Atas pernyataan Riki, Albert sedikit tertawa ragu.
"Kedengarannya cukup mencurigakan bukan, tapi hal itulah yang kami lakukan... walau penanggulangan gaib, yang kami lakukan hanyalah berburu siluman."
Keheningan sesaat terasa diantara keduanya.
"Siluman? Makhluk tak kasat mata menyerupai setan ataupun iblis."
"Benar, dalam kasusnya mereka tak kasat mata tapi ini mungkin akan merubah pendapatmu."
Albert mengeluarkan tablet dari balik jasnya yang mana ia berikan pada Riki.
"Lihatlah baik-baik."
"Mustahil."
"Itulah kenyataannya."
Di dalam layar itu terdapat sebuah makhluk menyerupai harimau dengan tubuh manusia.
Ia sedang menyerang para polisi yang mengejarnya, cakarnya yang tajam mencabik-cabik setiap tubuh polisi dengan mudahnya lalu mengeluarkan isi organ dalam mereka bahkan kekuatannya mampu mengangkat mobil untuk dilemparkan pada musuhnya.
"Video ini diambil kemarin... saat Mai datang ke lokasi, mahkluk ini sudah menghilang," kata Albert sesudah menerima tabletnya kembali.
"Apa-apaan itu, kulihat peluru tidak mempan padanya."
"Masalahnya hanya orang yang mempunyai kekuatan spiritual saja yang mampu mengalahkannya, sulit menemukan mereka karena begitu jarang. Contohnya Nina, kemampuan Nina bisa mengetahui orang yang mempunyai kekuatan spiritual, dia juga bisa membuat senjata spiritualnya juga."
"Itu benar walau kamu lemah, aku bisa melihat kekuatan spiritualmu jauh lebih kuat dari siapapun."
"Aku hanya manusia biasa.... tunggu dulu, apa selama ini kalian mengawasiku, pantas saja aku merasa diikuti."
Ini alasan kenapa gadis itu sudah mengetahui namanya, alasan kenapa dia juga ada di sana saat dia dibully.
"Haha maaf soal itu... jadi Riki, maukah kau bergabung dengan kami?"
"Aku ini hanya orang lemah, setiap hari hanya bisa dipukuli."
"Kau salah.... jangan menilai dirimu seperti itu, jauh di lubuk hatimu kau ini sangat kuat. Aku menjaminnya."
"Tapi..."
"Ini demi umat manusia."
Albert berkata penuh semangat.
"Aku ingin bertanya satu hal, kenapa para siluman itu menyerang manusia?"
"Dugaan kami mereka ingin mempertahankan eksistensi tubuh mereka di dunia ini, awalnya siluman adalah makhluk tak kasat mata... dengan membunuh manusia maupun memakannya tubuh mereka akan memiliki bentuk fisik seperti itu."
Albert berhenti sejenak lalu melanjutkan
"Dengan kata lain tubuh nyata."
"Mereka akan membunuh sampai umat manusia punah," suara itu berasal dari gadis yang masuk melewati jendela.
"Gunakan pintu Mai," protes Albert.
"Merepotkan," gumam Mai tanpa terdengar siapapun.
"Kau sudah sembuh Riki?"
Mai mengabaikan keberadaan Albert dan berjalan mendekat ke arah Riki.
"Kau membunuh mereka semua?"
"Memangnya kenapa? Itu kesalahan mereka... maaf saja, jika kau meminta permintaan maaf dariku, aku tidak akan melakukannya."
Riki sedikit merasa menyayangkan kejadian itu tapi di dalam lubuk hatinya juga dia merasa bahwa gadis ini telah menyelamatkannya juga.
"Menurutmu apa itu nyawa?" tanya Riki.
"Sesuatu yang berharga."
"Lalu kenapa kau membunuh mereka."
"Dengar Riki... manusia adalah makhluk yang kejam, mereka hanyalah orang munafik yang menipu orang lain demi keuntungannya sendiri, membunuh, merampok, mencuri itulah dasar sifat manusia, dimana mereka berada kejahatan akan selalu ada, bisakah kau mengerti. Orang baik akan menjadi jahat dan orang jahat tidak akan menjadi baik karena itu aku hanya membalas mereka sesuai apa yang kuyakin."
"Jadi dengan alasan itu kau membunuh siapapun yang menghalangimu."
"Begitulah dan bisa saja ketiga orang bodoh itu akan membunuhmu di masa depan, aku hanya mencabut akar permasalahanmu lebih awal."
Nina hanya mendesah pelan tanpa melakukan apapun lagi.
Riki berkata ke arah Albert.
"Paman, aku akan menerima tawaranmu.. jika ada kesempatan bahwa aku bisa menjadi kuat maka aku akan melakukannya, aku sudah lelah melarikan diri..."
Dia diam sejenak sebelum melanjutkan.
"Terlebih Mai hanya perlu orang yang mampu menghentikannya dalam bertindak hal ceroboh bukan."
Albert mengangguk mengiyakan sebelum Nina memotong dengan teriakan kecil.
"Dia datang."
Mereka menyadari bahwa sebuah kepala sudah jatuh ke sprei yang dipakai Riki.
Semua orang mengerenyitkan alisnya.
"Makhluk ini... makhluk yang sama dalam video," ucap Riki.
Dia tiba-tiba muncul untuk berusaha menyergap Mai dari belakang, namun tebasan Mai jauh lebih cepat darinya dan hanya menghasilkan bunuh diri untuknya.
Mai berjalan ke jendela dengan katana yang sudah disarungkan kembali.
"Senang kalau aku tidak perlu bekerja sendirian lagi, sampai nanti di markas."
"Gunakan pintu," kata Albert memaksa.
"Ah, itu merepotkan."
Mai melompat keluar jendela hingga keberadaannya menghilang seutuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
#manusiabiasa
masih nyimak
2023-02-16
3
Raylanvas
Thor, biasanya ente nulis brp chapter perharinya?🗿
2023-02-11
0