Ganesha begitu menghormati Zahra dengan berjalan di sampingnya, melindungi Zahra dari segala macam bahaya, meskipun tak tau akan ada bahaya apa wong mereka hanya berjalan dari meja sampai ke pintu masuk resto.
Ganesha tak menyangka jika si bocah gemuk itu menjelma jadi gadis yang cantik, nan sopan. Tangan besarnya membuka pintu mobil untuk Zahra.
"Thanks,"
"U are welcome,"
Jalanan mulai terlihat mundur tanda mobil sudah bergerak, menembus kota yang sudah sejak Zahra menginjakkan kakinya untuk pertama kali saja sudah sering macet.
"Tugas di rumah sakit mana?" tanya Ganesha mencoba mencairkan suasana biar ngga kaku kaya kocokan telur putih.
"DR. Cipto Mangunkusumo," jawabnya, Ganesh mengangguk berbangga diri--pasalnya rumah sakit itu adalah rumah sakit berakreditasi Internasional.
"Wauww, you amaze--" puji Ganesh.
"Harus!" jawab Zahra mengangguk pasti.
"Abang-abangku punya segudang prestasi untuk negri, masa aku kalah--malu sama status bungsu!" lanjutnya memang selalu memukau sejak tk.
"Oh, abangmu yang istrinya model itukah? Yang beberapa bulan belakangan pernah jadi model iklannya salah satu properti punya tante Kara sama momy?" tanya Ganesh.
"Kak Eyi? Maksudku Eirene lovely, yap! Itu istri abangku yang nomor 2, dia sekarang sudah berpangkat Mayor angkatan marinir---abangku yang nomor satu beliau komandan batalyon di timur negri--" jelas Zahra.
"Zahra dokter kah?" tanya Yahya dari kursi pengemudi, gatal juga lidahnya jika tak ikut bicara.
"Perawat," jawab Zahra mengangguk singkat. Oke! Sejauh ini obrolan singkat bersama Ganesh cukup kalem dan nyaman, entah ke depannya. Dari dulu Ganesh memang tipe anak yang kalem, baik, ramah dan hangat, sehangat kopi susu tidak seperti---ck! Zahra sampai memutar bola matanya inget lagi! Inget lagi kan sama si kacroet!
Zahra memandangi jalanan di luar jendela, karena rupanya suasana jadi canggung sekarang, Ganesh memang berkharisma tapi itu juga yang membuatnya jadi sedikit canggung, sama halnya dengan Al Fath---ia lebih hormat pada kakak pertamanya ketimbang Rayyan yang usil, nyablak dan nyebelin tapi Zahra justru lebih dekat dengan si mantan playboy itu, yang kini ia adalah bucin kakak iparnya Eyi, ketimbang Al Fath. Seperti ada batas yang tak nampak untuk bercanda sebegitu dekatnya dengan abang nomer 1 nya itu.
Zahra menunjukkan letak kost-kost'annya pada Yahya. Kost-kost'an yang cukup nyaman, dengan fasilitas lengkap dan halaman luas. Wajar saja, Salwa selalu selektif untuk urusan anak-anaknya, termasuk jodoh! Seperti yang sekarang terjadi pada Zahra.
Ganesha memanjangkan lehernya, ke arah depan, "ini tempatnya?"
"Iya," Zahra sudah bersiap turun. Ganesha ikut turun dari mobil demi melihat kondisi kost'an.
"Nyaman, disini kost'annya campur?" tanya Ganesha membuat gelengan kepala Zahra.
"Cuma buat cewek aja," balas Zahra.
"Bagus! Jadi aman lah."
"Kalo gitu aku masuk ya, salam buat tante Ica sama om Ji--" ia tersenyum manis, Yahya bahkan sudah berdehem dan tersenyum-senyum sendiri ikut gemas.
"Eh tunggu! Kita belum tukeran nomor. Besok kamu kerja?" tanya Ganesh.
Zahra mengangguk tersenyum, "iya. Pagi by the way---" ia mengeluarkan ponselnya.
"Oke, nanti ku jemput biar sekalian berangkat bareng--" ucap Ganesh, Zahra tersenyum, be gentle!
"Ya udah, aku masuk ya!" Zahra melambaikan tangannya kemudian berlalu masuk.
"Akhiwww, roman-romannya ngga akan nolak dijodohin nih?" ucap Yahya saat keduanya kini melihat punggung Zahra sudah hilang di pagar rumah kost.
Ganesha mendengus geli, memang benar apa yang dikatakan Yahya, ia tak akan menolak jika dijodohkan dengan Zahra, gadis itu benar-benar menjadi top list di daftar wanita idamannya.
"Wah, pantesan dari tadi berasa nyiumin bau kembang---pak bos lagi spring party?" ledek Yahya menggodanya, si kalem Ganesh hanya menggeleng dan meninju bahu Yahya lalu kembali masuk ke dalam mobil, begitupun Yahya yang menyusul.
