Ketika makanan yang Adam pesan datang, mereka berdua langsung menikmati makanan tersebut. Seperti yang sudah Adam duga, Airani cukup menyukai makanan yang ia pesan. Senyuman lebar tidak pernah terlepas dari wajah perempuan itu ketika menikmati maknannya.
Melihat Airani senang, Adam juga ikut senang. Selama ini, Airani sudah sering membantunya. Ketika ia kelaparan dan tidak punya uang, perempuan ini memberinya makanan. Ketika ia dalam kesulitan, ia selalu hadir di samping Adam. Meski tidak selalu bisa membantu, kehadiran Airani memberikan banyak bantuan secara moril kepada Adam.
Airani melebihi sahabat bagi Adam. Ia memiliki rasa suka kepada perempuan itu. Lalu, Adam juga tahu bahwa Airani juga menyukainya. Meski tidak ada status dalam hubungan mereka, keduanya sering terlihat seperti pasangan kekasih daripada pasangan sahabat.
Adam lalu meronggoh kantong celananya. Laki-laki itu merasakan keberadaan sebuah kotak kecil di sana. Ia berniat melamar Airani hari ini. Menurut Adam, dirinya yang sekarang sudah sangat siap untuk memulai hubungan dengan Airani.
Namun, ia tidak mau hanya menjadikan perempuan itu sebagai pacar. Adam ingin memberikan status yang lebih tinggi kepada perempuan terhormat seperti Airani. Ini juga akan menunjukkan keseriusan Adam untuk menjalin hubungan dengan perempuan itu.
Ada sedikit kegugupan yang Adam rasakan. Ia sedikit tidak yakin apakah melamar langsung Airani adalah pilihan yang tepat. Laki-laki itu takut Airani tiba-tiba tidak mau menerimanya karena tidak siap diajak menjalin hubungan yang lebih serius.
Ketika Adam masih memikirkan mengenai keputusannya, terdengar pekikan dari beberapa pelanggan restoran.
Dari sudut matanya, Adam melihat keberadaan seorang laki-laki yang memakai kaos berwarna putih serta kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Rambutnya terlihat tertata rapi dengan sebuah kacamata menutupi matanya. Sebuah jam tangan yang terlihat mewah, menghiasi pergelangan laki-laki itu.
Adam juga melihat laki-laki itu membawa sebuket bunga mawar berwarna merah di tangan kanannya. Sementara itu, di tangan kiri laki-laki itu ada sebuah bingkisan, yang Adam yakini sebagai cokelat.
Sepertinya laki-laki ini akan mengutaran perasaannya kepada seseorang. Ternyata Adam bukan satu-satunya laki-laki yang akan menyatakan perasaannya. Ini membuat Adam yakin untuk melakukan apa yang sudah ia rencanakan, dan tidak menundanya lagi. Jika laki-laki itu berani, Adam juga harus berani melakukannya.
Adam melihat laki-laki itu mengedarkan pandangannya. Sepertinya ia tengah mencari keberadaan seseorang. Lalu, ia memandang ke arah meja Adam dan berjalan mendekat. Itu membuat Adam mengerutkan keningnya.
"Kenapa laki-laki itu datang ke mari? Apa orang yang dia cari ada di sini?" tanya Adam dalam hati.
Meja yang Adam pilih berada di pojokan. Selain dirinya dan Airaniy, tidak ada pelanggan lain di meja dekat keduanya berada. Kedatangan laki-laki ini yang mendekat ke arah mereka berdua, membuat Adam tiba-tiba memiliki pemikiran buruk.
"Jangan bilang perempuan yang ingin laki-laki ini tembak adalah Airani!" seru Adam dalam hati.
Ini membuat Adam yang awalnya tenang, langsung berubah cemas. Namun, dia tidak memperlihatkan kecemasannya itu. Adam harus tetap tenang dengan apa yang terjadi. Mungkin saja laki-laki ini mengira Airani adalah perempuan yang dia kenal.
Namun, pemikiran Adam salah. Laki-laki ini memang mendatangi meja mereka. Lebih tepatnya mendatangi Airani. Perempuan yang ia cari adalah Airani.
"Airani," sapa laki-laki itu dengan sangat ramah. Sebuah senyuman lebar terlihat menghiasi wajah laki-laki itu. Beberapa perempuan yang melihat hal ini sedikit terkesima karena melihat laki-laki ini cukup tampan ketika tersenyum seperti itu.
Merasa namanya dipanggil, mau tidak mau Airani menghentikan aktifitas makannya. Ia lalu melihat ke arah samping, di mana laki-laki itu berada. Perempuan itu langsung terlihat mengerutkan keningnya cukup dalam setelah melihat siapa yang datang. Dia terlihat tidak menyukai kehadiran laki-laki ini.
