Zahra menatap lama wajah malaikat pencabut harga diri itu. Maunya sih acak-acak tuh muka yang lagi ketawa puas melihatnya manyun, dimana tawa Dewa adalah derita hidupnya.
"Naik adek ipar," pintanya tersenyum lebar nan manis, tapi bagi Zahra senyum itu palsu, sepalsu tas kulit imitasi.
"Abis ini gue ngga akan gatel-gatel kan?!" sengak Zahra menyebalkan.
"Ngga paling korengan, puas!" jawab Dewa membuat bibir Zahra semakin mengerucut saja seperti topi penyihir. Ingin sekali Dewa memelintir gadis ini menjadikannya isian klepon.
Meski ragu gadis ini naik dengan bertumpu kedua pundak Dewa dan sedikit lompatan, untung saja ia cukup tinggi hingga tak usah melompat setinggi langit demi menaiki jok belakang motor Dewa. Ia tak mau bersentuhan dengan Dewa sekalipun hanya memegang pinggang, alhasil ia menjiwir saja ujung jaket Dewa bak jiwir anak kucing.
Dewa yang sadar akan tindakan sombong gadis ini menyeringai, "well, will see---siapa yang bakalan nyampe rumah sambil manyun-manyun!" seolah mendapatkan tantangan dan lawan sepadan, Dewa kini memikirkan bagaimana caranya agar gadis di belakangnya ini kalah, takluk dan malu. Rasa sombongnya yang setinggi-tinggi egrang 17an mesti di babad sampai habis.
Dewa dengan sengaja menyentak motornya, demi membuat Zahra terkejut, tersenyum dengan jahatnya.
Dughh!
Helm yang dipakai keduanya saling beradu.
"Aww!"
"Ihhh! Dasar grandong!" Zahra mendorong kepala Dewa yang tertawa renyah.
"Payah, segitu aja ngga bisa nahan!" Dewa menstaterkan motornya hingga bersuara berat, brummm---brummm.
"Gimana mau nahan, lo ngga kasih aba-aba! Heran, nih kepala isinya apa sih! Otak lo digadein buat beli nih motor kayanya!" omel Zahra kembali ia menepuk keras helm Dewa seperti sedang memukul tong kosong.
Dewa kembali tersenyum menyeringai seperti serigala, melihat jalanan di depannya kosong cukup panjang, ia langsung menggeber gas motornya kencang membuat Zahra refleks merapatkan duduknya dan memeluk Dewa, gadis ini tak terbiasa dengan sesuatu yang liar---menantang apalagi memacu adrenalin begini---lebih tepatnya sih cari mati!
"Grandonggggg!!!" mata Zahra terpejam dengan ia yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung Dewa, tangannya begitu erat memeluk perut sixpeck Dewa.
Pemuda itu membawa motornya menyalip-nyalip kendaraan lain bikin sport jantung, tak peduli jika Zahra sudah komat-kamit menyumpahi Dewa.
"Gue cekek loe, Wa!"
"Gue laporin Ganesh, kalo lo calon kakak ipar lak nat!"
"Umi---abi!!!"
"Bang Fath! Bang Ray!" semua anggota keluarganya ia sebut, untung saja jajaran kementrian kabinet Indonesia Bersatu ngga ikut disebut juga.
Dewa tertawa-tawa mendengar gadis yang beberapa belas menit sebelumnya itu bisa berkacak pinggang angkuh menantang dan menertawakannya kini berteriak-teriak histeris dengan mata yang menutup ketakutan.
Ckittt!
Dewa menghentikan laju motornya tepat di persimpangan lampu merah, satu persatu kendaraan lain ikut berjejer rapi menunggu lampu untuk kembali berubah. Zahra menempel lekat di badan belakang Dewa, "woyy! Keasyikan nempel. Awas!" Dewa meminta Zahra melepaskan pelukannya.
Zahra yang lekas sadar melepaskan pelukannya, "najis! Gue suntik mati juga lo!"
"Lo kalo mau mati ngga usah ajak-ajak orang. Udah gue turun disini!!!" ancamnya ingin turun, sesiang ini bersama Dewa, bikin turunan curam terbentuk di alis Zahra, tapi magic---tangan Dewa menahan tangan Zahra, "lo turun gue lebih nekat daripada ini!" ancam Dewa menoleh ke belakang, tatapan netra mereka bertemu diantara celah helm yang dipakai.
Alis tebal itu, mata yang menatap tajam pemuda ini, bahkan dengan Ganesh saja Zahra belum pernah melihat sedalam dan selama ini.
Begitupun Dewa, yang terdiam sejenak melihat mata indah Zahra, bibir mungil Zahra disertai warna merah muda segar diapit pipi yang terkesan chubby namun menggemaskan, hidung mancung dan alis yang tak terlalu tebal---persis Salwa muda.
Sesosok pengamen kecil tiba-tiba hadir tanpa diundang di depan para pengendara, dengan petikan jemari di senar gitarnya ia mulai bernyanyi.
