Dewa duduk di kursi kebesaran Ganesha dengan mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Marah, kesal? Sudah pasti! Ganesha mengingkari janji. Ia masuk tanpa ijin, Gea dan beberapa karyawan tak berani melarangnya seperti pak Indra tempo hari, takut jika Dewa akan memukul mereka tanpa ampun.
Langkah Ganesha dan Yahya menyusuri kantor sudah ditunggu oleh seluruh penghuni kantor baik itu di dunia nyata maupun astral.
"Pak, ada pak Dewa di kantor---" wajah Gea mendadak anemia.
"Loh, ngapain?" tanya Yahya.
"Mana Gea tau mas Ya, ngga berani ngalangin ah, takut di pukul," jawab gadis berponi itu. Padahal se-minim apapun akhlaknya Dewa pantang baginya memukul seorang perempuan. Tapi tetap saja, orang-orang sudah menaruh stigma negatif padanya.
"Mana sambil marah-marah lagi---" bisiknya ikut mengekori sang bos yang berjalan terus tanpa gentar sekalipun.
Pintu itu terbuka lebar menampakkan seorang pemuda galak dengan aura kelam nan mistis, untung saja tidak dibarengi dengan piring sesaji dan ayam hidup di depannya.
"Nesh! Lo mau main-main sama gue!" teriaknya bangkit dari kursi dengan kasar membuat Gea terkejut dan bersembunyi di belakang tubuh Yahya. Ganesha mengangkat kedua alisnya.
"Maksud bang Dewa apa?"
"Lo tuh ya!" tunjuk Dewa kesal, ia bahkan sudah menahan diri agar tak meninju wajah kalem nan datar adik kembarnya itu. Dengan memakai telfon Ganesh ia menghubungi sekertaris presdir baru itu, si Mini---eh Miki.
"This is Miki speaking---"
"Lo buruan kesini, ngga usah banyak cingcong, ngga pake lama, kalo bisa lo terbang kesini--atau gue geret dan dorong lo dari rooftop?!" Dewa membanting telfon itu tak peduli jika nanti gagang telfon patah dan rusak. Terang saja Miki yang sedang duduk manis di mejanya berlarian kayak lagi lomba maraton di dalem kantor, "haduhh! Mana gue tau jadi sekertaris presdir disini ternyata mesti lolos babak kualifikasi olahraga atletik!" perut buncitnya sampai bergetar karena ia setengah berlari menuju ruangan Ganesh.
"Bulu mata anti badai guee, ancur deh--" rengeknya menyentuh bulu mata sepanjang-panjang bulu ketek merak.
"Lo ngapain ngirim makhluk astral jadi asisten gue! Gue masih normal, masih suka sama cewek! Lo udah langgar janji lo Nesh, besok-besok ngga usah minta tolong sama gue lagi!" geramnya kesal.
"Loh, kok jadi gue yang ingkar? Coba bang Dewa pikirin lagi----bang Dewa minta apa sama gue sebagai upah?" tanya Ganesh.
"Sekertaris sexy kan?!" lanjutnya. Miki terlihat berlari dari ujung koridor sana demi memenuhi panggilan atasan, mirip-mirip panggilan Ilahi. Nafasnya tersengal hampir-hampir ia pingsan. Belum lagi langkahnya yang terseok-seok, kantor terasa berguncang bak kena gempa.
"Bapakkkk!" teriaknya, keringat mengucur deras pertanda lemak jenuh dalam tubuh Miki begitu tebal.
"Haduhhh, engapp!"
Yahya dan Gea melipat bibirnya sekencang mungkin, ingin tertawa namun takut, apalah mereka yang cuma kulit ari kacang, yang kalo di tiup terhempas terbang-terbang.
Ganesha menggelengkan kepalanya seraya tertawa mendengus.
"See---yang kaya gitu lo sebut sexy?! Mata lo kelilipan apa kena katarak?!" ujar Dewa, Gea sudah benar-benar meremas ujung rok spannya tak kuat ingin tertawa.
"Mi...khiii...siap bertugas pak Dew---" ia tampak kepayahan mengatur nafas menghampiri atasannya.
"Hey girls---gue boleh minta minum ngga sih aus!" ucapnya meminta pada Gea.
"Nih tenggorokan udah kaya saluran irigasi yang ditutup--kering!" keluhnya.
"Boleh mas--eh mbak--eh kak Miki!" jawab Gea mengangguk singkat dan lebih memilih pergi, kasihan melihat Miki yang kepayahan seperti seorang musafir di padang tandus, meskipun kedudukannya lebih tinggi sebagai sekertaris CEO.
"Thanks honey!" jawabnya.
"Oke, Miki tunjukkin kebolehan lo sama nih bapak atasan---kalo lo se seksi dan se mumpuni yang dia pikir!" pinta Ganesh. Terang saja pria gemulai ini mengangguk dan mulai membuka jas yang terpasang di badannya, "nih pak! Kurang montox gimana Miki, kurang seksi gimana----gaya aja udah mirip Niki Minaj! Otak encer mirip isian zupa-zupa, cerdas bak monyet hutan! Cuco buat jadi sekertaris," jawabnya melenggok di depan Dewa membuat Yahya meledakkan tawanya dan Dewa bergidik geli.
