Malam itu, ibu dari Hakim baru saja tiba di Qatar. Dia datang bersama suaminya, Harun. Mereka di jemput oleh seseorang di bandara dan membawa mereka ke kediaman Savas. Sementara itu, di rumah sakit Hana terus meminta dokter untuk mengizinkannya pulang. Tetapi Savas dia meminta putrinya itu untuk menginap satu malam lagi di rumah sakit. Besok adalah pertandingan Maroko melawan Kroasia. Savas berjanji pada putrinya untuk membawa dia menemui Hakim. Mendengar semua itu, Hana terlihat sangat bahagia. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan idola sekaligus calon suaminya itu.
Setelah selesai makan malam, Walid menemui Humaira di kamarnya. Dia heran jika putrinya itu masih ada di Qatar. Setahunya jadwal pemberangkatannya tadi siang.
"Kau masih disini?" tanya Walid.
"Tadi aku ketinggalan pesawatnya ayah," jawab Humaira.
"Bagaimana bisa?"
Humaira menceritakan semuanya. Di samping itu, Walid menanyakan hubungan putrinya dengan Hakim. Mendengar hal itu, Humaira terlihat seperti sudah lelah bagaimana harus menjelaskannya. Belum saatnya sang ayah tahu jika Hakim akan menikahi perempuan lain demi kebebasan ayah kandungnya.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Walid.
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang ayah, tetapi cepat atau lambat kau akan tahu semuanya." jawab Humaira.
\*\*\*
Malam itu, Zura pulang dengan di antar Edgar. Kebetulan keluarga Jeevan saat itu sedang makan malam. Zura mengajak Edgar untuk makan malam bersama.
"Selamat datang, nak. Duduklah!" ucap Azizah ramah.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja, sayang?" tanya Nasreen.
"Sangat menyenangkan ibu."
Zura memberitahu ibunya jika Edgar adalah orang yang akan mengajarinya selama satu bulan ini. Dia menceritakan bagaimana hari pertamanya bertemu dengan klien. Perasaannya sangat tegang sampai-sampai dia harus bulak balik ke toilet. Mendengar semua itu, semua orang tertawa termasuk Edgar. Tidak sampai disitu, Zura masih melanjutkan ceritanya. Tadi, saat Edgar mulai bicara semua rasa tegangnya seakan hilang. Dia mulai nyaman dengan pembicaraan mereka berdua sampai akhirnya klien itu sepakat untuk bekerja sama dengan perusahaannya.
"Kau tidak perlu lagi meragukan kemampuannya, sayang. Dia itu sama seperti kakakmu." ucap Azizah.
"Tidak nyonya, aku masih sangat jauh di bawah Sean." ucap Edgar.
"Ah kau ini, suka sekali merendah." ucap Nasreen.
Setelah selesai makan malam, Sean baru tiba di rumah. Dia terlihat seperti sedang banyak pikiran sampai tidak menegur siapapun yang ada di ruang tengah. Dia terus berjalan menuju kamarnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Azizah.
"Kenapa dengan Sean?" ucap Edgar dalam hati.
"Mungkin kakak capek nenek, sampai dia tidak melihat kita disini." ucap Zura.
Azizah meminta Edgar untuk menemui Sean di kamarnya. Dengan kehadiran Edgar, setidaknya Sean bersedia untuk menceritakan masalahnya. Tiba di kamar, Edgar melihat Sean sedang membungkus pakaian yang baru saja dikenakannya.
"Kenapa dengan bajumu itu?" tanya Edgar.
"Baju ini banyak noda bekas darah," jawab Sean.
"Apa kau..."
"Ya, aku baru saja membunuh seseorang dengan tanganku." jawab Sean.
"Siapa yang kau bunuh?"
Sean menceritakan semuanya pada Edgar. Lenyap sudah bukti yang ia miliki untuk menemukan pelaku sebenarnya. Tidak sedikit pun petunjuk yang pria itu tinggalkan. Setelah menceritakan semua itu, Sean terlihat masih memiliki beban dalam kepalanya.
"Apa ada hal lain yang terjadi?" tanya Edgar penasaran.
"Humaira melihatku menembak pria itu." jawab Sean.
"Bagaimana bisa?"
"Saat menembak pria itu, aku tidak tahu jika ternyata Humaira ada di belakangku. Sekarang dia menganggapku sebagai seorang penjahat dan tidak ingin lagi melihat wajahku." ucap Sean.
