Albert melangkah lebih dulu ke depan untuk menghalangi langkah Riki dengan membentangkan kedua tangannya.
"Memang sudah terlambat tapi kuucapkan selamat bergabung di Badan Penanggulangan Serangan Gaib"
Terhadap gayanya yang berlebihan, Riki tersenyum masam.
"Kedepannya tolong ganti nama itu, akan lebih baik jika namanya pemburu siluman saja, yang sekarang benar-benar tidak cocok," ucap Riki selagi berjalan melewati Albert.
"Itu tidak mungkin, susah untuk ganti nama, tunggu, jangan abaikan aku."
Mereka akhirnya sampai di markas utama.
Itu adalah sebuah ruangan luas dengan interior mewah, di bagian paling ujung terdapat layar komputer ukuran besar menyala yang mana memperlihatkan kondisi seluruh kota lewat kamera.
Tak hanya layar itu saja yang mampu menarik perhatiannya, Riki pun teralihkan pada orang yang duduk di depannya.
Seseorang yang ia kenal yang sedang asyik memakan eskrim di tangannya. Saat ia memutar kursinya menghadap Riki, dia tersenyum sesuai dengan usianya.
"Nina," itulah namanya.
"Wah Riki, kau sudah sembuh rupanya, senangnya melihatmu di sini."
"Terima kasih, kurasa."
Orang yang duduk di sofa pun ikut berbicara dengan buku di tangannya, itu pengaturan aneh dimana sofa ditaruh di ruangan ini layaknya ruang tamu.
"Aku juga bersyukur untukmu."
"Aku tidak terlalu butuh kata-kata itu darimu."
"Kejamnya.... kenapa hanya aku yang dianggap jahat disini?"
Nina menaikan bahunya sebagai balasan sebelum melanjutkan.
"Dari sini aku yang akan berbicara serius dengan Riki, tolong jangan mengganggu yah."
"Laksanakan."
Tiba-tiba menurut, Riki mencurigai sikap Mai yang berubah tapi untuk saat ini ia mengesampingkan hal itu dan kembali menatap Nina.
"Paman Albert, apa paman sudah menjelaskan semua pengetahuan tentang spiritual kepada Riki?"
"B-belum."
"Sudah kuduga, biar aku saja yang menjelaskannya," ucap Nina selagi menyendok es krimnya.
Saat ini Nina tampak bukan seorang gadis kecil melainkan sosok wanita dewasa. Kemudian besar umur Nina sesungguhnya lebih tua darinya.
Nina memincingkan matanya menatap Riki yang terkejut.
"Sebelum itu, aku ingin memastikannya dulu. Kau bukan lolicon kan?"
"Buakhahaha," suara itu berasal dari Mai.
"Ada apa Mai?"
"Bukan apa-apa, ceritanya lucu," jawab Mai singkat.
"Itu kisah cinta bukan komedi," Albert yang tadi mengawasi ikut berbicara.
"Menurutku lucu yah lucu, menuruku tidak maka tidak, itulah ketentuannya."
Tak ingin berdebat lebih jauh Albert menjatuhkan bahunya lemas sebelum beralih pada Riki.
"Lolicon bisa dibilang seseorang yang menyukai gadis di bawah umur."
"Aku bukan orang seperti itu," katanya jelas.
"Sekarang aku bisa menarik nafas lega ngomong-ngomong umurku 18 tahun."
Riki jelas terkejut dengan itu.
Nina tersenyum lalu melanjutkan.
"Sekarang kita masuk ke intinya, Riki tahu kan lawan kita adalah siluman... mahluk gaib yang biasanya menyerupai setengah hewan atau makhluk aneh lainnya dan hanya yang mempunyai kekuatan spiritual saja yang bisa mengalahkannya."
Riki mengangguk mantap.
"Pada dasarnya kekuatan spiritual dibagi menjadi dua, yang pertama kekuatan spiritual yang memberi kemampuan dan kedua, kekuatan yang memperkuat panca indera.... satu sama lainnya sangat berbeda, biar lebih mudah dipahami Mai tolong perlihatkan kekuatanmu."
"Oke, lihat baik-baik ya."
Saat Riki menatap Mai saat itu juga ia menghilang.
Itu bukan sekedar gerakannya yang cepat melainkan sesuatu yang sulit diterima akal sehat.
"Tolong lihat kemari."
Riki mengalihkan pandangannya ke arah yang diminta Nina.
Di depan komputer tepatnya di salah satu kamera kota, Mai sudah berdiri di sana, sesaat sesudahnya Mai kembali ke tempat sebelumnya.
Hanya satu kata yang bisa dia ucapkan.
"Teleportasi."
"Benar, itulah energi spiritual yang memberi kemampuan..... teleportasi, telekenesis, psikometri, dan sejenisnya termasuk ada di dalamnya, biasanya hanya satu kemampuan untuk satu orang, berbeda jika spiritual penguatan panca indera, mereka mampu menggunakan tubuh mereka dibatas normal bahkan sampai bisa melihat roh, seperti kau miliki."
"Kau bisa mengetahuinya?"
"Tentu saja, tak hanya itu Riki juga bisa mengenai objek apapun dari kejauhan, benar kan?"
"Aku tidak bisa menyangkalnya, aku pernah melemparkan batu untuk mengenai buah-buahan tetangga dan tepat sasaran."
"Itu namanya pencuri."
"Aku melakukannya saat aku kecil, oke."
Riki memindahkan pandangannya ke Albert yang berdiri di sampingnya.
"Jangan-jangan Anda juga?"
"Sayangnya aku hanya manusia biasa."
"Sungguh mengecewakan bukan?" potong Mai tanpa melirik ke arah atasannya.
"Oi."
"Bercanda, bercanda."
Riki dan Nina saling bertukar pandangan, entah kenapa dia tidak bisa mempercayai bahwa dirinya lebih muda darinya.
"Aku juga sudah membuat senjata yang cocok untukmu."
Nina berbalik ke layar komputernya, mengetik sesuatu di atas keybord dan kemudian sebuah kotak keluar dari lantai yang terbuka.
"Bukannya ini senjata api?"
"Ya, yang kau pegang itu adalah senjata laras panjang anti material, PGM Hecate II dengan kaliber 50, kecepatan peluru 825 m/s, Berat 13,8 kg, aku membuatnya sesuai yang aslinya loh.... sementara senjata lainnya hanya pistol dan Revolver. Kamu menyukainya?"
"Ini sangat keren."
"Jika ada permintaan lain jangan sungkan untuk mengatakannya padaku, aku bisa membuatnya."
"Aku akan memikirkannya lain waktu tapi aku belum bisa menggunakan ini."
"Soal itu aku sudah mengurusnya," yang menjawabnya adalah Albert.
Dia melihat ponselnya sesaat kemudian bergumam.
"Sudah waktunya dia muncul."
Bersamaan itu seorang wanita muncul dari balik pintu yang terbuka, ia mengenakan seragam militer yang cocok dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
#manusiabiasa
kurang semangat ayo nulis biar gak typo yang penting pelan pelan aja nulis
2023-02-16
3