MENCOBA BERDAMAI

"Gimana oma? Sudah bisa diminum obatnya?" tanya Zahra ramah.

Perempuan itu menaruh cup-cup kecil berisi butiran obat atas nama pasien yang kini berada di depannya itu diatas nakas kecil. Zahra menghela nafasnya, kesabaran memang harus di pupuk sebanyak mungkin, agar tumbuh subur. Salah satu latihan kesabaran si bungsu Ananta ya disini, di rumah sakit menghadapi pasien dengan berbagai karakter.

"Oma bosen minum obat terus, sus! Percuma ngga sembuh-sembuh," jawabnya.

"Eh, oma kok gitu ngomongnya? Kalo si kecil ini ngga masuk, nanti kadar gula oma kapan turunnya dong? Emang oma ngga mau gitu, ngumpul lagi di rumah sama keluarga? Coba deh oma bayangin, kalo bisa keluar dari sini, oma bisa jalan-jalan cari udara seger di taman kota. Oma juga ngga harus dicerewetin sama suster Mia terus masalah komplikasi sama resiko diabetes..." kekeh Zahra.

"Ya...kecuali kalo oma betah lama-lama di sini, yuk sini oma---aku bantuin!" bujuknya.

"Tapi abis ini anter oma ke taman depan mau kan?" pintanya, Zahra sedikit meringis setengah nyengir, ia lantas melirik jam di tangannya.

Hm, kayanya Ganesh belum kesini juga.

"Tapi sebentar ya oma, abis ini oma harus istirahat," jawab Zahra setuju. Perempuan lanjut usia ini mengangguk setuju, tak lama Zahra memberikan obat-obatan dan segelas air putih milik pasiennya itu. Di usia lanjut begini, ia ditinggal sendiri di rumah sakit karena kesibukan anak--cucunya, dan hanya dititipkan pada perawat saja.

"Oma, aku anter dulu troli ke luar ya---sambil ambil kursi roda, atau oma mau jalan? Biar sekalian olahraga?" tanya Zahra.

Ia mengangguk menurut perkataan Zahra, "jalan saja". Zahra mendorong troli keluar ruangan. Lantas kembali, "Ra! Mau kemana?"

"Ruangan oma Sopi," jawabnya.

"Minta digosokin lagi kakinya?" tanya salah satu rekan perawat.

"Engga, mau ke taman bentar katanya."

Tak ada ruang diantara kedua perempuan beda generasi ini, Zahra setia membantu pasiennya dengan telaten dan mendorong tiang cairan infus keluar.

"Nah, disini aja oma. Disini sejuk, teduh---" Zahra membawanya duduk di salah satu bangku taman.

"Lukanya kering, yeeee! Itu artinya si kecil item ada manfaatnya kan, masuk ke dalem tubuh oma?!" wanita tua ini tersenyum hangat.

"Iya sus,"

Zahra berjongkok di depan oma Sopi, "nanti, kalo ada gatel atau gigitan serangga jangan digaruk ya oma, apalagi kita kan ngga tau kuku oma ini kotor atau engga---"

"Suka refleks sus," balasnya.

"Aku potongin kukunya ya, mau kan?"

Sudah menjadi tugas dalam pengabdiannya untuk sabar dan senantiasa telaten mengurus pasien bagaimana pun karakternya, pekerjaan menjadi perawat bukan hanya mendampingi seorang dokter merawat pasien atau mendorong emergency trolley saja, tapi lebih dari itu tanggung jawabnya begitu besar atas perawatan holistik pasien yang meliputi psikososial, perkembangan dan mental pasien, perannya bak pengasuh bagi para pasien.

Angin siang ini begitu sejuk, sesejuk pemandangan yang memenuhi penglihatan Ganesha dan Yahya. Melihat seorang gadis perawat yang dengan lembutnya mengurus pasien dan mengabdi pada pekerjaannya.

"Ngga mau di telfon aja bro?" tanya Yahya, Ganesha menggeleng tak ingin mengganggu pekerjaan Zahra. Tapi sepertinya Tuhan lebih memilih dirinya, bukan Yahya ataupun Ganesha yang mengganggu moment Zahra bersama oma Sopi.

