Zahra memasukkan seragamnya ke dalam mesin cuci, seraya menunggu cucian kelar gadis itu memilih untuk memasak mie.
"Defia---" ia mencari laci bertuliskan nama Defia dan membukanya, "wihh, penuh Fi!" seru Zahra melihat isian laci Fia yang tersusun rapi, ada mie dengan berbagai rasa, telur kornet, sarden dan saos kecap, juga abon.
"Baru belanja," jawab Fia yang mengekor dan masuk ke dalam toilet.
Tangannya tak lepas dari ponsel, sejak tadi hanya grup perawat di tempatnya bekerja saja yang ramai, tak ada pesan lain dari siapapun, padahal Zahra berharap Ganesh mengiriminya pesan.
Maaf kek, atau nanya udah sampe belum gitu, bibirnya melengkung tanda tak suka. Zahra menaruh ponsel di samping dekat rak piring, sementara ia mengaduk mie yang telah dicampur telur ke dalamnya. Menjadi anak kost memaksa Zahra untuk mandiri, ia bukan tak memiliki rumah, tapi jarak rumah yang lumayan jauh dari tempat kerja membuat anak juragan kopi ini memilih nge-kost.
Aroma mie instan bercampur telur menyeruak di penciuman, bagi anak kost inilah godaan makanan terlezat di akhir bulan. Ia duduk di ruang tamu dengan bersila lalu menyantap mie-nya.
Dewa langsung saja nyelonong ke meja makan, pembatasan kartu kredit dan fasilitas berdampak pada kebiasaannya, jika biasanya ia tak pernah ada di rumah pada jam makan siang, dan lebih memilih makan di luar maka kini mau tak mau ia harus makan di rumah demi menghemat uang.
Ica terkekeh melihat putranya itu kembali dan sudah duduk di ruang makan lewat pintu garasi. Seumur-umur memang Dewa jarang sekali menggunakan pintu depan, seolah tak paham dengan fungsi pintu depan.
"Kalo masuk tuh ucap salam dulu! Kamu bukan ayam," imbuh Ica.
Dewa terkekeh, "assalamualaikum ibu Ica,"
"Kimvritt," gumam Ica pelan.
"Waalaikumsalam anaknya Jihad," jawab Ica.
"My, sampai kapan fasilitas abang dicabut. Udah kangen clubing, cari hiburan!" Ia mencomot perkedel jagung buatan Ica bersama asisten rumah tangga.
"Sampai kamu insyaf dan ngga clubing lagi! Hiburan tuh banyak, bukan cuma clubing!" sengitnya menjawab.
"Tuh maen combe ran depan komplek juga hiburan! Main air di Ancol jagain anak-anaknya kak Ara juga hiburan tersendiri!" jawab Ica menaruh piring di atas meja.
Dewa berdecak, yang benar saja. Dirinya jadi nanny? Dunia sedang main ludruk. Mana anak kak Ara itu bandelnya bukan main, pernah sekali dijambak oleh Yuda anak bungsu kak Ara dan dipipisinya. Alhasil kencannya ditertawakan oleh sang pacar karena bau pesing. Dia benci anak kecil! Ingin sekali ia gantung di pohon kedongdong.
"Ganesh mana? Daddy?" tanya Dewa.
"Masih ngantor, kelak kamu harus berbagi peran sama Ganesh!" tandas momy Ica tak ada penawaran lagi.
Assalamualaikum, hay Ra! Maaf seharian kemarin aku sibuk sampe lupa hubungin kamu. Maaf juga pagi ini aku ngga bisa jemput kamu---pagi ini dijemput bang Dewa lagi ya, gimana?
Mata indah itu membola sebesar biji jengkol, mendadak kecepatan jari Zahra secepat kalo superman lagi kebelet kawin.
Engga usah, Nesh. Aku bareng temen pagi ini, ini udah nunggu!
Oh, oke. Nanti makan siang aku jemput ke rumah sakit gimana?
Boleh.
Fiuhhhh! Zahra bisa bernafas lega, karena nyatanya Ganesh tidak memaksanya untuk dijemput Dewa, ditambah makan siang nanti Ganesha akan menyambanginya di rumah sakit.
Dengan segera ia memesan ojek online untuknya berangkat, karena dadakan ia tak sempat nebeng pada Defia.
"Tau gini gue nebeng Fia tadi," Zahra mempercepat gerakannya lalu bergegas memakai sepatu. Melirik jam yang sudah semakin bergerak ke kanan.
Bukan hanya Zahra saja rupanya yang sibuk pagi-pagi. Sepertinya hampir separuh penghuni galaksi ini juga sibuk kalo pagi-pagi termasuk Dewa dan Ganesha.
"Nesh, jangan lupa janji lo!" kedua orangtuanya saling lirik.
"Janji apa?" tanya Jihad.
