"Adam, apa Kamu yakin mau ngajak aku makan di tempat ini?" tanya Airani setelah melihat nama dari restoran yang Adam pilih.
Menu di restoran ini harganya cukup mahal dibandingkan dengan makanan yang biasa mereka beli. Harga termurah dari menu di sini adalah lima puluh ribu. Itu pun sebuah minuman. Sedangkan, harga termahalnya mencapai lima ratus ribu.
Airani tahu bahwa Adam masih mampu membayar makanan di tempat ini. Namun, perempuan itu berpikir akan sangat disayangkan jika Adam menghabiskan uangnya untuk makan di tempat ini. Apalagi laki-laki itu berniat mentraktinya.
Masih banyak kebutuhan yang perlu Adam penuhi. Tidak seharusnya dia membelikan makanan mahal seperti ini dikala rumahnya saja belum direnovasi.
"Ini nggak terlalu masalah, Rani. Aku pengen ngajak Kamu makan di tempat ini udah lama. Sekarang, karena aku punya sedikit rezeki, aku mau ntraktir Kamu makan di sini. Udah jangan ngerutin dahi kayak gitu. Nanti cantikmu ilang. Kita mau makan enak hari ini," ucap Adam.
Laki-laki itu langsung menggandeng tangan Airani untuk memasuki restoran di depannya. Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan keduanya. Sebelumnya, Adam sudah memesan meja di tempat ini. Ia memilih kursi yang paling pojok, sedikit lebih jauh dari keramaian pengunjung lainnya.
"Aku sudah memesankan makanan sebelum datang ke sini. Aku harap, Kamu suka dengan menu pilihanku," ucap Adam. Menu yang laki-laki itu pesan adalah makanan kesukaan Airani.
"Terima kasih. Jadi, apa alasanmu mentraktirku seperti ini?" tanya Airani.
"Nggak ada alasan. Apa ntraktir Kamu makan butuh alasan?"
"Butuh. Sangat butuh. Adam, aku sangat tahu keadaanmu sekarang. Kamu perlu banyak uang buat renovasi rumahmu bukan? Daripada buat nraktir aku makan di tempat mahal kayak gini, lebih baik Kamu tabung uang Kamu buat kebutuhan yang lain," ucap Airani menasehati Adam.
"Sekarang aja Kamu belum dapet kerjaan bukan? Kalo uangmu abis dan belum dapet kerja, mau makan apa Kamu nanti?"
Hati Adam menghangat mendengar Airani memarahinya. Meski dimarahi, Adam tahu Airani melakukan semua ini karena dia peduli. Jika perempuan itu tidak peduli, dia akan bersikap biasa dan tidak mengatakan apa pun. Mungkin dia hanya akan berterima kasih tanpa memikirkan apakah Adam akan baik-baik saja setelah mentraktirnya atau tidak.
"Kamu nggak perlu terlalu khawatir seperti itu, Rani."
"Aku serius Adam. Jangan hanya senyum-senyum seperti itu dan bilang nggak perlu ngekhawatirin semua ini. Kamu udah nggak punya kakekmu yang bisa diandalkan. Kamu udah hidup sendiri sekarang. Berpikirlah sedikit lebih dewasa Adam," ucap Airani kesal, karena Adam seolah menganggap semua ini adalah hal yang sepele.
"Tapi nggak lama lagi aku nggak akan hidup sendiri," gumam Adam yang cukup lirih, membuat Airani tidak bisa mendengar perkataannya.
"Tapi aku udah punya kerjaan sekarang. Aku nggak lagi nganggur. Gajinya juga lumayan. Jadi, Kamu nggak perlu ngekhawatirin aku, Rani. Aku akan baik-baik aja. Aku juga tahu bahwa aku perlu nabung buat kebutuhan masa depan."
"Traktiran ini adalah syukuran kecilku buat ngerayain kerjaan baru," jelas Adam.
"Kamu udah dapat kerja? Beneran? Kerja di mana?" tanya Airani.
Wajah masam perempuan itu kini telah berubah menjadi ceria. Sepertinya dia sangat senang mendengar Adam sekarang memiliki sebuah pekerjaan baru. Sebelum ini, Adam memang sudah punya pekerjaan. Dia bekerja sebagai teknisi IT.
Namun, setelah kakeknya meninggal, paman dan bibi Adam melakukan sesuatu yang membuat Adam tidak bisa lagi bekerja di sana. Mereka seolah tidak rela Adam memiliki pendapatan sendiri.