Edgar tidak tahu harus mengatakan apa. Tetapi dari sikapnya, Edgar bisa melihat jika Sean seakan takut jika Humaira menjauhinya. Semua seakan menjadi beban yang sangat besar dalam kepalanya. Sementara mengenai hubungannya dengan Saffiya, Edgar tidak lagi melihat kebersamaan di antara mereka. Sean maupun Saffiya menjadi sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Apa kau menyukai Humaira?" tanya Edgar.
"Aku tidak tahu, jika saja aku masih sendiri aku akan langsung mengatakan iya. Aku harus bisa menjaga perasaan Saffiya, tetapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri."
"Itu berarti... kau benar-benar menyukainya?"
"Ya," jawab Sean.
Percakapan mereka berdua di dengar oleh Ulya. Sedari tadi dia berdiri di depan pintu. Berita itu adalah berita yang sangat besar. Dia sudah tidak sabar menanti kepulangan Saffiya dan mengatakan semuanya. Reaksi seperti apa yang akan Saffiya tunjukkan. Semua pasti akan sangat menyenangkan. Sebelum seseorang melihatnya, Ulya langsung pergi dari sana.
\*\*\*
Hari sudah pagi. Zura terlihat sangat semangat untuk pergi ke kantor. Di luar sudah ada Edgar yang sedang menunggunya.
"Kau tidak sarapan dulu, sayang?" tanya Nasreen.
"Tidak ibu, Edgar sudah datang untuk menjemputku. Tidak enak jika aku harus membuatnya menunggu lama."
"Kenapa kau tidak suruh saja dia masuk? Kita sarapan bersama." sambung Azizah.
"Tidak nenek, pagi ini kami akan mengadakan meeting dengan klien dari luar negeri. Aku harus bekerja keras untuk semua itu."
"Semoga kau berhasil sayang," ucap Nasreen sambil mencium kening putrinya.
Saat semua menuju meja makan, Saffiya terlihat baru pulang. Dia tidak sempat menemui semua orang karena rasa letihnya selama berada di lokasi syuting. Saat menuju kamar Sean, Saffiya melihat sebuah bungkusan hitam. Dia membuka bungkusan itu dan melihat pakaian Sean di dalamnya. Saat melebarkan baju itu, Saffiya melihat ada noda bekas darah di pakaian itu.
"Apa Sean baru saja menghabisi seseorang?" ucap Saffiya.
Sebelum ada orang yang tahu, Saffiya menyuruh pelayan untuk membuang bungkusan itu ke tempat sampah. Saat di luar, pelayan bertemu dengan Humaira yang baru saja tiba.
"Selamat pagi, dokter." sapa pelayan.
"Selamat pagi, bi." jawab Humaira. "Bibi sedang apa?"
"Nona Saffiya menyuruh bibi untuk membuang bungkusan ini. Sepertinya ini pakaian tuan muda yang sudah tidak terpakai lagi." ucap pelayan.
Setelah pelayan itu masuk, Humaira sangat penasaran dengan bungkusan itu. Dia membuka dan melihat pakaian Sean yang terlumuri darah. "Bukankah pakaian ini yang dikenakan Sean semalam?" ucapnya. "Itu berarti dia mencoba untuk menghilangkan bukti terhadap dirinya."
Siang itu, keluarga Jeevan dikejutkan dengan kedatangan polisi di rumahnya. Ketika itu Azizah sedang berbincang dengan Humaira di kamarnya. Saat menatap ke luar jendela, Azizah sedikit terkejut melihat mobil polisi yang terparkir di depan rumahnya. "Kenapa ada polisi di rumahku?" tanya Azizah.
Perkataan Azizah itu terdengar oleh Humaira. Dia yakin jika mereka datang untuk mencari Sean atas kasus pembunuhan yang terjadi di hotel tadi malam. Azizah meminta Humaira untuk mengajaknya ke bawah. Di sana sudah ada Nasreen yang menghadap polisi.
"Ada apa ini?" tanya Azizah pada Nasreen.
"Aku tidak tahu ibu," ucap Nasreen.
"Kami sedang mencari tuan Sean Barra Jeevan." ucap salah satu polisi.
"Ada keperluan apa kau ingin menemui cucuku, pak?" tanya Azizah.
"Kami mendapat kabar jika cucumu itu sudah melenyapkan seorang pria di salah satu hotel tadi malam."
Mendengar pengakuan polisi, Azizah rasanya sangat tidak percaya. Dia tidak akan membiarkan polisi membawa Sean sebelum terdapat bukti yang jelas.
"Maaf pak, tanpa bukti yang jelas kau tidak bisa membawa cucuku begitu saja." ucap Azizah.
"Tolong jangan halangi tugas kami, nyonya. Kami hanya ingin meminta keterangan dari cucumu itu."
