Zahra tersenyum semanis cotton candy saat Ganesha membukakan pintu mobil, lebih mirip-mirip adegan manis sinetron, berasa jadi putri namun bukan naik kereta kencananya nyai kidul.
"Momy ngajakin kamu makan malem di rumah, bisa kan? Tenang....masakan momy aman dimakan kok," ucap Ganesha membuat gadis itu tertawa renyah. Seburuk itukah masakan momy Ica? Apa cocoknya untuk ngeracun tikus? Satu yang Zahra yakini sekarang jika kelakuan kedua orangtua Ganesha satu frekuensi dengan orangtuanya.
"Bisa kok," jawab Zahra mengangguk. Karena aku juga lapar, mayan makan gratis.
Zahra menyapu tampilan depan rumah Ganesha, hampir sama dengan rumah umi. Halaman cukup luas, dengan rumah bergaya modern, meskipun bedanya di rumah terdapat pohon-pohon teduh layaknya tabebuya yang bunganya menghampar, disini lebih banyak tanaman seperti cemara kipas dan cemara udang yang berbentuk layaknya bonsai.
"Aduh---aduhhh, calon menantu! Baru pulang neng?" tanya momy Ica menyambut Zahra yang baru saja datang bersama Ganesha, seakan lengkap sudah drama kisah Cinderella yang forever after, dapet suami kaya plus ganteng and tajir, mertua baik hati, berlattar kan suasana senja, pokoknya mah bikin hati berasa jadi penghuni surga lah. Tapi sayangnya, itu tak lama. Mendadak awan mendung datang bersama si nenek sihir, Dewa. Suara deru mesin motor Dewa bak petir membelah pagar dan masuk tepat di samping mobil Ganesha.
Zahra sudah menatap tajam atas kedatangan si Dewa kekacauan itu.
"Nah, ada calon---calon perusuh masa depan!" ucap Dewa tengil.
"Heyooww! Ngga kebalik?!" sahut Zahra menimpali, tak ada drama adik ipar dizolimi kakak ipar disini. Rupanya Dewa baru saja pulang, entah darimana, padahal Ganesh saja sudah bisa menjemput Zahra.
"Nah ini! Darimana kamu?" tanya Ica.
"Dari hatimu!" jawabnya berkelakar hendak masuk rumah. Ica hanya bisa menggeleng pasrah dengan kelakuan Dewa,
"Ada sesuatu yang harus Dewa urus tadi di kantor my," teriaknya lagi melengos masuk, wajahnya memang kusut, sekusut kemeja belum disetrika, seperti baru saja mengerjakan sesuatu yang melelahkan.
"Yu masuk Ra! Anggap aja lah Dewa mah cuma cobaan dari yang kuasa!" Zahra yang dirangkul Ica sampai tertawa dibuatnya, jadi ingat umi dan abangnya Rayyan kalau sudah begini.
Di luar dugaan ternyata di dalam sudah ada seorang perempuan cantik lainnya, "hay sayang! Wahh, udah gede aja, perasaan baru kemaren liat masih ompong di depan! Sekarang udah cantik aja jadi perawat," sapanya.
"Eh, iya tante...."
"Perasaan lo aja kali Ra, berarti ini tandanya lo udah tua, Ra! Buru kawinin Lendra, biar bisa momong cucu!" sahut Ica pada Kara.
"Ngga tau deh Ca, tuh anak ngga pernah ada seriusnya---" ucapnya menthesah lelah.
"Persis kak Milo!" ucap keduanya kompak.
"Masih inget tante Kara kan? Mamanya Syailendra?" bantu Ica mengingat Kara.
"Oh ya Allah!" segera Zahra menyalami ibu dengan seorang anak itu, yang di usia tuanya masih tetap cantik seperti model majalah.
"Tante Kara, kirain siapa! Sehat tante?"
"Alhamdulillah, ngga nyangka kamu jadi mantu Icot!
"Aku ganti baju dulu ya!" pamit Ganesha nyelonong ke lantai atas, tak bisa sinkron dalam obrolan para emak-emak.
"Sini---sini! Cobain deh, ini kue bikinan momy! Harusnya sih enak ya!" pinta Ica seketika membuat Zahra menautkan alisnya, "harusnya?!"
Jihad baru saja pulang dan bergabung. Kini, mereka sedang berkumpul di ruang makan.
Dari kedua pemuda yang kini duduk di area meja makan, yang satu duduk kalem di sampingnya dan yang satu....di sebrangnya sedang memperhatikan Zahra penuh senyum devil sambil nyemilin timun.
Lihatlah senyuman jahat itu, dan rambutnya yang bisa bikin betah kutu se-rt. Berasa pengen ngeramasin!
