"Mutiara apa? a-apa yang sedang kamu katakan? dan kenapa kamu be-berubah menjadi manusia? apa kamu ini.... si-siluman?" tanya Andrea gelagapan.
Pemuda yang berada tepat di depan wajahnya hanya terlihat sedikit menyunggingkan senyuman dia yang menyeringai, lalu beberapa detik kemudian..
Sshh!!
Matanya berubah menjadi lebih terang. Mata uang mulanya terlihat hitam agak kecoklatan itu, mendadak menjadi terang, dengan perpaduan warna kuning dan sedikit cokelat di tengahnya.
"Ah?!" Andrea tentu saja semakin ketakutan.
Tubuh gadis itu meringkuk sebisa dia, dan di paksakan lah oleh Andrea untuk tetap bertahan dalam posisi yang sama. Semakin merapat ke pagar kayu.
Hiks hiks...
Tangisan Andrea makin pecah, dan makin membuat rasa takut di hati Andrea bertambah parah.
"Rrrrrtt! kamu bahkan gadis yang sangat bodoh!! mana mungkin kamu tahu apa mutiara yang aku maksud!!" ucap pemuda itu, sambil terus memperhatikan wajah manis Andrea.
Sekilas dia membayangkan betapa anggunnya gadis yang saat ini berhasil menjadi tangkapannya.
Andai saja gadis ini bukanlah gadis yang diinginkan oleh ayahnya, mungkin dia akan segera menyantap sampai habis Andrea yang molek, dan sedikit berisi itu.
Tapi ..
Arkh!
Mana bisa! ayahnya pasti akan marah. Meskipun belum terbukti dengan jelas apakah Andrea benar seorang gadis yang di cari ayahnya selama ini atau tidak, tapi yang jelas, gadis ini harus di bawa ke hadapan sang ayah sebagai bukti, dia tidak akan melenceng dari tugasnya.
Fussshhhh!!!
Namun aroma gadis itu...
Aroma yang sangat harum, dan seolah memberi dorongan tersendiri bagi Jayden untuk segera menggigit dan melumpuhkan sang tangkapan yang amat khas ini...
Akh!!
Dia lagi-lagi berusaha menolak!
Sekuat tenaga dia mencoba menutup hidung dan nafsu berburunya yang amat menjengkelkan.
Daging manusia memang lebih enak dari pada rusa yang harus setiap hari dia santap. Bak seorang manusia yang tiap hari hanya bisa makan tahu tempe, atau sayur saja, begitulah rasanya The Wolf saat setiap hari harus selalu mengalahkan egonya untuk mencicipi manisnya daging segar manusia biasa ini.
Andrea yang mendapati sikap sang siluman yang amat aneh ini, berusaha untuk terus meringkuk.
Air mata yang terus saja keluar, beriringan dengan suara yang serak dan terisak itu, seolah memberi pertanda kalau Andrea sungguh ketakutan pada saat itu.
"Apa a-apa yang akan ka-kamu lakukan?" tanya Andrea pada pemuda yang tengah berusaha mengendus aroma tubuhnya yang amat menggoda.
"Hummm... manis sekali, entah kapan terakhir kali aku menyantap daging yang sama seperti kamu!!" ucap Jayden, putra dari raja The Wolf yang biasa di sebut Mister Zhagler.
Pria muda itu terlihat makin liar, menggerayangi anggota tubuh Andrea, dan mengendusnya, hingga tidak terasa, dia menjadi terbuai.
Aroma daging dan darah yang masih segar, berbalut dengan kulit yang mulus dan masih terjaga kesuciannya, adalah santapan yang amat lezat bagi kaum ini.
"Ja-jangan apa-apakan aku!! his!!" sekarang Andrea benar-benar pasrah, "aku mohon! jangan lukai aku!"
Sang siluman The Wolf kini masih asik menjelajahi setiap seluk tubuh Andrea, sementara gadis itu juga tidak bisa menolak, karena kedua tangan dan kakinya yang masih di ikat.
"Ugh!! aroma yang amat nikmat!" ucap Jayden lagi semakin liar saja.
Namun...
Kriet!!!
Seseorang telah datang.
Jayden mengurungkan niatnya untuk melahap gadis muda ini sampai habis. Karena rupanya, sang sahabat telah tiba dari berburunya.
Jayden menoleh, dan mendapati seorang pria dengan lumuran darah di wajahnya, dan sesekali pria itu menjilati sisa-sisa makanan yang ada di sekitar mulutnya.
