"Apa Kau orang baru di sini anak muda?" tanya seorang laki-laki ketika melihat Adam terlihat seperti orang kebingungan.
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Kamu terlihat sangat kebingungan. Apa ada yang bisa aku bantu? Ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantumu."
"Sebenarnya, aku tertinggal dari rombonganku. Aku datang dari negeri yang jauh. Apa Kamu bisa memberi tahuku tentang tempat ini?" tanya Adam.
Hal yang pertama yang perlu Adam lakukan ketika berada di tempat baru adalah tidak terlihat mudah dimanfaatkan. Dengan ia mengatakan bahwa sekarang ini ia tertingal dari rombongannya, ia berharap itu akan menghilangkan niatan buruk orang terhadap dirinya. Setidaknya mereka tahu bahwa Adam memiliki orang lain yang bisa diandalkan.
Lalu, Adam juga mengarang cerita bahwa dirinya berasal dari negeri jauh. Ini meminimalisir kemungkinan seseorang melihatnya berbeda dari yang lain. Meski dari segi penampilan dan bahasa Adam sama dengan penduduk di sini, tetapi kebiasaan sehari-hari Adam tidak akan bisa berubah begitu saja.
"Ah, rupanya Kau berasal dari negeri yang jauh. Aku dengar beberapa hari terakhir ini banyak pedagang datang dari negeri yang jauh. Mereka mulai menjual berbagai macam barang unik yang tidak bisa ditemukan di Benua Guerio. Apakah Kamu salah satu dari mereka?"
"Ya," jawab Adam cepat. Setidaknya ia memiliki identitas bagus yang bisa ia pakai pedagang dari negeri yang jauh. Untung saja di sini ada orang-orang seperti itu. Ini bisa Adam manfaatkan dengan baik.
"Jadi, bisakah Kamu memberi tahuku kota apa ini Tuan? Apa yang penduduk di sini sukai? Apa kelebihan dar kota ini? Kamu tahu, aku hanya ingin melakukan riset mengenai selera pasar bukan. Jika aku kembali dengan rombonganku nanti, aku bisa memberi tahu mereka mengenai apa yang aku ketahui," ucap Adam asal.
"Ini adalah Kota Red Stone. Tempat ini merupakan wilayah kekuasaan Duke George. Penduduk di sini kebanyakan adalah seorang penambang batu mana. Lalu, di sini juga adalah tempat pandai besi terbaik yang ada di Kerajaan Adergeus."
"Jika Kamu ingin menjual sesuatu, Kamu perlu menjual sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan senjata sihir di sini. Bukannya aku ingin meremehkan, hanya saja produk milikmu tidak akan pernah laku jika Kamu jual di sini. Cukup banyak yang menjual senjata sihir di sini. Sainganmu sangat banyak," jelas laki-laki itu.
Dari penjelasan tersebut, Adam sudah cukup banyak mendapatkan informasi baru. Tempatnya berada sekarang ini benar-benar memiliki hubungan dengan sihir. Laki-laki di depannya saja sudah mengatakan bahwa kota banyak memiliki penduduk yang berprofesi sebagai seorang penambang batu mana.
Lalu, dunia tempatnya berada ini memakai sistem kerajaan sebagai sistem pemerintahannya. Tempatnya berada saja dipimpin oleh seorang Duke. Pasti ada sistem kebangsawanan juga di sini.
Ini sedikit membuat Adam depresi. Ia datang ke dunia sihir yang jelas cukup berbahaya bagi dirinya yang tidak memiliki kekuatan. Namun, di sisi baiknya, Adam bisa saja mempelajari sihir di sini.
Memikirkan dirinya mempelajari hal baru yang berbau sihir membuat perasaan Adam sedikit membaik. Laki-laki mana yang tidak membayangkan dirinya memiliki kekuatan besar. Apalagi kekuatan sihir seperti ini. Sebagai pecinta novel fantasi semenjak kecil, Adam pernah membayangkan dirinya memiliki kekuatan super seperti halnya karakter utama yang ia baca.
"Ah, seperti itu rupanya. Jadi, aku tidak bisa menjual barang-barang yang berkaitan dengan senjata rupanya."