"Ra, ini udah jam makan siang loh---kamu belum makan kan? Sini, biar oma Sopi sama aku!" suster Mia menyapa membuat Zahra dan oma Sopi mendongak.

"Ih suster Mia ini, ganggu aja!" omel oma sepaket bibir menggerutu, di kekehi Zahra.

"Oma, suster kesayangan oma itu belum ma'em. Kasian nanti pingsan terus sakit---ngga bisa nemenin oma lagi, nanti calon suaminya marah, terus nyuruh suster Zahra pensiun dari kerjaan gimana hayoo?!"

"Ah masa, emang iya suster Zahra mau nikah?" tanya oma Sopi.

Zahra tersipu malu, "ha-ha-ha. Kak Sopi nih, insyaAllah oma--minta do'anya aja!" jawab Zahra.

"Oalah, alhamdulillah. Yo wes makan dulu sus. Maaf oma selalu repotin sama rewelin suster Zahra," balasnya mengusap-usap pundak lalu berpindah ke pipi Zahra.

"Semoga lancar sampai hari H, jangan pensiun ya. Nanti kalo oma sakit, oma ngga ada yang urus!"

Zahra tertawa sementara suster Mia mencebik, "Ih oma, emangnya suster di sini cuma suster Zahra aja gitu?! Sebentar lagi kan suster Zahra dapet rolling ruangan--" gerutunya merengek pada om Sopi sambil berkelakar.

"Ya udah Ra, sana kamu makan dulu!"

"Oma sama aku dulu ya," lanjut Mia.

Zahra bangkit dari jongkoknya, "dadah oma!" Zahra kemudian meraba-raba saku pakaiannya, tapi lupa jika ia tak membawa ponsel dan meninggalkannya di loker.

"Duh, hape gue di loker!" Zahra lantas berjalan menuju lokernya, tapi baru saja ia sampai di persimpangan koridor Ganesha dan Yahya sudah berada di depannya.

"Sus, kalo ruang dokter spesialis cinta dimana ya?"

"Mana ad----" Zahra mendongak, "Ganesh?!"

Ganesha tertawa renyah, baru kali ini ia dapat tertawa pada seorang gadis.

"Kamu disini dari kapan?" tanya Zahra. Ganesh menyunggingkan senyuman penuh arti, Zahra nampak cantik dengan stelan dan nurse capnya, dandanan Zahra pun hanya sapuan make up tipis, ditambah pribadi lembutnya tadi, membuat Ganesh jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.

"Pak, gue ke parkiran aja lah! Ngga tahan godaan kalo disini," bisik Yahya.

"Ngga mau ikut ke kantin?" tanya Ganesh.

"Engga, gue makan di mobil aja. Takut ganggu!" Yahya langsung saja berlalu.

"Eh, itu bang Yahya mau kemana?" tanya Zahra.

"Mobil,"

Zahra berjalan beriringan bersama Ganesha, "ngga apa-apa kan kita makannya di kantin rumah sakit atau di deket-deket sini aja?" tanya Zahra tak enak hati, pasalnya ia belum tau Ganesha secara keseluruhan, takutnya jika selevel CEO macam Ganesha tak bisa makan di tempat remahan, bisa-bisa ia alergi atau bahkan tak selera.

Ganesha menggeleng, "oh ngga masalah. Aku engga se-CEO itu!"

Zahra tertawa renyah, "bagus deh! Soalnya kalo sama aku pasti ya begini," alis Zahra naik turun.

Zahra sesekali membalas senyum sapaan rekan kerja dan keluarga pasien juga staf rumah sakit yang mengenalnya, padahal tatapan mereka nakal dilemparkan pada pria yang berada di samping Zahra, seolah menggoda suster itu.

"Mau pesen apa?" tanya Zahra.

"Apa aja, samain aja kaya kamu." Ganesha duduk tanpa rasa canggung, ia membuka satu kancing jasnya agar membebaskan nafas.

"Ra,"

"Hm?" Zahra mendongak seraya mendorong suapan terakhirnya.

"Lusa aku keluar kota, lebih tepatnya keluar pulau. Ada project yang harus kuurus," wajah kalem dan teduhnya menatap Zahra.