"Ra," panggilan Ganesha membuat Zahra mengalihkan perhatiannya dari Dewa, sementara para orangtua sibuk ngomongin bisnis di meja makan kalo di rumah biasanya abi dan umi ngomongin bisnis, lalu kedua abangnya ngomongin daerah penugasan, sementara ia obat nyamuk.
"Ya?"
"Besok dinas apa?"
"Besok aku bagian libur, oh iya...besok aku bawain makan siang ya," jawab Zahra.
Ganesha mengangguk, "boleh."
"Jangan! Jangan mau Nesh, ntar tiba-tiba lo semaput pas meeting kan repot gue!" sela-nya.
"Lo pikir gue ngga bisa masak apa! Sembarangan, yang ada nih...makanan buat lo yang wajib, harus, kudu dikasih sianida!" balas Zahra.
"Gue mah kebal dikasih begituan, ngga akan mempan!" tawanya.
"Stoppp!" Ica melerai kembali, Kara mengulum bibirnya melihat pertengkaran Dewa dan Zahra, seperti flashback melihat kedua sahabatnya dulu.
"Bang, jaga sikap! Zahra calon adik iparmu!"
"Sayang, tante minta maaf ya," Ica memegang tangan Zahra.
"Bang---" Jihad menatap putra pertamanya itu.
"Ji, kayanya lo salah jodohin deh. Ko gue ngerasa kaya liatin lo sama Ica dulu ya," kekeh Kara berbisik.
Jihad hanya menyunggingkan senyumannya dan menatap Ganesha yang kalem saja seperti tak terganggu, entah ia sudah tak aneh lagi.
"Bu, ini ayamnya." Seorang asisten membawa sepiring ayam balado buatan Ica ke atas meja makan.
"Nah, ini yang gue tunggu dari tadi!" Dewa sudah bersiap mencomot, berbeda dengan Zahra yang beranjak dari kursinya, "aku lupa belum cuci tangan, wastafel dimana ya?" tanya nya pada Ganesh.
"Oh itu di dapur, sini ku anter!" ujar Ganesha.
*Plakkk*!
"Tuh tangan bekas apa?! Udah cuci belum?!" ujar Ica menggeplak tangan Dewa.
Suasana makan dihiasi candaan dan obrolan hangat, tapi ternyata bisa lebih heboh dan ramai lagi saat seseorang nyelonong masuk.
"Widihhh! Lagi makan-makan nih!" sesosok pemuda lainnya yang memang lebih tampan dari si kembar datang, dialah pewaris tahta klan Aditama.
"Helo maaa bro!" ia bersalaman lengan dan saling menubrukan bahu dengan Dewa.
"Kamu datang-datang main nyelonong duduk, mana sopan santunnya?!" sang ibu mengomel pada Lendra.
Si pemuda dengan satu gigi gingsul itu nyengir lebar, "mih, papih nyari tuh, udah kaya orang kena gendam aja nyariin bini!" tawanya menggeser kursi setelah ia salim terlebih dahulu pada Ica dan Jihad serta Ganesh.
"Mau ng'ASI kali Ra!" celetuk Jihad membuat Zahra tersedak dengan obrolan versi mereka.
"Abang ih! Calon mantu laget sama mulut lemes calon mertuanya!"
"Minum Ra," Ganesh menyerahkan segelas air putih. Kini pandangan Lendra menatap Zahra dari atas hingga perut tertutup meja.
"Lo Zahra kan? Wah Ra, makin cantik! Apa kabar?!" ia mengulurkan tangan pada Zahra.
Oke! Lendra meski 11 12 dengan Dewa, setidaknya ia lebih sopan dan ramah.
"Baik Ndra, kamu apa kabar?!"
"Baik juga, yang ngga baik disini!" tunjuknya ke arah bawah celana.
Bwahahahaha! Dewa tertawa, "saravvv!"
"Lendraaa!" sarkas Kara memukul punggung anaknya.
"Apa mih, maksudnya dompet!" Lendra meringis karena punggungnya yang dipukul Kara.
Ganesha tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangan sambil menggelengkan kepala, sementara Zahra hanya bisa nyengir dengan kelakuan kubu Ganesh-Dewa ini, sepertinya ia harus menyetok obat anti sin ting mulai saat ini.
"Nesh, kayanya kamu tuh anak yang tertukar deh. Dewa tuh lebih mirip Lendra," bisik Zahra smakin membuat Ganesha tertawa.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Lalisa
haha iya
2024-10-22
1
Lalisa
kyk Ica sama jihad berantemmm Mulu eh taunya jodoh wkwk
tar Zahra sama dewa the next Ica jihad
2024-10-22
0
Lalisa
oh berarti lendra ga punya saudara ya kayak ortunya sama sama anak tunggal
2024-10-22
0