# Tatap matamu bagai busur panah
Yang kau lepaskan ke jantung hatiku
Meski kau simpan cintamu masih,
Tetap nafasmu wangi hiasi suasana,
Saat ku kecup manis bibirmu, Cintaku tak harus... miliki dirimu.
Meski perih mengiris... iris segala janji.
(Dewa 19----Roman picisan)
Zahra segera memutus kontak mata keduanya dan lebih memilih membuang muka ke arah samping, "lo bisa ngga sih ngga kasar sama cewek! Jauh banget sama Ganesh!" cerca Zahra.
"Nggak!" sengak Dewa melepaskan tangan Zahra dan berbalik pandangan kembali ke arah jalan.
Zahra merogoh ke dalam saku celananya, mencoba mencari uang recehan diantara kekosongan ruang tipis di saku celana putihnya.
Pengamen dengan pakaian lusuh itu mulai beredar saat lagu sudah selesai, lalu ia membuka topinya bermaksud meminta sekedar uang kecil demi mengapresiasi suaranya untuk menghibur para pengendara.
Mata Zahra tertumbuk iba pada sosok kecil nan tangguh itu, sebagian pengendara hanya menggeleng dan melambaikan tangan saja tanpa mau sedikit berbagi.
Bahkan Dewa pun melakukan hal yang sama padanya, hanya senyum getir yang ia tunjukkan diantara teriknya cuaca, ia harus terima penolakan dari semua orang. Dunia terlalu kejam untuk kaki-kaki kecilnya melangkah.
Tapi lantas sosok kecil berbibir kering itu tersenyum lebar saat tangan putih dan berseragam putih khas perawat, meski parfum dirinya sedikit tercampur dengan aroma etanol terulur memberikan selembar berwarna ungu, Dewa sempat terkejut dan ikut menoleh.
"Makasih kak,"
"Sama-sama. Suara kamu bagus!" jawab Zahra tersenyum hangat padanya.
"Jazakillah khairan!" balasnya diangguki singkat Zahra.
"Stop!" pinta Zahra menepuk-nepuk pundak Dewa layaknya tukang ojek, hingga si pemilik nama menghentikan laju motor di depan sebuah kost-kost'an.
"Disini?" tanya Dewa melirik ke arah bangunan 2 lantai itu, meneliti tempat dimana Zahra tinggal.
"Iya, ngga usah dihafalin! Gue ngga mau kalo sampe harus diantar jemput lo lagi!" sengit Zahra berapi-api memberikan helmnya kasar pada Dewa, lama-lama pake helm ia bisa oleng kaya yang punya.
Dewa memberikan jempolnya, "good! Sip lah, makanya lo bilang sama Ganesh, kalo lo ngga mau gue anter jemput! Bilang juga sama Ganesh, jangan lupa sekertaris sexy buat gue!" nyengirnya lebar.
Zahra mengernyit sekaligus meringis, "dasar mesum! Pantesan lo ugal-ugalan, mata lo dibikin dari mata keranjang!" ejek Zahra menghinanya.
"Serah lo, toh gue ngga minta pendapat lo. Mau lo suka apa engga, bukan urusan lo, ya udah gue balik. Bye!" Dewa kembali memakai helmnya dan segera membalikkan arah motor untuk pamit undur diri, sementara Zahra telah menyunggingkan bibirnya nyinyir.
Dewa melirik pantulan Zahra dari spion motornya, melihat gadis itu untuk terakhir kalinya. Begitu pun Zahra meskipun saat ini pikirannya dipenuhi oleh penghakiman negatif pada Dewa.
"Cie, ganti lagi Ra? Yang kemaren pake mobil---sekarang pake motor gede!" ujar Defia yang tiba-tiba saja hadir di depan kost'an membuat Zahra terkejut karena datang tak terdeteksi macam roh halus.
"Astagfirullah! Fia ih! Kirain siapa---kaget aku tau ngga?!" Zahra benar-benar memegang dadanya. Fia terkekeh, "pacar Ra? Punya berapa sih---bagi-bagi kaliii!" godanya. Zahra masuk dan membuka sepatunya, ia duduk di kursi teras berbahan bambu yang di anyam.
"Bukan, itu calon kakak ipar. Kalo yang kemaren calon tunangan." jasab Zahra datar bin rata.
"Emhh, kakak ipar ya---" angguk Fia melengkungkan bibirnya.
"Udah ah, capek! Eh--kamu punya mie ngga Fi? Pinjem dong---laper Zahra, tapi pengen yang pedes-pedes berkuah, males ke warung, besok aja sekalian belanja bulanan!" pinta Zahra.
"Ada, di laci punyaku!" jawab Fia.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Lalisa
auto nyanyi dong
2024-10-22
1
Lalisa
Lagunya pas 😀😀😀
2024-10-22
0
Lalisa
ehmmm
2024-10-22
0