Dewa menjalankan motornya dengan sejuta pikiran yang bersarang di dalam otaknya, macam tawon. Matanya menatap tajam pada jalanan macet. Sesekali ia membenarkan sarung tangan kulit yang terasa begitu ketat. Ban motor itu terhenti di depan lampu merah bersama kendaraan lain.
Diantara helm fullface yang tertutup kacanya pergerakan netra Dewa mengikuti sosok pengamen jalanan yang berdiri di depannya dengan ukulele dan sendal jepitnya. Kenapa yang terbayang di pikirannya sekarang adalah wajah Zahra, apakah wajah Zahra mirip ukulele si pengamen? Dewa terkekeh sedikit di dalam helm. Untung saja ia memakai helm jadi orang-orang tak bisa melihatnya cengengesan sendiri.
Udah gila kali gue!
Mendadak ia jadi dermawan, tangannya merogoh saku celana untuk mencari-cari uang.
Amazing! Dalam saku seorang presdir hanya ada selembar dua ribu terlipat-lipat saja. Segitu kere-nya Dewa!
Tangannya terulur menjatuhkan uang lembaran abu ke dalam topi si pengamen.
Ia melesat menuju kost'an Zahra. Zahra kembali melirik jam di tangannya menanti kedatangan makhluk tak tau di untung itu.
"Ra, nunggu jemputan?" tanya Defia.
Zahra mengangguk, "iya." Zahra merapikan kotak makan bekal cemilannya. Umi Salwa selalu mengatakan jika bisa membuat sendiri kenapa harus jajan di luar?
Motor memelan saat masuk ke dalam gang jalanan menuju kost'an Zahra.
Dewa sudah berhenti di depan kost'an Zahra, yang ia lakukan adalah berteriak persis debt collector nagih utang.
"Zahra! Woy! Buruan!!!"
"Tuh! Mo nyet hutan udah manggil Fi, gue keluar ya. Takut pak rt sama warga berdatangan denger dia teriak-teriak!" Zahra segera meraih tas dan menyelempangkan itu di pundak.
"Zah! Ra! Gendut! Buru!" teriaknya lagi.
Suara berat pagar besi dibuka cukup lancar meski menimbulkan suara nyaring, "wo---wo---wo! Stop! Lo tuh ih, manggilin gue udah kaya manggilin warga buat tawuran! Lo pengen digebukin warga apa gimana?!" sengit Zahra dengan nada menggerutu.
"Nah ini, lo akhirnya keluar juga kan?!" jawabnya jumawa dengan suara emasnya.
"Heran, tuh urat leher ngga putus. pita suara lo kecengklak baru tau rasa!" desis Zahra membuat Dewa terkekeh, "mana ada!"
Tangan Zahra memegang pundak Dewa untuk tumpuannya lalu kemudian ia naik ke atas jok, "sebentar!" sebelum Dewa melajukan kuda besinya mirip kuda lumping, Zahra ingin memperingatinya terlebih dahulu sebab ia masih sayang nyawa.
"Lo ngga boleh ngebut, lo ngga boleh bawa nih motor mirip orang nahan bok3r! Gue masih sayang nyawa dan masih sayang dompet, ngerti?!"
Dewa kembali cengengesan, "hihh, udah nyusahin banyak nawarnya! Jadi ngga nih kita berangkat?!"
"Iyain dulu!" perintahnya mendorong helm Dewa.
"Ck!" decak Dewa menahan kesal, kalo bukan karena Ganesh, kedua orangtuanya, dan kedua orangtua Zahra sudah ia masukkan kepala gadis ini ke dalam kaosnya, bawel.
"Hm," jawab Dewa.
"Oke, jalan!" perintah gadis ini memakai helm yang diberikan Dewa. Tak ada obrolan sepanjang jalan karena keduanya sama-sama menyibukkan diri dengan pikirannya sendiri, sesekali mereka saling melirik satu sama lain dari kaca spion untuk melihat apakah orang yang sedang bersamanya masih hidup?
"Besok gue dinas malam. Jadi jemputnya malem aja," ucap Zahra menyerahkan helm tapi Dewa mendorongnya kembali, "lo simpen baik-baik selama seminggu ini, awas jangan lo jual! Ini helm dapet beli di Afrika nih!" sengaknya.
"Bo do amat! Ngga pengen tau beli dimana. Lagian ngga ada kerjaan banget lo beli di Afrika, di Tanah abang juga banyak helm ginian cepe gocap juga dapet!" balas Zahra.
"Sembarangan!" Dewa menjiwir hidung Zahra.
"Mahal nih! Sama gaji lo aja mahalan nih helm!"
"Nih---nih---" Zahra menggosok-gosok helm dengan tanah tempatnya berpijak agar kotor.
"Nih helm mahal lo!"
"Wah--wah--wa! Nih cewek emang fix gila!"
"Lo yang gila, dasar makhkuk dari mars!" Zahra memutar badannya, lama-lama disini ia bisa gila.
Dewa tertawa renyah melihat Zahra yang marah-marah, lucu sekali kalo boboho ngamuk. Wajah Zahra kecil yang gemoy bin gendut menari-nari di otak Dewa padahal Zahra sekarang justru terkesan ideal terkesan kurus entah karena kini ia lelah.
Rasa bersalah tiba-tiba hadir di benak Dewa, tapi itu tak lama karena Dewa sudah kembali melajukan motornya menuju kantor.
Ganesha yang sedang menunggu pesawat, menatap boarding pass-nya. Memikirkan perkataan Dewa tadi.
