Pria itu memiringkan posisinya, merasa luka di tubuhnya mulai agak membaik. Dia merengkuh menahan rasa kaku di sekujur tubuhnya.
"Ugh!"
Iya, takut saja gadis di sisinya terbangun. Dia memang tidak ingin mengganggu gadis ini.
Meskipun, pikirannya mendadak berubah saat mengingat tentang malam tadi.
Malam yang berhasil memberi dia sebuah pemandangan indah nan menakjubkan.
Dia yang tidak pernah tertarik dengan wanita, pun tidak pernah merasa ingin melihat tubuh molek seorang wanita. Nyatanya, tadi malam, dua bola matanya telah di suguhkan oleh panorama keindahan tubuh Andrea.
Kalau mengingat lagi kejadian semalam, sesungguhnya jiwa laki-laki Lucifer yang tidak pernah dibangkitkan.
Dan malam tadi, sesungguhnya, untuk pertama kalinya, dia merasa, ada sesuatu yang bergejolak di dalam jiwanya. Darahnya berdesir cepat, dan seluruh tubuhnya berubah menjadi panas, bak di siram api membara.
Mungkinkah ini asmara? mungkinkah api yang bergejolak semalam adalah bukti kejantanan yang dia miliki selama ini? yang sesungguhnya, dia tidak pernah mengetahui hal itu?
"Huhh!"
Dia membuyarkan lamunannya yang telah memakan waktu cukup lama.
Kini dia mulai mencoba untuk bangkit, dan terduduk di sisi Andrea. Gadis itu masih belum menunjukkan pergerakan apapun. Dia masih setia dalam tidur nyenyak ya, atau memang, mungkin Andrea masih belum sadar.
Lucifer menatap gadis itu dengan lekat. Lekuk wajah yang amat manis, pun masih sangat muda. Kulitnya yang putih mulus, di imbangi dengan gundukkan di dadanya yang agak besar, sesungguhnya telah berhasil membuat api asmara ini bergejolak.
Matanya menari-nari di sepanjang tubuh Andrea yang hanya tertutup kain selimut yang tipis. Entah kenapa kayanya menjadi makin liar, dan makin ingin melihat lebih dalam lagi sisi sebenarnya dari seorang Andrea.
Tapi!
"Arkh!" dia memekik, "aku mungkin sudah tidak waras!" ucapnya sambil berusaha bangun dari duduknya.
Kriett!?
Kini dia mulai beranjak, dan mencari posisi sang ayah. Dia berjalan menuju kamar ayahnya, dan melihat sang ayah terbaring di atas kasur.
Dia tersenyum tipis, melihat kedamaian yang terpancar dari wajah ayahnya yang semakin tua saja.
Entah kenapa waktu berlalu cukup cepat. Rasanya baru beberapa hari lalu ibunya meninggal dan di makamkan. Ia bahkan masih ingat betapa sedihnya dia saat harus kehilangan sang ibu di usia yang masih sangat kecil.
Mendadak otaknya kembali mengulang masa-masa itu. Saat dia mendapati ibunya yang tewas sekitar tujuh belas tahun yang lalu.
Dan kini, harta berharga yang dia miliki hanyalah, ayah dan adik kandungnya. Bagaimanapun juga, dia harus menjaga dua orang yang paling penting dalam hidupnya ini.
Dia tidak bisa kehilangan mereka berdua, sama seperti saat dia kehilangan ibunya saat itu. Tidak lagi!
Lucifer mengalihkan perhatiannya. Dia pergi dari muka pintu kamar sang ayah, dan kembali ke luar. Gadis itu terlihat telah membuka kedua matanya secara perlahan.
Mendadak Lucifer menjadi bingung. Tidak tahu apa yang harus di lakukan. Dia mencoba mengambil tindakan lainnnya, untuk menutupi salah tingkahnya akibat bayangan tubuh molek Andrea tadi malam.
Huhh!
"Ugh!" gadis itu terlihat membangkitkan tubuhnya dengan perlahan.
Melihat Andrea yang berusaha bangkit, membuat Lucifer agak merasa cemas.
"Kau mau apa?" tanya Lucifer agak dingin.
Andrea berhenti di tengah jalan. Dia menatapi seorang pria yang tengah berdiri di depannya. Sedangkan dirinya, hanya tertutup selembar kain tipis. Parahnya lagi, kain itu hampir saja melorot.
