Si gadis berambut hitam berkata.
"Aku harus pergi sekarang, mari bertemu lagi di lain waktu... hmm itu, Riki."
Kenapa dia tahu namaku? Pikir si pemuda dalam hati.
Sebelum Riki bisa mengutarakannya, kesadarannya sudah ditarik darinya karena Mai baru saja memukul bagian lehernya.
Suara dering ponsel berbunyi tatkala gadis tersebut berjalan ke sudut atap bangunan, walau sedikit kesal dia tidak bisa mengabaikan telepon yang masuk hingga pada akhirnya dia mengangkatnya dengan ragu.
Tampak tulisan "Bos" di layarnya.
"Muncul lagi kah," Mai memotong lebih dulu.
"Begitulah, cepat bereskan semuanya sebelum ada warga sipil terbunuh."
" Aku mengerti, ngomong-ngomong soal warga sipil, aku tidak sengaja membunuh mereka bisakah kau bereskan hal itu untukku."
"APA??? sudah kukatakan jangan membunuh manusia," teriak dari ujung telepon sementara Mai tidak peduli lalu melanjutkan.
"Mau bagaimana lagi? Mereka berniat menyerangku..... kau bisa mengurusnya kan? Kan?"
"Baiklah. Akan kuurus semuanya.... jika ditempat lain kau pasti sudah dihukum mati."
Mai hanya mengerutkan alisnya.
"Dengar, jika sampai membunuh lagi akan kugantung kau sebagai penebusan dosa."
"Seramnya... ngomong-ngomong dimana makhluk itu berada?"
"Lima kilometer ke tenggara dari tempatmu berdiri... aku mengandalkanmu."
"Oke."
Telepon terputus.
Mai menoleh sekilas ke arah Riki yang tak sadarkan diri sebelum melompat dari gedung hingga sosoknya menghilang sepenuhnya.
***
Satu jam berikutnya Riki terbangun di ruangan asing baginya, melihat sekitarnya, ia pun mulai menyadari bahwa dia tidak berada di sekolah melainkan berada di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka dan sosok pria berjas menyapanya sambil mengangkat tangan.
"Yo Riki, apa lukamu sudah membaik?"
"Ah.. iya," ditanya oleh orang yang belum pernah ia lihat membuatnya sedikit canggung.
Pria itu berkisar dipertengahan 30an dengan rambut pirang dipotong rapih, tubuhnya tinggi serta bermata biru, kesan yang didapat darinya hanyalah dia berasal dari luar negeri.
Tidak hanya pria berjas yang masuk ke ruangan Riki, di sampingnya juga seorang gadis mengikuti sambil memegangi tangan si pria .
Menyadari tatapan Riki, gadis kecil itu langsung bersembunyi dengan malu.
"Namanya Nina, ia sedikit pemalu terhadap orang asing."
"Begitu," jawab singkat Riki pada pria berjas yang sudah duduk di dekatnya.
"Bagaimana keadaanmu? Kau benar benar babak belur loh, apa kau mengingat sesuatu sebelum tak sadarkan diri?" tanya si pria berjas.
Ditarik dalam kenyataan Riki memegangi bahu pria jas itu dengan tatapan intens, dia kembali membayangkan tubuh manusia terpotong-potong dalam benaknya sebelum berfikir lebih baik menghiraukannya.
"Wanita itu.... dia pembunuh."
Pria berjas membalas dengan tatapan sedih.
"Maaf Riki, kami sangat menyesalkan kejadian itu... kalau saja ketiga orang itu mau mendengar perkataan Mai, mereka pasti tidak akan mati."
Nama Mai disebutkan, Riki berbalik mencengkeram kerah si pria berjas.
"Kau pasti mengenalnya kan?"
Untuk pertama kalinya dia bisa mengeluarkan emosinya, bagi dirinya yang lemah tidak membalas adalah sesuatu yang bisa dia lakukan, dengan begitu mereka yang memukulinya akan puas lalu meninggalkan dirinya sendirian.
"Tenanglah Riki."
"Mana mungkin aku bisa tenang," teriakan Riki bergema di ruangan.
Menyadari seorang gadis kecil sedang melirik padanya, dia melepaskan cekeramannya lalu menjaga jarak.
"Maafkan aku."
"Tak apa... aku mengerti apa yang sudah terjadi padamu, bagaimanapun ini juga tanggung jawab kami... karena kami belum menemukan rekan untuknya dia bisa berbuat seenaknya."
"Rekan?"
Tanda tanya besar muncul di kepala Riki, untuk kedua kalinya bayangan gadis itu muncul dibenaknya.
"Dia dengan mudahnya membunuh orang lain tanpa merasa bersalah."
"Aku tahu... walau begitu kami juga membutuhkan bantuannya demi menyelamatkan negara ini."
"Apa maksudmu? Dan juga siapa paman ini? Lalu bagaimana paman tahu tentangku?"
Pertanyaan itu tanpa sadar terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Benar juga, namaku Albert, aku pemimpin dari badan khusus yang dibuat pemerintahan Indonesia bernama Badan Penanggulangan Serangan Gaib."
"Paman bercanda?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
#manusiabiasa
lanjut lagi dengan nyimak
2023-02-16
3
Ogeg iraeinn
Badan Nasional Pembasmi Siluman. lebih cocok thor... hehehe...
2022-12-28
1