"Ada apa Kamu kemari, Samuel?" tanya Airani yang jelas-jelas tidak menerima kehadiran laki-laki bernama Samuel ini. Apalagi, setelah melihat apa yang laki-laki itu bawa.
"Airani, aku dengar Kamu lagi makan di tempat ini. Jadi, aku datang ke sini buat ngedatengin Kamu," jawab Samuel.
Ini membuat kerutan yang ada di dahi Airani semakin dalam. Ia tidak memberi tahu siapa pun bahwa dirinya akan makan di tempat ini. Dirinya saja baru tahu setelah Adam berhenti di depan restoran ini. Bagaimana Samuel bisa tahu bahwa ia berada di sini? Kecuali, laki-laki ini mengikutinya.
Samuel lalu berjongkok di sebelah meja Airani. Bunga yang ia bawa langsung ia persembahkan kepada perempuan itu. Suara orang-orang terkesima kembali terdengar di restoran itu. Meski Samuel belum mengatakan apa pun, tetapi beberapa orang sudah bisa menebak apa yang akan Samuel lakukan.
"Airani, aku sangat mengagumimu selama ini. Kecantikan dan kebaikan hatimu membuatku tertarik padamu. Mau kah Kamu menjadi pacarku? Aku sudah memiliki pekerjaan yang tetap, sebuah rumah dan mobil atas namaku sendiri. Jika bersama denganku, masa depanmu akan terjamin," ucap Samuel.
Ketika berkata demikian, Samuel melirik ke arah Adam. Tanpa mengatakannya secara langsung, Samuel telah membandingkan dirinya dengan Adam. Laki-laki bitu mengatakan keunggulan yang dia miliki dan seolah-olah dirinya lebih baik daripada Adam.
Tentu saja Samuel memang sengaja mengatakan semua ini. Laki-laki itu sudah lama ingin menjadikan Airani kekasihnya. Namun, ia dengar bahwa Airani tengah dekat dengan Adam, cucu dari pengusaha ternama di kota ini.
Meski Samuel mendengar bahwa Adam tidak terlalu mendapat perhatian, tetap saja ia adalah cucu dari seorang pengusaha ternama. Samuel merasa tidak memiliki kesempatan jika dibandingkan dengan Adam.
Namun, setelah kakeknya itu meninggal, Samuel mendengar bahwa Adam tidak lagi memiliki apa pun. Laki-laki itu berubah menjadi miskin. Bahkan pekerjaan saja tidak punya. Samuel pikir ini adalah kesempatannya untuk mendekati Airani. Dirinya yang sekarang jauh lebih baik daripada Adam.
"Apa Kamu, mau menerimaku, Airani. Kamu nggak akan hidup kesusahan jika Kamu bersama denganku," ucap Samuel lebih menekankan perkataannya.
"Apa Kamu mau mengatakan bahwa Rani akan menderita jika dia bersamaku?" tanya Adam yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan Samuel.
Tidak masalah jika Samuel hanya akan mengungkapkan perasaannya kepada Airani. Adam akan menghormatinya karena itu adalah hak dia untuk bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Semua keputusan ada di tangan Airani.
Perempuan itu yang nanti akan menerima Samuel atau tidak. Ini yang membuat Adam cemas karena ia tidak tahu apa yang nanti akan Airani pilih. Bisa jadi perempuan itu sudah menyukai laki-laki lain bukan?
Namun, Samuel justru mengunggulkan diri dengan merendahkan orang lain. Adam benar-benar tidak menyukai orang yang seperti ini. Jika seseorang memang ingin terlihat dirinya unggul, maka orang itu hanya perlu memperlihatkan keunggulannya. Dia tidak perlu merendahkan orang lain hanya untuk terlihat unggul.
Orang seperti Samuel, yang merendahkan orang lain untuk terlihat unggul, adalah orang yang tidak percaya diri. Dia tidak yakin bahwa keunggulannya ini bisa menggerakkan hati Airani. Jadi, dia merendahkan Adam.
"Ya," aku Samuel.
"Bukan bermaksud merendahkanmu, hanya aja kita perlu berpikir realistis bukan? Kamu udah nggak punya apa-apa sekarang. Dengan keadaanmu sekarang, gimana Kamu bisa ngasih jaminan kehidupan yang aman dan layak buat Airani. Perempuan seperti dia, berhak mendapatkan laki-laki terbaik," ucap Samuel seolah apa yang ia ucapkan adalah benar.
"Dan apakah Kamu berpikir bahwa laki-laki itu adalah dirimu?"
"Ya. Dibandingkan denganmu, aku laki-laki yang lebih baik bersanding dengan Airani. Benar begitu bukan, Airani?" tanya Samuel, yang sangat percaya bahwa Airani akan memilihnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Harwi
Bener betul
2023-10-05
0
Iing Nasikhin
vceritaya lambat banget
2023-01-23
2