudah gue yang pegang maka siapapun itu termasuk bokap Cya bakal gue geret ke bui!" Dewa mendorong adiknya itu hingga sedikit terdorong ke tembok lalu meloloskan nafas berat.
"Urus itu sampai beres! Sampai lo balik, lo ngga usah khawatir sama Zahra!" Dewa melengos pergi menuju motornya.
Ganesha pun begitu, ia meraup nafas sebanyak-banyaknya.
"Sampai gue kembali, gue harap kebersamaan lo sama Zahra bisa bikin kebiasaan nakal lo berubah bang," thesahnya menatap kepergian Dewa.
"Sorry Ra, niat awalku memang menyelamatkan nama momy sama daddy. Bikin mereka bahagia, tapi setelah liat kamu dan inget pesan Cya---niatku malah jadi pengen bikin bang Dewa sama kamu bersama. Aku yakin kamu bakalan lebih bahagia sama bang Dewa, begitupun bang Dewa." Ganesha memasang kacamata hitamnya dan merapikan kemeja serta jas menuju mobil.
🍃 sedikit menarik waktu ke belakang
Langkah sepatu sport Ganesha cepat mencari sosok gadis yang baru saja mengiriminya pesan jika ia sedang menangis.
"Cy?!"
Sesosok gadis belia yang tengah ranum-ranumnya dan manis itu menangis menghambur memeluk Ganesha yang tengah mengikuti ekskul basket, Ganesha memang lebih ramah, baik dan sopan pada perempuan ketimbang Lendra dan Dewa, membuat Cyara terkadang sering menjadikannya teman mencurahkan isi hati.
Gadis cantik ini menangis, sudah ke sekian kalinya Lendra menolak dirinya. Dan entah sejak kapan keduanya jadi dekat karena seringnya Cyara mendapat penolakan dari Syailendra, Ganesha lah yang membantunya bangkit menjadi peraduannya.
"Cyara divonis mengidap kanker pembuluh darah,"
🍃 Gemerincing suara gelang terdengar begitu indah di telinga Cyara, bibirnya kering padahal ia sering minum.
Brak!
"Sorry aku telat," Ganesha menghampiri gadis yang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Ngga apa-apa Nesh, aku tau kamu sibuk!" ia tersenyum begitu manis. Ganesh mendekat dan duduk di kursi samping ranjang. Cyara sudah tak memiliki ibu sejak smp, jadi ia hanya dititip pada perawat saja sementara ayahnya bekerja.
"Kusut banget mukamu, Nesh!" ia menyentuh garis wajah Ganesha.
"Biasa bang Dewa, kena razia lagi sama Lendra---"
Cyara sudah tak aneh lagi dengan keduanya yang sudah seperti saudara kembar si al.
"Kayaknya kamu tuh anak yang tertukar deh. Dewa tuh 11 12 sama Lendra." Gadis itu tertawa jika mendengar setiap keluhan Ganesha tentang kenakalan Dewa--Lendra, dan sudah pasti ia yang harus ikut menanggung.
"Dewa tuh harus nemu cewek yang ngga mau kalah, bisa bikin dia takluk. Tapi sayangnya sampai saat ini semua cewek yang jadi pacarnya justru malah di dominasi sama dia--" ucap Cyara.
"Kayanya ngga akan ada cewek baik-baik yang mau sama bang Dewa, Cy---" Ganesha mele nguh panjang, memijit pangkal hidungnya lelah.
Cyara berpikir sepertinya ia teringat sesuatu, " ah! Nesh, kamu tau Zahra? Temen kita waktu TK. Tepatnya dia sahabatku?" tanya Cyara. Ganesha sedikit mengingat-ingat.
"Iya, aku inget. Dimana dia sekarang Cy? Kangen aku sama omelan dia, apalagi kalo udah berantem sama bang Dewa," jawab Ganesha ikut tertawa jika mengingat perkelahian abang kembarnya dan Zahra dulu.
"Terakhir aku kontak Zahra smp Nesh, tapi aku sering ikutin storynya dia di IG, Zahra emang selalu memukau Nesh, terakhir aku liat foto wisuda dia---Zahra cantik banget Nesh, dia udah jadi perawat!" Cyara menunduk redup memikirkan nasib dirinya yang hanya tinggal menghitung hari saja bernafas di dunia ini.
"Hey, kamu juga cantik! Kamu pasti sembuh! Setelah kamu sembuh, aku minta daddy sama momy buat lamar kamu,"
"Oh iya, aku suka bayangin deh Nesh, kepengen ketemu Zahra lagi! Pengen bilang kalo aku kangen!" ucap Cyara.
"Cocok kali ya kalo Zahra sama Dewa. Aku jamin perangai Dewa akan berubah kalo sama Zahra!" lanjutnya.
Tapi takdir berkata lain, sebelum keinginan itu tercapai, sebelum wajah Zahra dapat ia lihat, gadis itu telah menghadap yang Kuasa.
"Titip ayah, Nesh."
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Lalisa
eh maksudnya 🤔
2024-10-22
1
Lalisa
jauh amat 😅😅
2024-10-22
0
Lalisa
Ica gitu loh ... beda dari yang lain
2024-10-22
0