"Bang! Abang ngga bisa seenaknya sama karyawan! Mereka bukan budak atau orang yang bisa di jajah tanpa aturan! Stop bermain emosi, tidak semua harus diselesaikan dengan kekerasan!"
Bukannya menanggapi Dewa malah duduk di kursi kebesaran Ganesh dan mengangkat kakinya ke atas meja, ia memang semenyebalkan itu. Yahya yang sudah membuka handle pintu pun mengurungkan niatannya untuk masuk ketika mendengar Ganesha tengah memarahi Dewa. Hawa-hawanya sih ia mencium bau-bau orang lagi bacok-bacokan, demi kenyamanan bersama ia membiarkan saja keduanya menyelesaikan urusan dahulu sampai keadaan sedikit aman, sebagai bawahan ia sangat sadar diri bahwa dirinya hanyalah serpihan kayu triplek, yang kalo dibakar sama atasan ya angus tak bersisa. Bukan tak mungkin Dewa atau Ganesh akan menjadikannya samsak pelampiasan.
"Ngga usah lebay! Dia udah dikirim ke rumah sakit kan? Udah beres, kasih duit juga mingkem!" jawab Dewa, oh ayolah! Siapa yang tak suka uang.
"Bang!! Hargai orang!" Ganesh sudah menghela nafas lelah dan berat, ia kemudian memejamkan matanya, inhale---exhale!
Yahya menghela nafas berkali-kali mirip latihan ibu melahirkan, anggap saja ia sedang tutorial sakit asma. Memberanikan diri untuk mengetuk pintu demi waktu yang terus bergulir seperti bola.
Tok---tok---tok!
"Ya?" jawab Ganesha menoleh ke arah pintu, begitupun Dewa yang memanjangkan kepalanya, kali aja bisa gantiin leher jerapah.
"Pak, maaf---semua sudah menunggu di ruang meeting," ujar Yahya.
"Ya, saya kesana." Jawab Ganesha.
"Jaga sikap! Dewasalah bang," pinta Ganesh memperingati. Mau tak mau ia harus mengikut sertakan si tuan pemarah ini ke ruang meeting.
Dewa merapikan jas dan pakaiannya meski tak berniat mengubah gaya slengeannya menjadi serapi Ganesh apalagi se-raffi amat.
Yahya mengekor di belakang Ganesh dan Dewa, suka tak suka ia pun harus mengabdikan diri pada Dewa, dan membantu Ganesh membimbing Dewa.
Semua karyawan langsung berdiri begitu rapi dan serempak, terlihat begitu disiplin saat Ganesha masuk. Dewa mengangguk-angguk menggidikkan bahunya acuh.
"Pagi pak!"
"Pagi," angguk Ganesh singkat.
"Pagi ini ada beberapa yang harus saya umumkan, selain dari membentuk timses beberapa project yang sudah menanti." Ganesha melirik Dewa, sebenarnya cukup malas lebih tepatnya ia malu memperkenalkan sosok berjas namun keadaannya semrawut.
"Perkenalkan ini Sadewa putra Alvian, presiden direktur baru disini. Mohon bantuan dan kerjasamanya dari rekan-rekan sekalian," ucap Ganesha membuat Indonesia mengheningkan cipta mendadak, senyum-senyum karyawan mendadak pudar mirip uang lecek pattimura yang udah langka, udah kena sabun, mana kusut kena ikan asin dijemur pokoknya pudar aja.
Dewa berdiri dari duduk santainya dan mengangguk singkat, "saya Dewa, mohon kerja samanya."
Beberapa karyawan terlihat masih membeo dan melongo mendengar itu, pasalnya mereka tau tabiat Dewa yang bisa dikatakan randomnya ngga ada obat, mana galak, emosian, ngga pengalaman dalam dunia bisnis, slengean, idup lagi! Mereka sangsi, apakah Dewa akan bisa menjadi presdir yang berkompeten? Atau malah bikin susah para bawahan? Ganteng sih ganteng, tapi mbok ya kalo ganteng nan soleh kaya Ganesha kan lumayan bikin karyawan betah kaya lagi di taman surgawi gitu loh! Hingga salah seorang direktur memecah keheningan dan mengucapkan selamat datang pada Dewa, barulah mereka ikut tersentak dan menirunya.
"Selamat datang pak Dewa, semoga bapak betah disini, mohon kerja sama dan bimbingannya---" ucapnya basa-basi, padahal jika bisa, ia akan minta pada pemilik langit untuk mengganti presdir atau memindahkan Dewa ke Mars, pasalnya ia akan selalu bertemu Dewa setiap saatnya. Mungkin mulai sekarang kerutan di wajah akan bertambah seiring dengan datangnya presdir baru, jangan sampai bikin sengsara bawahan yang idupnya aja udah mirip-mirip ratapan anak tiri.
"Ruangan gue yang mana?" tanya Dewa.
"Ruangan bang Dewa deket deretan ruang direksi cuma beda satu lantai sama ruangan Ganesh," jawab Ganesh menunjuk deretan ruangan yang ada satu lantai di bawah ruangan CEO.
"Jadi bukan yang tadi? Kenapa mesti beda?! Gue mau ruangan kaya tadi!" jawabnya sengak.
"Ruang tadi ruang CEO bang, ruangan daddy," jawab Ganesh.
"Bilang aja ruangan lo, dan gue ngga boleh disana!" tebaknya tepat, membuat Yahya mengulum bibirnya melihat ekspresi masam Dewa yang tak terima jika ia di anak bawang kan.
"Yap! Abang bener, untuk sementara daddy limpahkan posisi CEO ke gue," balas Ganesh sedikit sadis, karena memang itulah kenyataannya.