Tidak sampai di situ saja, ketika Adam berniat mencari pekerjaan lain, paman dan bibibya juga melakukan sesuatu yang membuat Adam tidak pernah bisa mendapatkan pekerjaan.
"Ya. Aku sudah mendapatkan pekerjaan sekarang. Tapi, aku nggak bisa bilang kerja di mana sekarang. Rahasia perusahaan. Aku hanya bisa bilang, gaji di sana cukup bagus. Lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhanku," jelas Adam.
Airani langsung memicingkan matanya mendengar jawaban dari Adam. Rahasia? Pekerjaan apa yang membuatnya tidak bisa mengatakannya seperti itu.
"Kamu, Kamu nggak ngelakuin sesuatu yang berkaitan dengan kriminal bukan? Jadi peretas terus ngeretas rekening orang buat ambil duit mereka. Kamu nggak kayak gitu bukan?" tanya Airani.
Bukannya Airani tidak mempercayai Adam. Hanya saja, seseorang bisa berubah kapan saja. Apalagi, jika dalam keadaan mendesak seperti keadaan Adam.
Dengan kemampuan yang ia miliki, sangat mungkin bagi Adam menjadi seorang peretas dan melakukan kejahatan di internet. Sekarang ini, cukup banyak orang yang melakukan hal seperti itu. Airani tidak mau sampai Adam membuat keputusan yang salah hanya karena keadaan yang memaksanya.
"Ya Tuhan, Rani. Aku nggak ngelakuin hal kayak gitu. Nggak ada tindakan kriminal yang aku lakukan. Apalagi, aku ngelakuin itu buat ngedapetin uang. Sampai mati pun, aku nggak akan ngelakuin itu," jawab Adam.
"Semua uang yang aku dapatkan adalah uang halal. Aku nggak akan pernah make uang haram," jawab Adam tegas.
"Syukurlah jika semua Kamu nggak ngelakuin tindakan kriminal. Aku beneran takut Kamu salah ambil jalan karena keadaanmu yang sekarang. Tapi, kenapa Kamu pake ngerahasiain pekerjaanmu? Aku ini sahabat baikmu bukan?"
"Meski aku sangat ingin ngasih tahu Kamu, aku nggak bisa. Aku harus jaga rahasi mengenai tempat dan apa pekerjaanku itu, Rani. Jika aku bocorin ini, bisa jadi aku akan dipecat nantinya. Kamu hanya perlu tahu kalo aku dapet kerjaan dan itu kerjaan halal," jelas.
Sangat tidak mungkin Adam memberitahukan Airani mengenai sumber pendapatannya yang sebenarnya. Meski Adam mempercayai perempuan ini, tetapi itu masih sangat beresiko.
Bagaimana jika Airani tidak sengaja membicarakan mengenai pintu ajaib milik Adam? Itu akan sangat membahayakan. Lebih baik, Adam menyimpan rahasia ini baik-baik.
"Baiklah. Aku nggak akan maksa lagi buat Kamu ngasih tahu aku apa pekerjaanmu itu. Yang terpenting Kamu sekarang udah dapet kerjaan baru. Lalu, Kamu harus tetap janji nggak bakal ngelakuin pekerjaan yang berhubungan dengan tindak kriminal," pinta Airani.
"Aku janji itu."
Airani memutuskan tidak memaksa Adam menceritakan mengenai pekerjaannya. Perempuan itu tahu memang ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dikatakan begitu saja di muka publik meski pun itu bukanlah pekerjaan haram.
Semisal saja seseorang yang tengah melakukan penelitian rahasia. Selama melakukan penelitian, mereka tidak bisa mengatakan apa pekerjaan mereka. Terkadang mereka bahkan akan memutuskan hubungan dengan orang di sekitar mereka. Barulah setelah penelitian mereka selesai, orang-orang ini bisa memberi tahu orang di sekitar mereka mengenai pekerjaan mereka.
Sama halnya juga dengan agen rahasia, atau pun mata-mata. Mereka juga tidak bisa mengatakan apa pekerjaan yang kini mereka kerjakan. Semua itu tuntutan pekerjaan.
Dengan semua kemungkinan itu, Airani sangat memaklumi jika Adam tidak mau mengatakan apa pekerjaannya. Mungkin sahabatnya ini memiliki pekerjaan semacam itu, yang menuntutnya untuk merahasiakan semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
wildan muhammad yusuf
gasss
2023-01-08
0