Zahra menggelengkan kepalanya demi mengusir semua pikiran buruk. Jika perlu akan ia panggil om Hao biar aura negatif ikut terusir.
Setelah masuk gedung rumah sakit, maka ia harus melepas semua masalah pribadinya. Kepentingan masyarakat diatas segalanya, bersikaplah profesionalitas, tinggalkan masalah rumah di depan pintu gedung.
"Ra!" sapa beberapa perawat lain.
"Ra, sini! Nyemil dulu sini, si botak bawa oleh-oleh abis cuti," ujar perawat Mia bersama yang lain di meja penerimaan pasien depan bangsal lantainya bertugas. Zahra setengah berlari menghampiri. Bau etanol bersatu dengan pengharum ruangan menyerbu penciuman setiap orang yang berada disini.
"Gue ganti baju dulu deh, sisain!" ujarnya melengos ke arah kamar mandi.
Inilah ia jika diluar, menjadi apa yang ia mau. Lain halnya jika di rumah keluarga Ananta, Zahra akan menjadi gadis kecilnya umi dan abi. Di sini, ia adalah perawat, melayani pasien tanpa membedakan ras, agama ataupun suku.
"Cieee! Suster Zahra, hari ini pindah bangsal nih yee!" goda Mia di kekehi oleh teman sesama perawat, ada sekitar 4 orang disini selebihnya sedang bertugas.
"Oma Sopi gimana Ra?" tanya Putri menyedot jus miliknya.
"Ada kak Mia," Zahra ikut mencomot makanan di depannya.
"Emang kapan Afif balik gitu, gimana sama ibunya?" tanya Zahra.
"Tadi siang, alhamdulillah udah mendingan," jawab Putri.
"Hati-hati Ra, bangsal Kenanga banyak cerita angkernya," gidik Asri.
"Cih, pada sering dengerin podcast horor nih!" sahut Zahra.
"Kemaren bangsal itu penuh loh Ra, ada pasien patah tulang yang ngga ditungguin pihak keluarganya," jelas Indah.
"Oh iya yang cowok ganteng itu ya!" tawa Putri.
"Huuu! Yang ganteng selalu diingat!" seru mereka.
"Iyalah, gimana ngga inget. Pas masuk IGD, pas banget Putri yang nangani sama dokter Farhan," Putri menjawab dengan nada gemas.
Zahra melirik jam di tangan, "udah masuk jam kerja ah! Ini gue bawa buat ntar ya," Zahra mengambil beberapa bungkus cemilan oleh-oleh dari Afif.
"Makasih atas kerjasamanya wan--kawan di bangsal ini, semoga kita dapat berjumpa kembali---" kelakar Zahra.
"Cih, Cimvrit---kaya yang mau kemana aja, awas kalo ngga balik lagi kesini Ra! Kita gosipan bareng-bareng!" seru Mia.
"Salam buat si ganteng Ra, kalo ngga salah namanya Angkasa deh, kalo dia mau mandi coba panggil aku Ra," tambah Indah.
"Mau lo!" Mia mendorong pelan kepala Indah.
Zahra mengacungkan jempolnya di udara seraya terus berjalan meninggalkan bangsal yang sudah ia jaga selama hampir beberapa lamanya, ia melewati beberapa anak tangga dan menyebrang dari gedung satu ke gedung lainnya yang terhubung oleh tembok beton sebagai jembatan.
Rasa kantuk dan lelah menjadi godaan saat tugas jaga malam begini, belum lagi pasien yang terkadang minta diantar ke kamar mandi, atau mengganti cairan infusan yang sudah habis, untungnya ia bukan berada di bangsal anak yang harus mendengar tangisan anak-anak sampai kepala terasa mau pecah.
Zahra duduk bersama rekan perawat lain, "Ra, mau dibikinin kopi ngga biar sekalian?" tanya Mawar.
"Boleh deh, kalo ngga repotin. Makasih ya," Zahra nyengir.
"Gue tinggal dulu ya Ra," Mawar berjalan menjauh dari tempat mereka meninggalkan Zahra sendiri, di tengah malam. Disaat semua orang sedang enak terlelap di atas kasur empuk, ia bersama tenaga medis lainnya harus tetap terjaga dan selalu siaga.
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Zahra.
Ganesha
Malam Ra, semangat dinas malamnya ya.
Tapi anehnya sampai detik ini, belum ada vibes yang bikin Zahra greget seperti kata orang-orang, pesan Ganesha yang terkesan memberinya semangat ini hanya seperti pesan-pesan operator yang masuk untuk memberikannya info jika nomornya akan memasuki masa tenggang atau sekedar pesan penipu dengan modus hadiah undian. Apakah cintanya salah sasaran? Degupan jantung tak karuan saat ia sedang bersama Dewa.
Zahra
Iya, makasih.
Zahra melirik jam yang menunjukan pukul 1 dini hari.
"Ganesha ngga tidur ya?" tapi tak ada niatan Zahra untuk menanyakannya.
Mawar sudah kembali membawa serta dua cangkir kopi untuk keduanya. Baru saja cangkir kopi itu ia taruh, bel berbunyi pertanda salah satu pasien memencetnya.