"Lo baik-baik aja pak?" Ganesha mengangguk.
Yahya terjengkat dengan ingatannya sendiri, "ah! Gue baru inget!"
Ganesha menoleh, "kenapa?" tanya nya.
"Tadi pagi lo diapain si Dewa, Nesh? Lo ngga apa-apa kan? Gue liat lo ditarik abang lo," tanya Yahya melihat Ganesha secara keseluruhan dengan teliti.
"Gue ngga apa-apa Ya, masa iya abang gue sendiri nyakitin gue."
Yahya mengangguk ragu dan singkat, "oh ya sukur deh kali aja lo diapain. Abang lo kan liar Nesh," ia menghembuskan nafas lega.
"Nesh, lo yakin masih mau nyembunyiin pak Difta?" tanya Yahya hati-hati.
"Yakin, gue bisa ngembaliin aset daddy yang udah dia ambil dan pake. Gue bisa nerusin Miracle project, tanpa harus nyerahin dia ke pihak berwajib. Semua akan kembali seperti semula, itu sebabnya kita berangkat sekarang,"
"Tapi sejumlah uang yang sudah dia pake gimana? Itu jumlah yang ngga sedikit Nesh?"
"Lo tenang aja, daddy ngga akan curiga kalo tiap waktunya project ini ada perkembangan,"
"Itu artinya lo nutup project ini pake uang perusahaan?"
"Cukup Ya, biar ini gue yang pikirkan!" tukas Ganesh tegas pada asistennya itu.
"Oke," Yahya tak lagi bicara.
"Baby!" pagi-pagi suara cempreng Melody bikin telinga para karyawan berdengung seperti kemasukan lebah, cocok buat gantiin sirine damkar. Dewa tak bisa untuk tak tertawa saat pemandangan yang dilihatnya adalah bercak lebam di dahi Melody karena tersungkur kemarin, meski benjolnya sudah berkurang. Dosakah ia menertawakan orang yang kena musibah? Tapi ini Dewa yang minus akhlak, jadi ia tak peduli
"Hay baby! Ha-ha-ha!" ia meledakkan tawanya membuat Melody manyun seketika, "ihhh rese! Baby jangan ngetawain aku! Ini semua gara-gara si Guffy!" omelnya mencak-mencak, seraya menutupi dahi dengan rambut yang tiba-tiba berponi.
"Oke--sorry-sorry!" Dewa menghentikkan tawa yang belum tuntas itu.
"Jadi kan, kita makan siang tanpa ngajak si manusia setengah-setengah?!" di ujung sana Miki sudah memicingkan matanya disebut manusia setengah-setengah.
"Awas aja lo ulet! Pak Ganesh sama pak Lendra bukan tanpa sebab percaya sama gue," gumamnya.
"Jadi," angguk Dewa menjawab seraya berjalan menuju ruangannya.
"Pagiii pak! Matahari bersinar cerah dan bunga-bunga bermekaran termasuk bunga bank keee yang lagi nempelin bapak," ia mendelik sinis pada Melody yang sudah siap menyemprotkan umpatan-umpatan kasar pada Miki.
"Lo!" Melody sudah maju ingin menjambak pria gemulai itu namun ditahan Dewa.
"Pagi Miki," jawab Dewa, mata keduanya membola mendengar itu, apakah Miki harus selametan nasi kuning karena Dewa menyapanya? Si bapak kesambet apa pagi-pagi jadi malaikat surga?
"Baby?!"
"Mel, gue mau langsung kerja. Jadi jangan ganggu dulu, ntar kalo gue panggil baru lo boleh masuk! Sementara, lo anteng dulu bareng dia," Dewa melepaskan lengannya yang digelayuti Melody dan masuk ke dalam ruangannya.
"Najiss!" desis Melody.
"Ki, jangan lupa berkas file gue rapiin," ucapnya sebelum benar-benar hilang di balik pintu.
"Siap pak!" jawabnya tertawa mencibir pada Melody yang masih melongo, "baby ih! Kok kerja sih, kamu kan anak yang punya perusahaan?! Lagian Ganesha lagi ngga ada disini kok malah kerja?! Mendingan kita happy-happy?!" teriaknya menjerit di depan ruangan Dewa. Miki tertawa menggelegar macam petir, "abis ini gue mau bikin selametan!" ujar Miki melengos ke mejanya menyiapkan yang diminta Dewa, sementara Melody ngambek-ngambek tak jelas disana, ia menghentak-hentak kaki di jalanan berkarpet bibirnya maju mirip mon cong pesawat.
"Ndra, orang yang lo kirim buat ikutin Ganesha udah stand by kan?" tanya Dewa di samhungan telfon.
"Udah, lo tinggal tunggu kabar aja. Sebentar lagi lo bakalan tau dimana Ganesha ngumpetin pak Difta, besok jadi kan Wa?" tanya Lendra.
"Jadi lah! Udah jadi jadwal rutin kalo itu!" tawa Dewa.
"Ok."
Dewa menaruh ponselnya dan menyenderkan badannya ke kepala kursi.
Ia tertawa mengingat omelan Zahra yang menyebutnya makhluk dari Mars, kenapa bisa lucu? Hanya Dewa yang tau.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Lalisa
🤣🤣🤣🤣
2024-10-23
1
Lalisa
kyk Daddy ji dulu ke ica
2024-10-23
0
Lalisa
wow 🤣🤣🤣🤣
2024-10-23
0