"Lalu, apakah Kamu bisa memberi tahuku mengenai portal yang ada di alun-alun itu, Tuan? Berapa biaya yang perlu aku keluarkan untuk menggunakan portal tersebut?" tanya Adam.
Adam memiliki sebuah hipotesis sekarang. Dirinya muncul di dunia ini tepat di pintu portal yang ada. Laki-laki itu berpikir, portal tersebut sebagai pintu untuknya kembali. Mungkin ia perlu memikirkan pintu di ruang bawah tanah untuk bisa kembali ke sana.
Namun, untuk bisa menggunakan portal tersebut, Adam perlu informasi lebih lengkap. Laki-laki itu melihat banyaknya penjaga bersenjata lengkap yang berjaga di sekitar portal. Yang tadi meminta Adam menyingkir adalah salah satu dari mereka.
Jika menggunakan portal itu perlu membayar dan Adam menerobos untuk menggunakannya, ia takut dirinya akan ditangkap dan ditahan. Masuk ke dalam penjara di dunia lain adalah hal terakhir yang ingin Adam lakukan.
"Kau tidak tahu ini? Bukankah orang-orang dari negeri jauh biasa menggunakan portal ketika bepergian di Benua Guerio? Bagaimana bisa Kau tidak mengetahui mengenai informasi dasar seperti ini?"
Adam menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia berprilaku seperti orang yang malu karena tidak mengetahui informasi sepele seperti ini.
"Itu, rekanku biasanya yang membayarnya. Aku hanya ikut tanpa pernah tahu biaya yang diperlukan untuk menggunakannya," ucap Adam lirih.
"Ah, seperti itu rupanya. Pasti ini adalah kali pertama Kau datang ke Benua Guerio. Pantas saja Kau tidak mengetahui informasi umum seperti ini," ucap laki-laki di depan Adam sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Bertindak seolah mengerti dengan keadaan Adam saat ini.
"Jika Kau ingin menggunakan portal itu, Kau harus membayar satu emas Kyra. Sedikit mahal untuk orang pada umumnya. Namun, untuk pedagang dari negeri jauh sepertimu, uang segini tidak banyak artinya bukan?"
"Satu emas Kyra? Ah, aku sedang tidak membawa uang sekarang. Apa Kamu bisa meminjamiku uang, Tuan? Aku janji, aku akan membayarnya ketika aku bertemu dengan rekanku nanti," ucap Adam.
Laki-laki di depan Adam langsung menunjukkan sikap defensif ketika mendengar bahwa Adam ingin meminjam uang. Dia yang sebelumnya terlihat ramah, sekarang besikap waspada.
Adam tidak sepenuhnya menyalahkan laki-laki ini. Ia sendiri juga akan bersikap begitu ketika ada orang asing yang tiba-tiba datang untuk meminjam uang. Apalagi, laki-laki ini mengatakan satu emas Kyra bukanlah uang yang sedikit.
"Jangan bilang Kau berniat menipuku? Kau berpura-pura menjadi seseorang perlu dibantu untuk menarik rasa simpatiku bukan?" tanya laki-laki itu.
Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sepertinya dia ingin mencari tahu apakah Adam memiliki rekan lain yang sekarang tengah mengawasi dari jauh.
"Tidak-tidak. Aku sama sekali tidak berniat menipumu. Aku benar-benar tidak memiliki uang sekarang. Atau begini saja, aku akan menjual barang yang aku punya kepadamu. Mungkin Kamu tertarik dengan barang yang aku punya," jelas Adam.
Adam tidak mau disebut sebagai penipu di saat pertama kali datang ke dunia ini. Ia masih ingin mengeksplorasi tempat ini. Mungkin dunia ini bisa membantunya mendapatkan kekayaan. Bagaimanapun juga, Adam memerlukan uang untuk bisa bertahan hidup. Cukup sulit baginya mendapatkan pekerjaan hanya dengan mengandalkan ijazah SMA yang ia miliki.
"Memangnya, apa yang Kau punya? Jika itu bukan barang berharga, aku tidak akan mau membayarnya dengan harga mahal," jawab laki-laki itu.
"Sebentar."