"Oh, iya. Hati-hati kalo gitu, kabarin aku kalo memang kamu lagi ngga sibuk," jawab Zahra menelan kunyahan terakhir dan minum.

"Ra,"

Sebenarnya ada yang lebih penting yang harus ia sampaikan saat ini.

"Ya?"

"Kamu tau kan kalo amanah itu adalah janji?" tanya Ganesha.

Zahra mengangguk, "orangtua kamu, kedua kakakmu sudah meng-amanah'kan kamu sama aku, Ra. Di dunia ini kalau harus aku sebutkan semua kelebihan bang Dewa yang paling pertama ku sebutkan adalah rasa tanggung jawabnya,"

Zahra tau kemana arah Ganesh akan bicara, "aduh, jangan Dewa deh Nesh, aku mendingan pulang pergi sendiri atau sama temen deh. Kamu kan tau aku ngga pernah akur sama Dewa," keluhnya menolak.

Ganesha meraih tangan Zahra, "tapi aku akan tenang kalo kamu sama bang Dewa," pungkasnya menutup mulut Zahra.

"Dicoba buat akur ya Ra. Mau tak mau kelak nanti, kamu akan serumah dengan bang Dewa, mau tak mau bang Dewa akan jadi abang kamu juga," lanjutnya membujuk Zahra. Gadis itu menggembungkan pipinya, sebenarnya baik hati besar atau kecilnya ingin menolak permintaan Ganesha.

Sepertinya mulai sekarang Zahra harus menyiapkan stok sabar, amunisi ide absurd dan mental baja demi menghadapi calon kakak ipar lak nat.

"Kamu pergi berapa lama?"

"Seminggu kayanya," jawab Ganesh.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

lestari saja💕

lestari saja💕

hanya dalam teori teh sin kenyataannya ga semua nakes baik,kadang senyum aja pelit,ga semua cuma oknum aja yg mungkin nyasar jadi nakes.

2025-01-07

1

Devi KD

Devi KD

hati besar dimana posisinya ya yaaa???

2023-06-02

2

Lyta Mikaila Gunawan

Lyta Mikaila Gunawan

deg degkn tkut ganesh knpa2..

2023-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 LET'S TRY
2 JODOH PENGGANTI
3 DIANTARA SUNGAI YANG TENANG
4 SERANGAN FAJAR GANESHA
5 ULAH PERTAMA
6 BERBEDA PERANGAI
7 JEMPUTAN SE to the TAN
8 ADEK IPAR VS KAKAK IPAR?
9 KENA DEH!
10 TAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI
11 BEBAN YANG DIPIKUL
12 MENCOBA BERDAMAI
13 RUKUN TETANGGA KURANG WARAS
14 MENGUNJUNGI GEDUNG KANTOR
15 BERBAGI CINTA
16 SEPENGGAL TENTANG CYARA
17 RENCANA DEWA
18 VIBES
19 APAKAH CINTA SALAH SASARAN?
20 SIKAP IMPULSIF DEWA
21 PERCIKAN-PERCIKAN API
22 HITAM TAK BERARTI BURUK
23 CINTA TAK PERNAH SALAH
24 ILMU COCOKOLOGI
25 GENGSI SEBESAR GUNUNG
26 DEWA PENGUSIK JIWA
27 JANGAN DIPAKSA KALAU TAK MAU
28 BERI AKU KESEMPATAN
29 SIAP MENGACAUKAN HARI
30 DUA SEJOLI
31 PENGAKUAN
32 BICARA DARI HATI KE HATI
33 WELCOME BACK BROTHER
34 RENCANA LAMARAN
35 MENGKHIANATI KEPERCAYAAN
36 INDAHNYA JATUH CINTA
37 SEGINI TUH BELUM APA-APA
38 TES NGAJI ALA CIMOY
39 LAMARAN SE-RT
40 WELCOME DI GUBUK ANANTA
41 KELAKUAN SI CICAK PUTIH
42 TES PSIKOLOGI
43 BERBUNGA-BUNGA ATAU STRESS
44 ADA MANIS-MANISNYA
45 SEE YOU AGAIN, BEAUTY...
46 BIANG KEROK
47 SI MAMAUNG SI MAMACAN
48 TUNGGU AKU, RA!
49 GILANYA SEORANG IBU
50 KEDUA KALINYA
51 PENGACAU SUASANA
52 SAYA TERIMA....
53 SIMBIOSIS MUTUALISME
54 NOWHERE TO RUN
55 HAPPY WEDDING
56 BITTERSWEET (PAHIT)
57 RESTUI LANGKAHKU, BANG...
58 SELAMAT BERTUGAS, NERS...
59 BERBOHONG
60 STIGMA MASSA
61 SADEWA TERUSIK
62 ASSALAMU'ALAIKUM SLEEPING CHARMING...
63 DONATUR
64 PROFESIONAL
65 SOMETHING WRONG
66 SUPPORT SYSTEM ADALAH OBAT TERBAIK
67 ISOLASI BERDUA
68 PRESDIR VS CHEF
69 BELANJANYA CALON DADDY
70 DEWA CINTA
71 GODAAN
72 PERTAMA KALI KECEWA
73 PENYELESAIAN
74 MY LOVELY PRESDIR FROM THE MARS
Episodes