"Oke! Karena gue baik, gue terima! Jadi dimana ruangan gue?"
"Ini pak!" Yahya berinisiatif membukakan pintu, kali aja dikasih tips kaya bellboy!
Dewa melirik dengan tatapan miring ruangan di depannya dan meloloskan nafas jengah, "oke not bad. Nama lo Yahya kan?" tanya Dewa.
"Betul pak,"
"Besok panggil tukang! Gue mau di ruangan gue ada kamar private, perpustakaan mini, jangan lupa taro kulkas terus ini--gue ngga suka kalo catnya warna-warna gini! Kesannya gue kaya presdir-preadir kolot! Yang udah beruban, noh! Kaya adek kembaran gue, mukanya sama gue keliatan tuaan Ganesh kan?!" Yahya hampir saja menyemburkan tawanya, namun masih berhasil ia tahan.
"Tuh kan! Karena muka dia datar-datar aja, selalu mandang kritis dan serius apapun ngga selow! Oh iya kalo bisa sekertaris pribadi gue yang cantik sama pinter, standar boh ay, putih, mirip-mirip model sabun lah!" cerocosnya mencibir sang adik, lebih tepatnya mengeluhkan sikap ke-cool'an adiknya.
"Udah?" tanya Ganesh.
"Sementara ini udah! Oh ya jangan lupa, minta ob buat bawain softdrink---gue ngga terlalu suka kopi apalagi yang sachet!" balasnya duduk di kursi miliknya dengan table name presiden direktur. Sebenarnya otak Dewa itu pintar, hanya tertutup sikap nyeleneh dan minusnya saja jadinya ia selalu mendapatkan cap manusia bo doh bin sengklek. Ganesh ingat masa-masa sekolah dulu, tanpa harus giat belajar sepertinya yang saban hari buka buku, nilai Dewa selalu bagus---tapi sayangnya karena sering bolos dan berulah ia lebih sering mendapatkan rangking 2 dari belakang bersama Lendra.
Ganesh merapikan jasnya, "kasih aja apa yang bang Dewa mau, kecuali sekertaris---biar nanti gue cari sendiri buat posisi itu dari karyawan yang ada!" ucap Ganesh.
"Siap!" jawab Yahya. Keduanya meninggalkan ruangan Dewa bersama penghuni barunya yang berasal dari inti bumi.
Langkah sepatu pantofel, membawa si empunya kembali ke ruangan CEO.
"Ya, gimana sama jadwal gue hari ini?" tanya Ganesh.
"Ketemu dewan audit sama rapat pemegang saham sampe jam 2, terus ketemu Agum Sedaya group jam 4 sore," Yahya membaca note jadwal Ganesh di tablet miliknya, ketimbang Ganesh, Yahya ini lebih sibuk memegang laptop, tablet dan kedua ponsel miliknya demi melihat jadwal, file perusahaan dan kebutuhan perusahaan lainnya.
Ganesha kembali menelan pil pahit, "apa meeting kali ini ngga bisa diundur lagi?" liriknya.
Yahya menggeleng, "udah 2 kali kita undur meeting terus. Mereka perusahaan besar pak. Kalau terus mengundur, mereka akan mengira kita mempermainkan. Apapun yang terjadi, mau di jalan ada si komo lewat atau ondel-ondel beranak pinak meeting harus tetap berlanjut!" tak ada lagi toleransi.
"Oke--oke."
Ganesh memencet tombol di telfon kantor, lalu Dewa mengangkatnya.
"Bang, bisa ke ruangan gue bentar! Ganesh males balik lagi ke sana,"
"Ck, lo kangen sama gue Nesh--baru juga 20 menit. Bukannya tadi sekalian! Kenapa ngga di telfon aja?!" salak Dewa.
"Ngga bisa bang, mesti ngomong langsung."
Hanya berselang 10 menit saja Dewa sudah berada di ruangannya.
"Apa?!" tanya nya galak.
"Gue ada meeting penting sampe sore. Ngga bisa ditunda lagi, gue mau minta tolong," pinta Ganesh dengan wajah yang sangsi, pasti akan terjadi drama penolakan dari Dewa.
"Minta tolong apa?" alisnya terangkat sebelah.
"Tolong jemput Zahra---"
Matanya membelalak, "apa?! Yang bener aja! Seumur idup najisss gue ketemu lagi si gendut bar-bar!" tolaknya setengah mentah.
"Bang, Zahra calonnya gue---mommy, daddy, tante Salwa, om Zaky udah titip Zahra sama gue. Tapi kali ini gue bener-bener ngga bisa, please sekali ini aja gue minta tolong!" pintanya.
"Kenapa ngga minta asisten lo aja sih, atau karyawan! Disini kan karyawan berjubel-jubel?!"
"Tapi gue cuma percaya lo!"
Dewa menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, berpikir lama yang sebenernya ngga lama-lama banget, sungguh ia tak mau bertemu kembali dengan Zahra, karena endingnya mereka pasti akan selalu bertengkar. Melihat wajahnya saja sudah seperti banteng grand prix.
Yahya menunduk di pojokan tak berani menyela, hanya jadi patung dengan telinga terpasang.
"Apa imbalannya buat gue?!" tanya Dewa.
"Apapun,"
"Oke, gue mau sekertaris sexy!" kekehnya.
*Saravvv*, batin Yahya. Yang satu jaga banget perempuan yang satu penjahat.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Lalisa
yakin bang😛
2024-10-22
1
Lalisa
dih galaknya 🤣🤣🤣
2024-10-22
0
Lalisa
😀😀😀
2024-10-22
0