Adam lalu merogoh kantong celana miliknya. Tidak banyak barang yang ia bawa saat ini. Sebelumnya ia hanya fokus membersihkan rumah warisan almarhum kakeknya. Apalagi, rasa penasaran Adam yang tinggi membuat laki-laki itu memasuki pintu ajaib itu tanpa melakukan persiapan.
"Ini, apakah Kamu mau membeli ini?" tanya Adam.
Di tangannya sekarang ini sudah ada jam tangan mekanik pemberian kakeknya. Ini bukanlah jam tangan dengan merek ternama. Namun, kinerja jam tangan ini sangat baik. Sudah lima tahun Adam memiliki jam tangan ini.
Jika bukan karena ingin memiliki uang untuk kembali, Adam tidak akan menguarkan jam tangan ini untuk ditawarkan kepada laki-laki di depannya ini.
"Apa ini? Benda apa ini? Aku tidak pernah melihat benda seperti ini," ucap laki-laki itu cukup atusias.
Laki-laki itu menerima jam tangan yang Adam sodorkan dengan penuh kehati-hatian. Dia melihat jam tangan itu dengan seksama.
Awalnya, Adam mengira jam tangan ini tidaklah terlalu berharga. Tidak mungkin bukan di dunia sihir seperti ini tidak ada yang memiliki jam tangan? Namun, keantusian dari laki-laki di depannya ini membuat Adam berpikir sebaliknya. Apakah dunia ini sangat terbelakang sehingga mereka tidak memiliki jam tangan?
"Itu adalah jam tangan. Kamu bisa memakainya di pergelangan tanganmu. Benda itu digunakan untuk menunjukkan waktu, Tuan," jelas Adam.
"Jam tangan? Menunjukkan waktu? Ini adalah hal yang luar biasa. Apakah ini benar-benar bisa menunjukkan waktu? Jika aku memiliki beda ini, aku tidak perlu lagi memperkirakan waktu sekarang. Aku juga tidak perlu menunggu sang penjaga waktu mengumumkan waktu," jelas laki-laki itu dengan penuh keantusiasan.
"Jadi, Kamu mau membelinya? Aku rasa di kota ini belum ada yang memiki benda ini. Jika Kamu membelinya, Kamu akan menjadi orang pertama yang memilikinya, Tuan. Aku bisa menjamin tidak ada pedagang lain yang memiliki jam seperti ini," jelas Adam.
"Ya. Aku menginginkannya. Berapa harganya?"
"Tentu tidak murah, Tuan. Kamu akan menjadi orang pertama yang memilikinya. Aku yakin Kamu mau membayar mahal untuk ini bukan?" tanya Adam.
Adam tidak langsung menyebutkan berapa harga dari jam tangan ini. Pertama, ia tidak tahu perbandingan harga barang yang ada di sini. Ia tidak mau menjual jam tangan pemberian almarhum kakeknya dengan harga murah.
Yang kedua, Adam ingin laki-laki di depannya ini menentukan sendiri harga dari jam tangan miliknya. Itu akan membantu Adam mengetahui berapa nilai jam miliknya. Selain itu, Adam juga akan tahu seberapa tinggi jam tangan ini bisa terjual. Keantusiasan dari laki-laki ini tidak bisa dibohongi.
"Kau menempatkanku di posisi yang cukup sulit anak muda. Takdir mempertemukan aku denganmu dan ternyata Kamu menjual barang yang tidak pernah aku temui seperti ini. Sekarang, Kamu ingin aku menentukan harga dari jam tangan ini?"
"Jika Tuan tidak menginginkannya, aku bisa menjualnya ke orang lain. Aku yakin akan ada orang yang mau membeli jam tangan milikku ini," ucap Adam.
"Jangan!" seru laki-laki itu.
"Aku akan membelinya dengan harga seratus emas Kyra. Meski barang milikmu ini sangat unik, tetapi aku tidak merasakan keberadaan mana dari jam tangan ini. Jadi, aku tidak bisa membayarmu lebih mahal dari ini," ucap laki-laki itu.
Adam sedikit kaget mendengar laki-laki ini menghargai jam tangan miliknya seharga seratus emas Kyra. Ketika memperhatikan orang-orang di sekitarnya, Adam bisa melihat bahwa uang di dunia ini berbentuk koin yang terbuat dari logam murni. Emas berbahan asli emas, perak berbahan asli perak, dan perunggu berbahan asli perunggu.