Updated 74 Episodes

1
LET'S TRY
2
JODOH PENGGANTI
3
DIANTARA SUNGAI YANG TENANG
4
SERANGAN FAJAR GANESHA
5
ULAH PERTAMA
6
BERBEDA PERANGAI
7
JEMPUTAN SE to the TAN
8
ADEK IPAR VS KAKAK IPAR?
9
KENA DEH!
10
TAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI
11
BEBAN YANG DIPIKUL
12
MENCOBA BERDAMAI
13
RUKUN TETANGGA KURANG WARAS
14
MENGUNJUNGI GEDUNG KANTOR
15
BERBAGI CINTA
16
SEPENGGAL TENTANG CYARA
17
RENCANA DEWA
18
VIBES
19
APAKAH CINTA SALAH SASARAN?
20
SIKAP IMPULSIF DEWA
21
PERCIKAN-PERCIKAN API
22
HITAM TAK BERARTI BURUK
23
CINTA TAK PERNAH SALAH
24
ILMU COCOKOLOGI
25
GENGSI SEBESAR GUNUNG
26
DEWA PENGUSIK JIWA
27
JANGAN DIPAKSA KALAU TAK MAU
28
BERI AKU KESEMPATAN
29
SIAP MENGACAUKAN HARI
30
DUA SEJOLI
31
PENGAKUAN
32
BICARA DARI HATI KE HATI
33
WELCOME BACK BROTHER
34
RENCANA LAMARAN
35
MENGKHIANATI KEPERCAYAAN
36
INDAHNYA JATUH CINTA
37
SEGINI TUH BELUM APA-APA
38
TES NGAJI ALA CIMOY
39
LAMARAN SE-RT
40
WELCOME DI GUBUK ANANTA
41
KELAKUAN SI CICAK PUTIH
42
TES PSIKOLOGI
43
BERBUNGA-BUNGA ATAU STRESS
44
ADA MANIS-MANISNYA
45
SEE YOU AGAIN, BEAUTY...
46
BIANG KEROK
47
SI MAMAUNG SI MAMACAN
48
TUNGGU AKU, RA!
49
GILANYA SEORANG IBU
50
KEDUA KALINYA
51
PENGACAU SUASANA
52
SAYA TERIMA....
53
SIMBIOSIS MUTUALISME
54
NOWHERE TO RUN
55
HAPPY WEDDING
56
BITTERSWEET (PAHIT)
57
RESTUI LANGKAHKU, BANG...
58
SELAMAT BERTUGAS, NERS...
59
BERBOHONG
60
STIGMA MASSA
61
SADEWA TERUSIK
62
ASSALAMU'ALAIKUM SLEEPING CHARMING...
63
DONATUR
64
PROFESIONAL
65
SOMETHING WRONG
66
SUPPORT SYSTEM ADALAH OBAT TERBAIK
67
ISOLASI BERDUA
68
PRESDIR VS CHEF
69
BELANJANYA CALON DADDY
70
DEWA CINTA
71
GODAAN
72
PERTAMA KALI KECEWA
73
PENYELESAIAN
74
MY LOVELY PRESDIR FROM THE MARS

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!