"Agh!! mau apa kamu!?" tanya Andrea sambil berusaha meninggikan selimut, "apa yang telah kamu lakukan padaku? apa kamu.." terkejut, dan berpikir aneh.
"Mana mungkin aku akan melakukannya padamu? memangnya aku tertarik?"
"Kenapa tidak!? aku ini kan cantik, juga menarik, mana mungkin kamu tidak tertarik padaku?" sekarang dia malah berubah menjadi gadis yang sangat percaya diri.
"Asal kau tahu saja! kamu sudah di lihat banyak mata semalam," ucap Lucifer agak risih.
"Apa katamu? jangan-jangan, kamu...."
"Aku juga lihat..." ekspresi membingungkan.
"Apa katamu? kau juga melihatnya? tuh kan! aku bilang juga apa? kamu pasti sudah melihat aku!!"
"Tapi aku tidak sengaja melihatnya!"
"Alasan!" dia bangkit dari duduknya, dan terlihat mendekati Lucifer.
"Mau apa kamu?" tanya Lucifer agak cemas.
Melihat api amarah di mata Andrea, tentu saja dia merasa cemas. Mungkin menghadapi Zhagler jauh lebih mudah di banding menghadapi wanita yang satu ini.
"Dasar tidak tahu diri!!"
Bukkk!!
Pukulan bertubi-tubi terlihat di layangkan oleh Andrea pada tubuh kekar Lucifer, yang sejujurnya, hal tersebut tidak ada pengaruh sedikitpun pada pria itu.
"Dasar mesum! pria tidak tahu diri! bisa-bisanya melakukan hal ini padaku!!"
Buk!
Buk!
Buk!
"Aku sangat membenci pria mesum seperti kamu! aku tidak akan mengampuni kamu!!!"
Bukk!
Namun yang di pukul nampaknya tidak bergeming sama sekali. Dia masih salam posisi yang sama, dan di tempat yang sama pula.
Bagi Lucifer, pukulan ini tidak ada bedanya dengan gigitan semut. Tidak tercantum rasa sakit di tubuhnya.
"Cihh! pukul saja terus! kamu hanya kecoa bagiku!" ucapnya, lalu terlihat menjauh dari si gadis yang lugu.
Lucifer memang sengaja menjauh. Dia sungguh tidak mau melihat penampakan yang sama seperti semalam. Karena pada saat itu, entah Andrea sadar atau tidak, kain penutup di tubuhnya terlihat melorot dan jatuh ke tanah.
"Tutupi lagi tubuh kamu! ayahku masih ada di dalam kamar!" ucap Lucifer sambil berjalan keluar.
"Apa?" wajah terkejut dan di penuhi dengan perasaan canggung.
Mata Andrea terlihat menatap seluruh tubuhnya yang polos karena kain yang menutup tubuhnya terjatuh di tanah.
"Oh tidak!!" buru-buru gadis itu mengambil kembali kain selimut itu, dan menutupi tubuhnya lagi sebelum ayah Lucifer keluar dari kamarnya, "dasar anak sialan!!" umpatnya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Tek! Tek! Tek!
Suara Wilson yang tengah membuat sesuatu dari bambu. Entah apa itu, yang jelas, Wilson nampak amat serius dengan pekerjaannya.
Lucifer memilih untuk duduk di sebuah kayu, dan memperhatikan sang adik di sisi kirinya.
"Kau mau menusuk-nusuk burung hasil tangkapan kamu lagi?" tanya Lucifer pada sang adik, usai dia mendapati adiknya yang tengah membuat sesuatu dari bambu.
"Kau juga menyukainya, kan? Kak Rosella yang akan membantu aku, dia tidak tidur semalaman karena terus mencemaskan keadaan kakak dan gadis itu." Ucap Wilson sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
Lucifer terdiam agak lama, sebelum akhirnya dia bangkit, dan bergerak menuju tempat kedua sahabatnya, "kau tahu? jika dia mencemaskan kakak, kau pasti lebih mencemaskan aku!" lalu tersenyum.
Adiknya mendongak, dan menatap kepergian sang kakak dari sisinya. Dia pun membersitkan sedikit senyumannya ke arah pria kekar yang telah bergerak meninggalkan dirinya.
"Aku lebih cemas pada gadis itu! ck!"
🍂🍂🍂🍂🍂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Bangu Thry Wulandari
aku hadir,...
2023-01-27
0
kak pii
gadis yg ceroboh cih cih...
2023-01-17
1