"Biar Zahra aja War," ia beranjak dari duduknya.
Zahra mencari ruangan darimana bel tadi berbunyi, ia mendongakkan kepala ke arah atas pintu, "kamar 7B," tangannya membuka handle pintu kamar.
Tangannya tergerak menyalakan sakelar lampu, matanya disambut dengan pemandangan sesosok pasien dalam balutan perban di sebagian kaki, tangan dan penyanggah tulang kering, mata Zahra melihat papan nama pasien, Angkasa. Jadi ini si pasien ganteng yang disebut para rekan perawat tadi. Rambutnya sedikit gondrong, begitupun telinga yang dianting, wajah-wajah sangar macam anak gengster.
"Sus, saya aus---ini labu infusan juga kayanya udah mau abis," ucapnya parau nan lemah.
"Oh iya, sebentar." Senyuman manis nan ramah selalu ia tampilkan meski raga lelah dan mengantuk.
Gerak-gerik Zahra tak lepas dari netra gelap Angkasa, ia membantu Angkasa untuk minum dengan sedotan, lantas menaruhnya kembali saat Angkasa melepaskan sedotan dari bibirnya.
"Saya ambil dulu cairan infus baru ya," ujarnya diangguki pemuda itu, melihat Angkasa tiba-tiba ia jadi mengingat.....Dewa! Oh come onnn! Dewa again! Otaknya sudah tercemari virus Dewa.
Malam mulai terlewati, jarum jam menunjukkan pukul 2 lewat 15 menit. Tapi ponsel Zahra malah ramai dengan serbuan chat, ia mengklik icon whatsapp foto para perawat termasuk dirinya, beberapa puluh chat dari nama grup '***Suster Ngesot***' dimana isinya adalah para perawat bangsal sebelumnya. Sudah hal biasa jika mereka malah mengobrol demi mengusir rasa sepi dan mengantuk, belum lagi tingkah usil para perawat yang dinas pagi malah menceritakan hal-hal seram demi menakuti rekan yang sedang bertugas.
"*Selamat malam RSCM! Buat para suster keramas yang dinas malam, di mie instan'in dulu ah*!" chat dari Puja mengawali kegaduhan grup ini.
"*Mauuu*!" seru Mia.
"*Ati-ati di belakang tuh, ada sosok item*!" balas Putri.
"*Maksud lo pak Eman security*?" timpal Asri.
"*Sab leng! Mentang-mentang pak Eman badannya gede plus item, manis-manis kopi Robusta loh*!" jawab Ineke.
"*Ilang manisnya tinggal ampasnya dong*!" balas Zahra. Suara telfon disana membuat Zahra mengalihkan perhatiannya pada Mawar yang mengangkat telfon, rupanya dari ruangan IGD.
"Siap," jawab Mawar.
"Kenapa War?" Zahra memasukan ponsel ke dalam tas.
"Ruangan IGD minta perawat dari bangsal ini buat bantu, katanya sih ada calon penghuni baru di bangsal ini yang baru aja datang Ra,"
*Teettt*!
Bel berbunyi dalam waktu bersamaan,
"Yang lain lagi pada cek pasien ada juga yang ke bawah ke ruang obat sama ngambil peralatan, biar buat IGD Zahra aja War, kamu jawab aja itu panggilan pasien," usul Zahra beranjak diangguki Mawar. Ternyata kecelakaan memang terjadi hampir setiap hari.
"Oke Ra, minta tolong ya!" Mawar berlalu masuk ke dalam bangsal. Sementara Zahra hampir setengah berlari menuju ruang IGD .
Suasana ruangan yang memang selali sibuk dibandingkan ruangan rawat itu sudah terlihat di depan mata.
"Ra, pasien yang disitu udah dapet pertolongan pertama, dia minta kamar VIP, sambil nunggu hasil CT scan, belum dipasangi infus---minta tolong ya," seorang perawat di ruang IGD memberi informasi dengan membawa serta peralatan yang sudah ia pakai, terlihat dengan banyaknya kapas kotor dan noda da rah lumayan banyak, lalu diangguki Zahra.
*Sreeekkk*! Tirai dibuka oleh Zahra, "dipasangi dulu infus ya," si penunggu memutar badannya.
Zahra langsung terdiam, menghentikkan gerakan tangannya saat mengenali lelaki itu, seorang pria dengan pakaian rapi nan modis menutupi pandangannya dari pasien.
"Lendra?!"
"Zahra?!"
"Itu---"
Lendra menggeser posisinya hingga nampak sesosok lelaki yang terakhir bertemu dengannya masih sehat bugar.
"Dewa, ya Allah!"
.
.
.
Note :
\*CT Scan : pemindaian tomografi menggunakan sinar X, mesinnya berbentuk lingkaran besar cukup untuk dimasuki orang dewasa dengan posisi berbaring.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Nurhayati Nia
ada apa dengan si dew dew
2024-01-21
3
Roshalyndhaa Ajj Daahh
doaku terjawab, Dewa jdi pasien 🤣🤭
2023-10-27
2
Elizabeth Zulfa
duh...knpa bang dewa & lendra nya ??
2023-05-17
0