"Tapi dia sedang tidak ada di rumah," ucap Nasreen.
"Baiklah, kalau begitu cepat beritahu dia dan segera datang ke kantor polisi siang ini juga. Jika tidak, kami akan menjemputnya secara paksa." pinta polisi itu.
Ulya sempat berisik pelan pada Nasreen. Dia meminta kakaknya untuk segera melakukan apa yang diminta pihak kepolisian. Jika sampai polisi membawa Sean dengan paksa, reputasi juga nama baik keluarga besar Jeevan akan tercoreng di depan orang banyak. Tidak lama Nasreen menghubungi putranya dan Sean bersedia untuk datang menghadap polisi siang ini juga.
"Terima kasih untuk kerja samanya, kalau begitu kami permisi dulu." ucap polisi itu.
Azizah sangat khawatir dengan Sean. Dia meminta Nasreen untuk pergi ke kantor polisi. Dia ingin tahu apa kejadian yang sebenarnya. Tiba di kantor polisi, Sean sudah datang bersama seorang pria. Dia mulai menceritakan kejadiannya pada pihak polisi. Sementara pria yang ada bersama Sean, dia mengaku jika dirinyalah yang sudah membunuh pria di hotel itu. Saat dia akan pergi, Sean menangkap basah dirinya. Dia mencoba untuk melarikan diri, tetapi Sean mengamankannya di sebuah tempat. Dia tahu jika polisi akan menganggap dirinya sebagai pembunuh karena tidak ada lagi orang lain di tempat itu. Oleh karena itu dia bersedia untuk datang dengan membawa pelaku yang sesungguhnya. Tanpa curiga sedikitpun, akhirnya polisi memenjarakan pria itu dan mengizinkan Sean untuk pulang. Saat berjalan ke luar, dia melihat kedatangan ibu dan juga neneknya.
"Untuk apa kalian ada disini?" tanya Sean dengan begitu tenangnya.
"Apa kata polisi? Kau tidak ditahan bukan?" tanya Azizah yang terlihat sangat cemas.
"Tenanglah nenek, aku baik-baik saja. Lagi pula pelaku sebenarnya sudah ditangkap. Polisi sudah mengamankannya." ucap Sean.
"Syukurlah kalau begitu, nenek menjadi tenang sekarang."
\*\*\*
Hari sudah malam. Saffiya baru saja bangun. Saat turun ke bawah, dia melihat keadaan rumah yang sepi. Hanya ada Ulya yang sedang menonton televisi. Sementara Humaira, dia masih menunggu kepulangan Azizah juga yang lainnya. Dia ingin tahu apakah polisi menahan Sean atau tidak. Ulya melihat Saffiya yang pergi ke dapur. Dia mengikutinya diam-diam.
"Tolong buatkan aku teh dengan sedikit gula, bi!" ucap Saffiya.
"Baik, non."
"Oh iya, dimana semua orang?" tanyanya kembali.
"Ckckck... kau ini dari mana saja menantu? Sean ditangkap polisi kau tidak tahu? Sayang sekali." ucap Ulya yang tiba-tiba muncul.
"Sean ditangkap polisi?" ucap Saffiya kaget.
Dia langsung bergegas untuk menyusul Sean ke kantor polisi, tetapi di luar Saffiya melihat kedatangan Sean bersama ibu dan neneknya. Dia berlari dan langsung memeluknya.
"Kau tidak apa-apa, kan? Tadi bibi bilang padaku jika kau ditangkap polisi." ucap Saffiya.
"Aku tidak apa-apa, semua hanya salah paham saja." jawab Sean.
Melihat kedatangan Sean kembali, Ulya merasa sedikit tidak senang. Dia berharap jika polisi benar-benar memenjarakan Sean dalam waktu lama, tapi sepertinya keinginannya itu belum terwujud. Sean masih bisa kembali ke rumah besar itu dengan selamat. Ulya mencoba menunjukkan perhatiannya pada Sean agar semua orang melihat jika dirinya itu sangat mengkhawatirkan Sean. Melihat sikap pura-pura Ulya, Saffiya rasanya sangat muak. Sementara itu, Azizah sibuk mencari keberadaan Humaira. Dia sempat menanyakannya pada pelayan, tapi sayang sejak tadi dia tidak melihatnya. Saat berada di kamarnya, Azizah melihat sebuah kertas yang berada di atas tempat tidurnya.
"Maaf nek, aku pulang sebelum kau kembali. Tapi kau tidak perlu khawatir karena besok aku akan menemuimu lagi." tulis Humaira dalam kertas itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments