Dewa menyalakan sebatang rokok tepat di depan ruang instalasi gawat darurat, ia tak mau bersusah payah atau bermahal-mahal ria menjemput Zahra dengan mobil.
Bangunan rumah sakit peninggalan jaman Belanda berkuasa yang sudah direnovasi ini adalah tempat bekerja Zahra, ia menghembuskan asap rokok sehingga mengepul di depan muka.
Zahra berjalan dengan masih memakai pakaian perawatnya sambil ketawa-ketiwi ngakak bareng rekan sejawat sebagai pelepas penat.
"Zahra!" teriak Dewa, memiliki suara lantang kenapa ngga dimanfaatin cobak daripada mesti repot-repot menghampiri!
Mereka menoleh ke arah sumber suara, dimana Dewa yang anteng dengan gaya sengaknya merokok cakep di atas motor.
Matanya seketika mengilat bak cutter melihat wajah mirip Ganesh tapi bukan. Ia tau itu pasti si semprul Dewa.
"Ra, siapa? Ganteng tau, gondrong-gondrong pengen nyugar! Rawrrr!" bisik Indah.
"Gondrong-gondrong pingin jambak!" desis Zahra.
"Ya udah deh, aku duluan kalo gitu Ndah, Put!"
"Dadah!" mereka berdadah ria. Sementara Zahra dengan wajah sekeruh selo kan depan menghampiri Dewa, pemuda ini menyerahkan helm pada Zahra lalu memerintah, "naik! Hari ini gue yang jemput. Si Ganesh sibuk ketemu klien!"
"Heh gondrong!!" Zahra menepuk jok belakang motor Dewa keras.
"Ngga liat disini tuh dilarang parkir?! Bisa baca ngga sih, main parkir seenak udel, dikira rumah sakit nenek tiri lo?!" sengitnya menunjuk papan marka tanda P dicoret.
Dewa mengedarkan pandangannya, "engga. Elah, cuma numpang bentar! Males parkir, kejauhan, bayar pula. Lagian itu juga ambulance parkir sah-sah aja tuh !" ia menepis udara.
Zahra heran saja, otak pemuda ini terbuat dari apa, kok ya bo doh tuh diborong semua!
"Mentang-mentang otak diskonan jadinya kaya gini nih! Makanya kalo sekolah tuh jangan cuma ampe gerbang doang!" gadis itu bersungut, lama-lama ia jambak juga rambutnya.
Dewa sudah menduganya, menjemput Zahra tak akan semudah menggali upil. Sudah pasti mereka akan ribut, hal sekecil apapun bisa menjadi pemicunya, bagi Dewa maupun Zahra masing-masing mereka adalah bom waktu. Kalo ketemu ya meledak, merepet pula kaya petasan korek.
"Lo, bukannya makasih udah gue jemput juga! Jadi mau ngga nih, atau gue balik lagi?!" ancam Dewa hampir saja membantingkan helm miliknya, untung inget kalau tuh helm dapet beli pesen desainnya khusus dari negri Italia, bahan-bahannya dari Brazil, resmiinnya di Spanyol meski akhirnya dijual di Tanah Abang, bingung kan? Sama gue juga.
Seumur hidup seorang Zahra tak pernah mengenal kata merendah pada makhluk sekelas jin ivritts, "ya udah tinggal aja, toh tiap hari juga balik sendiri! Mati aja sendiri," Zahra berbalik badan ke arah jalanan besar berniat menyetop angkutan umum untuk pulang. Ia yang terbiasa mandiri tak akan kesusahan meski sebenarnya pun ia seorang putri dari klan Ananta yang kalo mau, sekali tunjuk supir angkot se DKI raya langsung nyamperin.
Dewa yang merasa kalah, berdecih kasar. Ia tak biasa dikalahkan oleh seorang gadis, ditolak setengah mentah begini adalah tamparan untuk harga dirinya.
"Gendut! Fatty!" teriaknya macam ibu-ibu yang lagi neriakin tukang kredit. Sementara Zahra berpura-pura tuli saja, menganggap jika teriakan Dewa adalah bisikan setan yang harus ia buang jauh-jauh, malah mungkin harusnya ia lempar pake batu sebesar-besar batu pondasi macam lagi lempar jumroh.
"Abang!" ia berhasil menyetop angkutan menuju kost'annya.
"Eh! Ngga main-main tuh cewek! Ampunn deh, mimpi apa gue ketiban si al begini!" Dewa segera memakai helm-nya dan menyusul angkutan yang membawa Zahra, setidaknya hal positif yang dimiliki Dewa adalah bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya saat itu, sebagai seorang lelaki ia pantang meninggalkan atau mengabaikan pekerjaannya.
"Auto ngilang dong sekertaris sexy!" gumamnya mengejar dan menggeber gas motornya.
Zahra duduk merapat bersama penumpang lain di dalam angkot, sementara di belakang Dewa membuntutinya seperti ekor kadal.
"Ra! Turun peak!" teriak Dewa beradu dengan angin, menyamakan laju motornya dengan angkot dimana kaca jendela bagian Zahra duduk terbuka selebar celah buat pebinor.
Zahra melirik ke sampingnya, "Udah, pulang sono! Lo kira gue bakalan mewek bombay, masih banyak kendaraan di Jakarta selain motor butut lo itu!" jawab Zahra, sementara Dewa membagi fokusnya dengan jalanan di depan takut jika menabrak kendaraan lain.
"Lo turun gembrot! Kalo engga imbalan jemput lo angus!" balas Dewa sewot.
Zahra malah mengejeknya, "bo do! Emang gue pikirin!"
"Awas lo ya! Kalo sampe gue bisa berentiin nih angkot, gue cekek lo!" ancam Dewa lagi. Jauh dari sifat Ganesh yang lembut, Dewa terkesan kasar pada perempuan.
"Sebelum lo cekek gue, gue bakalan suruh nih angkot buat nabrak lo sampe remuk ngga bersisa!" tak mau kalah Zahra kembali membalas. Bahkan kini pertengkaran mereka menjadi tontonan seru siang hari bagi para penumpang dan pengguna jalanan lainnya.
Baru saja berucap seperti itu, mereka harus dikejutkan dengan suara tabrakan.
Brakkk!
Gedebugh!
"Awww!"
Bukannya menolong Zahra malah menertawakan, "ha-ha-ha, rasain! Byeeee!" ia melambaikan tangan seiring semakin menjauhnya angkutan umum.
"Si alan!" aduh Dewa mencoba bangun.
"Aduh mas! Gimana sih nyetirnya. Makanya kalo lagi marahan sama pacar jangan nyetir!" sengit si ibu begitu tersentak saat body motor belakangnya ditabrak tanpa perasaan oleh Dewa.
"Maaf mbak--maaf!" Dewa meringis mengangkat kembali motornya yang menabrak pan tat sepeda motor lain, untung saja laju motornya lambat.
"Ganti mas! Ini kalo ke bengkel pasti disuruh ganti!"
"Iya mbak, lagian mbak juga yang salah, nge-rem kok dadakan! Mana saya tau kalo mbak nge rem dadakan!" debatnya meski tak mengurungkan niatannya menyerahkan dua lembar pecahan seratus ribu. Toh motornya cuma lecet-lecet dikit, beli cat kayu aja beres!
"Oalah! Gaya apik tenan, tapi duitnya nehi!" sarkas si ibu, kembali melajukan motor setelah menyambar kasar uang dari Dewa, emak-emak memang raja jalanan. Raja jalanan sepertinya saja kalah telak kalau sudah menghadapi ras terkuat di bumi itu.
"Gegabah banget tuh emak, bilang gue nehi," dumel Dewa.
Jangan sebut ia Dewa jika tak bisa mengejar Zahra. "Lo mau main-main sama gue, nona! Maka lihatlah saat gue bermain!" ia menggeber mesin motor prototipe motor GP itu. Bunyi deru mesinnya saja tak kececes layaknya motor normal pada umumnya.
Ckittttt!
"Woyyy! Saravv nih orang!" hujat supir angkot bersama penumpang lain, terang saja mereka murka wong isian angkot udah mbrejel kaya isian lontong yang di r3 mas, Zahra saja sampai terantuk ke penumpang lain untung saja tak langsung amnesia. Pemuda ini memang nekat, sesuatu yang memang ia inginkan harus ia dapatkan. Ia sengaja memotong lajur angkot.
"Sorry!" jawab Dewa turun dari motor.
"Ra, turun!" pinta Dewa melongokkan kepalanya masuk ke dalam angkot, wajah-wajah tak bersahabat mereka lempar untuk pengendara motor ugal-ugalan ini.
"Maaf ibu-ibu, bapak-bapak, abang-mpok! Saya cuma mau jemput istri saya aja. Biasa masalah rumah tangga, lagi marah gara-gara uang belanja saya pake buat tog3l!" ucap Dewa membuat Zahra terkejut.
"Ooo!"
"Mpok, kalo ada masalah sebaiknya dibicarakan baik-baik," seorang ibu dengan menggendong anak dan membawa serta belanjaan memberikan wejangan pernikahan untuk Zahra, gadis ini semakin dibuat malu oleh Dewa.
"Tapi dia---"
"Udah ma! Turun dulu yu cinta, maaf ya semuanya!" angguk Dewa sopan meredakan wajah-wajah monster undur-undur dan menarik tangan Zahra dari angkot. Karena sudah tersudut Zahra akhirnya turun dan membayar ongkos angkot.
"Si alan!!" desis Zahra.
Dewa tertawa, "sampai kapanpun ngga akan ada yang mampu mengalahkan seorang Dewa. Dan lo gembrot, ngga akan bisa ngalangin gue buat bisa dapet sekertaris sexy!"
"Ayo naik!" titahnya tak mau dibantah.
"Seumur-umur gue ngga mau punya kakak ipar macam manusia kerak neraka kaya lo!"
"Aamiin!" jawab Dewa tertawa melihat wajah manyun Zahra.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Hafshah
sengklek emang
2025-02-11
0
jumirah slavina
"cinta.... cinta.... cinta dengkulmu..."maki Zahra ketus"
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-10
3
jumirah slavina
sokorrrr.....🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-10
2