Meski tidak tahu berapa berat dari koin-koin tersebut, seratus emas Kyra merupakan jumlah yang cukup banyak. Itu melebihi nilai dari jam tangan miliknya. Bahkan jika Adam membeli baru sekali pun.
"Apa itu terlalu murah? Aku tidak bisa menambahnya lagi, anak muda. Bagaimana kalo aku menambahkan sepuluh emas Kyra. Apa Kamu mau menjualnya kepadaku?" tanya laki-laki itu yang terlihat was-was.
Sepertinya diamnya Adam dianggap sebagai ketidak setujuan oleh laki-laki ini. Dia langsung menaikan harganya karena Adam tidak memberi respon apa pun.
"Baiklah, Tuan. Aku akan menjualnya kepadamu. Seratus sepuluh emas Kyra. Tidak kurang tidak lebih."
Adam mendengar laki-laki di depannya mengehela napas panjang. Sepertinya dia lega mendengar Adam rela menjual jam tangan miliknya dengan harga yang dia tawarkan.
"Ini, seratus sepuluh emas Kyra. Kau bisa menghitungnya anak muda," ucap laki-laki itu yang sekarang menyerah sebuah kantong terbuat dari kulit. Suara gemericik terdengar ketika kantong itu digerakkan.
Ketika Adam membuka kantong tersebut, ia bisa melihat uang koin emas di dalamnya. Satu sisi koin itu menunjukkan gambar sebuah tanaman. Di sisi lainnya, ada sebuah tulisan yang tidak bisa Adam baca. Mungkin ini adalah tulisan asli dari dunia ini.
Adam langsung menghitung uang tersebut tanpa mengeluarkannya dari dalam kantong. Meski itu terlihat banyak, Adam tidak mau menganggap semua itu pas tanpa menghitungnya.
"Ya, ini pas, seratus sepuluh. Terima kasih sudah mau membeli jam tangan milikku, Tuan."
"Panggil aku Parsley, Parsley Wood. Jika Kau memiliki barang unik seperti ini, hubungi aku anak muda. Kau bisa menemukanku di kedai milik Pak Tua Hans."
"Namaku Adam, Tuan Parsley. Jika aku memiliki barang bagus, aku tidak akan melupakanmu."
...
Adam sedikit cemas ketika mengantre di portal. Ia masih tidak terlalu yakin apakah hipotesisnya mengenai portal ini yang bisa membawanya pulang benar atau tidak. Namun, sekarang ini tidak banyak yang bisa laki-laki itu lakukan. Gagal atau tidaknya baru akan Adam ketahui setelah mencoba, bukan?
"Berikutnya," ucap salah satu penjaga yang ada di dekat portal.
"Kota Akroi, Tuan," ucap Adam sembari menyerahkan satu koin emas kepada penjaga di depannya.
Itu adalah nama kota yang sering Adam dengar ketika mengantre. Kemungkinan itu adalah kota terdekat dari sini. Karena Adam tidak tahu banyak mengenai tempat ini, ia memutuskan meniru apa yang orang-orang katakan.
Cahaya putih mulai berpedar di sekitar Adam. Sebelum cahaya putih itu benar-benar menyelimuti tubuhnya, Adam langsung memikirkan mengenai pintu yang ada di ruang bawah tanah rumahnya. Ia juga memikirkan apa pun yang bisa ia ingat di dunianya.
Ketika cahay putih itu menghilang, Adam mendapati dirinya berada di depan pintu ajaib. Ruangan sekelilingnya sama persis seperti ruang bawah tanah di rumahnya.
"Ini berhasil. Aku benar-benar bisa kembali dengan cara ini. Sekarang, aku bisa memanfaatkan pintu ajaib ini untuk mendapatkan uang. Terima kasih Kakek. Ternyata Kamu tidak benar-benar melupakanku," teriak Adam dengan keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Vemas Ardian
PINTER COKKK KAN EMAS DI BUMI MAHAL makanya g dijadiin uang
2023-09-09
1
Jimmy Avolution
Ayo...
2023-01-30
2
Dewa Mesum
lanjut, sering² up lagi thor semangat
2023-01-02
0