"Yang bener aja! Gue malah eneg liatnya, pengen muntah! Kewarasan lo patut dipertanyakan brother," balas Dewa pada Ganesha, bahkan pori-pori kulit Dewa seketika membesar serta meremang, ia dilanda demam dadakan gara-gara melihat makhluk jejadian ini melenggok menggeliat macam cacing yang dikasih air garem, terus air cabe sama bumbu kuning, belum lagi bentukan badan yang jauh dari kata seksi lebih mirip drum air digelindingin terus penyok.
"Coba lo inget-inget, lo minta sekertaris sexy---montox, tapi apa lo bilang secara spesifik tentang gender?" tanya Ganesh mulai bersilat lidah. Kini Yahya mengerti dan hanya bisa berohria dengan akal-akalan bosnya itu.
Dewa berdecih, "ya gue kira lo cukup pinter buat tau kalau gue masih normal suka cewek, nih lo ambil nih bedug masjid, gue ngga butuh!" sarkas Dewa mendorong badan gempal Miki ke arah Yahya dan beranjak pergi.
"Eehhh---" Miki dan Yahya terkejut atas aksi Dewa.
"Bapak ihhh jahat!" rengek Miki.
"Bang! Miki sudah dikontrak kerja mulai hari ini---kalau kita tiba-tiba memutus kontrak sscara sepihak. Peraturan mengharuskan kita membayar ganti rugi pada Miki, dan gue ngga mau uang perusahaan nanggung kerugian---" kini Ganesha angkat bicara membuat Dewa menthesah lirih.
"Ya siapa suruh, lo maen kasih dia acc. Gue ngga nyuruh! Lo ngga ada kesepakatan kerja bareng gue! Bukan urusan gue!" tembak Dewa tak mau kalah, kini duo anak Jihad tengah berbicara tentang aturan bisnis.
"Dia berkompeten, berpengalaman di banyak perusahaan---" ujar Ganesh menjeda ucapannya.
"Dan gue yakin dia bisa jadi sekertaris yang handal buat lo bang," ucapan Ganesh itu diangguki Miki, "saya bisa apapun kok pak! Urusan kantor, luar kantor termasuk hal pribadi, pijet plus--plus gitu! Miki bisa!" ucapnya gemas melihat Dewa yang macho.
"Ya udah kalo memang dia sesempurna itu, lo angkat aja dia jadi sekertaris lo! Itu pun kalo lo kuat angkat nih orang," debatnya berkelakar.
"Tapi dia sekarang sekertaris lo, bang!"
"Dan lo CEO nya! Gue bisa kerja sendiri! " tunjuk Dewa pergi dari sana.
"Kalo lo mau, suruh aja dia jadi ob biar ada gunanya!" teriak Dewa sebelum benar-benar hilang dari pandangan.
Ganesha berdecak memijit pangkal hidungnya.
"Jadi saya gimana pak?" matanya sudah sendu kaya si cabelita waktu dizolimi.
"Kamu tetap kerja disini sebagai sekertaris pak Dewa, hanya saja untuk sekarang----kamu berada di ruangan yang aga berjauhan saja, atas nama pribadi dan keluarga saya minta tolong sama kamu Miki, saya percaya kalau pak Lendra tidak salah merekomendasikan kamu," ucap Ganesha seketika memunculkan new hope buat Miki.
"Oke deh pak!"
"Ya, kasih dia ruangan yang aga jauhan dari ruangan bang Dewa, tapi untuk kerjaan bang Dewa libatkan dia," pinta Ganesha, kelak Miki pasti akan berguna menyingkirkan para gadis gulma dari hidup Dewa. Ia ingat dengan ucapan Lendra, tentang Dewa---bagaimana kehidupannya, ia juga yang merekomendasikan Miki untuk jadi sekertaris Dewa.
"Siap pak!"
"Yu abang ganteng!" jawabnya mengajak Yahya yang bergidik.
"Mas Miki, ngga usah pegang-pegang mas," gidik Yahya.
"Bye bapak CEO tampan!" kedip Miki pada Ganesha.
Ganesha mendengus dan tersenyum kecut lalu kembali ke ruangan demi melihat pekerjaan.
"Argghhh!" geram Dewa di dalam ruangan.
Ia menjatuhkan dirinya begitu saja di atas kursi miliknya lalu mengusap wajahnya kasar, "ck! Gue butuh hiburan,"
Lantas ia mengambil ponsel dan mencari nomor kontak teman wanitanya, "hay Melodiiii----lo butuh kerjaan?! Kantor gue lagi buka lowongan khusus buat lo!"
"Tak ada akar rotan pun jadi," Dewa menyeringai sekalipun salah, bo do amat jika Ganesh tak memberi maka ia akan mencari sekertarisnya sendiri, sesuai kriterianya. Ia seorang presdir memiliki wewenang juga disini.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Hafshah
ancuuurrr
2025-02-11
0
Lalisa
astajim 🤣🤣🤣😂
2024-10-22
1
Lalisa
ngakak terus 🤣🤣🤣🤣
2024-10-22
0