"Vincent! dasar anak rakus!!" ucap Jayden pada sang sahabat.
Bukk!!
Vincent melempar setengah tubuh rusa yang berhasil dia dapat dari berburunya barusan. Dia sisakan sedikit saja untuk sang sahabat.
Si rakus itu memang tidak pernah bisa melupakan sahabatnya, meskipun dia sendiri merasa amat kekurangan makanan.
"Kau bagi aku sedikit sisa makanan milikmu?" tanya Jayden lagi, pada Vincent.
"Itu pun kalau kamu mau! kalau tidak, maka aku akan ambil kembali! anggap aku sudah tidak berhutang padamu, karena kamu sendiri yang menolak untuk aku bayar!" ucap Vincent dengan santai.
"Heng! aku akan berburu sendiri saja!" ucap Jayden, lalu beralih melirik wajah ketakutan Andrea, "lagi pula, bukankah gadis ini amat lezat?" meraih dagu Andrea.
Melihat tingkah laku sahabatnya yang amat mencurigakan itu, membuat Vincent langsung bertindak.
"Ah?"
Vincent meraih pundak Jayden, dan kemudian menarik paksa Jayden yang hampir saja merenggut nyawa Andrea di tempat itu.
"Jay!! sadarlah!!"
Gubrak!!
"Akhh!!" pekik Jayden, usai tubuhnya di hempas ke lantai oleh Vincent, "apa yang kamu lakukan V?" tanya Jayden pada Vincent.
"Hah! hah!" nafas terpenggal-penggal, "apa kamu sudah gila!? kamu bahkan hampir mencabik-cabik gadis yang di minta langsung oleh ayah kamu!!" wajah Vincent amat ketakutan.
"Aku tidak suka saat setiap hari harus makan rusa dan babi hutan! setidaknya, kenapa tidak biarkan aku menyantap manusia satu kali saja!!" Jayden amat kesal.
Mendengar kata menyantap manusia di atas, membuat bulu Roma Andrea meremang hebat.
Takut? sudah pasti dia merasa takut!
Yang dia hadapi saat ini bahkan jauh lebih menakutkan seribu kali lipat di bandingkan Gilbert sang kekasih.
Tapi dia bahkan tidak pernah menyadari, dan tidak pernah mengira akan mendapat permasalahan semacam ini.
Kini baru dia sadari, kalau ternyata, hidup di alam liar tidak semudah yang dia kira.
Ayah, ibu!! aku ingin segera pulang! aku ingin pulang dan memeluk tubuh ibu sekarang!!
Benak sang Andrea merintih ketakutan.
"Sadarlah Jay!! kau bukan tidak punya akal! kau hanya sedang di butakan oleh makanan lezat! pastikan kamu bisa menata hawa beringas kamu dengan baik!" Vincent terdengar amat bijak.
Huhh! huhh!
Nafas Jayden amat memburu, apa lagi setelah sang sahabat malah menasehati dia untuk menahan keinginannya.
"Kita harus segera membawa gadis ini menuju Tuan Zhagler, jika tidak, maka dia akan habis menjadi santapan makan siang kamu!" ucap Vincent sambil berusaha berjalan maju, dan seketika, seluruh tubuhnya berubah juga menjadi seekor binatang berbulu abu-abu yang tingginya mungkin hampir mencapai dua meter.
Andrea kembali terbelalak, apa lagi saat Jayden berusaha mengangkat tubuh mungilnya dengan sangat mudah, dan meletakkannya di atas punggung kelompok The Wolf itu.
"Jangan bawa aku!!" dia mencoba untuk melawan, "kalian mau bawa aku kemana?? tolong jangan bawa aku!! antarkan aku kembali ke rumah!! tolong jangan bawa aku!!"
"Dasar si cerewet! diamlah!! berisik sekali gadis ini! aku mungkin akan di buat sakit kuping gara-gara teriakan dia!" ucap Jayden, sambil mengikatkan kain yang sama di mulut Andrea.
Dan dua siluman serigala itu kini mulai terlihat meninggalkan gubuk tua di tengah hutan, lalu berjalan ke arah kawasan milik mereka.
💕💕💕💕
Kira-kira kemana Jayden dan Vincent akan membawa Andrea, ya?
Pantengin terus yuk 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏🙏
Terima kasih 🙏🙏
💕💕💕💕💕💕💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Chiisan kasih
aduh, bakal jadi BBQ, andrea😲
2023-03-17
0
kak pii
didunia siluman toh...
2023-01-17
0