"Kayanya sih gue suka, tapi dirasa-rasa aja dulu. Biar cinta mengalir dengan sendirinya seiring waktu!" mendadak bos muda itu berubah jadi pujangga cinta era 90'an, puitis-puitis pengen belai.
"Siap punya pendamping yang ngelonin nih tiap malam--ha-ha-ha!" kembali ejeknya.
Dewa mencebik kesal, bila umumnya rapunzel itu perempuan lain halnya versi Dewa, di kurung di menara dengan naga terbang yang menjaga, yaitu ibunya sendiri.
"Kamu tuh bisa berubah ngga sih bang, aduhhh! Ampun momy mah, kapan sih momy ngajarin ngga bener?! Ini nih kalo dibebasin kaya begini, kelakuannya liar kaya monyet Madagascar!"
Ceramah 7 purnama harus memenuhi ruang di otak Dewa saat ini dari Ica.
"Mom, ini tuh negara bebas, udah lah ngga usah lebay. Lagian abang ngga nyusahin orang! Selama masih waras dan dalam taraf normal *i'm tottaly fine*! Untuk masalah perjodohan, ini bukan jaman Sangkuriang!"
Jihad sampai tersedak kopinya, sejak kapan Sangkuriang di jodohin? Otak sableng Ica emang jadi gen paling kuat yang nempel di Dewa.
"Ngaco! Yang dijodohin tuh bukan Sangkuriang! Tapi Cinderella!" udah salah nyolot pula, itulah Ica. Setahun lagi begini, ia bisa mendadak botak. Dewa tertawa mendengar ocehan ibunya, dengan acuh ia membuka kulkas dan meraih botol air mineral dingin, langsung meneguknya dari situ tanpa takut bekasnya diminum juga oleh yang lain. Toh ia tidak punya penyakit menular.
Merasa tak dianggap, ocehannya dianggap suara radio butut, Ica mendekat, dengan gaya khas ibu tiri ia berkacak pinggang.
*Geplokkk*!!!
Uhukkk! Dewa sampai tersedak dan memuntahkan air di mulutnya, "momy!"
"Kalo orangtua ngomong dengerin! Mulai sekarang, fasilitas momy cabut semua! Kamu harus ikut kerja bareng Ganesh di kantor daddy, gimana nanti sama istrimu kelak kalo kelakuan kamu mirip dakjal begini! Mau di taro dimana muka momy sama daddy!"
Dewa tersenyum jahil, "di sini!" ia menunjuk lubang hidungnya lalu berlari ke arah lantai atas dimana kamarnya berada.
"Dewaaaaaaa!"
*Nyut--nyutt--nyuttt*, kepala Ica sampai nyut-nyutan karena kesal. Salahnya yang terlalu sering bertengkar dengan bang Galih, makanya Dewa jadi 11 12 seperti kakaknya itu.
Jihad tertawa, jika dulu Ica akan bertengkar dengannya, kali ini ia akan bertengkar dengan campuran dirinya dan diri Ica sendiri.
Jihad memeluk Ica dari belakang, "rangkul dia dengan kasih sayang bakwan. Kalo semakin dikerasin, semakin ngelawan pula! Kembar bukan berarti harus sama karakternya, Dewa memang anugrah untuk melatih kesabaran kita sebagai orangtua yang Allah kasih,"
Ica menghembuskan nafas lelah dan memijit kedua pelipisnya, "ya udah. Abang mau mandi kan? Biar aku siapin air angetnya,"
Ia tersenyum miring, "mau nambah dulu pahala ngga, biar ngga stress juga? Kita lepaskan hormon-hormon kebahagiaan?!" alisnya naik turun membuat Ica mencebik, tau betul ia modus Jihad dari dulu.
"Modus!" Ica membenturkan kepalanya pada kepala Jihad, Dughh!
"Bakwannn!"
Dewa menjatuhkan badannya begitu saja, jika sudah berkata sudah pasti momy dan daddynya akan melakukan itu, keduanya tak pernah main-main dengan semua keputusan meskipun bernada guyonan.
Mulai besok ia akan bekerja di kantor daddy bersama Ganesh, dan mungkin saja sebagai kakak ia pun hanya akan jadi bawahan Ganesh. Memang atas keinginan-nya, yang tak mau ikut andil mengurusi kantor daddy selama ini, jadi jika sekarang Ganesh lebih paham seluk beluknya jangan salahkan Ganesh. Ia bukan kakak yang gila harta dan jabatan sampe dengki sama adek sendiri.
Dewa memejamkan matanya hingga tak sampai 15 menit ia sudah berada di alam mimpi.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Dari sini menurut pandangan ku,Ganesh mencoba untuk menerima perjodohannya dgn Zahra..Tapi di hatinya masih ada Cyara apa gak ya..
2025-01-14
0
Qaisaa Nazarudin
Eleh.. sekarang aja ngomong nya kek gitu,Tapi hujung2 nya jadi Pebinor adek sendiri,heran deh aku..
2025-01-14
0
Siti Nina
Ampun deh ah ngakak mulu 😂😂😂😂😂
2025-02-22
1