"Sekertaris baru dad," jawab Ganesh mendorong sesuap nasi ke dalam mulut.
"Loh, emang yang lama kenapa?" tanya Jihad.
"Kurang berkompeten---" jawabnya so iye, bahkan Ganesh sudah menggelengkan kepalanya.
"Ah masa?! Setau momy karyawannya daddy ngga ada yang bermasalah selama ini, fine--fine aja," Ica mengerutkan dahinya.
"Kurang sexy--" timpal Ganesh datar dan dengan santainya, membuat kedua orangtuanya itu seketika membeo. Sementara Dewa melemparkan tatapan mendelik sinis pada Ganesh.
"Kamu tuh mau kerja apa mau liatin majalah dewasa, pake sekertaris segala harus sexy!"
"Biar semangat my kerjanya, biar mata tuh fresh gitu liat setumpuk kerjaan, kalo yang tua-tua tuh bawaannya pengen ngirim ke panti jompo!"
Pletak!
Ica mendaratkan sendok ke atas kepala Dewa. Lain halnya dengan Jihad yang tertawa, "sip! Bener banget, kali ini daddy setu buh! Eh setuju!"
"Abang ih!" matanya menatap menusuk Jihad.
"Turunan kamu tuh, kaya gitu. Senengnya kan cari yang seger---seger!" Jihad berpendapat.
"Kok aku, abang kaliii!" balasnya berkilah.
"Lupa ya yang suka dada sixpeck siapa?" bisik Jihad.
"Dihh, engga ya!" tolak Ica tak mau disalahkan atas kelakuan Dewa.
Dewa sudah duluan dengan motornya.
"Nesh!" panggil momy Ica.
"Iya my?"
"Zahra mana? Kamu jemput kan?" tanya Ica. Ganesha menggeleng, "hari ini engga my, tapi nanti kita ketemu waktu lunch,"
"Oke, salam buat Zahra."
"Oh iya, sayang. Momy mau bilang sesuatu---" Ica memainkan jemarinya dengan sorot mata yang tak bisa menjelaskan.
"Kenapa my? Momy sakit? Mau Ganesh atau Yahya anter?" tanya nya khawatir, Yahya bahkan sudah mendekat, namun Ica menggeleng.
"Momy cuma mau bilang, jangan kamu penuhin permintaan abang kamu itu," balas Ica, Ganesha tersenyum penuh arti, "kirain apa. Momy ngga usah khawatir, Ganesh ngga mungkin jerumusin abang sendiri," jawabnya membuat perempuan yang sudah melahirkannya itu tersenyum simpul.
"Kalo gitu Ganesh pamit my, udah telat."
"Hati-hati Ya, bawa mobilnya!"
"Siap tante!" diokei Yahya.
Yahya melirik Ganesh dari kaca spion, "bro, lo yakin mau menuhin permintaan Dewa, terus pesan tante Ica gimana?" tanya Yahya.
"Gue ngga akan ingkar janji sama bang Dewa, tapi gue juga ngga sebo doh itu buat menuhin keinginan bang Dewa---" ia tersenyum miring.
"Maksud lo?" Yahya mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan rencana bosnya itu.
Dewa berjalan seraya bersiul gembira menuju lantai dimana ruangannya berada, cuaca cukup bersahabat untuknya menandakan jika hari ini adalah lucky day untuknya.
Tanpa firasat yang berarti ia masuk ke dalam lift bersama beberapa karyawan lain yang ikut menyapanya, "pagi pak!"
"Pagi," jawabnya singkat, sebenarnya para karyawan kaum hawa cukup terpesona dengan pak presdir satu ini, hanya saja sikapnya itu yang bikin geleng kepala.
"Ganteng---" bisik mereka termasuk salah satu karyawan yang berdiri paling belakang begitu gemas melihat Dewa, ia mengeratkan jas yang nampak pas di badan gempalnya dan celana jeans skinny berwarna biru. Tak ada dasi yang mengikat di leher, karena ia lebih memilih kaos polos berwarna merah jambu.
Saat Dewa keluar dari lift, ia pun ikut keluar, berjalan anggun bak model di atas catwalk. Sadar jika sedang diikuti Dewa berbalik badan dengan gerakan menyerang.
Ia bahkan hampir melayangkan pukulannya pada orang di belakangnya itu,
"Eh copot---copottt!" serunya terkejut.
"Siapa lo?!" sengit Dewa memiting lehernya.
"Aduh pak, ini leher saya kecekek!" ia mencoba berontak tapi Dewa membuat gerakan kuncian.
"Saya---saya Miki pak, baru bekerja disini, hari ini---sebagai sekertaris presdir, pak Dewa---"
"Anj---immmm! Ganesh!" umpat Dewa.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
jumirah slavina
mamam tuh yg syantik dan sekseh
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-10
3
Lalisa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-10-22
1
Lalisa
😅😅😅😅😅
2024-10-22
0